Tag Archives: Television

6 Alasan Menolak TV

Belakangan ini tampaknya kian banyak orang yang kritis. Mereka kian selektif dalam menonton acara di televisi (TV). Sebagian mereka memilih berlangganan TV kabel yang menyajikan banyak acara bermutu dan mendidik seperti National Geographic, History, Discovery, Animal Planet, dan sebagainya. Kalau tidak, banyak dari mereka hanya menonton acara di TV berita seperti TV One dan Metro TV. Selebihnya orang kini lebih tertarik browsing internet atau sibuk bersosialisasi di social media seperti Twitter, Facebook dan Youtube.

Memang tidak semua acara TV buruk, tetapi Anda punya pilihan melakukan banyak hal lain yang mungkin lebih berguna untuk otak

Ada banyak alasan yang dikemukakan para ahli agar orang menjauhi TV — khususnya acara TV yang buruk. Berikut ini enam di antaranya:

1. Bahaya Sex Bebas:  Tanyalah diri Anda sejujurnya: melihat banyaknya jumlah ciuman dan berbagai contoh perilaku seks di layar TV, apa yang akan terjadi bila ibu atau ayah tiba-tiba muncul dan duduk di samping Anda pada saat yang sama? Dampak buruk TV ini kian hari kian menyeramkan. Mengapa membiarkan diri Anda terperangkap di dalamnya, dan ia hanya membuat Tuhan marah meski pun Anda hanya mencicipi secuil saja tindakan haram itu?

Continue reading 6 Alasan Menolak TV

Kritik Acara TV Saat Ramadhan

Puasa ini Mas Kiwir janji tidak akan menonton televisi. Kang Misro, tetangganya, heran. “Lho, kok memboikot tivi itu, kenapa Mas Kiwir? Bukankah itu media yang bagus untuk komunikasi, untuk menyebarkan pesan-pesan moral?”

(Terima kasih kepada Ust.Muhsin Labib yang menginspirasi tulisan ini.)

“Benar, Kang Misro. Tapi selama TV kita hanya berisi banyolan, games dan hiburan kekerasan yang tidak bermutu, saya mending membaca atau diskusi sama Anda atau dengerin ceramah di radio saja.”

Diskusi berjalan makin seru. Misro masih tidak bisa menerima alasan kawannya itu.

– Tapi bukankah itu hanya metode penyampaian saja, Mas, biar pemirsa tidak bosan?

– Ya,boleh saja mencari metode, demi menggaet penonton, atau biar ‘rating’-nya tinggi. Tapi Kang, sebagian besar acaranya benar-benar membodohi kita.

– Mas Kiwir mestinya tahu, sekarang ini ada belasan saluran TV swasta, dan mereka kan berebut mencari penonton sebanyak-banyaknya, Lebih-lebih pada saat ‘prime time’ seperti sebelum buka puasa dan menjelang sahur.

Anak-anak menonton film kartun di TV: selebihnya main dan tidur

– Justru itu Kang. Kalau banyolan dan games itu ditayangkan di luar ‘prime time’, saya tidak keberatan. Tapi herannya, mengapa pada saat kita kumpul bersama keluarga dan anak-anak, kita tidak mendapatkan sesuatu yang bermutu – yang bisa kita diskusikan bersama mereka. Maksud saya, sesuatu yang mengajarkan budi pekerti, yang meningkatkan keyakinan dan ilmu kita, sehingga kita berpuasa dengan penuh pemahaman dan tidak asal ikut-ikutan.

– Tapi kan ada juga acara yang bagus, Mas.  Continue reading Kritik Acara TV Saat Ramadhan

SBY, PSSI dan Kenikmatan

Sepak bola sungguh istimewa. Begitu pula di Indonesia. Tak kurang dari presiden menunjukkan kepeduliannya pada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Ini tampak nyata ketika Senin lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara perihal konflik berkepanjangan yang terjadi di tubuh PSSI.

SBY mengimbau agar PSSI jangan sibuk berantem, dan lebih mendengar suara rakyat. “Masak tidak ada habis-habisnya. Carikan solusinya dengan baik,” kata SBY.

