Tag Archives: Karbala

Emang Bisa, Berkorban Kayak Pahlawan?

Banyak orang berkorban demi orang lain. Di Indonesia, khususnya saat November ini, kita selalu ingat pengorbanan para pahlawan bangsa. Ada Bung Tomo. Juga ada banyak pahlawan, yang rata-rata waktu itu masih berusia muda, di berbagai daerah. Bahkan juga yang tanpa nama dan ikhlas untuk mati dikuburkan bukan di Taman Makam Pahlawan tetapi di mana saja yang mereka tak pernah duga lokasinya.

Yang aneh, Bung Karno dan Bung Hatta baru 7 November lalu dikukuhkan sebagai pahlawan Indonesia. Huuugh… kirain keduanya sudah lama jadi pahlawan. Sungguh terlaaaluh!

Ada juga keteladanan berkorban demi orang lain yang ditunjukkan Nabi Muhammad saw, keluarganya yang suci serta sahabatnya. Mereka semua menjadi cermin beragama di “jalan yang lurus”. Berabad-abad sebelum era Muhammad saw, kakek Nabi, yakni Nabi Ibrahim dan Ismail juga memberikan keteladanannya – yang kita peringati setiap musim haji atau Idul Adha.

Bung Tomo: contoh ideal pengorbanan bagi bangsa

Keteladanan Ibrahim berkomitmen mengorbankan nyawa sang putra sendiri, Ismail, yang siap sedia di meja sembelihan. Continue reading Emang Bisa, Berkorban Kayak Pahlawan?

6 Alasan Menolak TV

Belakangan ini tampaknya kian banyak orang yang kritis. Mereka kian selektif dalam menonton acara di televisi (TV). Sebagian mereka memilih berlangganan TV kabel yang menyajikan banyak acara bermutu dan mendidik seperti National Geographic, History, Discovery, Animal Planet, dan sebagainya. Kalau tidak, banyak dari mereka hanya menonton acara di TV berita seperti TV One dan Metro TV. Selebihnya orang kini lebih tertarik browsing internet atau sibuk bersosialisasi di social media seperti Twitter, Facebook dan Youtube.

Memang tidak semua acara TV buruk, tetapi Anda punya pilihan melakukan banyak hal lain yang mungkin lebih berguna untuk otak

Ada banyak alasan yang dikemukakan para ahli agar orang menjauhi TV — khususnya acara TV yang buruk. Berikut ini enam di antaranya:

1. Bahaya Sex Bebas:  Tanyalah diri Anda sejujurnya: melihat banyaknya jumlah ciuman dan berbagai contoh perilaku seks di layar TV, apa yang akan terjadi bila ibu atau ayah tiba-tiba muncul dan duduk di samping Anda pada saat yang sama? Dampak buruk TV ini kian hari kian menyeramkan. Mengapa membiarkan diri Anda terperangkap di dalamnya, dan ia hanya membuat Tuhan marah meski pun Anda hanya mencicipi secuil saja tindakan haram itu?

Continue reading 6 Alasan Menolak TV

Mana Ismail Kita?

Arabic calligraphy reading Fatima az-Zahra ( ف...
Kaligrafi “Fatimah Az-Zahra” penghulu wanita seluruh alam (a.s.)

Alkisah, putri Nabi SAW, Fatimah, dan keluarganya berpuasa. Kala itu ia, suaminya, Ali bin Abi Thalib, dan kedua putra mereka, Hasan dan Husain, berpuasa tiga hari berturut-turut—sebagai pelunasan nazar yang dilakukan setelah kesembuhan kedua putra mereka itu dari sakit. Mereka berempat dikenal sebagai ahlulbait Nabi SAW yang dijamin kesuciannya dalam Al-Quran.

Sumber: Koran Tempo 5 November 2011 hal  A 8

Hari pertama, persis menjelang saat buka puasa, datang seorang pengemis yang kelaparan. Mereka berikan sedikit roti gandum yang mereka siapkan kepada sang pengemis, dan malam itu mereka hanya berbuka dengan minum air. Hari kedua mereka puasa, datang seorang anak yatim memohon makanan. Melihat anak kecil yang lapar, ahlulbait Nabi itu merelakan makanan mereka. Pada hari kedua itu mereka kembali berbuka hanya dengan air.

Hari ketiga, datang seorang tawanan. Ia juga meminta makan. Untuk ketiga kalinya, keluarga Ali dan Fatimah hanya berbuka dengan air.

Atas perilaku mulia itu, menurut Ibnu Abbas, Malaikat Jibril turun membawa wahyu—dan termaktub kisahnya dalam Al-Quran. Itulah rupanya akhlak sempurna atau “jalan lurus”yang diajarkan agama. Tanpa pamrih, keluarga Ali dan Fatimah menunjukkan bahwa mereka berkorban demi orang lain, semata-mata karena Tuhan. Kata mereka,“Kami tidak mengharap dari kalian balasan ataupun terima kasih. Kami takutkan dari Tuhan kami hari yang kelabu dan penuh duka.” Keteladanan berkorban demi orang lain itu amat penting sebagai cermin beragama di “jalan yang lurus”. Keluarga Nabi SAW mencontohkannya. Nabi Ibrahim dan Ismail juga memberikan keteladanannya. Ibrahim berkomitmen mengorbankan nyawa anaknya. Sang putra sendiri, Ismail, siap sedia di meja sembelihan. Continue reading Mana Ismail Kita?