RSS

Category Archives: Media

Inikah Syiah yang Dimaksud Ahok?

Ternyata Ada Takfiri juga di Syiah

Ketika Ahok menyebut mengenai mazhab Syiah dan Wahhabi, ‘yang aneh-aneh’ itu’ di Metro TV, banyak yang kaget. Ahok yang bukan ahli agama kok ngomong begitu? Tahu apa beliau tentang Islam mazhab Syiah dan Wahhabi (Salafi)?

Tulisan ini awalnya berjudul, “Oh, Ternyata Ada Takfiri juga di Syiah“, kemudian saya gubah sedikit, agar nyambung dengan ‘peg’ ramainya perdebatan soal itu setelah debat di program Mata Najwa Metro TV 27 Maret 2017 silam.

Begini…

Dalam salah satu segmen debat itu, Calon Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyebut mengenai program yang memperhatikan kelompok Muslimin dan mengedepankan Islam yang ramah, yang membawa rahmat kepada alam semesta (rahmatan lil ‘aalamiin).  Ini di antara yang dikatakan Ahok: “… di Masjid Raya Daan Mogot, kita membawa Islam yang rahmatan lil ‘aalamin, takmirnya membawa khutbah yang sejuk. Islam Nusantara. Bukan Wahabi, bukan Syiah. Bukan yang aneh-aneh…”

Anies vs Ahok

Ahok dan Anies dalam debat di Mata Najwa

Nah, terkait itu, rasanya perlu kita jelaskan kembali persoalan tersebut. Mengenai Wahabi (atau Salafi) yang sebagiannya masuk kelompok Takfiri (suka mengkafirkan Muslim lain), sudah banyak kita bahas di beberapa bagian blog ini (silakan baca: Kanker itu bernama Wahhabi).

Lalu, sebenarnya dari mana Ahok bisa bilang, Syiah yang aneh-aneh itu? Sebentar… Mari luruskan kaki dan ubah duduk kita. Aaaah…

Selidik punya selidik, tampaknya Ahok hanya tahu tentang Syiah gara-gara tempo hari, pada 2015, ia pernah ditemui seorang yang mengaku tokoh Syiah dari Australia, Syaikh Muhammad Tawhidi. Padahal Tawhidi itu ditolak kedatangannya oleh ABI dan IJABI, dua organisasi Syiah di Indonesia, karena ia tergolong kelompok Syiah Takfiri.

Read the rest of this entry »

Advertisements
 

Tags: , , , , ,

Eva Bartlett dan Fitnah di Suriah

Konperensi Pers PBB ini membuktikan banyak fitnah di Suriah. Berita tentang Aleppo pun banyak diputarbalikkan media Barat.

media-is-lying-about-syria

Jurnalis sepulang dari Suriah: Ungkap kebohongan yang disiarkan media global.

Seorang wartawan independen asal Kanada Eva Bartlett, bekerja meliput di Suriah untuk waktu yang cukup panjang. Sejak 2014 Eva pernah meliput di Suriah sebanyak enam (6) kali, dan berkunjung ke Aleppo sebanyak empat (4) kali. Pada konperensi pers PBB (9 Desember 2016 silam) yang disiarkan melalui video PBB (klik link ini), empat orang yang baru kembali dari misi di Suriah menerangkan berbagai temuan mereka, yang pada intinya bertolak belakang dengan yang selama ini disiarkan berbagai media Barat.

eva-di-konp-pers-pbb

Eva Bartlett pada Konperensi Pers PBB

Eva sendiri, sebagai wartawan yang hadir pada konperensi pers itu, menjelaskan secara gamblang beberapa hal yang berbeda dengan yang selama in banyak disiarkan media internasional.

Saya bicara dengan rakyat Suriah dalam bahasa Arab, dan sebagaimana dikatakan Sara Flounders dan Donna Nassor (dua pembicara yang lain dalam konperensi pers itu), rakyat Suriah mendukung pemerintah mereka,” kata Eva,”dan itu bertentangan dengan yang selama ini disiarkan media seperti BBC, The Guardian, New York Times, dan lainnya.

Eva kemudian menjelaskan, bahwa banyak ‘hoax‘ alias fitnah yang disiarkan berbagai media. Kebohongan (lies), agenda tersembunyi (hidden agenda) dan misconceptions yang menyesatkan ternyata sengaja disebarluaskan ke dunia.

Menariknya, ketika seorang yang hadir dari koran Norwegia Aftenposten mempertanyakan, ‘mengapa jurnalis dunia harus berbohong tentang yang terjadi di Aleppo‘, Eva menguliahinya secara sangat mengejutkan. Ini di antara yang dikatakan Eva kepada sang wartawan (selengkapnya lihat teks bahasa Inggris di bawah):

“Anda bilang tentang organisasi international di lokasi (Aleppo). Katakan, organisasi mana yang Anda maksud di bagian timur Aleppo? Saya kasih tahu ya, tidak ada. Tak ada satu pun organisasi (yang Anda maksud itu) di sana. Organisasi-organisasi itu hanya mengandalkan (berita) dari sebuah organisasi ‘Pengawas Hak Asasi Manusia Suriah’ – Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) — yang sebenarnya berada di Coventry, Inggris (UK), dan hanya dijalankan oleh seorang lelaki saja.”

Perhatikan diskusi mereka di video yang panjangnya sekitar 2 menit ini (Video selengkapnya, sekitar 52 menit, ada di bagian bawah tulisan ini):

Anda tak perlu menonton seluruh video (yang panjangnya sekitar 16 menit) ini, tapi cukup perhatikan beberapa menit, mengenai apa yang dikatakan Eva Bartlett. [Video ini dilengkapi teks bahasa Indonesia]:

 

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Kebohongan CNN di Bahrain

Sebuah tulisan yang dilengkapi video di The Guardian (Inggris) sempat membuat banyak orang terkejut. Artikel di media Inggris itu muncul pada tahun 2012 lalu, tapi tidak banyak yang mengutip atau menggaungkannya. Maklum saja, sebab tulisan itu mempermalukan raksasa media AS, CNN, yang dikenal sebagai salah satu media paling beken di dunia.

Seperti saya, Anda juga pasti kaget membacanya. Ternyata media sebesar CNN pun masih berlaku tidak etis, dan menyembunyikan berita (kebenaran) yang diliput wartawannya di Bahrain. Setidaknya, demikian yang dilaporkan Amber Lyon dari CNN.
Selain itu, menurut video yang ada di link ini, pemerintah Bahrain rupanya telah menggunakan konsultan PR untuk meredam agar berita tersebut tidak disiarkan.
Amber Lyon di CNN

Amber Lyon di CNN

Internal whistleblowing on CNN’s coverage of the Bahrain protests.

On September 5, 2012 with the help of journalist Glenn Greenwald, Lyon exposed that CNN International never aired her documentary, iRevolution, on the Bahrain uprising. In an article by Greenwald in The Guardian newspaper, Lyon accuses the network of censoring the documentary because the Bahrain regime is a paying customer at the network.

The article also exposes that the government of Bahrain, as well as other governments throughout the world, are paying CNN for special content casting their countries in a positive light.

On September 29, 2012, Lyon appeared on the Infowars program. She described her investigation of how the US ally Bahrain was committing human rights abuses, but said that CNN and the US government pressured her to suppress the news.[35] She said that Bahrain paid CNN for positive news coverage.[36] Lyon said that Kazakhstan and Georgia also paid for positive coverage by CNN.

In March 2013, a report from the state-run Syrian Arab News Agency said the “Slovak main news website” reported Lyon claiming to have received orders from CNN to report selectively and falsely in order to sway public opinion in favor of direct American aggression against Iran and Syria, and that this was common practice at CNN.

In October 2013, Lyon self-published a book: Peace, Love and Pepper Spray, a photographic essay of protests in the United States.

 

Amber Lyon: berita yang disembunyikan

Amber Lyon: berita yang disembunyikan

Video di bawah menunjukkan bahwa sejak tahun 2011, pemerintah Bahrain dibantu pemerintah negara lain, telah menyiksa dan membunuhi rakyatnya sendiri. Dan rakyat negeri itu, menurut laporan Amber Lyon, berusaha melakukan revolusi via Internet semaksimal mungkin.

Read the rest of this entry »

 

Tags: , ,

Anies Baswedan Menginspirasi melalui Twitter

Berita peluncuran buku lazimnya jarang mendapat perhatian media. Tapi peristiwa launching dan diskusi buku ‘Melampaui Mimpi Anies Baswedan @Twitterland’ Senin 3 Februari 2014 lalu, syukur alhamdulillah, berhasil memperoleh peliputan media secara cukup luas. Berikut di bawah ini beberapa media online yang memuatnya.

Anies diwawancara media seusai peluncuran buku ‘Melampaui Mimpi’, 3 Februari 2014.

“Anak muda memang minim pengalaman, maka ia tak menawarkan masa lalu. Anak muda menawarkan masa depan.”
Itulah salah satu contoh kicauan (tweet) Anies Baswedan pada 28 Oktober 2012, yang dapat ditemukan pembaca dalam buku berjudul Melampaui Mimpi Anies Baswedan @Twitterland, yang di-retweet (atau digaungkan) sebanyak 651 kali, dan 97 orang menandainya sebagai favorit.
“Jarang ada kicauan tokoh yang digaungkan hingga ratusan kali begitu, apalagi karena saya tahu persis Anies tidak menyuruh ahli informasi teknologi untuk menggunakan ‘mesin pengganda’ seperti yang dilakukan sementara (oleh) tokoh untuk merekayasa konten media sosial mereka,” kata Syafiq Basri Assegaff, penulis buku tersebut, saat peluncuran di Jakarta, Senin (3/2/2014), seperti dikutip dari Antara. Read the rest of this entry »
 

Tags:

MasyaAllah… Fitnah di Syria itu Luar Biasa

Mengapa Suriah (atau Syria) ‘gonjang-ganjing’? Panjang ceritanya. Tetapi secara singkat bisa dikatakan bahwa masalah Syria ini adalah soal geo-politik yang menyangkut dua kelompok yang bertikai:

  1. Iran – Syria – Hisbullah: ketiganya adalah yang paling gigih membela Palestina, dan menjadi musuh besar Israel.
  2. Israel dan Amerika (AS): dengan beberapa negara yang membantunya. Uniknya, negara-negara Arab Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan lain-lain, juga tidak suka pada kelompok 1 (Syria, Iran dan Hisbullah). Bukan melulu karena perbedaan mazhab Syiah dan Sunni, melainkan ini didasari politik kekuasaan, minyak dan uang.

Iran bukan saja musuh utama Israel, tetapi juga musuh AS. Untuk melemahkan Iran, maka Israel dan AS berusaha menggoyang sekutu Iran, yakni negara Syria dan Hisbullah.

Billboard with portrait of Assad and the text ...

Billboard di Damaskus dengan potret Assad. Teks itu berbunyi: Tuhan melindungi Syria (Photo credit: Wikipedia)

Perang dan permusuhan kedua kelompok itu juga merambah ke media, baik media massa seperti koran, TV dan Internet, maupun media sosial seperti blog, Facebook, Youtube dan Twitter.

Maka muncullah berbagai berita tentang pembantaian oleh Rezim Bashar Al-Assad — termasuk provokasi bahwa yang terjadi adalah ‘perang antar-mazhab’ — baik lewat tulisan atau pun foto. Di berbagai media kita bisa melihat berbagai foto korban yang dibunuh secara sadis dengan penjelasan bahwa Rezim pemerintah Assad yang melakukannya. Akibatnya, ratusan ribu orang merasa perlu berjihad memerangi Assad, dan ribuan orang tewas. Berhubung agama dibawa-bawa, karena seolah yang terjadi adalah perang antar-mazhab Sunni vs Syiah, maka mereka yang merasa paling benar, ingin membela saudaranya yang katanya dibantai rezim Assad (yang dianggap Syiah).  

Ini pun aneh, karena sebenarnya pemimpin Syria, Bashar Al-Assad itu bukan Syiah. Malah partai Assad (sebagai penguasa di Syria) adalah Partai Baath — yang cenderung sosialis, mirip dengan Partai Baath-nya Saddam Husein (Irak) dulu. Para ulama Syria yang pro- Assad pun (seperti Syeikh Ramadhan Al-Buthy) dimusuhi oleh para teroris yang dikirim dari negara-negara Arab lain. (Lihat video-nya di bawah).

Yang asli dan yang palsu

Yang asli dan yang palsu

Adapun mengenai berita-berita dan pelbagai foto itu, ternyata palsu belaka. Setidaknya ada lebih dari 80 foto yang diketahui palsu, hoax atau fake — hasil rekayasa pihak tertentu — dengan cara mengubah foto-foto pembantaian di Gaza (Palestina), Iraq, dan Afghanistan menjadi seolah-olah foto kejadian di Suriah. Malah, foto korban gempa bumi di Azerbaijan pun disebut sebagai foto korban pembantaian Rezim Assad.

Jika ingin melihat foto-foto itu, silakan merujuknya ke situs ini:

http://kabarislam.wordpress.com/2013/07/18/kumpulan-pemalsuan-data-foto-konflik-suriah/

Silakan cek juga soal ini di situs ini: http://www.mediafire.com/download/hr6d5w4x24w2tox/Pemalsuan_data_konflik_syria.chm

Bisa juga download yang ini:

https://www.dropbox.com/s/gc923e8bn149shp/Pemalsuan%20data%20konflik%20syria.chm

Format PDF: https://www.dropbox.com/s/57leve7b1vxa8xw/Pemalsuan%20data%20konflik%20syria2.pdf

Format DOCX: https://www.dropbox.com/s/kvi1alos6vzfhqi/Pemalsuan%20data%20konflik%20syria.docx

Terakhir, silakan simak tayangan video menarik tentang ‘Prahara Suriah’ ini:

 
 

Tags: , ,

Berantem Yuk!

Sengaja judul di atas saya pilih untuk mengajak orang membaca, bukan berkelahi. Adapun judul asli artikel ini adalah, “Inilah Akibat Berita Kekerasan di TV”. Mengapa ditulis dengan gaya mengajak berantem, karena tampaknya banyak siaran TV yang seolah sangat getol mengajak orang ramai-ramai berantem, atau menjadi marah dan beringas. 
Contoh kekerasan dari orang tua (sumber kartun harian Pos Kota).

Contoh kekerasan dari orang tua (sumber kartun harian Pos Kota).

Anda pasti miris melihat berbagai kekerasan dan aksi premanisme di negara kita belakangan ini.

Bukan hanya di kalangan rakyat biasa, artis, dukun, dan tukang santet, tetapi kejadian itu sudah melanda ke tengah keluarga, terhadap anak-anak dan remaja, bahkan di antara petugas keamanan negara.

Tentu semuanya bukan masalah sederhana yang bisa dengan mudah dicarikan solusinya, karena berbagai kejadian itu menyangkut aspek sosial, ekonomi dan budaya mereka yang terlibat.

Tetapi dari sisi komunikasi, kita bisa melihat adanya peran media massa terhadap kekerasan — khususnya televisi (TV). Banyak pendapat soal ini yang dikemukakan para ahli komunikasi; sebagian di antaranya mengedepankan perspekstif bahwa ada kemungkinan bahwa penonton TV secara sadar atau tidak sadar meniru adegan yang ditontonnya di layar kaca.

Opini ini aslinya ditayangkan dalam media online Inilah.Com, rubrik Celah, Kamis 11 April 2013.

Sebagian pendapat lain menyatakan bahwa banyaknya aksi kekerasan di media mendorong munculnya suasana ketakutan di tengah penduduk, sehingga muncullah ketegangan di ‘dunia yang kejam’ dalam benak banyak orang. Beberapa ahli seperti Gerbner dan kawan-kawan menyatakan, bahwa akibat adanya anggapan ‘dunia yang kejam’ itu, maka pecandu TV (heavy viewers, dalam istilah Gerbner) akan melebih-lebihkan tingginya angka kekerasan atau kriminalitas yang terjadi di dunia nyata.

Bila pendapat itu bisa diterima, barangkali kita jadi paham mengapa dalam praktek sehari-hari orang lalu mengambil sikap seperti, ‘berhubung dunia ini kejam, maka jalan terbaik untuk menghindarkan diri dari kebatilan adalah dengan mempersenjatai diri, dan jika perlu menyerang lebih dulu ketimbang diserang orang lain.’

Melawan premanisme: makin menggejala di sana-sini (foto: detik.com)

Melawan premanisme: makin menggejala di sana-sini (foto: detik.com)

Itulah sebabnya barangkali, mengapa saat terjadi kecelakaan di jalan, meski dalam level hanya ‘serempetan’ sekali pun, maka salah satu yang terlibat cenderung buru-buru ‘menyerang’ pihak lainnya, walaupun pihak pertama itu yang sebenarnya bersalah.

Kita belum tahu bagaimana sebenarnya efek program TV di Indonesia terhadap meruyaknya kekerasan, karena hal itu memang patut diteliti secara seksama. Tetapi jika mengamati secara lebih serius, dan Anda bisa membuktikannya sendiri, betapa sering TV kita menayangkan berita kekerasan di sana-sini, bahkan dalam takaran yang terkesan agak berlebihan. Over dosis. Sehingga puluhan teman saya belakangan lebih suka menonton program TV asing yang disediakan TV cable berbayar.

Jangan langsung percaya pendapat ini, tetapi saksikanlah sendiri. Hitung dan kajilah. Perhatikan apa yang sering muncul di layar kaca Anda: penduduk marah dan melabrak petugas Pemda, remaja tawuran, polemik sesama politisi, artis ricuh dengan dukunnya, calon hakim ‘membela’ pemerkosa, orang tua menggagahi anak sendiri, guru ‘ngerjain’ muridnya, suami memutilasi isteri sendiri gara-gara perselingkuhannya terbongkar, ricuh di pengadilan, keributan di lapangan bola, oknum aparat menyerang rekannya, dan preman serta penjahat yang kian nekad.

Sering di antara kekerasan itu dilakukan secara tidak semena-mena oleh pihak yang sebenarnya bersalah — misal PKL yang menempati tanah negara, atau pengusir warga seagama yang beda aliran — terhadap korban yang tak berdosa dengan tegangan amarah sangat tinggi, meledak-ledak.

Warga membakar rumah saudara sekampung di Sampang, Madura: bebas yang kebablasan

Warga membakar rumah saudara sekampung di Sampang, Madura: bebas yang kebablasan

Boleh jadi banyak di antara kejadian itu berkait dengan makin demokratisnya negara kita — sehingga orang merasa bebas untuk melakukan apa saja, termasuk ‘bebas melabrak’ pihak lain, tak peduli apakah pihak lain itu aparat keamanan, teman, atau bahkan keluarga sendiri.

Tetapi dari sisi komunikasi, banyak ahli mensinyalir besarnya peran media, film dan hiburan terhadap berbagai tindak kekerasan dan kekejaman itu. Belakangan, sinyalemen itu juga menuding peran program berita, seperti hard news, buletin dan tayangan ‘current affairs’ kabar berbagai peristiwa.

Di antara ahli ada yang menduga bahwa berita kekerasan – violent news – yang ditayangkan TV menyebabkan meluasnya kekuatiran akan munculnya tindak kriminal. Menurut mereka, ingatan pada tayangan violent news di TV cenderung lebih kuat ketimbang jenis informasi lain, sehingga menjadikan perilaku kriminalitas dan kekerasan kian berperan pada penonton. Sebagaimana dikatakan Johnston & Davey dalam buku ‘Media Psychology’ yang ditulis David Giles (2008), pada level pribadi, berita negatif terbukti meningkatkan kekuatiran personal, meski pun berita itu tidak langsung berhubungan dengan isi program yang sedang tayang.

Secara umum sering muncul kekuatiran adanya ‘copycat violence’ (kekerasan yang dilakukan gara-gara meniru-niru belaka), khususnya yang terkait dengan kericuhan masyarakat. Berbagai kericuhan di jalanan pada beberapa wilayah perkotaan di Inggris, misalnya, seringkali muncul pada saat berbarengan, dan jelas berperan sebagai katalisator bagi kericuhan-kericuhan di wilayah-wilayah lain.

Anak heavy viewers menonton TV dari dekat: copy cat violence?

Anak heavy viewers menonton TV dari dekat: copy cat violence?

Barangkali begitu pula yang terjadi di Indonesia. Entahlah. Yang jelas, di Jerman, hasil penelitian lain menunjukkan bahwa serangan kelompok rasis ‘sayap kanan’ terhadap etnik minoritas kentara sekali memiliki pola yang berkaitan dengan peliputan media terhadap penyerangan-penyerangan sebelumnya.

Dalam kaitan itu, para peneliti juga melihat hasil serangan-serangan yang terjadi. Pada serangan gelombang pertama, misalnya, korban cenderung untuk pindah atau mengungsi ke daerah yang lebih aman – yang boleh jadi merupakan tujuan utama yang diinginkan penyerang. Ternyata, berita tentang pengungsian para korban itu menjadi pemantik bagi gelombang penyerangan berikutnya.

Hal itu sangat mirip dengan yang disebut priming effect, yakni semacam dampak ajakan yang seolah disengaja, saat mana para preman ‘sayap kanan’ di Jerman lebih mungkin melakukan penyerangan terhadap kelompok minoritas jika mereka mendengar adanya serangan serupa telah berhasil memaksa korban untuk mengamankan diri ke tempat lain.

Sejalan dengan yang di atas, Anderson dan Bushman dalam ‘The Effects of Media Violence on Society’ (dan dimuat dalam sciencemag.org) menyatakan, bahwa berbagai bentuk riset secara jelas menunjukkan adanya kaitan positif antara kekerasan yang ditampilkan media dan peningkatan agresi yang terjadi. Studi eksperimental membuktikan hubungan kasual yang nyata. Percobaan laboratorium pun menghasilkan bukti yang jelas. Sementara, eksperimen di lapangan juga mengarahkan adanya dampak sebab-akibat dalam setting yang lebih alami. Selain itu, ini yang tidak kalah penting, studi lintas-cara (cross-sectional studies) menunjukkan hubungan erat antara media violence dengan jenis agresi di dunia nyata.

Masyarakat yang kian beringas: kebanyakan menonton kekerasan di TV?

Masyarakat yang kian beringas: kebanyakan menonton kekerasan di TV?

Memang ada yang meremehkan dampak program berita TV, khususnya karena anggapan bahwa program berita adalah ‘refleksi kebenaran realitas sehari-hari’, dan bahwa ia merupakan kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai kekerasan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi, bila banyak studi belakangan kian menunjukkan bukti bahwa media violence memengaruhi kekerasan di tengah masyarakat, tidakkah perlu ada usaha pencegahan yang lebih serius terhadap hal itu?

Baca juga:

 

Tags: , ,

Ketika Malaikat Bicara Haji

Alkisah, pada suatu musim haji, dua malaikat bercakap-cakap di dekat Kabah di Masjidil Haram.

 – Berapa jumlah orang yang naik haji tahun ini?
+ Enam ratus ribu.
– Berapa yang diterima hajinya?
+ Hanya dua orang, salah satunya bahkan tidak menunaikan hajinya ke sini.

Aslinya dimuat pada harian Kompas, 5 November 2011 hal 7

Kisah bernuansa sufi itu dinisbatkan kepada ulama Abdullah bin Mubarak yang bermimpi bertemu dua malaikat saat ia tidur di dekat Kabah. Dalam mimpi itu, malaikat menyatakan, seorang yang tidak pergi, tetapi diterima hajinya itu adalah Ali bin Al-Mufiq, orang Damaskus.

Miniature of Muhammad re-dedicating the Black ...

Miniature of Muhammad re-dedicating the Black Stone at the Kaaba. From Jami Al-Tawarikh, c. 1315 (Photo credit: Wikipedia)

Belakangan, Abdullah pun mencarinya. Ternyata Al-Mufiq adalah tukang semir sepatu yang menyerahkan 3.000 dinar hasil jerih payah yang ditabungnya untuk bekal haji kepada seorang tetangga dengan anak-anak yang sudah tiga hari kelaparan.

Esensi haji

Itu dulu. Itu di Damaskus. Di Indonesia, yang terjadi sekarang ini berbeda. Di media sosial Twitter terbetik pembicaraan bahwa meski tiap tahun jumlah jemaah haji kita terus meningkat, agaknya banyak di antara mereka adalah para koruptor yang menganggap bisa mencuci uang haramnya di Masjidil Haram.

Namun, ulama bilang, ”Mereka beranggapan sepulang haji akan bersih dari dosa, padahal haji yang dibiayai uang haram sama sekali tak akan diterima.” Bahkan, seorang yang pergi haji, tetapi membiarkan tetangganya yang kelaparan pun tidak akan mabrur sekalipun uang yang dipakai berhaji itu uang halal. Read the rest of this entry »