Hoax, Bahaya Infodemi dan Covid-19


Artikel ini aslinya dimuat pada harian Kompas, Senin 21 Juni 2021 (halaman 7) dengan judul “Bahaya Infodemi dan Covid-19” — klik di sini.

Perlu sekitar 5 menit untuk membaca tulisan 1400-an kata ini.

Ini adalah tentang infodemi. Terma tentang fenomena adanya ‘wabah informasi kesehatan’, yang belakangan dipenuhi fakta palsu yang menyesatkan. Banyak bukti menunjukkan dampak negatifnya, seperti pengingkaran realitas ancaman virus atau manfaat vaksinasi. Akibatnya muncullah berbagai pelanggaran protokol kesehatan sebagai intervensi non-medis atau penolakan pada vaksinasi – yang efeknya merugikan masyarakat luas.

Diperkirakan setengah kematian akibat Covid-19 di AS pada masa-masa awal pandemi seharusnya bisa dicegah kalau saja intervensi non-medis (yakni menjaga jarak dan tetap tinggal di rumah) dilaksanakan para penderita satu pekan sebelumnya. Itu disampaikan Leonardo Bursztyn dari University of Chicago dan beberapa koleganya dalam kertas kerja, September 2020 lalu.

Infodemi terkait kesehatan.

Ketika dokter asal Kanada, Gunther Eysenbach mendedahkan kata infodemi (infodemic) pertama kali pada 2002 mungkin ia tidak menyangka bahwa istilah itu dua dasawarsa kemudian diadopsi badan kesehatan dunia WHO. Bahkan Sekjen PBB Antonio Guterres pada 14 April 2020 lalu mencuitkan dalam Twitter-nya tentang pentingnya memerangi infodemic dengan fakta-fakta dan bukti nyata. PBB mengkhawatirkan wabah informasi terkait kesehatan yang bahayanya bersaing dengan ancaman virus corona sendiri.

Eysenbach kecewa. Twitter belakangan menerbitkan aturan yang di antaranya tidak mengijinkan organisasi sains dan penerbit jurnal ilmiah menyiarkan kontennya di situ – karena dianggap sebagai “konten yang tidak layak” (“inappropriate content”). Ini sebuah realitas salah kelola terhadap infodemi di media sosial. Padahal tersedia kesempatan bagi para ahli kesehatan masyarakat untuk mengelola infodemi berikutnya, yang kita hadapi segera setelah tersedianya vaksin,” tulis Eysenbach di Journal of Medical Internet Research (JMIR) Juni 2020.

Kekhawatiran Eysenbach sangat beralasan. Kita semua menyaksikan banyaknya misinformasi, disinformasi ataupun hoax yang kini dikonsumsi orang dari media konvensional maupun media sosial. Sebuah studi Cornell University yang dimuat di New York Times September 2020 lalu menyebutkan adanya 38 juta artikel di dunia yang menunjukkan Presiden Trump adalah sumber terbesar munculnya misinformasi global.

Agustus 2020 lalu Facebook menghapus tujuh juta unggahan yang mengandung misinformasi tentang COVID-19 Amazon pada Februari 2020 juga menghapus lebih dari satu juta produk yang ditawarkan dengan klaim bisa mengobati atau melindungi orang dari virus corona.

Sebagai orang pertama yang menggagas istilah infodemi (dari infodemiology atau the epidemiology of misinformation) dalam American Journal of Medicine (2002), Eysenbach mendefisikannya sebagai “sebuah disiplin riset baru dan metodologi”. Dalam bingkai Eysenbach, istilah infodemiology menjadi cara untuk mengidentifikasi area-area tempat adanya kesenjangan (gap) pada knowledge translation, yakni celah antara bukti-bukti ilmiah terbaik yang diketahui para ahli dari hasil risetnya dan praktik tenaga kesehatan di lapangan.

