Kecap Nomor Satu

Inilah.Com, Sabtu 12 November 2011

Syafiq Basri A. (artikel asli dapat dilihat di sini.)

“Serahkan Jakarta Pada Ahlinya,” tulis spanduk yang bertebaran di ibukota. Entah sadar atau tidak, tim kampanye calon gubernur DKI saat itu sesungguhnya telah mengobral pernyataan. Klaim bahwa sang calon gubernur adalah ahli, pakar dalam mengurus ibukota yang pengap, riuh, macet dan banjir.

Klaim itu tentu saja terkesan arogan. Tapi begitulah kampanye politik. Ada dada yang dibusungkan di situ. Ada bangga diri. Ada ‘kecap nomor satu’. Semua calon gubernur, walikota atau pun calon presiden, menunjuk dirinya sebagai yang terbaik. Yang harus dipilih.

Kampanye atau promosi serupa sesungguhnya juga sering dilakukan perusahaan dalam memasarkan produk, jasa, atau brand-nya.

Bahkan penjual buku pun melakukan hal serupa. Pernahkah Anda perhatikan banyak buku dijual dengan tulisan besar-besar pada sampulnya: best seller?

Jika diperhatikan, ternyata itu hanya klaim sepihak penerbit buku, bukannya hasil audit pihak ketiga (independen) yang menguji tiras buku itu.

“Enak saja ulah mereka itu,” kata kita dalam hati.

Tapi begitulah pengusaha bersiasat, menjual klaim semaunya sendiri,demi mereguk untung sebesar-besarnya dengan cara semurah dan semudah mungkin. Klaim sebagai nomor satu.

“Kecap Nomor Wahid.” Lagi pula, kata sang penerbit, siapa mau peduli pada klaim itu? Siapa yang akan berkeberatan? Di negeri yang hukum belum terlalu tegak ini, siapa bakal menuntut pernyataan publik begitu?

Seperti disebutkan di atas, para tokoh politik juga sering membuat klaim serupa. Jakarta yang katanya diurus sang “ahli”-nya itu pun malah menjadi kian macet, kejahatannya makin meningkat, dan tetap saja dirundung banjir yang pantang bersurut.

Di tingkat nasional, jangan kaget bila kelak ada calon presiden yang mengumbar janji seperti, ”Mari sejahterakan bangsa bersama kami,” atau “Mari Berantas Korupsi Bersama,” – seolah ia paling ahli dalam teori dan praktek ekonomi untuk menyejahterakan rakyat, paling peduli pada orang miskin dan paling punya integritas dalam melawan korupsi.

Tapi itu semua memang wajar. Namanya juga kampanye. Seperti promosi produk atau jasa, kampanye dilakukan untuk mengubah persepsi audiens agar tertarik.

Kalau tidak sampai membeli (produk) atau mencoblos kandidat dalam pemilu, lewat kampanye dan promosi minimal persepsi konsumen atau audiens berubah dari negatif menjadi positif atau dari ‘anti’ menjadi netral atau (lebih baik lagi kalau bisa) ‘pro’ – berkat citra yang ditawarkan pengiklan.

Orang marketing selalu berusaha mengubah persepsi itu – sehingga dikatakan bahwa marketing itu ‘menjual nilai-nilai yang dipersepsikan’ oleh audiensnya.

Marketing itu adalah metode agar ‘dengan membayar harga yang sama sang pembeli ‘merasa’ mendapatkan nilai yang lebih ketimbang jika ia membeli produk lain’. Metode agar *audience* ‘menganggap’ dengan sedikit pengorbanan – seperti uang, pikiran dan waktu – akan diperoleh kepuasan yang tinggi.

Kata ‘merasa’, atau ‘menganggap’ perlu digarisbawahi, karena ia adalah soal emosi – soal persepsi; yang seringkali abstrak. Ada tapi sulit diraba. ‘Subconscious’, kata orang Inggris.

Tentu sah-sah saja orang berkampanye dengan menjual ‘kecap nomor satu’ itu. Tapi khalayak juga tidak bodoh. Orang tahu bahwa di dunia ini – berbeda dengan akhirat, yang promosi mengenainya tak akan mampu menggambarkan betapa agungnya keindahan akhirat — semua promosi di alam ini pasti lebih indah dari aslinya.

Itu sebabnya di dunia ini yang harus dilihat adalah hasil setelah promosi. Puas tidakkah sang audiens, sang pembeli atau ‘voters’ tokoh politik, sesudah ‘membeli’nya?