Wajar kiranya bila SBY kesal pada kekisruhan yang tiada henti dalam dunia persepakbolaan kita, sehingga prestasi Indonesia di dunia demikian terpuruk. Puncaknya adalah saat tim Indonesia digilas Bahrain 10-0 dalam laga terakhir kualifikasi Piala Dunia, 29 Februari lalu.

Kekalahan dari negara Arab yang mungil itu lebih parah ketimbang kekalahan tim kita dari Arab Saudi pada era 80-an. Saat itu, Arab Saudi memecundangi Indonesia dengan 8-0, sehingga sempat muncul ejekan dalam bahasa Arab bahwa tim Indonesia bergelar ‘Abu Tsamaniya’ (sang pemilik angka delapan).

Sepak bola pada zaman batu (purbakala) - karikatur

Tentu saja itu membuat kuping kita merah, Sekarang lebih lagi: Indonesia jadi punya gelar “Abu ‘Ashrah” (sang pemilik angka sepuluh) – gara-gara digunduli Bahrain. Padahal Indonesia kaya sumber daya manusia, dengan penduduk 240-an juta, sedangkan kerajaan Bahrain hanya berpenduduk 1,2 juta jiwa.

Artikel asli dimuat dalam media online “Inilah.Com”, Kamis 8 Maret 2012.

Continue reading SBY, PSSI dan Kenikmatan

Meraih Khalayak lewat Internet

English: The image of Indonesian tourism promo...
Promosi di Internet yg targetkan turis agar berkunjung ke Indonesia

Apa yang berubah dalam dunia Internet sekarang ini? Benarkah segmentasi (dalam marketing) juga ikut menyempit, tapi jumlahnya bisa lebik banyak yang berserak? Bagaimana dengann politisi?

Oleh: Syafiq Basri Assegaff

Kian hari kian banyak orang bergantung pada Internet. Semakin maraknya perkembangan media sosial saat ini berdampak pada peningkatan jumlah pemakai Internet di dunia, termasuk di Indonesia.

Di siang hari, pemakaian Internet tampak melebihi media konvensional. Spekulasi yang muncul, gejala tersebut akibat banyak pengguna lebih memanfaatkan jaringan Internet di kantor mereka akibat kesibukan di rumah atau tidak punya akses Internet di rumah.

Seturut perkembangan itu, para ahli komunikasi di bidang Public Relations (PR) dan marketing mencari tahu apakah kaidah marketing telah berubah total gara-gara Internet? Apakah bauran pemasaran, misalnya, tidak lagi berlaku seperti dulu?

Kita tahu, saat ini siapa pun mudah mengirimkan dokumen melalui Internet. Surat model lama sudah ditinggalkan banyak orang, sehingga kantor pos mesti berubah fungsi. Gantinya, orang mengirim via e-mail, Twitter dan lainnya.

Beberapa produk pun bisa didistribusikan secara murah atau gratis, misalnya produk tulisan semacam buku dan surat kabar, produk suara (musik, ceramah, kuliah), dan video. Semua bisa dikirim dalam tempo amat singkat.

Oleh karena itu, tidak salah bila ada yang beranggapan Internet telah merombak kaidah marketing, tetapi sebagian lainnya bertahan bahwa semuanya tetap sama. Penganut pendapat kedua ini meyakini Internet hanya sebuah medium, sementara prinsip-prinsip pemasaran tidak berubah. Begitu pula prinsip-prinsip PR yang, intinya, bertujuan menciptakan reputasi yang baik di mata audience-nya.

Dalam dunia marketing, pemasar tetap harus melakukan proses perencanaan dan eksekusi penetapan harga, promosi dan mendistribusikan suatu ide, serta barang atau jasa dengan cara sebaik-baiknya –demi menciptakan sebuah ‘pertukaran’ yang memuaskan baik bagi customer (pembeli) maupun perusahaan sendiri.

Berkat Internet, sang pemasar dapat melakukan semua yang di atas, tapi kali ini secara online. Continue reading Meraih Khalayak lewat Internet