Category Archives: Media

Silatturahmi lewat Radio

Catatan: Di Jakarta belakangan ini sebuah radio swasta, Radio Silaturahim (720 AM), makin banyak digemari. Penggemarnya makin banyak, karena radio Islam itu hanya menyiarkan dakwah yang menyejukkan, tidak memfitnah, tidak teriak atau menghardik. Misinya hanya “untuk Islam yang satu”.

Tetapi belum lama ini, rekan saya, Geisz Chalifah, yang menjadi salah satu pengurusnya kesal, karena radionya itu dituding sebagai “radio Syiah”. Tentu tidak ada yang salah dengan perbedaan mazhab — setiap Muslim boleh saja memilih mazhab yang diyakininya — dan orang yang berbeda mazhab mesti saling menghormati keyakinan (mazhab) saudaranya yang lain. Tetapi, Geisz menampik jika dikatakan bahwa “Rasil” adalah Radio Syiah. Berikut ini  tulisan di blog Geisz itu:


Dari:
Geis Chalifah

Kepada: “alirsyad@yahoogroups.com”

Dikirim: Rabu, 25 April 2012 22:48
Judul: [Alirsyad] RASIL (Radio Silaturahim Am 720 Sedikit keterangan Buat Tukang Fitnah Diluar Sana)

Saya membaca begitu banyaknya tulisan bernada fitnah tentang radio silaturahim. Fitnah yang paling gencar adalah sebagai radio syiah.  Continue reading Silatturahmi lewat Radio

Memuaskan Bos atau Karyawan?

Syafiq Basri Assegaff.

Tulisan asli dapat dibaca di Inilah.Com, 15 Desember 2011.

Ini adalah tentang komunikasi di tempat Anda bekerja. Tentang komunikasi internal. Boleh jadi Anda akan mengaitkannya dengan organisasi semacam PSSI, yang pelatihnya, Rahmad Darmawan, belum lama ini mengundurkan diri.

Kalau pun begitu, mungkin Anda tidak keliru. Sebab tampaknya komunikasi internal memang merupakan kunci penting keberhasilan setiap organisasi.

Dengan kata lain, sesungguhnya komunikasi di dalam lembaga, sekolah, perusahaan atau organisasi apa pun, adalah sedemikian penting bila manajemen ingin punya reputasi dan unjuk kerja (performance) yang tinggi.

Bahkan juga di perusahaan media, tempat yang lazimnya punya suasana amat demokratis, komunikasi antara wartawan dan pimpinan juga mesti dipupuk dengan baik.

Ini perlu digaris bawahi, sebab pengamatan sejauh ini menunjukkan adanya kekuatiran di kalangan wartawan sendiri bahwa komunikasi di kantor mereka masih perlu ditingkatkan. Itu yang pertama.

Kedua, berhubung kini perusahaan media tumbuh makin semarak, maka otomatis masalah komunikasi yang sehat di dalam perusahaan media juga makin harus diperhatikan. Jangan sampai orang-orang yang bekerja di lembaga yang menjadi salah satu pilar demokrasi itu terganggu atau lupa pada perlunya suasana komunikasi yang sehat dan terbuka. Continue reading Memuaskan Bos atau Karyawan?

Jurnalisme Baru WikiLeaks

Julian Assange, photo ("sunny country bac...
Julian Assange - disukai dan dibenci

Syafiq Basri Assegaff

Koran Tempo 16 April 2011

Banyak yang memuji WikiLeaks, situs penyebar rahasia yang resmi berdiri pada 2007, sebagai “jurnalis yang sebenarnya”. Awal Maret lalu, situs lembaga jurnalisme independen Consortiumnews menurunkan artikel dengan judul “WikiLeaks Mempermalukan Media Gaya Lama”. Kevin Zeese, penulisnya, menempatkan Assange di garis depan gerakan mendemokrasikan jurnalisme dan membangun kekuatan rakyat. Sebagian lainnya malah menganggap yang dilakukan Assange sesungguhnya adalah semacam “jurnalisme investigatif”, sebuah kegiatan penyelidikan oleh wartawan untuk mengungkap rahasia sumber berita.

Di Amerika Serikat, jurnalisme investigatif pernah mencapai puncaknya pada 1970-an. Namun kualitas media kian lama kian menurun, sehingga media sering lebih berfungsi sebagai “agen berita semiresmi” pemerintah ketimbang watchdog independen bagi masyarakat. Menurut Zeese, banyak eksekutif media membela kepentingan orang kaya dan kuat dengan alasan menjaga “kepentingan nasional”. Perkembangan itulah yang belakangan memunculkan situs seperti WikiLeaks.

Continue reading Jurnalisme Baru WikiLeaks

Haji dan Cinta

Inilah.Com – Jumat, 4 November 2011

Oleh: Syafiq Basri Assegaff

Kali ini kita bicara tentang haji dan kurban. Salah satu di antara makna haji adalah bahwa ibadah itu membawa pesan pengorbanan dan cinta kepada sesama manusia, yang merupakan ‘muamalah’, hubungan kita dengan sesama makhluk Tuhan yang lain.

Satu contoh adalah saat menyembelih hewan kurban. Sebagai napak tilas Nabi Ibrahim, jelas bicara haji adalah bicara tentang keteladanan beliau yang secara ikhlas mengorbankan Ismail, putra yang menjadi buah hati, harapan, masa depan dan penerus keturunannya . Memang itu penyerahan total yang luar biasa berat, tapi dilaksanakannya demi keyakinan kepada Sang Pemilik Sejati, Tuhan Yang Maha Agung.

Ibrahim yang sudah sepuh dan sendirian, sesudah berjuang keras melaksanakan misi kenabian selama 100-an tahun, ditantang Tuhan, apakah ia mantap ‘menyerahkan’ milik yang paling dicintainya itu kepada Tuhan? Sehingga ia bisa menjadi contoh bagi semua pengikut agama tauhid (monoteisme) untuk selalu mau mengorbankan ‘Ismail’ mereka – seperti harta, kedudukan, anggota keluarga, harga diri atau bahkan nyawa – demi keyakinan (iman) kepada Tuhan?

Walhasil, di Mina kemudian Ibrahim bersiap dengan pisau terhunus, siaga menyembelih anaknya dengan tangannya sendiri. Di Mina itu Tuhan menguji Ibrahim.

Di situ ia mengunggah idealisme, mewujudkan sebuah kebebasan absolut yang disertai penyerahan total. Maka, di tempat lain mana pun di dunia, Tuhan hendak menguji setiap hamba yang mengaku beriman: akankah mereka mengalahkan Setan atau ego mereka, demi menunjukkan keyakinan dan cinta yang tulus kepada Rabb Penguasa Seluruh Alam?

Continue reading Haji dan Cinta