RSS

Author Archives: Syafiq Basri

About Syafiq Basri

A communication consultant; medical background; like to travel, writing, reading and sharing things with old and new friends; ordinary person.

Pondok Ban Tan – Anies Baswedan

Ya Nabi salam alaika …
Ya Rasul salam alaika …
Ya habibie salam alaika …
Shalawatullah alaika …

Sekitar 1,000 anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih, melafalkan shalawat, khusuk dan menggema.

Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Utk mencapai-nya harus terbang dari Bangkok, jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon Si Thammarat lalu dari airport yang mungil itu, naik mobil kira2 satu jam ke pedalaman.

Santriwati di Ban Tan (foto dari halaman Facebook: http://www.facebook.com/pages/Pondok-Bantan/249329796669?fref=ts )

Santriwati di Ban Tan (foto-foto diambil dari halaman Facebook ini.)

Masuk di tengah2 desa-desa dan perkampungan umat Budha, disitu berdiri Pondok Ban Tan.

Dibangun awal 1900, dengan beberapa orang murid.

Niatnya sederhana, menjaga aqidah umat Islam yg tersebar di kampung2 yang mayoritas penduduknya beragama Budha.

Tulisan ini adalah catatan pribadi Rektor Paramadina, Anies Baswedan Ph.D. untuk teman-teman internal di Paramadina. Saya copy-kan tulisan itu sesuai aslinya (tanpa mengeditnya. Karena menarik dan sangat menyentuh, saya minta ijin kepada beliau untuk sharing bersama teman-teman  di Facebook; dan kini saya kutipkan kembali di sini.  Tulisan ini juga dapat disimak pada Facebook Anies Baswedan ini.  Oh ya, saya juga tambahkan foto-foto dan video agar memperkaya tulisan ini.  - SB.

Malam itu, melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa depan. Anak-anak yang dititipkan orang tua-nya untuk sekolah ke Pondok, untuk menjaga KeIslaman, untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di propinsi ini kehadirannya penuh nuansa damai. Sebuah tradisi yang harus dijaga terus. Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , ,

Inilah Tiga Pelajaran dari UJE

Wafatnya Ustadz Jeffry Al Buchori (Uje) setidaknya memberi tiga pelajaran penting bagi banyak orang. Pelajaran pertama adalah bahwa, jangan pernah mencemooh atau menganggap rendah orang lain, meski ia seorang pendosa.

Bersihkan hati: pesan yang sering disampaikan almarhum Uje.

Bersihkan hati: pesan yang sering disampaikan almarhum Uje. (Foto: Kapanlagi.Com)

Sebab sang pendosa pada akhirnya bisa jadi justru lebih baik dari yang menghina. Sebab lebih mulia, dan jauh lebih dicintai Tuhan, seorang ‘bekas pendosa’ yang bertaubat ketimbang ‘mantan orang baik’. Kemudian, sesiapa yang kembali ke jalan-Nya lalu tetap istiqamah di jalan itu dapat meraih ‘akhir hidup yang indah’ (khusnul khatimah),  dan terhindarkan dari akhir yang buruk (su’ul khatimah).

Itu dibuktikan lewat perjalanan hidup Uje. Bekas penyanyi malam yang sempat terperosok pada penyalahgunaan narkoba itu nyatanya bisa bangkit dan malah berbalik 180 derajat, menjadi pemuda yang saleh, penyeru (da’i) kepada kebaikan, dan teladan bagi jutaan kaum muda. Read the rest of this entry »

 

Caleg

Sudah jamak pada setiap menjelang pemilu, hiruk pikuk pendaftaran calon legislatif mewarnai berbagai media. Orang berbondong-bondong mengajukan diri sebagai yang hebat, yang pantas dipilih, yang paling tepat mewakili pemilih.

Perbincangan khalayak: lebih efektif ketimbang iklan

Perbincangan khalayak: lebih efektif ketimbang iklan

Orang berebutan nomor cantik dan lokasi paling memungkinkan bagi dirinya untuk dipilih sebagai anggota legislatif. Para calon legislatif (caleg) itu pasti punya semangat tinggi.

Dada mereka membusung, dan lidah yang siap memberondongkan berbagai janji. Ratusan juta atau milyar rupiah mulai disiapkan, di rekening atau dalam dompet mereka – untuk modal kampanye di tengah para calon pemilih.

Dan para calon pemilih itu sekarang sudah makin pandai dan kritis. Meski mungkin akan menerima uang dari beberapa caleg, mereka lebih paham siapa sebenarnya yang kelak harus dipilih di bilik pencontrengan.

Dalam bahasa komunikasi, siapa yang akhirnya dipilih itu sebuah ‘outcome’, alias hasil akhir yang paling diharapkan setiap caleg. Outcome itu jauh lebih penting dari ‘output’ seperti iklan, spanduk, pidato kampanye, seminar, talk show, jamuan makan untuk memanjakan khalayak, dan sebagainya — yang lazimnya merupakan keluaran atau kegiatan yang dilakukan sang caleg dan tim suksesnya.

Read the rest of this entry »

 

Pay it Forward

.. is it possible for one idea to change the world?

Saat terlintas keraguan apakah mungkin perbuatan baik yang kecil dan sederhana yang kita lakukan kepada orang lain akan mampu mempengaruhi kehidupan mereka, mungkin Film “PAY IT FORWARD” bisa menjadi pendorong yang memberikan kita semangat untuk selalu tidak jemu-jemu berbuat baik kepada orang lain.

Kisahnya bercerita tentang seorang anak umur delapan tahun bernama Trevor yang berpikir jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya, lalu jika ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya, maka dia yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi. Dia menamakan ide tersebut: “PAY IT FORWARD.”  [ Mungkin bisa dimaknai sebagai: "Meneruskan bayaran kebaikan yang Anda terima kepada orang lain." - SB ]

Singkat cerita, Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah mamanya sendiri (yang menjadi single parent), seorang pemuda gembel yang selalu dilihatnya dipinggir jalan dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal. Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on April 13, 2013 in Inspirasi Bung Kiwir, Pemikiran

 

Berantem Yuk!

Sengaja judul di atas saya pilih untuk mengajak orang membaca, bukan berkelahi. Adapun judul asli artikel ini adalah, “Inilah Akibat Berita Kekerasan di TV”. Mengapa ditulis dengan gaya mengajak berantem, karena tampaknya banyak siaran TV yang seolah sangat getol mengajak orang ramai-ramai berantem, atau menjadi marah dan beringas. 
Contoh kekerasan dari orang tua (sumber kartun harian Pos Kota).

Contoh kekerasan dari orang tua (sumber kartun harian Pos Kota).

Anda pasti miris melihat berbagai kekerasan dan aksi premanisme di negara kita belakangan ini.

Bukan hanya di kalangan rakyat biasa, artis, dukun, dan tukang santet, tetapi kejadian itu sudah melanda ke tengah keluarga, terhadap anak-anak dan remaja, bahkan di antara petugas keamanan negara.

Tentu semuanya bukan masalah sederhana yang bisa dengan mudah dicarikan solusinya, karena berbagai kejadian itu menyangkut aspek sosial, ekonomi dan budaya mereka yang terlibat.

Tetapi dari sisi komunikasi, kita bisa melihat adanya peran media massa terhadap kekerasan — khususnya televisi (TV). Banyak pendapat soal ini yang dikemukakan para ahli komunikasi; sebagian di antaranya mengedepankan perspekstif bahwa ada kemungkinan bahwa penonton TV secara sadar atau tidak sadar meniru adegan yang ditontonnya di layar kaca.

Opini ini aslinya ditayangkan dalam media online Inilah.Com, rubrik Celah, Kamis 11 April 2013.