Tak pelak lagi akibat meledaknya informasi terkait pandemi itu banyak orang yang bingung, gundah, cemas, bahkan stress.  Apabila infodemi berkaitan dengan kesehatan, sebenarnya kita juga menghadapi infobesity yakni fenomena kelewat banyaknya informasi tentang segala hal yang kita hadapi,  tak hanya urusan kesehatan. Fenonema infobesity (dari info-obesity, alias kelebihan beban informasi) itu terjadi ketika ribuan atau jutaan informasi menyeruak ke gawai kita setiap saat, sejak pagi hingga saat tidur.  Situasinya diperparah oleh munculnya sejumlah orang yang mengalami gejala fear of missing out (FOMO). Mereka ini takut ketinggalan informasi dan ingin tampil, sehingga buru-buru menyebarkan dan menerus-ulangkan (forward) informasi yang diterimanya tanpa menyaringnya lebih dulu.

Kita mengenal tiga jenis istilah terkait dengan ‘penyakit informasi’ (information disorder) ini. Pertama, “misinfomasi”. Ia punya ‘pasangan’ yang dinamakan “disinformasi”. Keduanya sama-sama mengandung informasi yang tidak benar (false atau fake), tetapi bedanya misinformasi disebarkan oleh orang yang meyakini bahwa itu benar, sedangkan aktor penyebar disinformasi tahu bahwa info itu palsu tetapi ia secara sengaja menyebarkannya.

Dengan kata lain, penyebar misinformasi tidak punya niat jahat, makanya disebut sebagai “honest mistake”. Mungkin dosanya tidak sebesar pelantun disinformasi, yang sengaja membohongi korban yang hendak disesatkannya. Itu sebabnya disinformasi dinamakan “deliberate lie to mislead”.

Seringkali terorganisasikan dan diperkuat teknologi yang diotomatisasi agar mudah merebak luas. Biasanya disinformasi menyasar mereka yang punya banyak pengaruh atau follower di media sosial.

Disinformasi ini mirip dengan (atau dipakai sebagai alat) propaganda, tetapi pada propaganda jauh lebih manipulatif.

Walakin, barangkali dosa terbesar ada pada penyebar hoax, kepalsuan yang sengaja diciptakan agar seolah tampak sebagai sebuah kebenaran (deliberately fabricated faleshood, made to masquerade as truth).

Serupa dengan tipuan atau trick, secara etimologi “hoax” berasal dari kata hocus (yang muncul pada abad 18), yang berarti “mengelabui” — dan kita tahu ini kerap digunakan dalam dunia sihir. Sering dipakai untuk menyesatkan pembaca demi keuntungan finansial atau politik, banyak berita hoax bernuansa sensasional, deseptif atau merekayasa judul (seperti clickbait, umpamanya).

Targetnya: meningkatkan jumlah pembaca, dengan harapan masuknya fulus (seperti perolehan  pendapatan iklan) ke kantong penggagas.

Adapun jenis ketiga adalah “malinformasi. Barangkali termasuk yang paling membahayakan, realitas informasi yang dikandung malinformation bisa mengandung kebenaran atau sebagian benar. Namun, masalahnya ia digunakan untuk menimbulkan bahaya atau keburukan pada pihak lain.

Parahnya, hal ini kadang dipakai menyerang negara lain. Sebuah contoh malinformasi adalah ketika lebih dari 20 ribu email pribadi kandidat presiden Perancis Emmanuel Macron diretas dan ditebar menjelang  pemilihan presiden ronde kedua, 7 Mei 2017. Meski sebagian email itu dianggap asli, belakangan ia diramu dengan banyak informasi palsu dan diberai-beraikan di banyak platform media sosial, demi merusak nama baik presiden termuda dalam sejarah Perancis sejak Napoleon itu.

Keracunan informasi.

Banyak pakar, termasuk psikolog menjelaskan bahwa kelebihan beban informasi, information overload atau ledakan informasi (information explosion) bisa menjadikan kita keracunan infomasi (infoxication). Akibat pesatnya teknologi informasi terjadi peningkatan jumlah informasi yang luar biasa, bagaikan sebuah tsunami. Ini kemudian memunculkan kecemasan (information anxiety) yang menyebabkan kita susah memahami perkara yang ada dan sulit mengambil keputusan. Jika input melebihi kapasitas otak memproses, kata Roetzel (2019), maka information overload itu, apalagi bila informasi itu rumit, kompleks dan saling kontradiksi, kualitas keputusan menurun atau menyebabkan kita sulit mengambil keputusan. Alvin Toffler (1970) dan Bertram Gross (1964) juga menegaskan dampak information overload ini.

Penjelasan lebih detail diungkapkan George Armitage Miller. Penggagas psikologi kognitif dan guru besar Princeton itu berpendapat, kapasitas memori jangka-pendek otak manusia hanya bisa mencerap dan mengolah tujuh plus minus dua (yakni 5-9) ‘bongkah’ informasi pada satu saat. Bagi Miller, otak manusia itu mirip dengan komputer: memproses informasi dalam empat tahap, memaparkan diri pada informasi (membaca, menyimak), mengkodifikasi, menyimpan dan mengungkapkannya kembali (retrieve). Jika beban otak lebih dari kapasitasnya, orang jadi bingung dan akhirnya mengambil keputusan yang kurang tepat atau salah.

Walakin angka tujuh terlalu besar, kata Nicholas Carr. Menurut Carr, memori kita hanya memiliki kapasitas maksimum tiga hingga empat elemen. Carr yang menulis “The Shallows: What The Internet Is Doing To Our Brains,” mengatakan bahwa ledakan keinginan mencari informasi baru itu menyebabkan orang kecanduan informasi, sehingga memunculkan hambatan berfikir secara mendalam (obstructing deep thinking), mencegah pemahaman dan makin sulit dalam belajar. Ini disebutnya sebagai “cognitive overload”. (Tambahan: Yang terakhir ini penting untuk para siswa dan mahasiswa dalam mencerap pelajaran – pen.)

Empat kunci lawan  hoax

Kalau Eysenbach menganjurkan penelitian konten terkait kesehatan sebagai infoveillance, kita bisa menyelidiki dan menanggulangi hoax bagi informasi secara umum melalui empat cara praktis ini.

Pertama dan terpenting, cek keterandalan (reliability) sumber informasi. Dari mana ia berasal. Informasi dari media arus-utama (Kompas, Tempo, Reuters, BBC) lebih dapat dijamin ketimbang kutipan dari platform jejaring sosial seperti Facebook. Telitilah nama penulis dan institusi pembuat informasi itu: pemerintah, aktivis politik, atau siapa? Ingat, tidak semua yang “viral” dijamin benar, dan seringkali pencipta hoax mengutip pihak lain untuk menyesatkan, sedangkan nama penulis sendiri tidak ada di situ.

Kedua, pertanyakan konten yang terasa aneh karena kemungkinan memang ia sebuah kepalsuan. Jika isinya sesuatu yang amat penting atau berita besar, mengapa tidak ada di media arus-utama? Gunakan intuisi Anda: jika perasaan kita meragukannya, mungkin memang “palsu”. Kita harus makin waspada bila informasi itu sebuah forward dari tempat lain.

Ketiga, waspadai “bias diri”. Kebencian atau cinta berlebihan pada seorang tokoh, biasanya di dunia politik menjelang pemilu, seringkali menjadi pemicu munculnya kebohongan. Jangan mudah percaya atau ingin dianggap hebat (akibat FOMO), misalnya dengan buru-buru menekan tombol ‘share’ atau ‘forward’. Boleh jadi Anda ikut menanggung dosa kalau itu fitnah.

Keempat, tengarai ciri-ciri kepalsuan. Salah ketik, tata bahasa yang kacau, atau tidak ada nama penulis dalam sebuah utas informasi sangat mencurigakan sebagai palsu. Patut diingat bahwa banyak konstruksi berita merupakan sebuah rekayasa untuk tujuan tertentu.

Itu sebabnya di media arus-utama para redaksi mengedit dan meneliti semua tulisan yang akan dipublikasikan; itulah di antara fungsi “gatekeeper” (penjaga gawang) di media, sesuatu yang absen pada media sosial.

Gunakanlah situs untuk meneliti adanya hoax. Banyak yang malas, padahal kita bisa meneliti sebentar melalui kanal seperti Factcheck.org, Situs Kominfo, NewsGuard, dan cekfakta.com, sebuah laman yang muncul pada 2018 dan secara gotong royong dikurasi oleh 22 media massa seperti Kompas, Liputan6, Jakarta Post, Tirto, dan Detik .

Silakan Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s