Ahli komunikasi – praktisi marketing atau PR – berharap semua audiens itu puas, dan melangkah lebih jauh sehingga menjadi pelanggan, atau lebih baik lagi bila mereka bisa menjadi loyalis sejati.

Lazimnya, pencapaian ke tahap itu dilakukan melalui penggarapan customer relationship yang baik. Bukan mustahil, berkat upaya itu, para konsumenatau pemilih akan menjadi ‘ambassador’ bagi *brand* yang dicintainya.

Pada saat ini, mereka justru yang akan *ngomong* ke sana ke mari, secara ‘getok tular’, menjadi duta *brand* tadi kepada orang-orang lain. Itulah ‘word of mouth’ yang diidamkan setiap praktisi komunikasi bagi sebuah brand.

Tetapi tidak semua brand memberi kepuasan. Sering terjadi, justru konsumen kecewa setelah melihat wajah asli dari sang ‘kecap nomor satu’ itu. Saat itulah, saat produk atau tokoh politik tadi mengecewakan audiensnya, maka citranya segera rusak. Bahkan, dalam jangka panjang bukan hanya citra (image), melainkan reputasinya bakal hancur.

Puas tidaknya audiens itu tergantung pada kualitas hubungan – quality of relationship –yang dibangun antara perusahaan atau pemilik brand dengan sang audience. Dan kualitas hubungan itu bergantung pada trust (kepercayaan), komitmen, dan integritasnya.

Nah, integritas itu yang penting pada tokoh politik. Ia menunjukkan tingginya kualitas prinsip-prinsip moral, khususnya yang menyangkut ‘jiwa’ sang tokoh atau *brand*: seberapa luhur eksistensinya, seberapa ‘sempurna’ dirinya, dan sekuat apa konsistensinya dalam menjunjung kejujuran, prinsip-prinsip kebenaran, kebaikan atau moralitas.

Bila sang ‘kecap nomor satu’ tadi terbukti tidak punya integritas, tentu reputasinya akan meleleh. Yang penting diketahui adalah bahwa boleh jadi sang *brand* secara sepihak menganggap dirinya berprestasi, atau sukses atau ‘best seller product’, tapi bila persepsi *audience* mengatakan sebaliknya, maka yang apa yang dikatakan *audience* itulah yang berlaku.

Dengan kata lain, meski *brand* berusaha menciptakan citra positif sekuat tenaga, toh pada akhirnya, orang lain – *audience* –lah yang menentukannya.

Dalam jangka pendek penilaian salah satu kelompok audiens disebut citra. Secara jangka panjang, penilaian yang diberikan berbagai audiens terhadap brand secara luas, itulah reputasi. Banyak yang bilang, bahwa reputasi Anda adalah “apa yang dikatakan orang di belakang Anda,” atau “ketika Anda tidak ada di tengah mereka.”

Para pekerja di bidang komunikasi, PR dan marketing, tahu bahwa persepsi adalah kenyataan. Kita juga memahami bahwa orang berhubungan bisnis bukan dengan ‘perusahaan’, melainkan dengan sekumpulan manusia – dan organisasi adalah jumlah nilai-nilai yang diemban orang-orang itu. Segala sesuatunya saling berkelindan.Tidak satu pun yang berdiri sendiri.

Namun, usaha untuk meraih reputasi tidaklah mudah. Sebab, meski manusia pada dasarnya adalah makhluk moral, tetapi berhubung kita hidup dalam era konsumerisme materi, maka orang mudah menjadi rakus ketimbang berpegang pada aturan kejujuran. Mereka terjebak pada kecurangan dan kriminalitas demi kemenangan sementara dalam memperoleh keuntungan, dan lupa bahwa itu berarti kekalahan dalam jangka panjang.

Itu sebabnya, *brand* atau organisasi bukan saja mesti menetapkan nilai-nilai luhur dan kode etik bagi dirinya, melainkan juga harus memastikan integritasnya berjalan secara pasti, dan bahwa mereka mempertimbangkan keuntungan jangka panjang – yang erat kaitannya dengan reputasi – dan bukan sekadar rakus pada laba jangka pendek.

Banyak korupsi terjadi akibat orang mendasarkan dirinya pada asumsi bahwa, bila Anda menyembunyikan praktek-praktek etika sambil “menyatakan” bahwa Anda tidak berbuat salah dan mengulang pernyataan itu berkali-kali – artinya bahwa Anda tetap ‘kecap nomor satu” –; maka Anda bisa lolos dari investigasi (oleh badan semacam KPK) dan sorotan media.

Tentu saja itu salah. Organisasi, tokoh atau brand tidak cukup hanya‘ngecap’ – dan mengira audiesnya bodoh. Kata orang bijak, “Anda bisa

membodohi seseorang terus menerus, atau mengelabui orang banyak (audiens) sekali-sekali. Tapi Anda tidak bisa membodohi orang banyak terus menerus.” Atau, meminjam dari Franklin D. Roosevelt, “pengulangan tidak bisa mengubah kebohongan menjadi kebenaran.”

Konsultan Komunikasi, dosen di Program Pascasarjana Universitas Paramadina, dan alumnus MA in Journalism, UTS (Australia). [mor]

Mana Ismail Kita?

Arabic calligraphy reading Fatima az-Zahra ( ف...
Kaligrafi “Fatimah Az-Zahra” penghulu wanita seluruh alam (a.s.)

Alkisah, putri Nabi SAW, Fatimah, dan keluarganya berpuasa. Kala itu ia, suaminya, Ali bin Abi Thalib, dan kedua putra mereka, Hasan dan Husain, berpuasa tiga hari berturut-turut—sebagai pelunasan nazar yang dilakukan setelah kesembuhan kedua putra mereka itu dari sakit. Mereka berempat dikenal sebagai ahlulbait Nabi SAW yang dijamin kesuciannya dalam Al-Quran.

Sumber: Koran Tempo 5 November 2011 hal  A 8

Hari pertama, persis menjelang saat buka puasa, datang seorang pengemis yang kelaparan. Mereka berikan sedikit roti gandum yang mereka siapkan kepada sang pengemis, dan malam itu mereka hanya berbuka dengan minum air. Hari kedua mereka puasa, datang seorang anak yatim memohon makanan. Melihat anak kecil yang lapar, ahlulbait Nabi itu merelakan makanan mereka. Pada hari kedua itu mereka kembali berbuka hanya dengan air.

Hari ketiga, datang seorang tawanan. Ia juga meminta makan. Untuk ketiga kalinya, keluarga Ali dan Fatimah hanya berbuka dengan air.

Atas perilaku mulia itu, menurut Ibnu Abbas, Malaikat Jibril turun membawa wahyu—dan termaktub kisahnya dalam Al-Quran. Itulah rupanya akhlak sempurna atau “jalan lurus”yang diajarkan agama. Tanpa pamrih, keluarga Ali dan Fatimah menunjukkan bahwa mereka berkorban demi orang lain, semata-mata karena Tuhan. Kata mereka,“Kami tidak mengharap dari kalian balasan ataupun terima kasih. Kami takutkan dari Tuhan kami hari yang kelabu dan penuh duka.” Keteladanan berkorban demi orang lain itu amat penting sebagai cermin beragama di “jalan yang lurus”. Keluarga Nabi SAW mencontohkannya. Nabi Ibrahim dan Ismail juga memberikan keteladanannya. Ibrahim berkomitmen mengorbankan nyawa anaknya. Sang putra sendiri, Ismail, siap sedia di meja sembelihan. Continue reading Mana Ismail Kita?

Years of Living Dangerously – Media Critics

Wall painting, saying "murderer" in ...
"Pembunuh", tulisan di sebuah dinding di Tutuala, Timor Leste

“Years of Living Dangerously: As the slaughter continues in East Timor, chilling questions about the future of Indonesia remain unanswered.” – by Hamish McDonald and Louise Williams report. (News Review, The Sydney Morning Herald, September 11, 1999, pp. 1,4).


Note: the article below was written in the year 2000, for academic assignment at UTS, Australia. – SB.

As Indonesia is facing a critical presidential election in November, the East Timor agony remains a crucial major issue which should be restored immediately by the Indonesian government.

In the article both McDonald and Williams argue that for Indonesia East Timor may means crystallisation of a dangerous political power struggle between the military (plus its allies in the political elite) and the democratic movement seeking to build civilian institutions and bring accountability to a political and economic system.

The article begins with a comparison between the bloodbath in ET with Jews ethnic cleansing in Warsaw (in World War 2). “ Remember what the bloodbath in East Timor involves: the deportation of perhaps a quarter of the population; a direct attack on the Catholic Church … the murder of Catholic priests and nuns believed to be on a ‘death list’ of Jakarta’s political opponents; ….,” it said (p.1, para 2).

