RSS

Author Archives: Syafiq Basri

About Syafiq Basri

Communication strategist; writer; blogger; non practising medical doctor; like to travel.

Ketika Kecantikan Tak Penting Lagi

Ketika Kecantikan Tak Penting Lagi

Apa yang sesungguhnya penting…

Siap atau tidak, suatu ketika semuanya akan berakhir; Tidak akan ada lagi sinar mentari, tak ada menit; jam dan hari-hari semua sirna; Segala yang Anda kumpulkan, baik yang dijadikan harta karun atau terlupa, semua akan beralih ke tangan orang lain;

Kekayaanmu, ketenaran dan kekuasaan sementara, bakal menguap tak lagi relevan;

Tak penting lagi apa yang Anda miliki atau yang menjadi piutang;

What will Matter — klik di sini.;

Atau pirsa videonya di sini. Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , ,

Soal hadis ‘Qur’an dan Sunnah’ itu

Shocking!

Aduuuh!  Dari mana dasar ulama mengatakan kita harus ‘berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah,’ jika tidak ada ayatnya, dan tidak ada kitab Hadis Sahid yang memuatnya?

Mungkin Anda akan kaget juga. Coba deh, lihat video Dr Adnan Ibrahim di tautan (link) yang ada di bawah. Beberapa kawan saya sudah terkejut luar biasa. Dalam ceramahnya, ulama Palestina yang kini tinggal di Wina (Austria) itu menyebutkan bahwa, “ternyata hadis yang amat populer di kalangan kita, mengenai wasiat Nabi saw yang terkenal dengan nama “Hadis Tsaqalain“, ternyata tidak terdapat di satu pun dari enam (6) kitab rujukan utama Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah).

Ayat Tathir (Al-Ahzab 33)

Ayat Tathir (Al-Ahzab 33)

 

Lihat juga video Ammar Nakhshawani dan link situs Sunnah.Com.

 

Hadis ‘Tsaqalain‘ (Dua Hal Utama) menukilkan riwayat bahwa Nabi saw mengatakan, bahwa, “Aku tinggalkan dua hal besar bagi kalian semua, yang jika kalian berpegang kepadanya, kalian tidak akan tersesat selamanya, yakni Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnahku.”

SahihMuslimCover

Cover Buku ‘Sahih Muslim’

 

Ternyata, sebagaimana dikatakan Adnan Ibrahim, hadits tadi tidak ada dalam satu pun di antara enam kitab ‘Kutub as-Sittah’.  Of course, that’s really shocking, Gusy!  Sebab selama ini banyak dari kita yakin, saking terkenalnya hadis itu, semua merasa seolah-olah bahwa Hadits Tsaqalain itu sedemikian kuatnya hingga dianggap hanya satu derajat di bawah Kitab Suci Al-Qur’an.

Sebagaimana kita ketahui, di kalangan Sunni, terdapat enam (6) kitab rujukan utama yang dikenal dengan ‘Kutub as-Sittah‘ (Kitab yang Enam), yakni:

  1. Bukhari.
  2. Muslim.
  3. Abu Daud.
  4. Ibnu Majah
  5. An-Nasai
  6. Turmudzi

Ternyata pernyataan (dalam hadis) itu, yang mengatakan bahwa Nabi saw bersabda “Aku tinggalkan kitab Allah dan sunahku,” merupakan kesalahpahaman (atau distorsi?) yang telah menyebar luas.

Berikut ini video Dr Adnan Ibrahim yang dimaksud di bagian atas tulisan ini:

Siapa Adnan Ibrahim? Lahir di Pengungsian Nusairat, Jalur Gaza, Palestina, tahun 1966, Adnan melanjutkan studinya (di bidang kedokteran) di Yugoslavia. Adnan pindah ke Wina (Austria) pada awal tahun 90-an, dan kemudian mendirikan lembaga Asosiasi Dialog Antar-budaya.
Minatnya pada pengetahuan menjadikan Adnan bagai sebuah ensiklopedia. Ia mempelajari dan mengajar berbagai ilmu mulai dari humanities, filsafat, teologi, ilmu-ilmu ke-Islaman, dan sebagainya. Selengkapnya Anda dapat merujuk pada blog Adnan berikut (dalam bahasa Arab). Klik di sini.

Namun, riwayat yang lemah itu, berhubung telah disampaikan jutaan kali secara massif ke seluruh dunia Islam, selama ratusan tahun dan secara terus menerus, menjadikan ia diyakini sedemikian kuat. Tegar tak tergoyahkan. Dan, orang pun nyaris tidak pernah ada yang mempersoalkan ke-sahih-an, kekuatan, atau pun otentisitasnya.

Faktanya, tidak ada dasar yang dapat diandalkan dari pernyataan itu yang dihubungkan pada Khutbah Terakhir Nabi saw.

Sebagaimana kita katakan di atas, riwayat itu sama sekali tidak ada dalam kitab sahih yang enam (kutub as-Sittah). Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , ,

Beginilah Percakapan Para Habib

Tradisi sehari-hari di kalangan habib sering menjadi contoh bagaimana sikap sangka baik (husnu-dzan) dan toleransi menjadi kunci dakwah yang efektif.

Habib atau jamaknya ‘habaib’ adalah komunitas Arab yang mempunyai garis keturunan dari Nabi Muhammad saw. Kata ini hanya populer di tengah mereka yang berasal dari Hadramaut, sebuah provinsi di bagian selatan Yaman. Sementara para keturunan Nabi saw lain yang bukan berasal dari Hadramaut lazimnya disebut dengan kata ‘sayyid’ atau ‘syed’ atau ‘syarif’, bukan dengan kata “habib“.

Tulisan menarik ini merupakan karya Ustadz Husein Muhammad Alkaff. Jarang ada yang membahas masalah ini, ringan tetapi sangat menarik.  Oh ya, saya mengeditnya sedikit dan menambahkan foto dan ilustrasi di dalamnya, guna lebih menghibur pembaca.
Foto banyak habaib

Sebagian auliya habaib yang terkenal di Nusantara.

Secara umum para habib masih mempertahankan tradisi keagamaan para leluhur mereka. Dalam urusan ritual, mereka mengikuti ‘Thariqah Alawiyah (Tarekat Alawiyah) yang sudah mapan dan ajek. Mereka , misalnya, melazimkan membaca ‘Ratib’, baik ‘Ratib al-Haddâd’, atau pun ‘Ratib al-Attâs’. Selain itu, ada pula ‘Ratib al-‘Aydrûs ‘.  Biasanya para habib dan jamaahnya melantunkan bacaan Ratib setiap bakda solat Magrib.

Ada pula beberapa kebiasaan lain, seperti membaca ‘al-Wird al-Latif’ setelah solat Subuh; ‘Maulid Nabi’ SAW (dari kitab ‘Simth al Durar’ tulisan Habib Ali Al-Habsyi, dan ‘Al-Dibai’) setiap malam Jum’at ; lalu ‘Burdah al-Bushiri’ seminggu sekali, dan sebagainya. Amalan-amalan itu mereka jalankan secara turun temurun, baik sendiri maupun berjamaah.

Lazimnya, dalam acara Maulid para jamaah berzikir, di antaranya membaca solawat pada Nabi SAW, mengenang dan menyampaikan sejarah keteladanan Nabi yang mulia itu.  Tidak ada kejelekan di dalamnya, melainkan justru ucapan-ucapan kebaikan dan ajakan untuk mencontoh akhlak Nabi SAW.

Thariqah Alawiyah dicetuskan oleh Imam Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam (574-653H), kakek moyang para habaib di Indonesia dan Yaman, lalu dirumuskan secara apik dan final oleh Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad (1044-1132 H) dalam dua karyanya; al Nashâih al Diniyyah dan Risâlah al Muâ’wanah. Rujukan utama Thariqah ini dalam bidang tasawwuf adalah kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, karya monumental Imam Abu Hamid al-Ghazzâli (450-505 H), ulama kelahiran Persia (Iran sekarang), dan dalam bidang fiqih adalah Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau dikenal dengan sebutan Imam Syafii (150-204 H). Sedangkan dalam bidang aqidah-teologi adalah Abu Hasan al-Asy’ari (260- 324 H).

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

3 Amal Penting Sebelum Mati

Aaah…ternyata hadis tentang ‘3 amal yang tidak putus setelah wafat’ itu lemah, baik dari segi sanad (periwayat), maupun matan (content)-nya. Tapi heran bin ajaib, hadis itu begitu populer di kalangan kita. Itu sebabnya ia banyak disebut dalam berbagai pengajian dan ceramah. Sehingga, merujuk pada hadis itu, banyak yang melarang kaum Muslim membaca tahlil, ziarah kubur, dan gak perlu mendoakan yang wafat (kecuali orangtuanya).

3 amal yg tak putus

Riwayat itu memang ditulis dalam beberapa kitab Hadis, mulai dari Bukhari, Muslim, hingga Abu Dawud dan An-Nasai. Dalam Sahih Bukhari ini tulisannya:

Kami (al-Bukhariy diberitahu oleh Abu al-Rabi’: dia mengatakan : kami diberitahu oleh Ismail bin Ja’far, dia mengatakan: kami diberitahu oleh al-‘Ala dari bapaknya dari Abu Hurairah r.a. bahwa bahwa rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang hamba me-ninggal dunia, maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal, yakni sadaqah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya”. (HR. Al-Bukhari di dalam kitab al-Adab al-Mufrad hadis no. 38).

Demikian pula dalam kitab Sahih Muslim (juz 2 hal. 70 hadis no. 1631), Sunan Abu Dawud (juz 3 halaman 117 hadis no. 2880), Tirmidzi (di dalam ‘Sunan’-nya, juz 3 halaman 88 hadis no. 1381), dan An-Nasai (Sunan An-Nasai, juz 6 halaman 251), bunyi hadisnya sangat mirip dengan sedikit variasi  di dalamnya.  Hadis yang sama juga termaktub dalam ‘Musnad Imam Ahmad bin Hambal’, juz 2 halaman 372.

Ternyata, hadis itu lemah (dha’if) menurut penilaian Jalal al-Din al-Suyuthi. Rujukannya dari kitab Al-Jami’ al-Shaghir (halaman 35). Selengkapnya, lihat blog Abdul Qodir Jaelani ini (klik di sini).

Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , , , , , , , ,

Lagi, Kebohongan di Suriah…

Apa yang terjadi di Suriah; benarkah Asad menggunakan senjata kimia? Ternyata itu hanya fitnah belaka. Jangankan menyerang rakyatnya sendiri, senjata kimia saja Asad tidak punya. Ini mengingatkan kita pada kejadian di Irak dulu.
Alasan untuk  mengebom dan menginvasi Irak pada tahun 2003 adalah, kata Presiden AS George Bush, Saddam Hussein memiliki dan menggunakan Senjata Pemusnah Massal (Weapons of Mass Destruction — WMD), yang ternyata sama sekali tak berhasil ditemukan di Irak.  Dalam konvensi Partai Republik (AS) belum lama berselang, Presiden Trump secara tegas mengatakan bahwa pemerintahan Bush telah berbohong.  “You call it whatever you want. I want to tell you. They [the Bush administration] lied,” kata Trump sebagaimana dikutip guru besar AS dalam Bidang Sejarah Islam, Brian Glyn Williams (klik di sini).
Anehnya, kini Trump sendiri yang mengebom Suriah, dengan alasan (fitnah) serupa, bahwa Suriah, katanya, telah menggunakan Bom Kimia. Untuk urusan kebohongan-kebohongan di Suriah ini, salah satu artikel yang paling gamblang menjelaskannya adalah yang ditulis Dina Sulaeman berikut ini: (Catatan: saya menambahkan foto, grafik dan sedikit informasi tambahan).

Cara Menganalisis Berita dalam Kasus Senjata Kimia di Idlib

Berkali-kali mahasiswa menanyakan kepada saya (Dina Sulaeman maksudnya – red), bagaimana cara kita menelaah berita dari media mainstream. Berikut ini contohnya. Kasus yang akan kita pelajari adalah berita dari New York Times (NYT), ditulis tanggal 4 April 2017, di hari yang sama dengan kejadian serangan senjata kimia tersebut. Penulisnya Anne Barnard dan Michael R. Gordon yang melaporkan dari Beirut (Lebanon). [1]

  1. Sebuah berita (news) yang valid adalah ketika wartawan telah melakukan cross-check di lapangan. Robert Fisk, jurnalis senior asal Inggris, pernah menulis bahwa melaporkan berita dengan hanya bersumber dari satu pihak, tanpa ada wartawan yang mengkonfirmasi dengan matanya sendiri atas hal-hal yang mereka laporkan, adalah salah. [2]
Foto yang digunakan dalam koran The-New-York-Times 4 April 2017

Foto yang dipakai dalam koran The New York Times, 4 April 2017 lalu.

