RSS

Author Archives: Syafiq Basri

About Syafiq Basri

Communication strategist; writer; blogger; non practising medical doctor; like to travel.

AL-QUR’AN TERTUA DITEMUKAN di BIRMINGHAM.

Manuscript bagian Kitab Suci Al-Qur’an yang kemungkinan merupakan naskah tertua telah ditemukan oleh the University of Birmingham, Inggris.

Kantor berita BBC yang memberitakan itu mengatakan bahwa Universitas itu terkejut ketika hasil uji radiocarbon menunjukkan “periode manuscript” itu ternyata sangat tua.

Mungkin itulah bagian (fragmen) Al-Qur’an tertua di dunia yg ditemukan the University of Birmingham. Uji Radiocarbon memerlihatkan bahwa setidaknya manuscript tersebut berumur 1.370 tahun, menjadikannya yg tertua di antara yg ada.

Halaman kitab suci itu awalnya tidak dikenali di perpustakaan universitas itu selama hampir satu abad. Ketika peneliti calon PhD, Alba Fedeli, mengamatinya lebih teliti, diputuskan kitab itu perlu diuji dengan “radiocarbon dating test”, dan hasilnya benar2 mencengangkan. Naskah kitab suci itu ditulis pada kulit kambing atau domba. 

Direktur Koleksi Khusus universitas itu, Susan Worrall, mengatakan para periset tidak sedikitpun menyangka bahwa kitab itu begitu tua. Terdiri dari dua lembar, manuscript Qur’an itu mengandung bagian2 Surat 18 sampai 20, ditulis dengan tinta dalam bentuk script (tulisan) yang dikenali sebagai bergaya Hijazi (wilayah di mana Mekah-Madinah berada). Selama bertahun2, manuscript itu telah terpisahkan dari manuscript Qur’an yg serupa, yg berasal dari abad ketujuh. ~~

Baca juga tulisannya di sini.

★ The university’s academics were “startled” when the radiocarbon dating tests showed it was so old. What may be the world’s oldest fragments of the Koran have been found by the University of Birmingham. Radiocarbon dating found the manuscript to be at least 1,370 years old, making it among the earliest in existence. The pages of the Muslim holy text had remained unrecognised in the university library for almost a century.

The British Library’s expert on such manuscripts, Dr Muhammad Isa Waley, said this “exciting discovery” would make Muslims “rejoice”. The manuscript had been kept with a collection of other Middle Eastern books and documents, without being identified as one of the oldest fragments of the Koran in the world.

Oldest texts

When a PhD researcher, Alba Fedeli, looked more closely at these pages it was decided to carry out a radiocarbon dating test and the results were “startling”. The university’s director of special collections, Susan Worrall, said researchers had not expected “in our wildest dreams” that it would be so old. “Finding out we had one of the oldest fragments of the Koran in the whole world has been fantastically exciting.” …

” Consisting of two parchment leaves, the Qur’an manuscript contains parts of Suras (chapters) 18 to 20, written with ink in an early form of Arabic script known as Hijazi. For many years, the manuscript had been misbound with leaves of a similar Qur’an manuscript, which is datable to the late seventh century.”

Dan selanjutnya, silakan lihat tautan yang ada di atas.

 
Leave a comment

Posted by on 23/07/2015 in Uncategorized

 

Flow – Bahagia Saat Lebaran

Terkait dengan Lebaran saat ini, yang jatuh pada Jumat 17Juli 2015, tulisan ini sengaja ditayangkan ulang. Selamat Hari Raya Iedul Fitri. Semoga kita bisa menjadi suci kembali, bagaikan bayi yang baru lahir.

 

Lebaran ini berjuta orang gembira. Bukan saja karena bisa berkumpul dengan keluarga, melainkan karena merasa telah berhasil mengendalikan dirinya selama puasa Ramadhan kemarin.

Lebaran ini berjuta orang merasa bahagia. Dalam psikologi positif, keadaan ketika di dalamnya orang merasakan kebahagiaan disebut sebagai “flow”. Menurut tokoh psikologi positif Mihaly Csikszentmihalyi, flow adalah suatu keadaan pikiran yang di dalamnya kesadaran manusia berada dalam keadaan teratur dan selaras. Dan itu dapat dicapai lewat ‘pengendalian diri’ dan ‘pengendalian hidup’.

Mihaly Csikszentmihalyi:  Konseptor Flow

Mihaly Csikszentmihalyi: Konseptor Flow

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , ,

Doa ‘ Wahai Harapanku’ – Akhir Ramadhan

Sepuluh hari terakhir Ramadhan selalu menjadi saat paling ditunggu kaum Muslimin di dunia. Banyak yang memilih beri’tikaf di Masjid, sebagiannya lagi berdoa di rumah. Semuanya mengunggah harapan, melantunkan berbagai munajat atau doa kepada Tuhan, dengan harapan saat Laylatul Qadr itu datang, sang hamba sedang dalam keadaan yang ‘paling dekat’ dengan Tuhannya.

Berikut ini Doa “Yaa Uddatiy” , salah satu doa indah dan lazimnya dibaca pada akhir malam saat qiyamul lail — artinya menjelang sahur. Doa ini merujuk pada ulama yang mengambil pada riwayat doa-doa dari Keluarga Nabi SAW. Semoga bermanfaat.

Carilah Malam (Laylatul) Qadr pada 10 hari terakhir Ramadhan (Hadis Nabi saw - dalam Bukhari).

Carilah Malam (Laylatul) Qadr pada 10 hari terakhir Ramadhan (Hadis Nabi saw – dalam Bukhari).

YAA ‘UDDATIY  — Wahai Harapanku

يَا عُدَّتِي فِي كُرْبَتِي وَ يَا صَاحِبِي فِي شِدَّتِي وَ يَا وَلِيِّي فِي نِعْمَتِي وَ يَا غَايَتِي فِي رَغْبَتِي اَنْتَ السَّاتِرُ عَوْرَتِي وَ الْمُؤْمِنُ رَوْعَتِي وَ الْمُقِيلُ عَثْرَتِي فَاغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي

Berikut ini sebagian arti Doa tersebut (Doa selengkapnya ada di bawah):

  • Wahai Harapan saat daku dirundung masalah;
  • Wahai Temanku (saat) dalam kesulitan;
  • Wahai Tuanku (Yang Memberi) kenikmatan;
  • O, Duhai Dambaan Utama bagi seluruh keinginanku;
  • Engkau yang Selalu menutupi keburukanku;
  • Wahai Yang Membebaskan ketakutan2 dan tekanan dalam diriku;
  • Yang (karena kasihnya) mengabaikan kesalahanku (tidak langsung menghukum);
  • Mohon ampuni segala kesalahan (dosa)-ku.

Video (Youtube) ini agaknya bisa memudahkan pembaca (bagian satu ini sekira 8 menit):

Selanjutnya, silakan merujuk pada makna dalam bahasa Inggris yang ada di dalam file (PDF) di bawah ini, sambil menyimak video atau audio (MP3)-nya. (Anda perlu mengunduh (download) PDF file itu; klik di sini).

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 12/07/2015 in Uncategorized

 

Lawan, Informasi yang Menyesatkan!

Syafiq Basri:

Tulisan Dina Sulaeman ini bukan cuma menarik, tapi sangat penting untuk kita pahami. Itu sebabnya saya reblog di sini, untuk Anda para Pembaca yang terhormat.

Originally posted on Kajian Timur Tengah:

hoax1Kemarin, dua teman membuat album foto “Melawan Hoax”. Menurut saya itu keren sekali. Out of the box. Hingga saat ini, yang share sudah 658 kali (dalam tempo 19 jam). Upaya perlawanan seperti ini penting banget didukung.

Jangan disangka satu upaya kecil dari kita (bahkan sekedar like dan share) gak ada efeknya. Saya pernah jadi ‘saksi sejarah’. Periode 2012-2014 adalah heboh-hebohnya perang Suriah. Saya sejak 2012 sudah memprediksikan efek Perang Suriah bagi kehidupan sosial di Indonesia (yaitu meningkatnya kebencian antarumat, serta potensi penyebaran jihad ke Indonesia). Waktu itu saya dan beberapa teman aktif di medsos (sebenarnya kontribusi saya juga sangat sedikit, maklum ibuk-ibuk RT banyak urusan) mencoba meluruskan berbagai informasi ttg Suriah.

Soalnya, “mereka” itu menggunakan berbagai informasi sesat untuk menggalang dana dan kebencian umat; mereka keliling masjid-masjid di seluruh Indonesia dengan membawa foto-foto dan film-film palsu “pembantaian terhadap kaum Sunni di Suriah”. Dalam majlis-majlis itu, umat Syiah dicaci-maki…

View original 574 more words

 
Leave a comment

Posted by on 10/07/2015 in Uncategorized

 

Imam yang Syahid di Mihrab

Tulisan seni kaligrafi 'Ali bin Abithalib': sang Singa Allah

Tulisan seni kaligrafi ‘Ali bin Abithalib': sang Singa Allah

Mirip Nabi saw, akhlak Imam Ali bin Abithalib (as) sungguh luhur. Saat itu kepalanya baru saja ditebas pedang. Racun di badanya mulai menjalar. Ketika diberi semangkuk susu untuk menetralkan racun di tubuhnya, Imam hanya meminum setengahnya. Ia menyisakan separuhnya lagi untuk seseorang. “Berikan susu ini kepada orang asing yang ada di penjara. Perutnya kosong,” katanya.  Seseorang bertanya, “Siapa orang asing di penjara itu, wahai Imam?” Beliau menjawab, “Orang yang telah berusaha membunuhku,Ibnu Muljam.”

Mari mengenang sejarah sahabat Nabi saw. Sesungguhnya dari sekian banyak sahabat Nabi saw, yang paling banyak kita kenal adalah empat sahabat besar, yakni Abubakar ra, Umar ra, Usman ra dan Ali ra – yang keempatnya kemudian popular sebagai Khulafa’-ur- Rasyidin.

Dari ke-4 sahabat besar itu, dua yang terakhir ternyata wafat terbunuh. Khalifah Usman  ra (memerintah mulai tahun 644 sd 656 M) dibunuh di rumahnya, di Madinah, oleh pemberontak dan pengacau, setelah sebelumnya dikepung selama 40 hari.

Usman, yang dikenal sebagai saudagar kaya yang dermawan (dan menurut sebagian sejarawan pernah menikahi dua putri Nabi saw) itu syahid pada hari Jumat 18 Dzulhijjah 35 H (656 M). Dampak peristiwa terbunuhnya Usman itu kemudian berjalan cukup pelik; terjadi fitnah di sana-sini.

Setelah Usman meninggal, pengganti beliau adalah Ali (ra). Ali yang sepupu dan sekaligus menantu Nabi saw  itu juga dibunuh saat melaksanakan solat subuh di masjid Kufah, Irak.

Berhubung tragedi pembunuhan Imam Ali berlangsung pada 10 hari-hari terakhir bulan Ramadhan ini, maka layak kiranya kita simak kisahnya berikut ini:

Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , , , , , ,

Wah, ada Doa Layalatul Qadr yg Indah

 Simak (di antaranya) Doa buat ‘ahli Kubur’, buat yang sakit, yang hutang, dan kita sendiri.
Selain bagi diri kita sendiri, dalam doa ini ada permohonan (kepada Allah SWT) bagi yang mendahului kita (di kuburan), bagi orang-orang fakir miskin, mereka yang mengungsi, yang terlilit hutang, dan sebagainya.
Banyak doa yang terdapat dalam berbagai kitab agama. Begitu pula, untuk bulan Ramadhan, terdapat berbagai doa yang sangat baik untuk dilantunkan kepada Allah SWT, tentu saja setelah kita mengaji kitab suci Al-Quran. Di antara doa-doa itu, dua doasingkat yang di bawah ini sangat baik dibaca saat Ramadhan.
Yang pertama: Doa berikut ini dianjurkan dimunajatkan pada setiap habis solat wajib selama Ramadhan (tapi baik juga dilantunkan pada waktu lainnya). Menurut catatan yang ada, diriwayatkan bahwa Nabi saw mengatakan, barang siapa membaca doa ini setiap bakda solat fardhu, maka Allah akan ampuni dosanya hingga Hari Kiamat.
{Note: Doa ini sebelumnya pernah ditayangkan pada 15 Juli 2014 lalu, dan kini kita update kembali dalam rangka menyambut malam-malam Laylatul Qadar, Juli 2015 }.

Ya Allah…

  • Anugerahkanlah kebahagiaan kepada para penghuni kubur.
  • Berikan kekayaan pada semua yang fakir.
  • Kenyangkanlah semua yang lapar.
  • Berikan pakaian pada semua yang telanjang (yang tak punya pakaian atau berpakaian tidak senonoh);
  • Bantu agar yang berhutang bisa membayar hutang-hutang mereka.

Dengarkan audio Doa ini di Youtube berikut (klik di sini).

Gusti,.. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 06/07/2015 in Doa

 

Tags: , , , ,

Wah, Kini Ada Menteri yang Peduli Kebudayaan

Ada wartawan yang mengritik bahwa  Anies Baswedan​  kurang mengurusi perkara ‘kebudayaan’ negeri kita, dan hanya sibuk dengan ‘pendidikan’ melulu. Mungkin wartawan itu belum melakukan ‘check and recheck’, atau jangan-jangan ia jarang main ke Galeri Nasional, sehingga tidak tahu bahwa dalam tujuh bulan ini saja Mendikbud Anies sudah berkali-kali ke galeri itu; yang semuanya melulu urusan seni dan budaya. Anies juga ke Sangiran (Sragen), ke TIM, nonton wayang, diskusi dengan puluhan seniman dan budayawan, di Bali, di Bandung, dan di kantornya di Jakarta.
Selain itu, bahkan baru pada jaman Anies inilah ada program bernama ‘Belajar Bersama Maestro’ (BBM), yang mengumpulkan siswa-siswa berpotensi bidang seni untuk magang, nyantrik, pada maestro budaya selama masa liburan. Mereka bisa memilih magang (nyantrik) pada tokoh budaya ternama seperti Irawati Durban, Aditya Gumay, Purwacaraka, Gilang Ramadhan, I Nyoman Nuarta, Mang Udjo, dan Didik Nini Thowok.
Lukisan tentang P. Diponegoro di Galeri Nasional.

Lukisan tentang P. Diponegoro di Galeri Nasional.

Ada yang beda di Galeri Nasional, Jakarta. Suasana berbeda itu terasa, sejak Anies Baswedan berkali-kali berkunjung ke galeri itu.

Lama sudah pecinta seni dan budaya di negeri ini, yang mengerti nilai pentingnya galeri itu, tidak lihat ada pejabat tinggi yang peduli pada kegiatan di Galeri Nasional. Dan kini, mereka boleh lega, seperti saya dan mungkin Anda yang baca ini.

“Akhirnya ada Mendikbud yang memperhatikan kebudayaan,” gumam saya dalam hati ketika melihat Mendikbud bolak-balik datang ke galeri di Jalan Medan Merdeka Timur itu, meski ia baru jadi Mendikbud sekitar tujuh bulan saja. Dan, sejak masih Rektor Anies sudah menjadi partner dalam berbagai kegiatan seni, termasuk pameran lukisan Raden Saleh di tahun 2012 di Galeri Nasional. Dia bersama Goethe Institute ikut terlibat dalam penyiapan dan penyelenggaraan pameran besar itu.

Seperti saya dan banyak dari kita barangkali, Kepala Galeri Nasional dan beberapa budayawan yang hadir dalam berbagai acara di sana juga bereaksi serupa: ‘Akhirnya (ada Pak Anies), setelah lebih dari lima tahun ini tidak pernah ada Mendikbud yang mendatangi Galeri Nasional.’

Tulisan ini awalnya berjudul, “Akhirnya Ada Mendikbud Bukan Mendiknas: Anies Baswedan,” dan dimuat di Kompasiana, 30 Juni 2015.
Anies dalam Pembukaan pameran-'Aku Diponegoro', di Galeri Nasional, Jakarta.

Anies dalam Pembukaan pameran-‘Aku Diponegoro’, di Galeri Nasional, Jakarta.

Anies bukan saja ke Galeri Nasional, ia juga sering berkunjung dan menonton pementasan-pementasan di Taman Ismail Marzuki (TIM). Ayah empat anak itu juga menikmati berbagai acara seni dan budaya,  bukan sekedar membuka acara atau hadir karena tugas resmi. Anies sekeluarga, beberapa waktu lalu, juga sama-sama menonton wayang orang dari Sri Wedari (Solo) yang dipentaskan di TIM.

Sejak Anies jadi Mendikbud nuansa sastra juga hadir dalam setiap upacara. Pidato Mendikbud itu penting, karena naskahnya dibacakan oleh inspektur upacara di seluruh Indonesia. Jujur saja, selama ini pidato Mendikbud di peringatan Hari Guru, Sumpah Pemuda, Hardiknas atau peringatan-peringatan hari besar lain biasanya, maaf, membosankan. Isinya hambar, dan terasa sekali nuansa birokratisnya. Padahal pidato Mendikbud itulah yang jadi naskah untuk dibaca oleh semua inspektur upacara baik menteri lain, gubernur, bupati, hingga ratusan ribu kepala sekolah di seluruh Indonesia.

Tapi naskah pidato yang ditulis sendiri oleh Anies beda. Isinya selalu penuh nyala kebangsaan, ada ‘sengatan’, ada motivasi, ajakan yang menggerakkan. Ada kekuatan juang di setiap pidatonya. Bahkan saat upacara Hari Pendidikan Nasional Mei lalu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) membacakan pidato itu hingga hampir menangis karena terharu. Bagi yang penasaran silakan baca salah satu pidato Mendikbud Anies (lihat: Sambutan Mendikbud pada Hardiknas 2015).

Itu sekadar menunjukkan bahwa dengan prosa puitiknya Anies telah mengembalikan Amanah Inspektur Upacara jadi pidato yang membawa makna, bukan sekadar asal-ada, formalitas kosong atau basa-basi. Anies membuat kebiasaan baru, sepanjang inspektur membaca naskah pidato maka semua menyimak dengan khusuk dan ikut memikirkan kalimat-kalimat yang diucapkan. Anies menghadirkan nuansa sastra di upacara-upacara di sekolah-sekolah itu. Sehingga harus diakui, ini jadi ‘benchmark’ baru, sekaligus sebagai pengingat buat semua guru tentang kuatnya peran kata-kata. Sesuatu yang sudah hampir punah di sekolah-sekolah kita.

Ada cerita khusus. Kira-kira awal tahun ini, pejabat tinggi dan beberapa eselon di bawahnya di Kemdikbud, sekitar 500an orang, dikumpulkan. Saat itu Anies mengundang dua seniman beken asal Bandung, Aat Suratin dan Iwan Abdurrahman, musisi Bandung yang juga pengarang lagu-lagu Bimbo sampai ‘Burung Camar’-nya Vina Panduwinata. Seniman yang populer dengan sebutan Abah Iwan itu diundang untuk menyanyi dan bertutur tentang kebudayaan.

Yang menarik saat sambutannya, Anies mengungkapkan alasan mengapa ia khusus mengundang dua budayawan itu untuk bicara di depan jajaran birokrasi. Ia mengatakan bahwa, Kemdikbud ini harus mengubah paradigma siswa berprestasi. Ucapannya kira-kira begini: ‘Di sini ada ruangan bernama Aula Insan Berprestasi, tempat foto-foto pelajar berprestasi dipampang. Saya perhatikan satu-satu. Semua prestasi bidang science, kenapa tidak ada foto pelajar berprestasi bidang  sastra, tari, lukis, musik, patung? Ini cara pandang yang harus diubah. Pemerintah tidak boleh ikut-ikutan menganggap bahwa prestasi pelajar itu hanya di bidang science.’

Anies lalu menjelaskan panjang lebar betapa pentingnya menumbuhkan “rasa” pada anak-anak. Dia akhiri dengan mengatakan, “ingat, pendidikan adalah bagian dari Kebudayaan.”

Belajar Bersama Maestro

Anies juga menggagas program Belajar Bersama Maestro (BBM). Sebuah kegiatan yang mengumpulkan siswa-siswa berpotensi bidang seni untuk magang, nyantrik, pada Maestro selama masa liburan. Di awal program ini, banyak maestro ternama yang bersedia ‘ditumpangi’ rumahnya oleh para siswa selama liburan, seperti seniman tari Irawati Durban, aktor teater Aditya Gumay, musisi Purwacaraka dan Gilang Ramadhan, serta pematung I Nyoman Nuarta, Mang Udjo, penari Didik Nini Thowok dan masih banyak lagi.

Para maestro seni ini akan menjadi mentor bagi siswa-siswi dalam mempelajari kesenian dan kebudayaan. Nantinya, siswa-siswa terpilih dari seluruh Indonesia yang tinggal beberapa hari di rumah-rumah para maestro pada masa liburan sekolah. Satu maestro akan mengasuh sekitar 10 orang siswa sekaligus. Anies menginginkan cara ‘nyantrik’ seperti ini bisa jadi gerakan yang bisa dilakukan di daerah-daerah, bersama seniman dan budayawan di berbagai daerah di tanah air.

Bila sedang pergi ke sebuah kota, Anies tak jarang juga mampir ke rumah budayawan, seniman atau ke workshop-nya. Seperti waktu di Bali, dia mampir di rumah yang juga Museum Seni Nyoman Gunarsa di Klungkung. Dia khusus hampiri pelukis Hanafi, datangi dan diskusi panjang dengan Pelukis Sunaryo di Selasarnya di Dago Pakar, Bandung. Dia mungkin adalah menteri pertama yang ngobrol tentang budaya di kampung budaya di Celah Celah Langit (CCL) Bandung. Dialog kebudayaan yang merakyat itu dipandu oleh Iman Sholeh, dan berlangsung hingga dini hari.

Anies Baswedan dan Nyoman Gunarsa di Bali (foto Afrizal).

Anies Baswedan dan Nyoman Gunarsa di Bali (foto Afrizal).

Beberapa waktu yang lalu, ia juga mengumpulkan para seniman dan budayawan. Secara khusus mereka diminta untuk terlibat dalam pengembangan pendidikan seni di sekolah-sekolah, yang menurut Anies sudah terbengkalai. Berkumpulah lebih dari 30 seniman terkemuka, seperti Taufiq Ismail, Hardi (pelukis), Sardono W Kusumo, Romo Mudji Soetrisno, dan banyak lagi lainnya. Di akhir diskusi, salah satu peserta mengatakan, ‘Pertemuan ini bisa masuk MURI, rekor terlama Mendikbud  berdiskusi dengan seniman. Sebelum ini biasanya menteri yang hadir cuma basa-basi di pembukaan acara, terus ditinggal.’

Memang Anies terlanjur dikenal sebagai “orang pendidikan”. Seorang kawan pernah berkomentar, Mendikdbud kurangnyeleneh. Menurut saya, bukan soal nyeleneh tapi mungkin ini pengingat agar Anies kembali lebih banyak bicara di Media Sosial (Medsos). Sejak menjadi Mendikbud nampaknya Anies tidak sempat lagi ber-twitter walau sesungguhnya sudah sejak 2011 Anies sempat aktif di twitter (dan juga Facebook). Banyak cerita dan inspirasi yang ditebarkannya lewat twitter waktu itu, sebagaimana pernah saya tulis di buku tentang Tweets Anies. Saat ditayangkan di Kompas.Com, alasan terbanyak orang mengikuti akun Anies adalah karena mayoritas tweet Anies sangat menggugah, serta penuh optimisme dan inspirasi.

