Tag Archives: Huffington Post

Islam dan Teroris: Debat 13 Menit di Oxford

Islam belakangan dituduh sebagai agama yang suka kekerasan; agama para teroris — gara-gara ulah sekelompok kecil orang model Bin Laden dan konco-konconya.

Beginilah cara berdebat! Video di bawah ini hanya 13 menit. Rugi kalau tidak melihatnya!

Di mana-mana di dunia seolah citra itu sengaja digelembungkan, lewat buku, lewat media, lewat segala macam kanal dan saluran, elektronik atau pun non elektronik, media lama atau pun media baru (Media Sosial). Sehingga tidak heran bila banyak orang termakan isu itu, dan mengatakan bahwa Islam memang bukan agama damai.

Islam Menentang Terrorisme.  (Foto REUTERS).
Islam Menentang Terrorisme.
(Foto REUTERS).

Di Inggris, ‘brand‘ bahwa Islam itu identik dengan teroris menjadi marak, khususnya setelah terjadinya pembantaian yang mengatasnamakan Islam terhadap seorang tentara Inggris di luar baraknya, di London selatan, pada 23 Mei 2013 lalu.

Maka, beberapa hari setelah kejadian itu, Oxford Union, yang merupakan bagian dari Oxford University di Inggris menyelenggarakan sebuah debat besar dengan tujuan menetapkan sebuah mosi: “Apakah bisa meyakini bahwa Islam adalah Agama Damai”. Sesudah argumen dari enam orang pedebat, pemungutan suara (voting) menghasilkan 286 mengatakan ‘Ya‘, dan 168 bilang ‘No‘ terhadap mosi bahwa: ‘Islam Agama Damai’.

Suasana Debat di Oxford
Suasana Debat di Oxford

Oxford yang didirikan pada 1823 merupakan ‘tempat perdebatan paling prestisius di dunia,’ (the world’s most prestigious debating society).

Menurut salah seorang pedebat, Daniel Johnston (seorang wartawan dan editor senior), Islam merupakan ‘ancaman paling langsung terhadap peradaban Barat di dunia saat ini.’

Pendapat Johnston dan lainnya dibantah oleh Mehdi Hasan, seorang pemuda Muslim Inggris yang bekerja sebagai editor (wartawan) politik the Huffington Post. Mehdi, yang juga alumnus Oxford, antara lain mengatakan, bahwa yang meyakini bahwa Islam itu agama teror hanyalah para teroris dan mereka (sekelompok orang) yang mengatakannya demikian. Tetapi 99,99 % dari 1,6 Milyar Muslimin di dunia percaya, yakin dan selalu menekankan bahwa ajaran Islam itu cinta damai. Mahdi percaya bahwa, agama Kristen, sebagaimana Islam (dan hampir semua agama besar lainnya) sama-sama didasarkan pada cinta dan kebaikan (compassion).

Menurut Mehdi Hasan, sebagian kecil orang yang ‘mengatasnamakan Islam’ dalam perbuatan terornya sesungguhnya bukan sesuatu yang berkaitan dengan agama, melainkan memiliki pada tujuan-tujuan lain di luar agama, seperti politik dan sebagainya. Ketika menangkis tuduhan mengenai peran Syariah Law (yang dikatakan menyuruh umat Islam melakukan kekerasan), Mehdi menantang agar mereka menunjukkan, “mana buku Syariah Law itu?”.

Mehdi juga mengutip pendapat Prof. Robert Pape, ahli terorisme dari University of Chicago (yang meneliti sekitar 315 kasus pengeboman bunuh diri di dunia, dan menulis buku, “Dying to Win“), yang menyimpulkan bahwa, “kecil sekali kaitan antara aksi terorisme (suicide bombing) dengan fundamentalisme Islam atau agama apa pun di dunia.”

Pape claims to have compiled the world’s first “database of every suicide bombing and attack around the globe from 1980 through 2003 — 315 attacks in all”. “The data show that there is little connection between suicide terrorism and Islamic fundamentalism, or any one of the world’s religions. . . . Rather, what nearly all suicide terrorist attacks have in common is a specific secular and strategic goal: to compel modern democracies to withdraw military forces from territory that the terrorists consider to be their homeland”. It is important that Americans understand this growing phenomenon. (Source: Wikipedia).

Proses debat itu kemudian dipublikasikan di YouTube oleh Oxford Debating Union pada 3 Juli 2013 lalu.(Lihat videonya di bawah).

Mehdi asked whether 1.6 billion believers in Islam around the world  really are all “followers, promoters and believers in a religion of violence”. Hasan urged his audience not to “fuel the arguments of the phobes and bigots and legitimise hate”, but to “trust the Muslims that you know and that you hear.”
Mehdi Hasan di Oxford: 13 menit yang mencengangkan.
Mehdi Hasan di Oxford: 13 menit yang mencengangkan.

Selengkapnya, silakan melihat video debat itu di sini: