RSS

Tag Archives: New York Times

Lagi, Kebohongan di Suriah…

Apa yang terjadi di Suriah; benarkah Asad menggunakan senjata kimia? Ternyata itu hanya fitnah belaka. Jangankan menyerang rakyatnya sendiri, senjata kimia saja Asad tidak punya. Ini mengingatkan kita pada kejadian di Irak dulu.
Alasan untuk  mengebom dan menginvasi Irak pada tahun 2003 adalah, kata Presiden AS George Bush, Saddam Hussein memiliki dan menggunakan Senjata Pemusnah Massal (Weapons of Mass Destruction — WMD), yang ternyata sama sekali tak berhasil ditemukan di Irak.  Dalam konvensi Partai Republik (AS) belum lama berselang, Presiden Trump secara tegas mengatakan bahwa pemerintahan Bush telah berbohong.  “You call it whatever you want. I want to tell you. They [the Bush administration] lied,” kata Trump sebagaimana dikutip guru besar AS dalam Bidang Sejarah Islam, Brian Glyn Williams (klik di sini).
Anehnya, kini Trump sendiri yang mengebom Suriah, dengan alasan (fitnah) serupa, bahwa Suriah, katanya, telah menggunakan Bom Kimia. Untuk urusan kebohongan-kebohongan di Suriah ini, salah satu artikel yang paling gamblang menjelaskannya adalah yang ditulis Dina Sulaeman berikut ini: (Catatan: saya menambahkan foto, grafik dan sedikit informasi tambahan).

Cara Menganalisis Berita dalam Kasus Senjata Kimia di Idlib

Berkali-kali mahasiswa menanyakan kepada saya (Dina Sulaeman maksudnya – red), bagaimana cara kita menelaah berita dari media mainstream. Berikut ini contohnya. Kasus yang akan kita pelajari adalah berita dari New York Times (NYT), ditulis tanggal 4 April 2017, di hari yang sama dengan kejadian serangan senjata kimia tersebut. Penulisnya Anne Barnard dan Michael R. Gordon yang melaporkan dari Beirut (Lebanon). [1]

  1. Sebuah berita (news) yang valid adalah ketika wartawan telah melakukan cross-check di lapangan. Robert Fisk, jurnalis senior asal Inggris, pernah menulis bahwa melaporkan berita dengan hanya bersumber dari satu pihak, tanpa ada wartawan yang mengkonfirmasi dengan matanya sendiri atas hal-hal yang mereka laporkan, adalah salah. [2]
Foto yang digunakan dalam koran The-New-York-Times 4 April 2017

Foto yang dipakai dalam koran The New York Times, 4 April 2017 lalu.

Berita NYT ditulis dari Beirut, dan wartawannya (Bannard dan Gordon) tidak datang langsung ke lapangan. NYT menyebut narasumbernya: ‘saksi’, dokter, dan tenaga medis (Paragraf. 3) Foto dan video yang digunakan sebagai data disuplai oleh aktivis yang diunggah di internet (P. 9). Tanpa evaluasi yang seksama atas info-info tersebut, NYT sejak di paragraf 1 sudah memberikan kesimpulan bahwa pelakunya adalah pemerintah Suriah. Read the rest of this entry »

Advertisements
 

Tags: , , , , , ,

2013: Tahun Indah bagi Twitter?

Jika ada satu hal yang menarik pada perkembangan Twitter tahun 2012 lalu adalah bahwa media sosial itu tidak membosankan. Atau bahkan sangat mengasyikkan.

Sepanjang tahun lalu, layanan microblogging itu meledak sejadi-jadinya. Twitter menjadi tuan rumah bagi kejadian seperti ‘Tanya Jawab Bersama Presiden Obama’, kericuhan di Bahrain, Mesir, dan Badai Sandy. Tak kurang dari 125 kepala negara dan 139 politisi penting dunia lainnya menggunakan Twitter,  meski hanya 30-an di antara mereka melakukan tweet (kicau)-nya sendiri.

Social Media Landscape: Twitter salah satu yang berkembang pesat

Social Media Landscape: Twitter salah satu microblog yang berkembang pesat

Di Indonesia, Twitter menjadi salah satu sumber info terpenting bagi mereka yang mencari keterangan tentang segala hal, mulai dari kasus ‘KPK versus Polri’, pemilihan Gubernur DKI, pernikahan kontroversial Aceng Fikri, cerita tabrakan maut Afriyani, Novie Amelia hingga putra Menko Perekonomian Hatta Rajasa, serta riuhnya berita Rhoma Irama sebagai calon presiden.

Dengan lebih 30 jutaan pengguna Twitter (Tweeps) pada November 2012 lalu, Indonesia menjadi negara pengguna Twitter kelima terbesar di dunia, di bawah AS, Brazil, Jepang dan Inggris – sementara Jakarta unggul sebagai kota paling aktif pengirim tweet di antara kota-kota lain dunia.

Tetapi 2012 juga merupakan tahun kontroversial bagi Twitter. Tahun lalu, selain membatasi layanannya bagi pihak-ketiga yang ingin mengembangkan jasa bagi pengguna, Twitter juga ‘berperang’ dengan mantan rekan bisnisnya, Instagram, dalam masalah dominasi ‘photo-sharing’. Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , ,

Soal Upeti, Dahlan Iskan dan Jero Wacik

Di Indonesia ramai soal pernyataan Dahlan Iskan tentang anggota DPR yang ‘memeras’ BUMN; dan Jero Wacik ngomong soal ‘upeti’ oleh Humas BP Migas untuk wartawan. Di Australia, media dianggap paling korup, di atas organisasi buruh (union) dan partai politik. Di Inggris, justru media milik Murdoch terlibat dalam kasus penyuapan dan peretasan telepon milik nara sumber. Semuanya itu adalah soal UPETI.

Upeti. Tiba-tiba kata itu jadi mengingatkan kita kepada dua peristiwa yang terjadi belakangan ini.

Pertama, cerita Menteri BUMN Dahlan Iskan tentang sinyalemen adanya upeti dari direksi BUMN tertentu kepada anggota DPR. Kedua, adalah pernyataan Menteri ESDM Jero Wacik mengenai upeti dari Humas BP Migas kepada wartawan.

Cerita Dahlan dan ribut-ribut soal upeti, atau ‘pemerasan’, oleh anggota DPR itu, hingga hari ini masih terus ramai diperbincangkan, antara lain karena Dahlan diharapkan memberikan bukti tuduhannya itu.

Sesungguhnya, korupsi di proyek Hambalang atau lainnya bisa juga disamakan dengan itu. Atas jasa menggolkan proyek tertentu, seseorang atau beberapa orang anggota DPR meminta upeti dari yang mendapat proyek atau kontraktor. Pada prakteknya kita melihat upeti bahkan kadang diberikan di depan, bahkan jauh sebelum proyek digarap.

Upeti. U-p-e-t-i. Itu sebuah harta yang biasanya diberikan suatu pihak sebagai tanda ketundukan dan kesetiaan, atau hormat kepada pihak lainnya. Sejarah mencatat bahwa dahulu upeti biasanya diminta oleh negara yang kuat dari negara yang lebih lemah, atau wilayah yang berhasil ditaklukkan.

Oleh Syafiq Basri Assegaff*). Tulisan ini aslinya ditayangkan portal berita “Inilah.Com”, 22 November 2012.

Sering pula upeti diberikan warga sebuah keraton kepada sang penguasa. Boleh raja atau ratu, sang penguasa merasa bahwa semua hamba di wilayahnya adalah ‘budak’ yang memerlukan perlindungannya. Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , ,

Membongkar Kebohongan ala Wikileaks

Saat hampir 60 % rakyat AS tidak percaya pada media, WikiLeaks memberi pilihan bagi jurnalisme baru sebagai kantor berita tanpa negara.

Benarkah WikiLeaks membuka kembali pintu jurnalisme yang sebenarnya? Sebagian penguasa di dunia menganggap bahwa WikiLeaks hanya pemulung informasi sampah atau ‘warung kopi’. Pemerintah Amerika Serikat (AS), yang kawat diplomatiknya sering dibocorkan WikiLeaks, termasuk yang sering gerah.

Barangkali di antara pengungkapan dokumen yang paling bikin kesal pemerintah AS adalah ketika pada Juli 2010 WikiLeaks membocorkan 91.731 kawat — selama periode tahun 2004 hingga 2009 — mengenai perang di Afghanistan, dan menyampaikannya pada tiga media kelas dunia, The New York Times (AS), The Guardian (Inggris), dan Der Spiegel (Jerman). “Itulah salah satu kebocoran terbesar dalam sejarah militer AS,” tulis Columbia Journalism Review.

Di bawah ini adalah tulisan saya (Syafiq Basri Assegaff), berjudul “Jurnalisme Baru Wikileaks”, yang dimuat di Koran Tempo, Sabtu 16 April 2011; halaman A8

WikiLeaks

WikiLeaks (photo: Wikipedia)

Banyak yang memuji WikiLeaks, situs penyebar rahasia yang resmi berdiri pada 2007, sebagai “jurnalis yang sebenarnya”. Awal Maret lalu, situs lembaga jurnalisme independen Consortiumnews menurunkan artikel dengan judul “WikiLeaks Mempermalukan Media Gaya Lama”. Kevin Zeese, penulisnya, menempatkan Assange di garis depan gerakan mendemokrasikan jurnalisme dan membangun kekuatan rakyat.

Sebagian lainnya malah menganggap yang dilakukan Assange sesungguhnya adalah semacam “jurnalisme investigatif”, sebuah kegiatan penyelidikan oleh wartawan untuk mengungkap rahasia sumber berita.

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , , , ,

Jurnalisme Baru WikiLeaks

Julian Assange, photo ("sunny country bac...

Julian Assange - disukai dan dibenci

Syafiq Basri Assegaff

Koran Tempo 16 April 2011

Banyak yang memuji WikiLeaks, situs penyebar rahasia yang resmi berdiri pada 2007, sebagai “jurnalis yang sebenarnya”. Awal Maret lalu, situs lembaga jurnalisme independen Consortiumnews menurunkan artikel dengan judul “WikiLeaks Mempermalukan Media Gaya Lama”. Kevin Zeese, penulisnya, menempatkan Assange di garis depan gerakan mendemokrasikan jurnalisme dan membangun kekuatan rakyat. Sebagian lainnya malah menganggap yang dilakukan Assange sesungguhnya adalah semacam “jurnalisme investigatif”, sebuah kegiatan penyelidikan oleh wartawan untuk mengungkap rahasia sumber berita.

Di Amerika Serikat, jurnalisme investigatif pernah mencapai puncaknya pada 1970-an. Namun kualitas media kian lama kian menurun, sehingga media sering lebih berfungsi sebagai “agen berita semiresmi” pemerintah ketimbang watchdog independen bagi masyarakat. Menurut Zeese, banyak eksekutif media membela kepentingan orang kaya dan kuat dengan alasan menjaga “kepentingan nasional”. Perkembangan itulah yang belakangan memunculkan situs seperti WikiLeaks.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 18/11/2011 in Artikel di Media, Media

 

Tags: , , , , ,