Mungkin Anies perlu aktif di Medsos lagi agar lebih banyak khalayak, khususnya kaum Netizen, memetik pemikiran dan inspirasinya apalagi terlalu banyak kegiatan kebudayaan dan pendidikan yang tak (sempat) dikabarkan oleh media massa (old media). Sedikit atau banyak, yang jelas bila kita dengar langsung pikiran-pikiran Anies maka kontan akan terlihat bahwa ia justru ingin mengembalikan semangat pendidikan dan kebudayaan sebagai suatu kesatuan.

Para siswa sedang nyantrik di tempat Maestro Nyoman Nuarta, Bandung.

Para siswa sedang nyantrik di tempat Maestro Nyoman Nuarta, Bandung.

IMG-20150702-WA0075

Maestro Nyoman Nuarta (Bandung) bersama siswa yang nyantrik.

Anies paham bahwa Kebudayaan itu bukan sebatas kesenian. Di antara bukti kedekatannya dengan kebudayaan, selain pendidikan, adalah dengan melihat ke kediaman Anies. Bila Anda berkunjung ke rumahnya, dijamin Anda akan merasakan nunansa yang unik, tempat ia meng(k)ombinasikan tradisi Jawa abad 18 dengan efisiensi penggunaan ruang modern. Rumah di Jakarta Selatan itu penuh dengan pesan-pesan budaya. Meski Anies bukan arsitek, ia bisa bicara panjang lebar tentang rumah, budaya dan kebudayaan. Dia fasih bicara bagaimana bangunan rumah itu bisa membentuk perilaku, mengkonstruksi kebiasaan, hingga menjadi kebudayaan. Saya pikir, seharusnya sesekali dia bicara di depan publik soal ini.

Mendikbud di Sangiran, Sragen, Februari 2015 (Foto: M. Chozin)

Anies saat mengunjungi Sangiran, Sragen, Februari 2015 (Foto: M. Chozin)

Fakta yang Akurat.

Saya sebenarnya tidak berencana menuliskan ini semua, sampai beberapa hari lalu, ada wartawan yang menulis — dengan bahan informasi tak lengkap dan jauh dari akurat — di sebuah suratkabar, bahwa Menteri Anies tidak mem(p)erhatikan kebudayaan. Saya pikir itu kesimpulan gegabah. Jika ada yang tidak dengar Anies bicara soal kebudayaan, bukan berarti Mendikbud itu tidak bicara kebudayaan. Seorang penulis, apalagi wartawan profesional di media arus utama, harus menulis faktual, melakukan check and recheck, dan mencari data dan fakta yang akurat sebelum membuat kesimpulan.

Karena itu saya jadi terpanggil untuk meluruskan dengan menulis paparan ini. Bukan bertujuan memuji Anies, karena kita harus jaga kekritisan, tetapi karena ada orang yang menulis tanpa mendasarkan pada fakta maka kita harus meng(k)oreksinya. Jelas, jika diperhatikan berdasarkan fakta, kita bisa melihat bahwa justru sekarang inilah kembali ada Mendikbud yang serius memperhatikan soal kebudayaan.

Meski baru jadi Mendikbud setengah tahun lewat, penggagas gerakan Indonesia Mengajar itu telah membuncahkan harapan baru bagi aspirasi dan gerakan seni dan budaya. Arah awalnya sudah benar, kita sekarang akan lihat bagaimana Anies menjalankannya di bulan-bulan dan tahun-tahun ke depan. Saya pribadi percaya Anies akan bisa mendorong kemajuan itu. Jadi maju terus, kembangkan Pendidikan dan Kebudayaan, dan ingat kata-kata Anies sendiri yang ditulis di twitter beberapa tahun yang lalu, Pemimpin yang tulus itu dipuji tak terbang, dicaci tak tumbang.

Selamat bekerja Anies. Kami tahu perjalanan masih panjang dan berliku, tapi keikhlasan dan semangat Anda dalam berjuang demi anak-anak bangsa meyakinkan kami bahwa ‘they are in good hand’.

Baca juga:

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,088 other followers