Sebagian pendapat lain menyatakan bahwa banyaknya aksi kekerasan di media mendorong munculnya suasana ketakutan di tengah penduduk, sehingga muncullah ketegangan di ‘dunia yang kejam’ dalam benak banyak orang. Beberapa ahli seperti Gerbner dan kawan-kawan menyatakan, bahwa akibat adanya anggapan ‘dunia yang kejam’ itu, maka pecandu TV (heavy viewers, dalam istilah Gerbner) akan melebih-lebihkan tingginya angka kekerasan atau kriminalitas yang terjadi di dunia nyata.

Bila pendapat itu bisa diterima, barangkali kita jadi paham mengapa dalam praktek sehari-hari orang lalu mengambil sikap seperti, ‘berhubung dunia ini kejam, maka jalan terbaik untuk menghindarkan diri dari kebatilan adalah dengan mempersenjatai diri, dan jika perlu menyerang lebih dulu ketimbang diserang orang lain.’

Melawan premanisme: makin menggejala di sana-sini (foto: detik.com)

Melawan premanisme: makin menggejala di sana-sini (foto: detik.com)

Itulah sebabnya barangkali, mengapa saat terjadi kecelakaan di jalan, meski dalam level hanya ‘serempetan’ sekali pun, maka salah satu yang terlibat cenderung buru-buru ‘menyerang’ pihak lainnya, walaupun pihak pertama itu yang sebenarnya bersalah.

Kita belum tahu bagaimana sebenarnya efek program TV di Indonesia terhadap meruyaknya kekerasan, karena hal itu memang patut diteliti secara seksama. Tetapi jika mengamati secara lebih serius, dan Anda bisa membuktikannya sendiri, betapa sering TV kita menayangkan berita kekerasan di sana-sini, bahkan dalam takaran yang terkesan agak berlebihan. Over dosis. Sehingga puluhan teman saya belakangan lebih suka menonton program TV asing yang disediakan TV cable berbayar.

Jangan langsung percaya pendapat ini, tetapi saksikanlah sendiri. Hitung dan kajilah. Perhatikan apa yang sering muncul di layar kaca Anda: penduduk marah dan melabrak petugas Pemda, remaja tawuran, polemik sesama politisi, artis ricuh dengan dukunnya, calon hakim ‘membela’ pemerkosa, orang tua menggagahi anak sendiri, guru ‘ngerjain’ muridnya, suami memutilasi isteri sendiri gara-gara perselingkuhannya terbongkar, ricuh di pengadilan, keributan di lapangan bola, oknum aparat menyerang rekannya, dan preman serta penjahat yang kian nekad.

Sering di antara kekerasan itu dilakukan secara tidak semena-mena oleh pihak yang sebenarnya bersalah — misal PKL yang menempati tanah negara, atau pengusir warga seagama yang beda aliran — terhadap korban yang tak berdosa dengan tegangan amarah sangat tinggi, meledak-ledak.

Warga membakar rumah saudara sekampung di Sampang, Madura: bebas yang kebablasan

Warga membakar rumah saudara sekampung di Sampang, Madura: bebas yang kebablasan

Boleh jadi banyak di antara kejadian itu berkait dengan makin demokratisnya negara kita — sehingga orang merasa bebas untuk melakukan apa saja, termasuk ‘bebas melabrak’ pihak lain, tak peduli apakah pihak lain itu aparat keamanan, teman, atau bahkan keluarga sendiri.

Tetapi dari sisi komunikasi, banyak ahli mensinyalir besarnya peran media, film dan hiburan terhadap berbagai tindak kekerasan dan kekejaman itu. Belakangan, sinyalemen itu juga menuding peran program berita, seperti hard news, buletin dan tayangan ‘current affairs’ kabar berbagai peristiwa.

Di antara ahli ada yang menduga bahwa berita kekerasan – violent news – yang ditayangkan TV menyebabkan meluasnya kekuatiran akan munculnya tindak kriminal. Menurut mereka, ingatan pada tayangan violent news di TV cenderung lebih kuat ketimbang jenis informasi lain, sehingga menjadikan perilaku kriminalitas dan kekerasan kian berperan pada penonton. Sebagaimana dikatakan Johnston & Davey dalam buku ‘Media Psychology’ yang ditulis David Giles (2008), pada level pribadi, berita negatif terbukti meningkatkan kekuatiran personal, meski pun berita itu tidak langsung berhubungan dengan isi program yang sedang tayang.

Secara umum sering muncul kekuatiran adanya ‘copycat violence’ (kekerasan yang dilakukan gara-gara meniru-niru belaka), khususnya yang terkait dengan kericuhan masyarakat. Berbagai kericuhan di jalanan pada beberapa wilayah perkotaan di Inggris, misalnya, seringkali muncul pada saat berbarengan, dan jelas berperan sebagai katalisator bagi kericuhan-kericuhan di wilayah-wilayah lain.

Anak heavy viewers menonton TV dari dekat: copy cat violence?

Anak heavy viewers menonton TV dari dekat: copy cat violence?

Barangkali begitu pula yang terjadi di Indonesia. Entahlah. Yang jelas, di Jerman, hasil penelitian lain menunjukkan bahwa serangan kelompok rasis ‘sayap kanan’ terhadap etnik minoritas kentara sekali memiliki pola yang berkaitan dengan peliputan media terhadap penyerangan-penyerangan sebelumnya.

Dalam kaitan itu, para peneliti juga melihat hasil serangan-serangan yang terjadi. Pada serangan gelombang pertama, misalnya, korban cenderung untuk pindah atau mengungsi ke daerah yang lebih aman – yang boleh jadi merupakan tujuan utama yang diinginkan penyerang. Ternyata, berita tentang pengungsian para korban itu menjadi pemantik bagi gelombang penyerangan berikutnya.

Hal itu sangat mirip dengan yang disebut priming effect, yakni semacam dampak ajakan yang seolah disengaja, saat mana para preman ‘sayap kanan’ di Jerman lebih mungkin melakukan penyerangan terhadap kelompok minoritas jika mereka mendengar adanya serangan serupa telah berhasil memaksa korban untuk mengamankan diri ke tempat lain.

Sejalan dengan yang di atas, Anderson dan Bushman dalam ‘The Effects of Media Violence on Society’ (dan dimuat dalam sciencemag.org) menyatakan, bahwa berbagai bentuk riset secara jelas menunjukkan adanya kaitan positif antara kekerasan yang ditampilkan media dan peningkatan agresi yang terjadi. Studi eksperimental membuktikan hubungan kasual yang nyata. Percobaan laboratorium pun menghasilkan bukti yang jelas. Sementara, eksperimen di lapangan juga mengarahkan adanya dampak sebab-akibat dalam setting yang lebih alami. Selain itu, ini yang tidak kalah penting, studi lintas-cara (cross-sectional studies) menunjukkan hubungan erat antara media violence dengan jenis agresi di dunia nyata.

Masyarakat yang kian beringas: kebanyakan menonton kekerasan di TV?

Masyarakat yang kian beringas: kebanyakan menonton kekerasan di TV?

Memang ada yang meremehkan dampak program berita TV, khususnya karena anggapan bahwa program berita adalah ‘refleksi kebenaran realitas sehari-hari’, dan bahwa ia merupakan kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai kekerasan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi, bila banyak studi belakangan kian menunjukkan bukti bahwa media violence memengaruhi kekerasan di tengah masyarakat, tidakkah perlu ada usaha pencegahan yang lebih serius terhadap hal itu?

Baca juga:

 
 

Tags: , ,

Mekah (nya) Goenawan Mohamad

– Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah

Betapa berubahnya Mekah.  Duduk di salah satu sudut Masjidil Haram ketika matahari meredakan panasnya, kita bisa merasakan bayang-bayang sebuah bangunan yang menjangkau langit dari arah Selatan.

Ka'bah: kini berubah?

Ka’bah: kini berubah?

Memang: di seberang gerbang Baginda Abdul Aziz, berdiri sebuah super-gedung, (baru diresmikan Agustus tahun ini), yang disebut Abraj al Bait. Raksasa ini lebih dari 600 tingginya: menara waktu yang paling jangkung sedunia.  Empat muka jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, meskipun mengalahkannya dalam ukuran:  diameternya masing-masing 46 m, dengan jarum panjang yang melintang 22 meter. Dan berbeda dari Big Ben, di jidatnya yang diterangi dua juta lampu LED tertulis الله أكبر, “Allahu Akbar.” Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on March 29, 2013 in Artikel di Media

 

Jika SBY Pimpin Partai Demokrat

Jangan heran bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono jadi Ketua Umum Partai Demokrat. Menjelang Kongres Luar Biasa (KLB) di Bali, akhir Maret ini, kita menyimak ramainya usaha ke arah itu dilakukan para petinggi Partai Demokrat (PD).

Mereka serentak hendak mengarahkan agar Ketua Dewan Pembina PD itu secara mulus dapat menggantikan posisi Anas Urbaningrum yang lengser belum lama berselang.

SBY pidato di salah satu acara Partai Demokrat

SBY pidato di salah satu acara Partai Demokrat

Apakah posisi sebagai Ketua Umum PD menurunkan derajat SBY, itu bisa diperdebatkan. Yang jelas, tampaknya SBY sudah ‘tidak sabaran’ untuk secara serius mengambil peran yang lebih strategis guna membenahi partai yang didirikannya itu agar segera ‘come back’ dari krisis yang melandanya. Read the rest of this entry »

 

Tags: , , ,

Bahrain declares Hezbollah a terrorist organization

Reblogged from The Ugly Truth:

Judul tulisan itu: "Bahrain Deklarasikan Hisbullah sebagai Organisasi Teroris." Oh yaaa..? "Terus, kita harus bilang Wow gitu? ... " Jadi, begitu ya: siapa saja boleh menuduh seseorang sebagai teroris. Bagaimana dengan Anda yang membantai rakyat Anda sendiri, Wahai Raja Bahrain? Siapa yang Anda musuhi, O Raja? Rakyat Anda sendiri. Siapa yang dimusuhi Hisbullah? Zionis Israel, yang membantai rakyat tak berdosa di Palestina. Emangnya kita-kita ini semua segitu bodohnya, sehingga mau meng-amini apa yang Anda deklarasikan?
 
Leave a comment

Posted by on March 28, 2013 in Artikel di Media

 

Prabowo Subianto from a Closer Look

Mengamati Prabowo dari Dekat.

 
 

Mengamati Prabowo dari Dekat

Nama Prabowo Subianto kian ramai dibicarakan orang. Sebagai bakal calon presiden RI 2014-2019 yang dianggap punya peluang besar, nama mantan Danjen Kopassus dan pengusaha kaya itu belakangan ini makin santer diberitakan. Yang terakhir, misalnya, ia diterima Presiden SBY pada 11 Maret 2013.

Pertemuannya dengan SBY itu rupanya memantik beragam spekulasi dan pendapat. Ada penilaian ‘miring’, netral, atau pun positif.

Pertemuan Prabowo dan SBY: saling mendukung?

Pertemuan Prabowo dan SBY: saling mendukung?

Pengamat politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Airlangga Pribadi, misalnya, berpendapat bahwa sebagai kandidat presiden Prabowo yang potensial – dengan popularitas lumayan tinggi — parpol pendukungnya perlu mencari dukungan kekuatan dari luar.

“Di sini, Prabowo memiliki kepentingan terhadap kekuatan politik dari partai lain, tak terkecuali dari Demokrat,” kata Airlangga.

Sebaliknya, SBY juga punya kepentingan terhadap para calon Presiden pemenang Pemilu 2014. Tujuannya, untuk mengamankan jaringan atau kekuatan politik SBY.

“Namun pendekatan keduanya belum final dan merupakan pendekatan awal. Sehingga jangan ditafsirkan sebagai bentuk dukungan SBY kepada Prabowo,” kata Airlangga.

Walhasil, kisah Prabowo dan polemik mengenai dirinya makin ramai diberitakan media.

Mantan Danjen Kopassus Prabowo Subiyanto (tengah) bersama sejumlah sesepuh Kopassus pada peringatan HUT Kopassus ke- 56 (2008). (Foto Antara)

Mantan Danjen Kopassus Prabowo Subianto (keempat dari kiri) bersama sejumlah sesepuh Kopassus saat HUT Kopassus ke- 56 (2008). (Foto Antara)

Namun ada yang luput dari pemberitaan, yakni ketika 500-an pemimpin organisasi dan pengusaha berkunjung ke kediaman Prabowo, di Desa Hambalang, Bojong Koneng, Bogor, Kamis pekan lalu (14 Maret 2013).

Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , ,

Adakah Cinta di antara Kita?

Berbagai kasus korupsi belakangan ini menunjukkan kita krisis cinta pemimpin. Rakyat di negara manapun ingin pemimpin mereka menjaga kepercayaan dan mengabdi pada kepentingan rakyat.

Orang Arab punya pepatah, “Pemimpin suatu kaum itu adalah orang yang melayani mereka.” Orang Inggris bilang, pegawai negeri itu pelayan masyarakat (civil servant).

Presiden SBY bersama Ketua KPK Abraham Samad dan Kapolri Timur Pradopo: para pengabdi rakyat...

Presiden SBY bersama Ketua KPK Abraham Samad dan Kapolri Timur Pradopo: para pengabdi rakyat…

Sebenarnya menjadi pemimpin yang melayani rakyat itu mudah. Ia tak harus terlalu pandai dengan sederet gelar dan tak perlu jago berorasi apalagi bersilat lidah. Kuncinya, memimpin secara adil dengan hati yang penuh cinta.  Read the rest of this entry »

 

Tags: , , ,

Ronaldo dan Brand Ambassador

Megabintang Real Madrid Cristiano Ronaldo jadi Duta Pelestarian Mangrove di Indonesia. Yang menggaetnya adalah Forum Peduli Mangrove melalui program Artha Graha Peduli. Forum Peduli Mangrove adalah gerakan pelestarian mangrove di Pulau Dewata yang didukung lima lembaga pemberdayaan masyarakat yang berada di selatan Tanjung Benoa, Bali. 

Cristiano Ronaldo

Cristiano Ronaldo

“Saya senang dan bahagia Ronaldo setuju mendukung kegiatan kami guna melestarikan hutan mangrove di Indonesia,” kata Pendiri Forum Peduli Mangrove Indonesia, Tomy Winata, Senin (11 Maret) lalu.

Daya tarik Ronaldo dianggap cocok menjadi duta penyelamatan mangrove. Ia juga pantas sebagai panutan bagi seluruh lapisan masyarakat agar ikut menjaga kelestarian hutan mangrove di Indonesia.

Ronaldo sendiri merasa istimewa ikut berperan melestarikan mangrove di Indonesia. “Saya memahami bahwa di tempat-tempat yang banyak ditumbuhi mangrove terbentuk ekosistem yang dapat melindungi dari hantaman ombak besar, sehingga banyak jiwa bisa diselamatkan, dan mencegah kerusakan yang timbul,” kata mantan gelandang Manchester United berusia 28 yang pernah datang ke Aceh setelah tragedi tsunami, sembilan tahun lalu itu.

Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,625 other followers