Tag Archives: Corruption Eradication Commission

Fathanah dan 45 Wanita

Ada yang ‘membara’ dari kasus uang panas Ahmad Fathanah. Tersangka kasus dugaan suap kuota daging impor sapi di Kementerian Pertanian dan pencucian uang itu dinilai bukan hanya sebagai calo untuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tetapi Ahmad Fathanah (AF) juga dianggap mesin pencari uang bagi partai itu.

Vitalia Sesha - salah seorang 'korban' penerima hadiah dari Fathanah - foto doc Kompas (dari dok majalah Popular).
Vitalia Sesha – salah seorang ‘korban’ penerima hadiah dari Fathanah – foto doc Kompas (dari dok majalah Popular).

Koordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Uchok Sky Khadafi mengatakan, “Banyak publik curiga kalau AF bukan hanya sekedar seorang calo. Bisa kemungkinan sebagai “ATM” (Anjungan Tunai Mandiri) berjalan PKS.”

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqoddas berjanji lembaganya akan menelisik aliran dana dari rekening tersangka kasus suap impor sapi dan pencucian uang Ahmad Fathanah ke 45 perempuan.

Konon aliran duit Fathanah kepada para wanita itu berlangsung dalam kurun waktu delapan tahun. Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Muhammad Yusuf mengatakan, dana dari rekening Fathanah itu mengalir sejak 2005 sampai 2013.

Dari penelusuran media, diketahui bahwa perpindahan duit dengan nilai transaksi mulai Rp 1,1 juta hingga Rp 2 miliar mengalir lewat rekening Bank Mandiri dan Bank Central Asia.

Kita memang tak bisa menghakimi Fathanah, sebelum ia terbukti bersalah. Tetapi menurut Yusuf, para wanita yang menerima dana dari Fathanah patut dicurigai karena mereka bukan istri atau kerabatnya – dan itu, katanya, berpotensi sebagai modus penyamaran dana yang diduga merupakan hasil korupsi. Kalaupun opsi ini tidak terbukti, kata Yusuf, para perempuan itu berpotensi dijerat terlibat pencucian uang, dan itu mesti dibuktikan KPK.

Sefti Sanustika - isteri Fathanah saat tiba di gedung KPK 16 Mei lalu - foto Tempo
Sefti Sanustika – isteri Fathanah saat tiba di gedung KPK 16 Mei lalu – foto Tempo

Kedermawanan palsu

‘Kedermawanan’ Fathanah kepada para wanita tersebut, bila kelak terbukti benar, agaknya memang bukan tanpa embel-embel. Kejadian itu mengingatkan kita, bahwa segala yang ditawarkan secara gratis itu berbahaya – lazimnya ia melibatkan sebuah trik atau kewajiban (tuntutan) tersembunyi.

Belum lama ini Presiden Uganda Yoweri Museveni, juga dikritik karena membagi-bagikan uang kontan secara sangat mencolok. Bukan kepada sejumlah wanita, tetapi kepada warga secara umum.

Continue reading Fathanah dan 45 Wanita

Kekuatan Media Sosial

Benarkah media sosial bakal makin penting saat pemilu tahun 2014 mendatang? Boleh jadi. Bisa jadi pula, media konvensional seperti koran, televisi dan radio, tetap menjadi andalan para politisi untuk berkampanye saat itu.

Sekarang kita belum tahu pasti.Yang jelas, belakangan ini media sosial itu terasa kian berperan, khususnya setelah muncul pernyataan presiden awal Oktober lalu yang menyebut soal media baru itu dalam kasus KPK vs Polri. Barangkali inner circle SBY memang memonitor apa yang dibicarakan orang di media sosial. Boleh jadi mereka mendengar kicauan ramai di Twitter, salah satu microblogging paling riuh di Indonesia ini. Saat terjadi kericuhan mengenai isu pelemahan KPK itu, ratusan ribu atau jutaan pengguna Twitter menggalang aksi dukungan bagi KPK.

Save KPK : berkat media sosial

Para tokoh antikorupsi seperti Usman Hamid (Kontras), Illiandeta (dari ICW) dan Anita Wahid saling bahumembahumenggalangkekuatan bersama tokoh lain seperti Fadjroel Rachman, Anies Baswedan, Alissa Wahid, dan banyak lain-lainnya. Dari Twitter, kegiatan yang mereka lakukan merambah ke tempat lain. Di antara yang mereka lakukan, misalnya @hamid_usman menggalang kekuatan melalui situs change.org-nya,dan @Illiandeta menjadi salah satu motor pengerah massa ke depan gedung KPK dan bundaran HI. Continue reading Kekuatan Media Sosial

KPK dan Kekuatan Rakyat di Twitter

KPK dan Kekuatan Rakyat di Twitter.

Media sosial kini makin diperhitungkan. Ramainya perbincangan soal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di media sosial seperti Facebook dan Twitter, berhasil menarik perhatian presiden, yang rupanya cepat menyadari bahwa makin banyak orang geram pada upaya yang dianggap akan melemahkan KPK.

Di internet sulit membedakan manusia dan anjing: akun asli menjadi dasar untuk membangun jejaring kekuatan massa

Riuhnya kicau (tweet) di Twittersphere, misalnya, menunjukkan adanya kekompakan rakyat untuk membangun kekuatan bersama. Tak kalah seru dibandingkan aksi demo di jalan atau di depan gedung KPK, di media sosial itu rakyat ‘memberontak’ menjadi pembela KPK.

Kicau pengguna Twitter di Indonesia, yang kini diperkirakan berjumlah 28 jutaan orang, saling bersambut. Ada kicau murni dari akun yang jelas. Ada pula tweet dari akun palsu yang mengatasnamakan Ketua KPK Abraham Samad. Dengan sekitar 28 ribuan pengikut (follower), akun @SamadAbraham terang-terangan menuduh Presiden SBY korup. Ternyata itu bohong. “Tidak benar Ketua KPK pernah menyatakan menyerang Presiden. Ketua KPK tidak punya Twitter, “ kata Juru Bicara KPK Johan Budi.

Yang menarik, ada pula akun anonim yang sangat getol memprovokasi dan mengkritik keras lembaga KPK dan Abraham Samad. Akun itu milik TrioMacan2000, yang mengantongi sekitar 141.000 pengikut.

— Selanjutnya silakan klik URL tersebut di atas.

KPK dan Kekuatan Rakyat di Twitter

Media sosial kini makin diperhitungkan. Ramainya perbincangan soal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di media sosial seperti Facebook dan Twitter, berhasil menarik perhatian presiden, yang rupanya cepat menyadari bahwa makin banyak orang geram pada upaya yang dianggap akan melemahkan KPK.

Di internet sulit membedakan manusia dan anjing: akun asli menjadi dasar untuk membangun jejaring kekuatan massa

Riuhnya kicau (tweet) di Twittersphere, misalnya, menunjukkan adanya kekompakan rakyat untuk membangun kekuatan bersama. Tak kalah seru dibandingkan aksi demo di jalan atau di depan gedung KPK, di media sosial itu rakyat ‘memberontak’ menjadi pembela KPK.

Kicau pengguna Twitter di Indonesia, yang kini diperkirakan berjumlah 28 jutaan orang, saling bersambut. Ada kicau murni dari akun yang jelas. Ada pula tweet dari akun palsu yang mengatasnamakan Ketua KPK Abraham Samad. Dengan sekitar 28 ribuan pengikut (follower), akun @SamadAbraham terang-terangan menuduh Presiden SBY korup. Ternyata itu bohong. “Tidak benar Ketua KPK pernah menyatakan menyerang Presiden. Ketua KPK tidak punya Twitter, “ kata Juru Bicara KPK Johan Budi. Continue reading KPK dan Kekuatan Rakyat di Twitter