Category Archives: Study

Menulis di antara *Bintang-bintang*

Mike Tyson at SXSW 2011

Menulis itu mudah, asal mau berlatih. Saya mengajak penggemar kata mutiara atau kata bijak menulis sebuah kalimat atau pantun, atau apa saja, dengan kata kunci “bintang” atau bintang-bintang.

Berikut tiga buah contoh:

1. Saya ini pemimpi. Saya harus mengimpikan dan meraih bintang-bintang, dan sekiranya tidak memperoleh *bintang maka saya bisa merengkuh segumpal awan. (Mike Tyson)

Helen Keller
Hellen Keller

2. Buat sasaran sejauh bulan, dan jika luput Anda masih tetap berada di antara *bintang-bintang. (Les Brown)

3. Mereka yang pesimis tidak akan pernah menemukan rahasia bintang-bintang, atau berlayar mencapai pulau idaman, atau membuka gerbang baru bagi semangat kemanusiaan (Helen Keller).

Tuliskan saja di bagian komentar blog ini, jika Anda mau. Selamat mencoba.

Resep Komunikasi di Era Internet

Diduga, salah satu yang menjadi pertimbangan Presiden SBY dalam reshuffle October 2011 lalu adalah buruknya komunikasi internal, sehingga mengganggu kerja kementerian bersangkutan. Apa resep buat pemimpin agar bisa berkomunikasi dengan baik pada era Internet ini?

“Reshuffle dan Komunikasi Dua Arah“; Artikel di Inilah.Com 13 Oktober 2011.

Syafiq Basri Assegaff

English: Graph of internet users per 100 inhab...
Internet mengubah cara kita berkomunikasi

Bisa diduga salah satu yang menjadi pertimbangan Presiden SBY dalam reshuffle kabinet sekarang ini (October lalu – SB) adalah buruknya unjuk kerja kementerian bersangkutan.

Kita pun mengira bahwa buruknya performance itu sangat berkaitan dengan buruknya komunikasi di lembaga tersebut, baik ke luar maupun ke dalam – sehingga nama baiknya tidak sempat terangkat selama dua tahun belakangan ini. Continue reading Resep Komunikasi di Era Internet

Ciptakan Release di Era PR 2.0

Syafiq Basri Assegaff (bahan kuliah).

Para praktisi Public Relations (PR) kini dihadapkan pada fenomena menarik, ketika khalayak – termasuk wartawan – dengan mudah dapat membaca rilis media (press release) secara online. Inilah saatnya ketika semua orang, mulai dari sumber berita, para wartawan dan redaksi penyebar berita sampai ke penikmat berita (pembaca, pendengar radio, atau pemirsa televisi) bersatu pada sebuah ruang (space) maya yang dihadirkan Internet. Inilah era PR 2.0, Public Relations generasi kedua – yang meninggalkan berbagai aturan dan kaidah lama pada era PR selama satu dasawarsa terakhir. Web (Internet) telah mengubah segalanya. Web juga mengubah aturan-aturan mengenai rilis pers (media) atau yang biasa disebut press release.

Apakah Anda ingin:

  • Merengkuh pembeli (khalayak) secara langsung?
  • Menarik sebanyak mungkin ‘lalu lalang’ (traffic) ke situs (Web site) Anda?
  • Memperoleh ranking tinggi pada mesin pencari (search engines)?
  • Mengikat minat para pembeli yang sedang mencari produk atau jasa yang Anda tawarkan?
  • Menggerakkan orang kepada atau melalui proses penjualan Anda?
  • Berkompetisi secara lebih efektif?

Aturan Lama Rilis Pers.
Dulu, sebelum era Internet, sebuah rilis pers selalu merupakan naskah yang ditujukan kepada pers (media). Sebelum era Web, setiap orang tahu bahwa satu-satunya alasan Anda membuat sebuah rilis adalah agar media menulis tentang Anda atau organisasi Anda. Ketika itu, tidak ada yang melihat rilis pers itu kecuali sejumlah kecil wartawan dan redaksi (editor) kantor media massa. Saat itu, Anda harus punya ‘berita’ – kejadian yang memiliki kriteria sebagai sebuah berita – sebelum Anda boleh menulis sebuah rilis. Fakta lain adalah bahwa rilis lazimnya mesti menyertakan kutipan (quotes) dari pihak ketiga seperti konsumen, analis atau para ahli yang berkompeten. Dari situ, satu-satunya cara khalayak (pembeli) akan mengetahui tentang rilis Anda itu hanyalah ketika redaksi kemudian menuliskan cerita (berita) Anda itu di medianya. Akhirnya, satu-satunya jalan untuk mengukur efektivitas rilis pers Anda adalah melalui pengoleksian (klipping) berita, yang mengumpulkan sejumlah guntingan berita yang menuliskan rilis Anda.

Kini tidak lagi. Web telah menggeser aturan-aturan itu dan Anda juga harus mentransformasikan rilis media Anda untuk merengkuh ke pasar khalayak yang meramaikan dunia virtual Web dengan ide-ide, produk dan jasa.

Mengapa Perlu Mempelajari Aturan Baru.
Kini, tenaga pemasar profesional menggunakan rilis media untuk menembus pasar secara langsung. Meski banyak praktisi pemasaran dan PR paham bahwa rilis pers yang dikirim ke kantor berita muncul hampir pada saat yang sama (real-time) di ruang seperti Google News (http://news.google.com/), nyatanya hanya sedikit yang mengerti implikasi apa yang mesti mereka lakukan mengubah secara dramatis strategi penyebaran rilis mereka demi memaksimalkan efektivitas siaran rilisnya sebagai saluran (kanal yang menghubungkan secara) langsung komunikasi dengan konsumen (khalayak).Kini media sudah tidak lagi diperantarai – tak ada mediasi lagi antara sumber berita dan media. Web telah mengubah aturan-aturan yang ada. Khalayak atau pembeli langsung membaca rilis Anda dan Anda perlu bicara (berdiskusi, ngobrol, atau ‘chating’) dengan bahasa mereka.

Hal itu bukan berarti bahwa ‘media relations’ dalam tugas praktisi PR tidak penting lagi. Media utama (mainstream media) dan kantor-kantor berita harus tetap menjadi bagian dari strategi komunikasi Anda. Bagi sebagian organisasi atau perusahaan, mainstream media dan surat kabar bisnis justru sangat penting, dan tentu saja, masih ada media yang merujuk berita yang dipublikasikannya berdasarkan rilis. Namun, masalahnya kini khalayak utama Anda (primary audience) bukan lagi hanya segelintir jurnalis. Khalayak Anda adalah jutaan orang yang tersambung dengan Internet dan memiliki akses kepada mesin pencari di Web (search engines) dan RSS readers, yakni program komputer yang dikenal sebagai pembaca umpan yang bertindak sebagai pengumpul berita yang diinginkan pengguna Internet.

… bersambung.

10 Pedoman Menulis Cerita

10 Lingkaran.

(Catatan ringkas bahan kuliah ‘Teknik Menulis’ — dari sumber di buku yang saya lupa judulnya.)

  1. Kebutuhan mendesak (atau ‘Urge’) – Ada kebutuhan menciptakan sebuah kreasi, desakan yang muncul dalam kondisi nir-bentuk, sulit dijelaskan — semacam impuls, “gatal”, sesuatu yang mendorong dari dalam yang bikin kita gak bisa diam. The creative urge: a need that comes to us in some formless state – the impulse, the itch, something stirring within that will not quite give us peace.
  2. Inspiration: kilatan, a mental leap. Ahaa!! Biasanya idea ini tidak terlalu gambling, fragile, undeveloped state. – bisa ditemukan di berbagai kejadian atau keadaan, jangan lewatkan. Segera catat. Bahkan catatan penolakan dari editor bisa menjadi acuan untuk sebuah inspirasi.
  3. Research: ide kasar memerlukan bahan baku yang lebih banyak, dan ini diperoleh dari riset, bicara dengan berbagai pihak, didahului dengan membaca informasi – agar tidak terjadi ‘cold interview’.
  4. First Draft: You have everything in your head. A story, a plot. Sekarang Anda perlu mesti memutuskan bagaimana memulainya: strategi apa, pendekatan yang bagaimana? Mestikah saya mulai dengan sebuah dialog? Action? Sketsa karakter? Apakah memulainya secara kronologis sejak awal, hingga akhir, ataukah sebaliknya, retrospektif? Ini fase yang tidak mudah. Untuk sebuah novel bisa memakan waktu berbulan-bulan. Untuk kisah singkat, semacam cerpen, bisa 1-2 hari.
  5. Revision. Kembali ke Draft awal. Membaca kembali dengan kepala yang dikosongkan. Buat catatan di sana-sini, tambahan dan penyempurnaan. Jika sebuah dialog terkesan kaku, buat catatan mengoreksinya. Kadang ini dilakukan hingga 2-3 kali.
  6. Completion: sekarang anda mengetiknya secara jernih, a clean copy, meski masih didampingi kamus atau bahan referensi lain di samping anda. Sesudah selesai, baca sekali lagi.
  7. Submission: Saat ini Anda mengirim naskah kepada redaksi koran atau majalah, atau penerbit buku (bila Anda menulis buku). Ini tahap paling sulit. Penolakan bagi penulis muda sering terjadi. Anda harus siap menghadapi hal ini. Semua penulis harus siap belajar menjadi gigih, tough, menerima tolakan, menerima kritik dan saran.
  8. Elation: Ketika sudah dimuat, Anda akan merasa sangat senang. Anda merasa seorang jago menulis, seorang genius, seorang master. Sastrawan!
  9. Second Thoughts: Sesudah fase gembira, penulis sering merasakan kembali tulisannya yang dipublikasikannya tidak sebagus yang diinginkannya. Ia kecewa. Tapi perasaan ini bisa dihalaui.
  10. Dormancy: Sekarang anda masuk dalam masa tenang, masa ‘tidur’, mengalihkan perhatian ke tempat lain yang sebelumnya Anda abaikan. Tapi, percayalah, sesudah ini Anda akan merasa tergugah lagi untuk menulis kembali.

Years of Living Dangerously – Media Critics

Wall painting, saying "murderer" in ...
"Pembunuh", tulisan di sebuah dinding di Tutuala, Timor Leste

“Years of Living Dangerously: As the slaughter continues in East Timor, chilling questions about the future of Indonesia remain unanswered.” – by Hamish McDonald and Louise Williams report. (News Review, The Sydney Morning Herald, September 11, 1999, pp. 1,4).


Note: the article below was written in the year 2000, for academic assignment at UTS, Australia. – SB.

As Indonesia is facing a critical presidential election in November, the East Timor agony remains a crucial major issue which should be restored immediately by the Indonesian government.

In the article both McDonald and Williams argue that for Indonesia East Timor may means crystallisation of a dangerous political power struggle between the military (plus its allies in the political elite) and the democratic movement seeking to build civilian institutions and bring accountability to a political and economic system.

The article begins with a comparison between the bloodbath in ET with Jews ethnic cleansing in Warsaw (in World War 2). “ Remember what the bloodbath in East Timor involves: the deportation of perhaps a quarter of the population; a direct attack on the Catholic Church … the murder of Catholic priests and nuns believed to be on a ‘death list’ of Jakarta’s political opponents; ….,” it said (p.1, para 2).

Furthermore, interestingly both writers analyze Indonesian contemporary situation, its political history and competition between civilian and military powers. Then they connect the Timor tragedy with those of similar imminent threats in the restive provinces of Aceh, Irian Jaya and Ambon. Enriched with stories about the 2-year-old democratic movements in the country, the story provides a clearer picture of what is really happening in Indonesia at large. The writers use relatively comprehensive historical documents for their 44  paragraphs features. They also attempt to provide sufficient information by quoting Indonesian Catholic newspaper Kompas and its alliance The Jakarta Post daily.

However, the choice of sources is not appropriate enough to make a more objective article. As Carey urges, sources are normally used by journalists to ‘objectify’ what they (the journalists) already known.[1] Yet, journalists pretty much keep their own counsel on rational motives. Instead of quoting other ‘pro-Indonesian’ reputable newspapers – thus, one of controllable sources — such as the pro-Habibie Republika daily or more ‘neutral’ paper Media Indonesia which, in turn, will give more objective story but brings a threat of deviating their motives, the writers prefer to use those of more pro-Catholic media such as Kompas and The Jakarta Post dailies.

Continue reading Years of Living Dangerously – Media Critics