Berita NYT ditulis dari Beirut, dan wartawannya (Bannard dan Gordon) tidak datang langsung ke lapangan. NYT menyebut narasumbernya: ‘saksi’, dokter, dan tenaga medis (Paragraf. 3) Foto dan video yang digunakan sebagai data disuplai oleh aktivis yang diunggah di internet (P. 9). Tanpa evaluasi yang seksama atas info-info tersebut, NYT sejak di paragraf 1 sudah memberikan kesimpulan bahwa pelakunya adalah pemerintah Suriah. Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , ,

Inikah Syiah yang Dimaksud Ahok?

Ternyata Ada Takfiri juga di Syiah

Ketika Ahok menyebut mengenai mazhab Syiah dan Wahhabi, ‘yang aneh-aneh’ itu’ di Metro TV, banyak yang kaget. Ahok yang bukan ahli agama kok ngomong begitu? Tahu apa beliau tentang Islam mazhab Syiah dan Wahhabi (Salafi)?

Tulisan ini awalnya berjudul, “Oh, Ternyata Ada Takfiri juga di Syiah“, kemudian saya gubah sedikit, agar nyambung dengan ‘peg’ ramainya perdebatan soal itu setelah debat di program Mata Najwa Metro TV 27 Maret 2017 silam.

Begini…

Dalam salah satu segmen debat itu, Calon Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyebut mengenai program yang memperhatikan kelompok Muslimin dan mengedepankan Islam yang ramah, yang membawa rahmat kepada alam semesta (rahmatan lil ‘aalamiin).  Ini di antara yang dikatakan Ahok: “… di Masjid Raya Daan Mogot, kita membawa Islam yang rahmatan lil ‘aalamin, takmirnya membawa khutbah yang sejuk. Islam Nusantara. Bukan Wahabi, bukan Syiah. Bukan yang aneh-aneh…”

Anies vs Ahok

Ahok dan Anies dalam debat di Mata Najwa

Nah, terkait itu, rasanya perlu kita jelaskan kembali persoalan tersebut. Mengenai Wahabi (atau Salafi) yang sebagiannya masuk kelompok Takfiri (suka mengkafirkan Muslim lain), sudah banyak kita bahas di beberapa bagian blog ini (silakan baca: Kanker itu bernama Wahhabi).

Lalu, sebenarnya dari mana Ahok bisa bilang, Syiah yang aneh-aneh itu? Sebentar… Mari luruskan kaki dan ubah duduk kita. Aaaah…

Selidik punya selidik, tampaknya Ahok hanya tahu tentang Syiah gara-gara tempo hari, pada 2015, ia pernah ditemui seorang yang mengaku tokoh Syiah dari Australia, Syaikh Muhammad Tawhidi. Padahal Tawhidi itu ditolak kedatangannya oleh ABI dan IJABI, dua organisasi Syiah di Indonesia, karena ia tergolong kelompok Syiah Takfiri.

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , ,

Semobil dan Ngobrol bareng Anies

Semobil dan Ngobrol bareng Anies

Hujan deras menggerojok. Langit tumpah. Di luar rencana, akhirnya saya harus ikut di mobil Anies Baswedan agar bisa ngobrol dengannya. Sabtu malam akhir Februari lalu itu Jakarta kuyup. Basah. Dan tak kunjung reda. Tetapi perjalanan dengan Anies membuat saya lupa pada apa yang terjadi di luar mobil. Seperti biasa, bincang-bincang dengan pendiri gerakan ‘Indonesia Mengajar‘ itu Anies selalu mengasyikkan – pengetahuan dan wawasannya dalam berbagai hal sungguh memukau.

Anies kunjungi wilayah banjir - saat Jkta husan - foto Viva

Anies saat mengunjungi wilayah yang banjir di Cipinang-Melayu, Jakarta Timur (Foto: Viva.co.id)

Tulisan ini aslinya telah ditayangkan dalam media berikut (klik di sini), dan ini sekedar pemberitahuan untuk Anda membacanya di tautan tersebut. Read the rest of this entry »
 

Tags: , ,