All posts by Sembrani

Penulis, Dosen Komunikasi, dan Pecinta Sesama Anak Bangsa; Communication strategist; Tolerant Muslim.

Ketika Habib Menyembunyikan Amal

BILA Anda berkunjung ke Solo pada akhir Desember ini, Anda akan menyaksikan ramainya orang di sekitar jalan Gurawan, Pasar Kliwon. Berpusat di Masjid Riyadh, yang berada di selatan keraton Solo itu, ribuan orang datang dari berbagai kota, guna menghadiri peringatan wafatnya (khaul) Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, ulama kenamaan asal Hadhramaut, Yaman, yang menulis kitab maulid Nabi SAW berjudul Simtud-Dhirar.

Artikel ini aslinya dimuat dalam Kompas.Com, 31 Desember 2018 (klik di sini).

Tak jauh dari situ, dahulu bermukim habib Muhammad bin Abdullah Alaydrus, yang namanya dikenal luas di Solo. Banyak tamu datang ke rumahnya setiap hari, pagi sampai malam. Mereka selalu dijamu makan minum; tamu dari luar kota sering menginap di kediamannya, seberang RS Kustati, di kota batik itu. Muhammad Alaydrus sengaja membangun semacam paviliun kecil di bagian depan rumahnya,lengkap dengan kamar mandi, yang khusus diperuntukkan bagi para tetamu yang menginap. Kediamannya berlokasi di Jalan Kapten Mulyadi, seberang agak ke selatan RS Kustati.

Suasana Khaul Hb Ali Alhabsyi -Solo
Haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Ke-107 1440 | 29 Desember 2018. (Tangkapan layar Youtube/Majelis Ar-Raudhah)

Continue reading Ketika Habib Menyembunyikan Amal

Foto Cheetah dan Impala ini Bikin Kesal Pemotretnya

Kisah tentang impala (kadang disebut secara keliru sebagai rusa) itu didistorsi banyak orang, juga di Indonesia, menjadi cerita palsu. Dan membuat pemotretnya marah.

Story of excellent picture that makes the photographer, Alison Buttigieg, felt pissed off. Read the news here, and in Buttigieg’s Facebook page (see below).

Dalam foto itu, tampak seekor impala yang sedang dikeroyok cheetah. Peristiwa itu terjadi di Kenya, September 2013. Pemotretnya, wanita cantik asal Finlandia, Alison Buttigieg. [Silakan buka foto-foto Alison di situs National Geographic di sini.]

Also check Alison’s pictures in the National Geographic website (click here).

Alison jadi sangat kesal karena keterangan foto yang dibuatnya diubah orang menjadi kabar bohong (fake news) di Media Sosial. Di antara cerita yang beredar dikatakan bahwa, ‘ibu impala yang bermata tenang saat diserang cheetah itu, adalah karena ia sengaja ‘mengorbankan dirinya’, ketika ia berusaha mengelabui cheetah-cheetah yang menyerangnya dengan tenang, demi menyelamatkan anak-anaknya (agar tidak dimakan cheetah).’ Dengan kata lain, kisah bernuansa sensasionalism itu menunjukkan bahwa seolah-olah impala itu hendak mengalihkan perhatian para cheetah, agar tidak memakan anak-anak impala.

Kisah sebenarnya ada di blog Alison, yang antara lain mengatakan bahwa: “ibu cheetah yang bernama Narasha sebenarnya sedang mengajari anak-anaknya (bagaimana) cara berburu mangsa.” (Selengkapnya ada di blog Alison).

Dalam sekuens sembilan foto, semua kejadian di Maasai Mara, Kenya, itu terekam secara apik oleh lensa Alison.

pict 6 - ketika Impala tegar dikeroyok cheetah - credit photo - Alison Buttigieg.jpg
Foto ke-6 yang mencengangkan, ketika impala dikeroyok keluarga cheetah. Credit: Alison Buttigieg.

Yang paling menarik adalah bahwa ekspresi wajah impala itu, khususnya pada foto ke-6 (di atas) yang sangat mencengangkan. Ia tampak shock sehingga seolah lumpuh dalam ketakutan. Tegar ia berdiri, dan matanya tampak tajam, tanpa tanda ingin menyelamatkan diri.

Saat Impala terjebak kawanan cheetah - credit photo Alison Buttigieg.jpg
Saat impala telah ‘terjebak’. Credit: Alison Buttigieg.

Ini sebuah contoh lain, betapa informasi palsu mudah sekali beredar di Media Sosial. Jadi, berhati-hatilah pada semua berita dan informasi yang Anda terima, dan jangan mudah menyebarkannya.

Di bawah adalah tulisan Alison di Facebook-nya, yang menunjukkan betapa kesalnya ia terhadap penyalahgunaan foto-foto itu:

This is what Alison wrote in her Facebook page, on 13 February 2017: 

My Stranglehold photo went viral with a completely ridiculous fake story accompanying it, and implications I fell into depression after I took it (seriously who comes up with this crap?!?) – not to mention the gross copyright violations. Sensationalism at its best – complete fiction so that people get more likes on their page. The photo with the fake story has been shared hundreds of thousands of times on various social media. I am getting inundated by hundreds and hundreds of messages asking me whether I am the “depressed photographer”. I have been tagged in LinkedIn with the fake story – that’s going to do wonders for my career. What a vile world we live in, full of stupid gullible people spreading #fakenews like crazy.

To set the record straight the real story can be found here:http://www.alisonbuttigieg.com/cheetahkill/

Beda Mentari dan Rembulan dalam Qur’an

Ketika Allah menyifati Rembulan (qamar), Dia menyebutnya dgn “Muniiran” atau yang “Memantulkan Cahaya”. Dan ketika Allah menyebut sifat Matahari, ia dikatakan sebagai Siraajan wahhaajan, atau “Sinar yang menerangi”.

WhatsApp Image 2018-07-29 at 12.10.24 (2)

Tapi ketika Allah menyebutkan sifat Nabi saw, beliau (Rasulullah saw) digambarkan sebagai memiliki gabungan keduanya: Siraajan dan Muniiran.

Siraaj atau Siraajan, bagai matahari (sinar yg menerangi), dan sekaligus Muniiran bagai rembulan (yang memantulkan cahaya).

Penggabungan kedua sifat itu merefleksikan sifat Jamaliyah (keindahan) dan Jalaliyah (kedigdayaan) Allah SWT.

Maka sempurnalah Dhiya‘ (pantulan sinar) itu oleh adanya Nuur (cahaya), sehingga teranglah seluruh alam semesta.

Mari bersolawat kepada beliau, karena ia (Rasulullah saw) merupakan cahaya yg memberi petunjuk…(‘Nuur Al_Huda‘).

Allahumma solliy ‘alaa Sayidina Muhammad wa’alaa aali Sayidina Muhammad.

Ketika Jiwa Menangis

Dalam sebuah syairnya yang indah, khalifah ke-4, Ali bin Abithalib ra, menggambarkan bagaimana jiwa seseorang harus beramal untuk Hari Kemudian dengan “meninggalkan kecintaan pada dunia”.
Dalam video 2 menitan berikut ini, syair itu terdengar indah sekali. Saya coba menerjemahkannya. Semoga bermanfaat.

Jiwa menangisi dunia, padahal ia sudah mengerti tentangnya,
Bahwa kebahagiaan di dalamnya dicapai dengan meninggalkannya,
Tiada tempat tinggal bagi siapa pun setelah maut memisahkannya daripadanya (dari dunia itu),
Kecuali tempat yang ia siapkan sebelum kematiannya,
Dan jika membangunnya dengan kebaikan, di sanalah ia kelak menikmatinya…

النفسُ تبكي على الدنيا وقد علمت
The Soul Cries over this world and yet acknowledges,

أن السعادة فيها ترك ما فيــها
that the happiness within it is to abandon what is within it.

لا دارٌ للمرءِ بعد الموت يسكُنها
There is no house for the individual to live in after death,

إلا التي كانَ قبـل الموتِ بانيـها
except for the one that he built before his death.

فإن بناها بخير طاب مسكنُه
And if he built it with goodness, pleasing his settlement will become,

Mutiara Imam Ali as Continue reading Ketika Jiwa Menangis

Doa 10 Hari Terakhir Ramadhan

Berikut ini sebuah doa pendek (sekitar tiga menit) yang biasa dilantunkan keluarga Nabi saw pada malam 10 terakhir bulan Ramadhan. (Maaf, artinya masih dalam bahasa Inggris):

 

بسم الله الرحمن الرحيم

In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful.

اللهم صلي على محمد وأل محمد

O Allah, bless Muhammad and the family of Muhammad.

اللهم إنك قلت في كتابك المُنزل

O Allah, You have said in Your revealed book,

شهر رمضان الذي انزل فيه القرءان

the month of Ramadhan, in which the Qur’an was sent

هدى للناس وبينات من الهُدى والفرقان

a guidance for men, and a clear sign of guidance and distinction (2:185).

فعظمت حُرمة شهر رمضان

So You have magnified the sanctity of the month of Ramadhan,

بما انزلت فيه من القرءان

by revealing the Qur’an in it.

وخصصته بليلة القدر

And You have made it special by placing the night of Qadr in it,

وجعلتها خيراً من ألف شهر

and making it better than a thousand months.

 

Al-Qur'an - diperkirakan dari abad 8 atau 9 -Mekah atau Madinah
Lembaran Al-Qur’an – diperkirakan dari abad 8 atau 9 -Mekah atau Madinah
اللهم وهذه أيام شهر رمضان قد انقضت
O Allah, and now the days of Ramadhan are nearing completion,

 

ولياليه قد تصرمت
and the nights are leaving us.

 

وفد صرت يا إلهي منه إلى ما أنت اعلم به مني
And You know better than me what status I have reached in this month,

 

واحصى لعدده من الخلق أجمعين
for You alone can calculate it from all of creation.

 

فأسئلك بما سئلك به ملائكتك المقربون
So I ask You by, what the angels close to You have asked

 

وأنبيائك المرسلون
that your sent Prophets,

 

وعبادك الصالحون
and Your virtuous servants, have asked.

 

أن تُصلي على محمد وأل محمد
That You bless Muhammad and his family,

 

وأن تفُك رقبتي من النار
and save me from the fire,

 

وتُدخلني الجنة برحمتك
and make me enter Heaven, by Your mercy.

 

وأن تتفضل عليّ بعفوك وكرمك
Favour me by Your forgiveness and grace,

 

وتتقبل تقربي
accept my seeking nearness to You,

 

وتستجيب دُعائي
and answer my prayer.

 

وتمُن عليّ بالأمن يوم الخوف
Grant me security on the day of fear,

 

من كل هول اعددته ليوم القيامة
from every horror You have prepared for the Day of Judgement.

 

إلهي وأعوذ بوجهك الكريم
My God, I seek refuge with Your gracious self,

 

وبجلالك العظيم
and Your mighty power, from (such a state)

 

أن ينقضى أيام شهر رمضان ولياليه
that the days and nights of Ramadhan reach completion,

 

ولك قبلي تبعة أو ذنب تؤاخذني به
and there still remains a sin on me,that You will account me for,

 

أو خطيئة تريد أن تقتصها مني لم تغفرها لي
or a mistake that You have not forgiven me.

Continue reading Doa 10 Hari Terakhir Ramadhan

A Note to Terrorists in Ramadhan

A Note to Terrorists: When Fasting, Do You Remember Islam Says to Harm No One?

My daughter recently asked me: Do terrorists fast, Dad? Did the Sept. 11 suicide bombers fast?  I didn’t know what to say, but the 16-year-old went on: “And what would that fasting mean, when they kill innocent citizens without any justified reason, whereas Muslims all over the world understand that they must not harm anyone?

Fair enough, I think. Even outside the fasting month of Ramadan, Muslims are taught to be always sensitive, tolerant and forgiving, and to never harm an innocent being, let alone a human being. Islam teaches us that even when we slaughter an animal, we should minimize the suffering. For example, an animal should be given water prior to its slaughter and it should be done swiftly with a very sharp knife.

This (my) article has been published in the Jakarta Globe newspaper last August 2010. With a little retouch and pictures, I am publishing it again this Ramadhan.  Oh by the way, I can assure you that it is still relevant.
Meski sudah lama, kolom opini saya (dalam bahasa Inggris) yang dimuat di Jakarta Globe ini masih relevan untuk dibaca kapan pun, khususnya pada bulan suci Ramadhan ini. Saya memuatnya kembali, dengan sedikit sentuhan dan tambahan beberapa gambar.

But the terrorists might have a different understanding, based on their interpretation of the word “jihad” — which lately has been rendered into a scary term. We remember the terror of 9/11. US foreign policy in Muslim countries did not justify the loss of lives in the attack. This is not what Islam teaches.

 

Bom-bunuh-diri di gereja Surabaya
Terror in Surabaya on 13 May 2018, just two days prior to fasting month of Ramadhan (read the news here)

Consider the wartime instructions of the Prophet Muhammad: He clearly forbade the killing of children, the elderly, women and all noncombatants or civilians. Those who lost their lives in the World Trade Center towers and in the planes were all civilians, some of them Muslims.  Continue reading A Note to Terrorists in Ramadhan