Category Archives: Pemikiran

Anjing dan Cinta

Teman saya dari Itali, Chiara Vaccaro, mengirim undangan lewat Facebook, untuk ikut dalam ‘Cause’  menghimbau distop-nya pembantaian anjing-anjing di China. (Konon penyebabnya adalah kekuatiran menyebarnya penyakit ‘rabies’). “Stop Skinning Dogs Alive in China,” tulis himbauan itu.

Tak ada masalah dengan itu.

Tentu kita juga menyayangi binatang — apalagi anjing merupakan sahabat setia manusia. Ia juga hewan yang membantu orang-orang gua dalam Surat Kahfi – Ashabul Kahfi — yang diceritakan kisahnya dalam Al-Qur’an.

Tapi tak bisa dong berhenti di situ. Ada yang jauh lebih penting dari itu, ada yang di dekat kita, ada yang menyangkut manusia: Tragedi di Mesuji. Di salah satu daerah di Lampung itu kabarnya sejak 2008 sudah ada lebih dari 30-an rakyat kecil dibantai.

Aneh manusia ini. Apa sih yang dicari? Nyawa orang seolah lebih rendah dari anjing-anjing di China. Continue reading Anjing dan Cinta

Ketika Ikan-ikan Ngumpul

Mengenang tsunami Aceh 26 Desember 2004, baiklah kita doakan ratusan ribu korban yang telah meninggal: semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa mereka dan memasukkan mereka dalam surga-Nya. Doa yang sama buat orang tua dan guru-guru kita, serta kita sendiri. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Tulisan di bawah ini juga saya unggah kembali — karena mengaitkannya dengan bencana hebat yang menewaskan lebih dari 230 ribu tujuh tahun lalu itu.

 

Ikan-ikan kumpul. Bukan, mereka tidak sedang arisan, sebab tidak semua mereka ikan perempuan, tapi ada banyak ikan laki-laki juga… maka kecil kemungkinan mereka ngariung untuk arisan… 🙂

Kakap, Salmon, Tuna, Piranha, Ekor Kuning dan ribuan teman-teman mereka sedang prihatin. Mereka merenung tentang diri mereka, tentang air, tentang lautan. Tentang alam…

Hari itu, 26 Desember – persis dua hari sesudah ulang tahun air laut menggunung, dan tsunami memporak-porandakan Aceh dan sekitarnya, 24 Desember 2004. Lebih 200 ribu orang meninggal atau hilang. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun…

Hari itu para ikan di Samudera Indonesia kumpul di hadapan pemimpin mereka, Presiden SBA. (Jangan berpikir ‘neko-neko’, SBA itu bukan salah ketik atau bermaksud memplesetkan singkatan lain, maksudnya Syafiq Basri Assegaff,yang nulis catatan ini … )

Ikan-ikan itu berkata,”Wahai Presiden SBA, kami bermaksud menghadap lautan. Bukankah karena ia kami berada dan tanpa ia kami tidak akan ada? Tolong, Pak, tunjukkan kepada kami arahnya, dan ajari kami jalan untuk menuju dan mencapai lautan. Sudah lama kami mendengarnya, tapi tidak mengenalnya. Kami tidak tahu di mana tempatnya, dan ke mana arah mencarinya.”

Continue reading Ketika Ikan-ikan Ngumpul

Di Mana Wajah Tuhan?

Alkisah, serombongan pendeta datang ke Madinah. Mereka bertanya kepada Khalifah Abu Bakar tentang Nabi saww dan Kitab yang dibawanya – Al-Qur’an.

Abubakar berkata,”Betul, telah datang kepada kami Nabi kami dan ia membawa Kitab suci.”

Lalu terjadi dialog berikut:

+ Adakah dalam Kitab Suci itu disebut wajah Allah?
– Betul.
+ Apa tafsirnya?
– Ini pertanyaan yang terlarang dalam agama kami. Nabi saw tidak menjelaskannya kepada kami.

Para pendeta itu tertawa sambil berkata,”Demi Allah. Nabi kamu itu hanya pendusta belaka. Dan kitab sucimu itu hanyalah kepalsuan dan kebohongan saja.”

Ketika keluar dari situ, Salman Al-Farisi mengajak mereka menemui Imam Ali bin Abithalib a.s., ‘pintu kota’ ilmunya Nabi saw.

Kepadanya, para pendeta mengajukan pertanyaan yang sama.

Ali lalu berkata,”Aku akan menjawabnya dengan demontrasi, tidak dengan ucapan.”
Lalu ayah Imam Hasan dan Husain a.s. itu memerintahkan agar dikumpulkan kayu bakar dan ia pun membakarnya.

Api menyala-nyala dari unggun kayu bakar.

Continue reading Di Mana Wajah Tuhan?

Etika Pemimpin

English: Francis Fukuyama. Image source is a s...
Francis Fukuyama
English: The head office of Indonesia's Corrup...
KPK – mesti menjadi contoh juga dalam penerapan etika

Seperti hukum yang lebih suka memvonis pencuri sandal ketimbang koruptor, apakah di Indonesia ini ‘etika’ juga hanya penting bagi rakyat kecil? Bagaimana dengan etika seorang pemimpin? Lalu apa sih etika itu? 

Berikut tulisan soal etika yang pernah dimuat pada kolom Opini di harian Kompas 22 Agustus 2011.

Etika Pemimpin dan Reputasi Bangsa 

Oleh Syafiq Basri Assegaff

Mengapa etika penting bagi sebuah bangsa? Jawabnya, ia berkaitan erat dengan kepercayaan (trust), yang pada gilirannya menentukan integritas para pemimpin dan reputasi bangsa itu.

Mengacu pada Francis Fukuyama, jika hendak menguji ketahanan sebuah bangsa dan kemampuannya bersaing di dunia, lihatlah pada tingkat kepercayaan yang diemban masyarakatnya. Di situ pula, di tengah karakteristik budaya kepercayaan yang berakar itu, faktor kehidupan ekonomi bangsa teruji.

Di situlah kemudian sebuah modal sosial berdiri kokoh. Modal sosial itu — yang dipraktikkan sebagai suatu kebiasaan dan punya akar dalam fenomena agama dan tradisi etika—kemudian membuahkan sebuah alasan penting bagi berfungsinya ekonomi modern dan institusi politik secara benar.

Namun, apakah etika itu? Etika, akal budi, atau akhlak bukanlah sekadar ”melakukan sesuatu dengan benar” (do things right), melainkan merupakan pendekatan sistematis untuk menentukan ”cara yang benar dalam bertindak”, yang jadi pegangan bagi pemimpin yang baik. Oleh sebab itu, tak aneh jika masyarakat lalu mengaitkan urusan etika dengan fungsi kepemimpinan berbagai lembaga publik di negeri kita.

Continue reading Etika Pemimpin

‘Bekas’ – Mengapa Memory Terekam di Otak?

Runtuhnya jembatan di Tengarong  tempo hari membuat kita miris. Betapa tidak, jembatan sepanjang 720 meter di Kutai Kartanegara yang seharusnya masih bisa berfungsi selama 25-an tahun, tiba-tiba runtuh saat baru berusia 10 tahun.

Akibatnya, lima orang tewas, 30 orang terluka dan 23 orang belum diketahui nasibnya.

Tentu saja ini akan melekat erat dalam benak banyak orang. Jembatan itu kini menjadi sejarah. Sejarah tentang pembangunan, sekaligus juga sejarah keteledoran. Mungkin juga sejarah keserakahan.

Tapi apa sebenarnya yang kita pelajari dari sejarah? Ia adalah bekas-bekas. Ia bekas yang memberikan pelajaran kepada manusia yang berakal: untuk membacanya, me-review, mengkritik, dan melakukan studi terhadapnya. Ada kesalahan yang tak perlu diulang; ada kisah sukses. Ada ‘lessons learned‘.

Itu sebabnya orang yang berpengalaman punya nilai lebih dibanding yang tidak. Di sisi itulah, di sisi track record itulah ‘orang tua’ dapat mengalahkan yang muda. (Sementara orang muda juga punya ‘kelebihan’, berupa ‘masa depan yang menjanjikan’).

Dengan kata lain, track record adalah ‘sejarah‘ — sebuah alur yang telah melalui suatu masa (detik, menit, bulan, tahun atau pun abad). Contoh paling nyata adalah aliran air sungai; tempat sebuah bekas lewat dan tidak akan kembali lagi dengan situasi yang sama. Karena ‘air’ yang detik ini mengalir di tempat A, tidak sama dengan ‘air’ yang mengalir satu detik kemudian di A itu — karena dia sudah berada di lokasi B, atau C atau D. Continue reading ‘Bekas’ – Mengapa Memory Terekam di Otak?

Indonesia Vs Malaysia: Bukan Hanya Bola

Kekalahan tim Garuda dari Malaysia pada SEA Games ke-26 (tahun 2011) yang lalu mengingatkan kita pada berbagai persaingan antara Indonesia dan Negeri Jiran itu.

Belum lama berselang, masih hangat dalam ingatan kita, muncul isu soal bergesernya garis batas negara kita di Kalimantan. Kemudian juga masalah TKI, dan kasus Sipadan dan Ligitan tempo hari.

Old Market Square (Medan Pasar) in central Kua...
Medan Pasar di pusat kota Kuala Lumpur, Malaysia. (Photo credit: Wikipedia)

Bukan hanya itu. Lomba antar-tetangga itu berada dalam berbagai sektor. Dalam urusan seni dan budaya harus diakui Indonesia unggul, sehingga kita sewot saat Malaysia mengklaim hak cipta hasil karya orang Indonesia. Namun di bidang kesehatan, pariwisata dan pendidikan, jiran yang satu ini jauh meninggalkan kita. Mari kita jenguk. Continue reading Indonesia Vs Malaysia: Bukan Hanya Bola