RSS

12 Falsafah Hidup – Pitutur Jawa

24 Oct

12 Falsafah Hidup – Pitutur Jawa

Berbagai suku di Indonesia punya falsafahnya masing-masing. Dalam dunia komunikasi, para pakar menyarankan agar semua orang yang hendak berkomunikasi dalam promosi atau persuasi apa pun, hendaknya menggunakan ‘kebijakan lokal’, alias local wisdom.
Masyarakat Jawa juga sejak lama dikenal memiliki falsafah yang layak untuk menjadi pelajaran bagi kita. Filosofi leluhur Jawa, misalnya dalam bentuk pitutur, itu diturunkan dari generasi ke generasi. Barangkali di era Google sekarang, ketika masyarakat sibuk menengok ke Barat, penting kiranya bagi kita untuk memahami warisan budaya atau pemikiran salah satu komponen bangsa sendiri.

Berikut ini 12 Falsafah yang saya dapatkan dari sana-sini.

  1. Urip iku Urup: Hidup itu nyala, hendaknya kita memilih hidup yang memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Kian besar manfaat yang kita berikan kian baiklah pribadi orang itu. Sangatlah mungkin, filosofi ini merujuk kepada hadis Nabi Muhammad saw yang mengatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” 
  2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara: Hendaknya setiap manusia mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; sekaligus memerangi (memberantas) semua sifat angkara murka, serakah dan tama (rakus);
  3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti: Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dilebur (dikalahkan) oleh sikap bijak, lembut hati dan sabar;
  4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha: Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan (pihak yang dikalahkan), berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan/ kekuatan/ kekayaan/ keturunan, kaya tanpa didasari hal-hal yang bersifat kebendaan/materi;

    Panakawan: Dalam pewayangan, kehadiran Panakawan yaitu pada saat 'goro-goro', ketika orang membuka tabir kesalahan: akibatnya yang salah terlihat kesalahannya dan yang benar terlihat kebenarannya.

    Panakawan: Dalam pewayangan, kehadiran Panakawan yaitu pada saat ‘goro-goro’, ketika orang membuka tabir kesalahan: akibatnya yang salah terlihat kesalahannya dan yang benar terlihat kebenarannya.

  5. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo: Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, indah, dan jangan plin-plan atau berpikir menduka (terombang-ambing) agar niat dan semangat kita tidak menjadi layu atau kendor; 
  6. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan: Jangan terlalu mudah sakit hati ketika ditimpa musibah, jangan susah manakala kehilangan sesuatu;
  7. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman lan Aja Geleman: Jangan mudah terheran-heran, atau terlalu kagum, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut dengan sesuatu, jangan mudah manja atau ngambek, dan jangan mau (mengambil) yang bukan hak kita; 
  8. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman: Janganlah terobsesi oleh keinginan merebut kedudukan, kebendaan / materi dan kepuasan duniawi melulu;
  9. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka: Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan curang ayau culas agar tidak celaka; 
  10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna: Janganlah sok hebat, sok kuasa, sok besar, sok kaya, atau pun sok sakti dan pintar;
  11. Sapa Weruh ing Panuju sasad Sugih Pager Wesi: Sesiapa yang bercita-cita luhur atau mulia, akan tertuntun jalan hidupnya;

    Tiga dari 11 Falsafah Hidup - di sini kita tulis hingga 12

    Tiga dari 11 Falsafah Hidup – di sini kita tulis hingga 12

  12. Alang-alang dudu Aling-aling, Margining Kautaman: Persoalan persoalan (kendala) dalam kehidupan bukan penghambat , (ia justru menjadi) jalan bagi kesempurnaan.

Semoga bermanfaat.

Advertisements
 
11 Comments

Posted by on 24/10/2013 in Artikel di Media

 

Tags: , , ,

11 responses to “12 Falsafah Hidup – Pitutur Jawa

  1. Liza Nydea Djohan

    27/10/2015 at 2:25 pm

    Mantap pak!! Will keep this in mind 😀

     
  2. akuahmadjuga a

    27/03/2015 at 10:25 pm

     
  3. yplia

    24/12/2014 at 1:01 pm

    trimakasih mas syafiq… sdh d ingatkan.. 🙏

     
  4. arifah imuet

    16/10/2014 at 6:01 pm

    Reblogged this on arifahimuet and commented:
    filsafat jawa

     
  5. jhon lapoexs

    24/03/2014 at 10:33 pm

    semoga ini bakal jadi falsafah buat anak anaku

     
  6. agung ponco w

    25/10/2013 at 9:49 am

    dulu sering mendengar pitutur ini tp hanya sami’na wa soina 🙂 terimakasih bapak syafiq

     
  7. escetama@yahoo.com

    24/10/2013 at 4:04 pm

    ♥MάKα§îîîîîĦ♥. Broer Syafiq falsafahnya sangat universal.tdk untuk orang jawa sja…wass.
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

     
    • saifana

      06/01/2015 at 8:06 pm

      selamat malam, saya mau tanya arti filsafah dari Hamemayu hayuning bawana jika di terapkan dalam organisasi kepencinta alaman itu apa ….. sekian

       
      • Syafiq Basri

        07/01/2015 at 2:28 am

        Mungkin ada teman pembaca blog yang bisa menjelaskan pertanyaan Sdr(i) Saifana ini secara lebih komprehensif?

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: