RSS

12 Pelajaran dari Kapal Nabi NUH

17 Dec

Segala hal yang perlu kita tahu tentang HIDUP, khususnya dalam keluarga, dapat kita pelajari dari filosofi “Perahu Nabi Nuh” . Awalnya seorang kawan mengcopy gambar tentang ‘Pelajaran dari Kapal Nabi Nuh’ (as) yang ada di halaman ini, lalu saya melengkapinya dengan sedikit informasi tambahan untuk Anda, penikmat blog ini. 

“Perumpaan Ahlul Baitku bagi umatku adalah seperti Perahu Nabi Nuh. Mereka yang naik ke atasnya akan selamat, dan siapa yang menolak akan binasa”  hadis Nabi saw (Selengkapnya dapat dilihat di sini). *)

Nabi Nuh (as), adalah kakek moyang Nabi Ibrahim (as), yang berarti juga kakek-moyang Nabi Muhammad saw, karena beliau (saw) adalah keturunan Nabi Ismail (as), putra Ibrahim. Sebuah sumber mengatakan bahwa Nabi Nuh diperkirakan hidup pada sekitar tahun 2230 SM, tapi ada juga pendapat yang berbeda.

Dikenal sebagai ‘hamba Tuhan yang bersyukur,’ Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun.

Nabi Nuh menaati perintah Allah SWT untuk membangun kapal, dan kemudian mengangkut semua hewan yang hidup pada jamannya sepasang-sepasang. Di kapalnya naik pula 76 orang yang mau menuruti perintah Nuh untuk beriman kepada Allah, plus anggota keluarganya, kecuali salah seorang anaknya yang belakangan tenggelam. (Saat itu anaknya itu mengatakan bahwa, ia akan naik ke atas gunung).

 Berikut adalah 12 Pelajaran dari Kapal Nabi Nuh (as):

Perjalanan Kapal Nabi Nuh - diperkirakan terjadi pada  tahun 2.343 SM

Perjalanan Kapal Nabi Nuh – diperkirakan terjadi pada tahun 2.343 SM

  1. Jadilah hamba yang bersyukur: Nuh (as) dikenalkan Allah kepada umat manusia sebagai ‘hamba-Ku yang bersyukur’. Dan bersyukur itu berarti juga harus melaksanakan perintah Allah, termasuk mengerjakan hal yang ‘sulit’, seperti menerima tantangan dan cercaan saat mengajak orang kepada kebaikan.
  2. Jangan ketinggalan kapal: siapa yang tidak ikut bersama ke dalam kapal, akan tertinggal. Dalam kaitan ini, baik juga merujuk kepada hadis Nabi saw soal ‘kapal’ penyelamat umat, yakni Ahlil Bait-nya — sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadis Nabi saw (“Ahlil-Bait-ku ibarat perahu Nuh, barang siapa ikut di dalamnya akan selamat…“)
  3. Ingat bahwa kita semua di kapal yang sama (masalah yang ada dalam keluarga, dalam komunitas mesti menjadi masalah bersama). Pendidikan seorang anak, misalnya, sangat dipengaruhi juga oleh lingkungan tempat anak itu dibesarkan. Peran orang tua sendiri sangat penting, tetapi teman bermain atau rekan di sekolah juga sangat besar pengaruhnya. Yang ‘membocorkan’ perahu, akan menyebabkan semua penumpang di dalamnya tenggelam bersama-sama.

    Miniature from Hafiz-i Abru’s Majma al-tawarikh. “Noah’s Ark” Iran (Afghanistan), Herat; Timur’s son Shah Rukh (1405-1447) ordered the historian Hafiz-i Abru to write a continuation of Rashid al-Din’s famous history of the world, Jami al-tawarikh. Like the Il-Khanids, the Timurids were concerned with legitimizing their right to rule, and Hafiz-i Abru’s “A Collection of Histories” covers a period that included the time of Shah Rukh himself. (Sumber: Wikipedia).

    Miniature from Hafiz-i Abru’s Majma al-tawarikh. “Noah’s Ark” Iran (Afghanistan), Herat; Timur’s son Shah Rukh (1405-1447) ordered the historian Hafiz-i Abru to write a continuation of Rashid al-Din’s famous history of the world, Jami al-tawarikh. Like the Il-Khanids, the Timurids were concerned with legitimizing their right to rule, and Hafiz-i Abru’s “A Collection of Histories” covers a period that included the time of Shah Rukh himself. (Sumber: Wikipedia).

  4. Buat rencana ke depan. Belum ada hujan ketika kapal Nabi Nuh dibuat;
  5. Jaga kesehatan dan kebugaran. Siapa tahu saat Anda berusia 600 tahun, seseorang mungkin meminta Anda melakukan sesuatu yang benar-benar ‘besar’ / penting. (Konon ketika membuat kapal itu, usia Nabi Nuh ratusan tahun);
  6. Jangan terlalu hiraukan (terganggu oleh) kritik; terus selesaikan pekerjaan yang memang harus dilakukan.
  7. Bangunlah masa depan Anda di tempat yang tinggi (gantungkan cita-cita setinggi mungkin);
  8. Untuk keselamatan bersama; berjalanlah bersama pasangan masing-masing (jangan sendirian dalam mengarungi hidup) – Semua makhluk yang ikut di dalam kapal itu berpasang-pasangan;
  9. Kecepatan tidak selalu merupakan kelebihan. Siput-siput juga berada di kapal yang sama dengan Cheetah;
  10. Jika Anda dirundung stres (tekanan), istirahatlah sejenak;

    Pelajaran dari Kapal Nabi Nuh

    Pelajaran dari Kapal Nabi Nuh

  11. Ingatlah bahwa kapal Nabi Nuh itu dibangun oleh para amatir; sedangkan Titanic dibuat oleh para profesional (jangan kuatir dengan keahlian – semua bisa belajar pelan-pelan);
  12. Jangan kuatir pada serangan badai; Selama Anda bersama Tuhan, selalu ada pelangi yang akan muncul (sesudah badai).

 

 

 

*) Mengenai hadis ‘Ahlul-Bait Nabi saw ibarat Perahu Nabi Nuh’ ini dapat merujuk kepada hadis-hadis dalam kitab berikut ini:  
        • Al­-Hakim al­Naisaburi, al­Mustadrak `ala al-Sahihayn, juz 3, hlm. 151 dan juz 2, hlm. 343. Dia menyatakan bahwa hadis ini sahih berdasarkan kriteria Muslim. 
        • Al-Suyuthi, al-Durr al-Manthur, juz 1, hlm. 71-72; 
        • Ibnu Hajar al-Makki, al-Sawa’iq al-Muhriqa, hlm. 140. Dia menyatakan bahwa riwayat ini telah melalui banyak rantai periwayat yang saling menguatkan.

Baca juga: 

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: