Diamlah dan Dengarkan…

Menurut syair Rumi ini, makin banyak kita 'diam', semakin banyak kita bisa mendengar. Kian kita 'diam' menahan diri, semakin banyak kita bisa mendengar. Rupanya, Rumi bicara mengenai tafakur, kontemplasi -- saat seseorang merenungkan dirinya, mencari jati diri, sehingga bisa 'mendengarkan' secara seksama, apa yang sebenarnya ada di sekeliling kita. Sehingga kita bisa menengarai tanda-tanda cinta … Continue reading Diamlah dan Dengarkan…

Agar Allah Lazimkan Nikmat-Nya pada Kita

Pada Bulan Rajab, dianjurkan setiap hari membaca yang berikut ini:     1. Ayat (yang ditulis pada gambar di atas) itu dibaca 7 kali: اللّٰه لطيف بعباده يرزق من يشاء وهوالقوي العزيز Allahu lathiifun bi 'ibaadihi, yarzuqu ma(n) yashaa-u, wa huwal qawiyyul 'aziiz. "Allah Maha Latif (Lembut, Menyempurnakan) kepada hamba-hamba-Nya, Dia Memberi rezeki pada yang … Continue reading Agar Allah Lazimkan Nikmat-Nya pada Kita

Beda Mentari dan Rembulan dalam Qur’an

Ketika Allah menyifati Rembulan (qamar), Dia menyebutnya dgn "Muniiran" atau yang "Memantulkan Cahaya". Dan ketika Allah menyebut sifat Matahari, ia dikatakan sebagai Siraajan wahhaajan, atau "Sinar yang menerangi". Tapi ketika Allah menyebutkan sifat Nabi saw, beliau (Rasulullah saw) digambarkan sebagai memiliki gabungan keduanya: Siraajan dan Muniiran. Siraaj atau Siraajan, bagai matahari (sinar yg menerangi), dan sekaligus … Continue reading Beda Mentari dan Rembulan dalam Qur’an

Ketika Jiwa Menangis

Dalam sebuah syairnya yang indah, khalifah ke-4, Ali bin Abithalib ra, menggambarkan bagaimana jiwa seseorang harus beramal untuk Hari Kemudian dengan "meninggalkan kecintaan pada dunia". Dalam video 2 menitan berikut ini, syair itu terdengar indah sekali. Saya coba menerjemahkannya. Semoga bermanfaat. Jiwa menangisi dunia, padahal ia sudah mengerti tentangnya, Bahwa kebahagiaan di dalamnya dicapai dengan … Continue reading Ketika Jiwa Menangis