Furthermore, interestingly both writers analyze Indonesian contemporary situation, its political history and competition between civilian and military powers. Then they connect the Timor tragedy with those of similar imminent threats in the restive provinces of Aceh, Irian Jaya and Ambon. Enriched with stories about the 2-year-old democratic movements in the country, the story provides a clearer picture of what is really happening in Indonesia at large. The writers use relatively comprehensive historical documents for their 44  paragraphs features. They also attempt to provide sufficient information by quoting Indonesian Catholic newspaper Kompas and its alliance The Jakarta Post daily.

However, the choice of sources is not appropriate enough to make a more objective article. As Carey urges, sources are normally used by journalists to ‘objectify’ what they (the journalists) already known.[1] Yet, journalists pretty much keep their own counsel on rational motives. Instead of quoting other ‘pro-Indonesian’ reputable newspapers – thus, one of controllable sources — such as the pro-Habibie Republika daily or more ‘neutral’ paper Media Indonesia which, in turn, will give more objective story but brings a threat of deviating their motives, the writers prefer to use those of more pro-Catholic media such as Kompas and The Jakarta Post dailies.

Continue reading Years of Living Dangerously – Media Critics

Munajat Sya’baniyah

فارسی: از مقاله حضرت محمد (ص) ویکی انگلیسی گرفتم
فارسی: از مقاله حضرت محمد (ص) ویکی انگلیسی گرفتم (Photo credit: Wikipedia)

Ya Allah,

sampaikan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

Dengarlah doaku ketika aku memohon kepada-Mu;  Dengarlah panggilanku ketika aku menyeru-Mu ; Pandanglah daku ketika aku merintih kepada-Mu ; Aku sudah lari menghadap-Mu;

Kini aku bersimpuh di hadapan-Mu; Pasrah merendah kepada-Mu; Mengharapkan pahalaku di sisi-Mu; Engkau ketahui apa pun yang ada dalam diriku; Engkau memahami segala keperluanku; Engkau mengerti getaran batinku;

English: Muhammad preaching, 1840es-1850es, pa...
Lukisan Nabi Muhammad saw berkhutbah (lukisan diperkirakan dibuat pada tahun 1840-1850-an, oleh Grigory Gagarin (Wikipedia)

Tidak tersembunyi bagi-Mu keadaan kembaliku; Dan tempat akhirku dan apa pun yang ingin aku sampaikan dengan pembicaraanku dan permohonanku yang ingin aku ucapkan dan aku harapkan untuk hasil akhirku;

Sudah berlaku ketentuan-Mu padaku, duhai Junjunganku; Yang berlaku bagiku sampai akhir umurku, lahir dan batinku; Pada tangan-Mu, tidak pada tangan yang lain; Pertambahan dan pengurangan nikmat-Mu padaku; Keselamatan dan kesengsaraanku …

 

Pintu masuk kota Madinah zaman dulu
Pintu masuk kota Madinah zaman dulu

Continue reading Munajat Sya’baniyah

Munajat Orang yang Taubat

Dengan Asma Allah, yang Mahakasih dan Mahasayang. Tuhanku, Kesalahan telah menutupiku dengan pakaian kehinaan, Jauh dari diriMu telah membungkusku dengan jubah kerendahan, Besarnya dosaku sudah membuat hatiku mati; Hidupkan daku dengan ampunan-Mu, Wahai Cita dan Dambaku, Wahai Ingin dan Harapku 

Demi Keagungan-Mu, Tidak kudapatkan pengampun dosaku selain-Mu, Tiada kulihat penyembuh lukaku kecuali Dirimu, Aku pasrah berserah pada-Mu, Daku tunduk bersimpuh pada-Mu… 

Jika Kau usir aku dari pintu-Mu, Kepada siapa lagi aku (kemudian) akan bernaung?Jika Engkau tolak aku dari sisi-Mu, Kepada siapa lagi aku berlindung? Celaka sudah diriku – lantaran aib dan cela (diriku), Alangkah rendah dan buruknya amal perbuatanku…Aku bermohon pada-Mu, Wahai Pengampun dosa besar, Wahai penyembuh tulang yang patah (pengumpul tulang yang berserak);

Continue reading Munajat Orang yang Taubat

Membahas Isu Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta