Tag Archives: motivasi

Ketika Kecantikan Tak Penting Lagi

Apa yang sesungguhnya penting…

Siap atau tidak, suatu ketika semuanya akan berakhir; Tidak akan ada lagi sinar mentari, tak ada menit; jam dan hari-hari semua sirna; Segala yang Anda kumpulkan, baik yang dijadikan harta karun atau terlupa, semua akan beralih ke tangan orang lain;

Kekayaanmu, ketenaran dan kekuasaan sementara, bakal menguap tak lagi relevan;

Tak penting lagi apa yang Anda miliki atau yang menjadi piutang;

What will Matter — klik di sini.;

Atau pirsa videonya di sini. Continue reading Ketika Kecantikan Tak Penting Lagi

7 Langkah Sukses

Berbagai resep sukses sudah ditulis orang. Ini sebuah resep ringkas, mencakup tujuh (7) langkah yang kelihatannya cukup masuk akal:

1. Punya sikap positif: attitude yang benar akan membedakan mereka yg meraih sukses atau gagal. Bergaul dengan orang-orang yang mendukung kesuksesan Anda; fokuslah pada yang positif; lihat sisi baiknya pada setiap orang, jangan melihat kekurangan (negatif)-nya;  lalu miliki antusiasme yang tinggi.

Nick Vujivic: salah seorang yang sukses, meski tanpa lengan dan kaki

Bicara antusiasme itu, artinya seorang calon sukses biasanya punya 3 D: Discipline, Desire dan Dedication.

  • Disiplin: Pelatih Mike Tyson, Teddy Atlas, pernah bilang: “yang saya cari adalah petinju muda, bukan yang berbakat, fisik, atau tenaga dan kecepatan, tapi mereka yang punya disiplin.
  • Desire: adalah dorongan atau kemauan yang amat kuat, yakni orang yang committed (tekad) unttk melakukan dan selalu dalam kondisi terbaik setiap saat.
  • Dedikasi: adalah kemauan untuk melakukan pekerjaan sampai ‘selesai’ (tuntas).

Continue reading 7 Langkah Sukses

Rahasia Meraih Cita-cita: Kisah Afaf dan Sigit

Ini adalah tentang rahasia pencapaian. Tentang berpikir positif dan cita-cita.

Sejak sekitar enam tahun lalu, Afaf selalu mengikuti acara masak-memasak di televisi (TV) kabel. Ada program Master Chef Junior dari Amerika, ada juga yang dari Australia. Asyik menonton acara itu, Afaf yang saat itu masih duduk di TK jadi mencintai dunia kuliner. Dalam hati rupanya ia ingin tampil seperti para jagoan memasak cilik itu.

“Mah, kapan ya ada acara seperti ini di Indonesia?” tanya Afaf kepada ibunya, Emma. Beberapa kali, setiap melihat acara itu di TV, Afaf menanyakannya pada sang ibu. Selang beberapa bulan kemudian, ibunya mendaftarkan gadis yang kini berusia 11 tahun itu ke sebuah lembaga kursus memasak di Jakarta. Continue reading Rahasia Meraih Cita-cita: Kisah Afaf dan Sigit

Reaktif atau Responsif? Pelajaran dari Kecoak

Catatan: Waktu menulis ini, kita mungkin diingatkan pada acara talkshow ‘Mata Najwa’ di Metro TV akhir Mei 2014. Saat itu, Anies Baswedan menanggapi ‘serangan’ pertanyaan Najwa Shihab secara tenang. Pikirannya jernih. Ia tidak terpancing pada ‘provokasi’ Najwa sebagaimana Mahmud MD yang sempat kelihatan agak gagap menjawab Najwa. Anies rupanya telah menyiapkan diri dengan pesan-pesan kunci tentang apa yang akan ditanyakan Najwa. Ia merespon, bukan bereaksi. 

 

Mendadak sontak, seekor kecoak mendarat di pangkuan seorang wanita. Dia panik dan berteriak histeris. Tangannya berusaha mengusir kecoak secara membabi buta. Badannya kelojotan. Pengunjung lain ikut berteriak. Histeris. Itu terjadi di sebuah restoran.

Reaktif, atau Responsif; Panik gara-gara kecoak
Reaktif, atau Responsif; Panik gara-gara kecoak

Tidak lama, serangga dari ordo Blattaria itu terbang lagi. Kali ini ia hinggap di tubuh seorang wanita lain yang sudah berumur. Ia sekarang jadi “korban”.

Seperti wanita yang tadi, si ibu ber-reaksi secara dramatis, dan gemeteran. Panik. Ia menggebrak-gebrak, berteriak sampai kecoak pergi.

Kecoak adalah serangga dari ordo Blattaria atau Blattodea. Sekitar 30 spesies (dari 4.500-an spesies) Blattaria berhubungan dengan habitat manusia, tinggal dan hidup di pemukiman penduduk. Hanya empat yang tergolong pest, dan salah satu pest yang paling banyak dikenal adalah spesies American cockroach.
Kebanyakan jenis serangga ini aktif pada malam hari (nocturnal). Penelitian menunjukkan bahwa kecoak merupakan salah satu serangga (bersama lalat buah) yang paling tahan — tidak mudah mati. Banyak spesies kecoak bisa tahan tanpa makan selama sebulan.
Mampu hidup tanpa udara sekitar 45 menit, kecoak juga bisa survive setelah tenggelam di air selama 30 menit. Ia diduga akan “mewarisi bumi”, bahkan seandainya semua manusia meninggal gara-gara perang nuklir sekali pun.

Kali ini kecoak itu mendarat ke tubuh salah seorang pelayan restoran.Tapi, berbeda dengan kedua wanita tadi, si pelayan menangani serangga itu secara santai. Ia tenang sekali. Tidak panik. Diperhatikannya gerak gerik kecoak. Secara pelahan sang pelayan menangkap kecoak tadi dengan tangannya. Lalu membuangnya jauh-jauh ke luar restoran.

Ini adalah tentang Teori Kecoak tentang Pengembangan Pribadi; The Cockroach Theory for Self Development.

Hewan melata yang bisa terbang.
Hewan melata yang bisa terbang.

Sambil minum kopi, Sundar Pichai  — yang mengisahkan kejadian itu — merenung dan berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi di restoran itu. Lulusan MIT (AS) dan kini menjabat sebagai Global Head Google Chrome itu mengatakan, “Saya memperhatikan kejadian tadi. Apakah si kecoak bertanggung jawab pada drama itu, atau manusia-lah yang sebenarnya bertanggungjawab terhadap apa yang menimpa dirinya?” “Lebih dari masalah yang terjadi,” kata Pichai, “reaksi saya terhadap problem-lah yang sebenarnya menciptakan chaos dalam hidup saya.”

Pelajaran dari cerita itu:

  • Saya paham bahwa saya semestinya tidak ‘bereaksi’ di dalam hidup ini, tetapi saya harus ‘merespon’.
  • Para wanita itu bereaksi pada kecoak, sedangkan si pelayan memberi respon.
  • Mengapa si pelayan tidak terusik? Ia dapat menangani urusan itu  hampir secara sempurna, tanpa chaos.
  • Bukanlah si kecoak, tapi ketidakmampuan para wanita itu menghadapi gangguan yang muncullah, yang menyebabkan terganggunya para ibu tadi.

 

Pantaslah kecoak bisa bertahan begitu lama...
Pantaslah kecoak bisa bertahan begitu lama…
  • Saya menyadari, bukanlah teriakan atau hardikan ayah saya atau boss atau isteri saya yang sesungguhnya mengganggu saya, tapi ‘ketidakmampuan saya menangani gangguan‘ akibat teriakan merekalah yang sebenarnya mengganggu saya.
  • Bukanlah kemacetan di jalan yang sibuk yang mengganggu saya, melainkan ketidakmampuan saya mengelola gangguan akibat kemacetan lah yang membuat saya jadi merasa terganggu.
  • Reaksi selalu berdasarkan instinct (perasaan) saja, sedangkan respon merupakan hasil pemikiran yang seksama.

Itu semua menjadi salah satu cara yang berharga untuk memahami ‘makna’ kejadian dalam hidup.