RSS

Imago – Kemudahan bersama Kesulitan

02 Nov

Imago – Sesungguhnya Bersama Kesulitan ada Kemudahan.

Hendaknya kita tidak mudah berputus asa; latihan stres justru perlu, biar kuat. Sebab, “bersama kesulitan itu ada kemudahan”. Renungan untuk resolusi Tahun Baru 2014.

Kecantikan kupu: hasil perjuangan metamorfosa

Kecantikan kupu: hasil perjuangan metamorfosa

Suatu hari menjelang akhir tahun, seorang bocah lelaki mengamati sebuah kepompong. Ia memelototinya. Di dalamnya tampak seekor kupu mungil yang sedang “berjuang” hendak melepaskan diri. Kupu kecil seperti meronta-ronta… “huuuugghh…” sang ‘janin’ kupu-kupu kepingin keluar dari kepompongnya.

Sang bocah iba. Ia merasa kasihan… Ia ingin membebaskan diri agar kupu mungil segera menjadi imago. Ia lalu dapat ide: sang bocah segera mengambil gunting yang kemudian dipakainya untuk menggunting lapisan kulit kepompong itu.
Beda dari kebanyakan serangga lain (seperti laba-laba, cicak dan nyamuk) yang aktif di malam hari, kupu-kupu bekerja pada siang hari. (Ya jelas, kalau malam kembangnya gak kelihatan, kalee.. 🙂 )

Cerita pendek ini merujuk pada sebuah email seorang teman psikolog tahun 2011 lalu, dan kemudian mengalami sedikit ‘metamorfosa’ seperlunya. (Pernah ditulis dalam Note Facebook saya. Sekarang sengaja saya renovasi sedikit, untuk berbagai dengan Anda. SB). – Pertama kali dipublikasikan di sini pada 31 Desember 2011.

Hewan dari ordo (jenis) ’Lepidoptera’ ini punya empat tahap siklus hidup: telur, larva, pupa dan dewasa. Pupa itulah yang kita sebut kepompong.

Ada jenis kupu yang terbang jauh….(barangkali mengikuti aliran sungai yang panjang — seperti Bengawan Solo…) Sebagian lainnya hidup saling berdampingan dan menguntungkan (simbiose) dan atau membina hubungan parasit dengan serangga ‘sosial’ seperti semut. Sebagian lainnya sering menjadi hama, karena larvanya merusakkan tanaman dan pepohonan.

Simak pula video tentang kisah Kepompong ini di video berikut:  

Keindahan dan motif sayap kupu itulah yang sering menjadi inspirasi bagi manusia (mungkin juga jin dan makhluk lain – siapa tahu?).

Sayap, atau pangkal sayap tidak tampak dari luar larva, tapi ketika larva dibelah, umpamanya, kita akan melihat adanya penumbuhan bakal sayap di sekitar ‘tulang punggung’ nomor 2 dan 3. Lempengan lembut sayap itu dikelilingi lapisan selaput tipis (membrane) yang berhubungan dengan lapisan kulit luar larva melalui sebuah kanal kecil dan lembut. Subhanallah

Larva berubah menjadi pupa bersusunan mirip kristal. Transformasi pupa menjadi kupu melalui metamorfosa menarik perhatian banyak ahli. Calon sayap pupa secara cepat mengalami pembelahan sel (mitosis) dan menyerap sejumlah besar nutrisi. Sekiranya salah satu (dari empat sayap) diputuskan,misalnya, maka tiga sisanya akan berkompensasi memperbesar diri. Itulah cara Tuhan mencipta. Ia menyebabkan sebab dan musabab, dan berlanjut menjadi sebab bagi peristiwa yang lain. Subhanallah

Alhasil, cerita perjalanan janin kupu itu masih panjang, dan kalau ditulis kita jadi seperti belajar biology (ilmu hayat) atau lebih tepatnya zoology (ilmu tentang hewan). Ringkasnya, bakal sayap yang semula lembut itu kemudian membentuk lapisan yang mengeras (cuticula) dan secara apik terhubung dengan tubuh sang kupu. Di dalam pupa, sayap-sayap itu melipat diri.

Bahasa Indonesia: kupu yang sedang bereproduksi

Kupu sedang berreproduksi

Kupu dewasa, yang langsung matang secara seksual (baligh), dikenal dengan nama imago. Setelah keluar dari ‘penjara’ pupa, imago belum langsung bisa terbang. Ia harus melepaskan lipatan sayap-sayapnya dan mengeringkan diri lebih dulu. Butuh beberapa jam baginya untuk mengembangkan sayap melalui pengaliran darah ke dalamnya, dan membiarkan sayap-sayap itu mengering. Sebagian kupu perlu satu hingga tiga jam untuk mengering. Cairan itu biasanya berwarna putih, merah, orange, atau (dalam kasus tertentu) biru.

Sang bocah tadi rupanya berpikir bahwa bantuannya akan segera ‘menyulap’ pupa menjadi imago — membuat sang kupu-kupu segera “bebas” ke luar dari ‘penjara’ kepompong secara mudah.

Ia lega. Guntingan yang dilakukannya berhasil membuat sang kupu bebas dari ‘kerangkeng’ kepompong.

Tetapi apa lacur? Si kupu kupu memang berhasil keluar dari sana. Tetapi Kupu kupu itu “lumpuh”. Ia tidak bisa terbang, melainkan cuma bisa merayap. Mrepeet…mrepeeet… suaranya ketika menyeret tubuh. Tapi, maksudnya kan baik?

Common Crow (Euploea core) pupa on underside o...

Seekor pupa di atas daun

Ternyata, seperti kita tulis di atas, seekor kupu yang sedang berjuang keluar dari kepompongnya memang harus mengerahkan seluruh tenaganya. Dalam proses itu muncullah sejenis cairan dari dalam tubuhnya — yang kemudian mengalir secara kuat, membasahi seluruh tubuhnya, sehingga menyebabkan sayapnya mengembang.

Berkat sayap yang berkembang saat ‘memberontak’ dalam kepompong itulah ia kelak jadi bisa terbang. Tapi kini, karena tidak ada lagi perjuangan itu, sehingga sayapnya tidak dapat mengembang. Ia pun menjadi seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.

Pelajaran yang kita petik dari sini adalah, bahwa, kadangkala niat baik (good intention) kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik pula. Sama seperti pada saat orang mengajar anaknya. Ada kalanya orang tua sering membantu mereka karena kasihan atau iba. Mereka mengira itu sebuah “rasa sayang”, padahal sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam diri anak tidak berkembang. Memandulkan kreativitas, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya perlu dijalani sang anak. Ketika mereka nanti berhasil melewatinya, mereka justru menjadi kuat. Sedikit stres bagi anak memang perlu – dan latihan stres stres kecil itu bisa menjadi seperti calon pendekar yang berlatih di Shaolin Temple, atau Kawah Candradimuka barangkali.

Begitu pula, saat kita sedang ‘berjuang’ menghadapi suatu masalah besar, hendaknya kita tidak buru-buru mengharapkan ‘bantuan’ orang lain. Coba berjuanglah dahulu dengan mengerahkan segala kemampuan sendiri. Artinya, menjadi orang yang tidak mudah menyerah — kecuali bila benar-benar usaha telah tiada lagi berhasil-guna. ’Fa inna ma’al ’usriy yusraa; inna ma’al ’usriy yusraa. ”Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,” kata Allah dalam kitab-Nya.

Mari bermetamorfosa…

Baca juga:

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on 02/11/2013 in Diskusi Agama, Pemikiran

 

Tags: ,

One response to “Imago – Kemudahan bersama Kesulitan

  1. Leslie Saunder nubuk

    25/01/2012 at 12:29 am

    hal yang kusadari adalah bahwa keinginan dan kemauan kita akan sesuatu akan membuat kita benar2 mencurahkan perhatian kesana.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: