RSS

Category Archives: Diskusi Agama

Eh, Ternyata Ada 8 Mazhab Islam

Apa mazhab yang Anda anut dalam beragama? Apakah ia termasuk satu di antara delapan (8) aliran (atau mazhab) yang diakui ulama sedunia?

Awalnya dulu terdapat banyak mazhab dalam Islam, yang baru muncul setelah masa Tabi’in, sekitar abad ke-2 Hijriah. (Masa “Tabi’in” itu adalah era sesudah zaman “Sahabat”, ketika Muslimin hidup di tengah Nabi SAW. Sesudah Tabi’in adalah masa Tabi’it-Tabi’in). Kini mayoritas Muslimin di dunia, termasuk di Indonesia, mengikuti mazhab besar Sunni, atau biasa disebut dengan ‘Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah’ dan disingkat ‘Aswaja’. Di dalam ‘rumah besar’ Sunni itu awalnya dulu terdapat belasan mazhab, tetapi hanya empat yang berlanjut (sustainable) berkat besarnya dukungan pengikut yang mengembangkannya, dan kekuatan politik di tempat mazhab-mazhab itu berada dan kemudian menyebarluaskannya. Sedangkan aliran lainnya tidak sempat berkembang, dan kemudian sirna.

Penyebaran mazhab di dunia

Mazhab-mazhab utama dalam Islam di Dunia

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Imam yang Syahid di Mihrab

Tulisan seni kaligrafi 'Ali bin Abithalib': sang Singa Allah

Tulisan seni kaligrafi ‘Ali bin Abithalib’: sang Singa Allah

Mirip Nabi saw, akhlak Imam Ali bin Abithalib (as) sungguh luhur. Saat itu kepalanya baru saja ditebas pedang. Racun di badanya mulai menjalar. Ketika diberi semangkuk susu untuk menetralkan racun di tubuhnya, Imam hanya meminum setengahnya. Ia menyisakan separuhnya lagi untuk seseorang. “Berikan susu ini kepada orang asing yang ada di penjara. Perutnya kosong,” katanya.  Seseorang bertanya, “Siapa orang asing di penjara itu, wahai Imam?” Beliau menjawab, “Orang yang telah berusaha membunuhku,Ibnu Muljam.”

Mari mengenang sejarah sahabat Nabi saw. Sesungguhnya dari sekian banyak sahabat Nabi saw, yang paling banyak kita kenal adalah empat sahabat besar, yakni Abubakar ra, Umar ra, Usman ra dan Ali ra – yang keempatnya kemudian popular sebagai Khulafa’-ur- Rasyidin.

Dari ke-4 sahabat besar itu, dua yang terakhir ternyata wafat terbunuh. Khalifah Usman  ra (memerintah mulai tahun 644 sd 656 M) dibunuh di rumahnya, di Madinah, oleh pemberontak dan pengacau, setelah sebelumnya dikepung selama 40 hari.

Sayidina Usman, yang dikenal sebagai saudagar kaya yang dermawan (dan menurut sebagian sejarawan pernah menikahi dua putri Nabi saw) itu syahid pada hari Jumat 18 Dzulhijjah 35 H (656 M). Dampak peristiwa terbunuhnya Usman itu kemudian berjalan cukup pelik; terjadi fitnah di sana-sini.

Setelah Usman ra meninggal, pengganti beliau adalah Ali (ra). Sayidina Ali yang sepupu dan sekaligus menantu Nabi saw  itu juga dibunuh saat melaksanakan solat subuh di masjid Kufah, Irak.

Berhubung tragedi pembunuhan Imam Ali berlangsung pada 10 hari-hari terakhir bulan Ramadhan ini, maka layak kiranya kita simak kisahnya berikut ini:

Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , , , , , ,

Islam Pentingkan Urusan Sosial – Bag.3

Melanjutkan premis bahwa Islam ‘lebih mementingkan urusan sosial’ daripada urusan ritual itu (lihat posting sebelum ini), berikut tambahan beberapa alasan lain:

  1. Bila urusan Ibadah (mahdhah) bersamaan dengan urusan Muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (bukan ditinggalkan). Contoh: dalam Kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim ada hadis dari Anas bin Malik bahwa, Nabi saw berkata: ‘Aku sedang salat dan aku ingin memanjangkannya, tetapi aku dengar tangisan bayi. Aku pendekkan salatku, karena aku maklum akan kecemasan ibunya karena tangisannya itu.’ Hadis lain berbunyi kurang lebih seperti ini: ‘Imam agar memendekkan solat jamaah bila di tengah makmum ada yang sakit, orang lemah, orang tua , atau orang yang punya keperluan.’ Bukhari juga meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi sawa menyegerakan (mempercepat waktu) solat Jumat bila udara terlalu dingin, dan mengundurkan Jumat bila udara terlalu panas. Itu semua menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memperhatikan sekali urusan sosial, masalah kemaslahan umatnya.
  2. Ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar dari ibadah yang bersifat perseorangan. Contoh: solat jamaah. Lebih banyak makmum lebih besar pahalanya. Solat jamaah 27 derajat lebih tinggi daripada solat sendirian. Begitu pula solat Jumat, ibadah haji, dan zakat mendapatkan perhatian yang sangat besar dalam Islam, karena ibadah ini melibatkan segi sosial, tidak hanya melulu ritual.

    Makam Nabi SAW

    Makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.

  3. Bila ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kifarat (tebusan, atau denda – fine)-nya ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Muamalah. Misal bagi orang yang tidak mampu puasa (misal karena sakit berat yang lama, atau uzur karena usia amat tua): membayar fidyah (memberi makan orang miskin); bila suami-isteri bercampur siang hari (pada Ramadhan), kifaratnya memberi makan kepada orang miskin. Lalu, ada sebuah hadis Qudsi yang menyatakan: salah satu tanda orang yang diterima solatnya adalah merendahkan diri karena kebesaran Allah, tidak sombong pada makhluk-Nya, menyantuni orang lemah, menyayangi orang miskin, anak yatim, janda dan yang mendapat musibah.
  4. Sebaliknya: bila sebuah urusan Muamalah tidak baik (atau buruk), maka ia tidak bisa ditebus dengan Ibadah mahdhah. Jika orang merampas hak orang lain, misalnya, maka itu tidak bisa dihapus dengan tahajud. Sebuah perbuatan dzalim (misalnya melanggar hak orang lain), maka ia tidak bisa ditebus dengan membaca zikir 10,000 kali. Bahkan ada pesan bahwa, Ibadah Ritual tidak diterima Allah bila pelakunya melanggar norma Muamalah. Contohnya, seorang wanita yang salat di malam hari dan puasa di siang hari, tapi masuk neraka karena menyakiti tetangganya. Di sini jelas bahwa solat dan puasa (dari hadis itu) menjadi tidak berarti karena mengganggu tetangganya dengan lidah (Muamalah). Bukan saja ibadahnya tidak diterima, bahkan ia tidak termasuk orang yang beriman.
Catatan: bahan tulisan ini (dan sebelumnya) merujuk kepada buku ‘Islam Alternatif (Ceramah-Ceramah di Kampus)‘ karya DR Jalaluddin Rakhmat.

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , ,

Muamalah Lebih Dihargai dari Ritual? – 2

Melanjutkan bagian satu, menarik untuk mengkaji masalah ibadah dan muamalah ini — berhubung masih banyak di antara kita yang salah memahaminya.

Pada awalnya, perlu diketahui mengenai apa itu ‘Ibadah mahdhah’ (dalam arti khusus). ‘Ibadah mahdhah’ itu merupakan upacara (ritual) tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jumlahnya ada 8, yakni: Toharah (bersuci), Solat, Puasa, Zakat, Haji, Mengurus jenazah, Udhiyah (penyembelihan hewan) dan aqiqah, dan Zikir dan doa.

Solat Iedul Fitri di Moskow Rusia

Ribuan muslimin solat Iedul Fitri di Moskow, Rusia: Ibadah mah-dhah

 

Tetapi, selain “Ibadah mahdhah” itu, ada juga ‘Muamalah’, alias ibadah sosial. Mari bedakan keduanya:

  1. Ushul figih menyatakan bahwa, “dalam urusan ibadah (mahdhah) ini pada prinsipnya, “semuanya ‘haram’ kecuali bila secara pasti terdapat dalil yang memerintahkan”. Itulah prinsip sebuah bid’ah. Jadi dalam hal ini tidak boleh mengembangkan hal-hal baru – semuanya haram, kecuali bila ada dalil yang mendasarinya (memerintahkan). Cara, waktu dan tempatnya (ibadah mahdhah) pun sudah ditentukan. Di sini sifat ‘kreatif’ dan ‘inovatif’ tidak diperbolehkan. Bahkan kita harus menjalankannya tanpa merenungkannya secara ‘aqliah (tidak mempersoalkan mengapa mengucapkan kata ‘Allahu Akbar’ ketika mengangkat tangan dalam takbiratul ihram, dsb)…
  2. Ibadah yang mencakup hubungan antarmanusia dalam rangka mengabdi kepada Allah – Muamalah. Di sini kita dituntut kreatif dan inovatif. Islam hanya memberikan petunjuk umum (general) dan pengarahan saja. Cara, waktu dan tempat bisa berbeda. Jika dulu Nabi memberi contoh memerangi ‘qital kaum yang zalim dengan pedang, panah, perisai, kuda dan unta, sekarang misalnya, Islam memerangi kaum yang zalim dengan dengan senapan, bom dan rudal. Jadi kita mesti mengembangkan kreatifitas dan ilmu dalam penerapannya.
Catatan: Sebagian bahan dari tulisan ini (dan sebelumnya) terinspirasi buku ‘Islam Alternatif (Ceramah-Ceramah di Kampus)‘ karya DR Jalaluddin Rakhmat.

 

Secara sederhana, yang pertama tadi adalah urusan seorang hamba dan Ma’bud-nya – inilah Hablun min-Allah—sedangkan yang kedua adalah Hablum min an-Naas. Yang pertama adalah ritual, yang kedua adalah urusan sosial.

Food n Feeding - Ali as

Sumber gizi tubuh adalah makanan, sedangkan perbaikan gizi bagi ruh (jiwa) adalah memberi makan orang lain (Imam Ali as) : Ibadah Sosial (Muamalah)

Ternyata Islam adalah agama yang ‘lebih mementingkan urusan sosial’ daripada urusan ritual. Mengapa demikian? Berikut ini beberapa alasannya:

  1. Dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab hadis, proporsi terbesar diberikan untuk urusan sosial (muamalah) itu. Seorang ulama menyatakan bahwa di dalam al-Qur’an, jumlah ayat ibadah mahdhah (ritual) hanya 1/100 ayat sosial – untuk satu ayat ibadah ada seratus ayat muamalah. Misal Surat Al-Mu’minun (23:1-9) yang menyebut tanda orang beriman sebagai berikut ini:
    • Orang yang memelihara solat, dan khusyu’ solatnya – (sebuah Ibadah);
    • Menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat (sia-sia) – (Muamalah);
    • Menjaga amanat dan janjinya – (Muamalah).
  2. Saya pernah membaca ulasan Kang Jalal bahwa, di dalam buku-buku hadis bab “Ibadah” hanya merupakan sebagian kecil dari seluruh hadis. Dari 20 jilid kitab Fathul Bari, Syarah Shahih Bukhari, misalnya, hanya 4 jilid berkenaan dengan Ibadah, dan 16 jilid lainnya bicara tentang ‘Muamalah’. Dari 2 jilid Sahih Muslim hadis-hadis ibadah hanya terdapat dalam 1/3 jilid pertama saja. Begitu pula dalam ‘Musnad Ahmad‘, ‘Alkabir‘-nya Tabrani, atau ‘Kanzul Ummal‘, atau kitab-kitab hadis lainnya.
  3. (Dalam hubungan ini) anehnya umat Islam – barangkali karena awam – lebih sibuk mengurusi soal ibadah itu. Belum lama ini beredar video tentang seorang pemuda dipaksa menunjukkan cara solatnya di depan jamaah masjid, hanya karena ia dianggap punya mazhab berbeda. Di Afghanistan konon pernah ada orang yang solat digebuki berramai-ramai hanya karena ia menggerakkan telunjuknya ketika tahiyat, sampai patah telunjuknya. Di beberapa kampung di Indonesia masih banyak yang ramai memperdebatkan perbedaan azan Jumat, salat terawih, dsb. Alhasil, kita sering berpanjang-panjang membicarakan urusan ubudiyah dan melupakan muamalah.
  4. Banyak pengajian yang selama bertahun-tahun hanya membahas masalah dari soal istinja (bersuci) sampai haid dan nifas, dari takbiratul ihram sampai doa qunut. Padahal bila memperhatikan Qur’an dan hadis, seharusnya kita lebih banyak membicarakan masalah sosial (muamalah) daripada urusan ritual ubudiyah itu. Akibatnya: seperti kata Al-Ghazali dan Sayyid Qutub, kita bertengkar dalam urusan ibadah, sementara satu demi satu bidang kehidupan diambil oleh musuh-musuh Islam. Kita ribut urusan bid’ah solat dan haji, tapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Dalam kaitan di atas ada cerita Syech Al-Azhar (Mesir) yang diminta melerai sengketa jamaah di masjid mengenai pilihan solat tarawaih 8 atau 20 rakaat. Padahal, kata Syech itu, Solat Terawih itu sunnah (yang dimulai sahabat Umar ra) dan “menjaga persatuan umat Islam” adalah wajib.

Bersambung…

 

Baca juga:

 

 

Tags: , , , , ,

Antara Ibadah dan Muamalah – 1

Antara Ibadah dan Muamalah – 1

Alkisah seorang sahabat Nabi (SAW) lewat di sebuah lembah yang bermata air jernih dan segar. Lembah itu demikian mempesona, sehingga sang sahabat berpikir untuk mengasingkan diri di situ dan menghabiskan waktunya untuk beribadah di lembah itu.

Ia datang memberitahukan niatnya kepada Nabi saw. Rasul yang mulia berkata: ”Janganlah engkau lakukan itu. Kedudukanmu di jalan Allah lebih utama daripada solat yang engkau lakukan di rumahmu selama tujuh puluh tahun. Tidakkah kamu ingin agar Allah mengampuni dosamu dan memasukkanmu ke surga? Berjuanglah di jalan Allah.” (HR Turmudzi).

Dengan kata lain, berjuang di jalan Allah adalah:

  • Hidup di tengah-tengah masyarakat;
  • Mempertahankan akidah yang diyakini;
  • Menyebarkannya kepada orang lain;
  • Menjadi saksi-saksi kebenaran (syuhadaa’ ‘alan-naas).
a183fb76d80fb59257762d88d39bab0c (1)

Jangan benci siapa pun (tak peduli seberapa banyak ia telah menyakiti Anda); Hiduplah secara sederhana (tak peduli seberapa kaya kita); Berpikirlah positif (tak peduli seberat apa pun hidupmu);  Berilah yang banyak, meski Anda hanya mendapat sedikit; Jaga hubungan (silaturahmi) dengan mereka yang telah melupakanmu; Dan Maafkan mereka yang telah menyakitimu; Dan Jangan berhenti mendoakan yang terbaik bagi orang-orang yang kau cintai. (Imam Ali as).

Catatan: Merujuk pada yang pertama di atas (Hidup di tengah masyarakat) itu, saya jadi ingat pesan Imam Ali as,  sepupu, menantu, ‘sahabat’ dan murid terbaik Nabi SAW yang ada di atas. Betapa indahnya pesan beliau, sehingga seorang Muslim di tengah masyarakat itu dianjurkannya memberi yang banyak, memaafkan yang menyakiti, dan tetap berpikir positif (husnu-dhann) meski hidup dalam kesulitan, dan sebagainya.

Kehadiran seorang Muslim (sebagai anggota masyarakat) itu, dalam pandangan Islam, merupakan hal yang sangat penting. Islam tidak datang hanya untuk mengajarkan zikir dan doa. Nabi datang untuk menjelaskan halal dan haram, menyuruh yang baik, melarang yang munkar, dan membebaskan manusia dari beban penderitaan dan belenggu-belenggu yang memasung kebebasan mereka (QS 7: 157).

Pernah ada kisah anekdotal bahwa ada seorang yang bilang bahwa, “jika ia yang mi’raj – sudah sampai di Sidratul Muntaha — maka ia tidak akan kembali turun ke bumi.” (Baca tulisan ini: “Seandainya Saya Naik ke Langit“).

Tentu saja orang itu berandai-andai, karena tidak ada yang mi’raj kecuali Nabi SAW. Tetapi yang juga penting digarisbawahi adalah bahwa, ketentuan Islam menegaskan bahwa (sekali lagi), tugas manusia (sebagai khalifah di bumi) adalah untuk ‘menjadi berguna di tengah masyarakat, membebaskan manusia dari penderitaan’ (seperti disebutkan di atas). Sebab, seorang Muslim datang ke tengah masyarakat untuk melanjutkan tugas para Nabi, memperbaiki masyarakatnya, setelah ia memperbaiki dirinya lebih dulu. Ia harus menjadi orang yang saleh (terperbaiki, atau baik) dan muslih (memperbaiki), haadin (hadi – yang mendapatkan petunjuk) dan muhtadin (yang memberikan petunjuk) – seperti kompas; bukan fasid dan mufsid (rusak dan perusak), atau dhal dan mudhil (sesat dan yang menyesatkan).

Kemiskinan - Ali as

Jika Kemiskinan itu berwujud seorang lelaki, pasti aku telah membunuhnya (Imam Ali bin Abithalib as)

Di dalam Islam, tugas-tugas kemasyarakatan (muamalah) ini mempunyai kedudukan sedemikian penting, sehingga dihargai lebih tinggi daripada ibadah-ibadah ritual (mahdhah) seperti solat, haji.

 

 

Al-Qur’an: “jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah” (QS 51:56).  Semua Rasul diutus Allah untuk mengajak manusia beribadah kepada Allah. Islam memandang bahwa seluruh hidup kita haruslah merupakan ibadah kepada Allah SWT. Dalam pengertian ini, ibadah didefinisikan Ibnu Taimiyah sebagai:  “Sebuah kata yang menyeluruh, meliputi segala yang dicintai dan diridhoi Allah, menyangkut segala perkataan dan perbuatan yang tampak maupun yang tidak tampak.”

Jadi ibadah bukan saja menyangkut berzikir, salat dan puasa, melainkan juga menolong yang teraniaya, melepaskan dahaga yang kehausan, dan memberikan pakaian kepada yang kekurangan pakaian (telanjang).

Bersambung…

Catatan: Sebagian bahan dari tulisan ini (dan sambungannya) saya ambil dari karya DR Jalaluddin Rakhmat, seperti buku ‘Islam Alternatif (Ceramah-Ceramah di Kampus)‘, dan lainnya. Untuk itu, saya haturkan terima kasih kepada beliau.
 

Tags: , ,

Soal hadis ‘Qur’an dan Sunnah’ itu

Shocking!

Aduuuh!  Dari mana dasar ulama mengatakan kita harus ‘berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah,’ jika tidak ada ayatnya, dan tidak ada kitab Hadis Sahid yang memuatnya?

Mungkin Anda akan kaget juga. Coba deh, lihat video Dr Adnan Ibrahim di tautan (link) yang ada di bawah. Beberapa kawan saya sudah terkejut luar biasa. Dalam ceramahnya, ulama Palestina yang kini tinggal di Wina (Austria) itu menyebutkan bahwa, “ternyata hadis yang amat populer di kalangan kita, mengenai wasiat Nabi saw yang terkenal dengan nama “Hadis Tsaqalain“, ternyata tidak terdapat di satu pun dari enam (6) kitab rujukan utama Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah).

Ayat Tathir (Al-Ahzab 33)

Ayat Tathir (Al-Ahzab 33)

 

Lihat juga video Ammar Nakhshawani dan link situs Sunnah.Com.

 

Hadis ‘Tsaqalain‘ (Dua Hal Utama) menukilkan riwayat bahwa Nabi saw mengatakan, bahwa, “Aku tinggalkan dua hal besar bagi kalian semua, yang jika kalian berpegang kepadanya, kalian tidak akan tersesat selamanya, yakni Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnahku.”

SahihMuslimCover

Cover Buku ‘Sahih Muslim’

 

Ternyata, sebagaimana dikatakan Adnan Ibrahim, hadits tadi tidak ada dalam satu pun di antara enam kitab ‘Kutub as-Sittah’.  Of course, that’s really shocking, Gusy!  Sebab selama ini banyak dari kita yakin, saking terkenalnya hadis itu, semua merasa seolah-olah bahwa Hadits Tsaqalain itu sedemikian kuatnya hingga dianggap hanya satu derajat di bawah Kitab Suci Al-Qur’an.

Sebagaimana kita ketahui, di kalangan Sunni, terdapat enam (6) kitab rujukan utama yang dikenal dengan ‘Kutub as-Sittah‘ (Kitab yang Enam), yakni:

  1. Bukhari.
  2. Muslim.
  3. Abu Daud.
  4. Ibnu Majah
  5. An-Nasai
  6. Turmudzi

Ternyata pernyataan (dalam hadis) itu, yang mengatakan bahwa Nabi saw bersabda “Aku tinggalkan kitab Allah dan sunahku,” merupakan kesalahpahaman (atau distorsi?) yang telah menyebar luas.

Berikut ini video Dr Adnan Ibrahim yang dimaksud di bagian atas tulisan ini:

Siapa Adnan Ibrahim? Lahir di Pengungsian Nusairat, Jalur Gaza, Palestina, tahun 1966, Adnan melanjutkan studinya (di bidang kedokteran) di Yugoslavia. Adnan pindah ke Wina (Austria) pada awal tahun 90-an, dan kemudian mendirikan lembaga Asosiasi Dialog Antar-budaya.
Minatnya pada pengetahuan menjadikan Adnan bagai sebuah ensiklopedia. Ia mempelajari dan mengajar berbagai ilmu mulai dari humanities, filsafat, teologi, ilmu-ilmu ke-Islaman, dan sebagainya. Selengkapnya Anda dapat merujuk pada blog Adnan berikut (dalam bahasa Arab). Klik di sini.

Namun, riwayat yang lemah itu, berhubung telah disampaikan jutaan kali secara massif ke seluruh dunia Islam, selama ratusan tahun dan secara terus menerus, menjadikan ia diyakini sedemikian kuat. Tegar tak tergoyahkan. Dan, orang pun nyaris tidak pernah ada yang mempersoalkan ke-sahih-an, kekuatan, atau pun otentisitasnya.

Faktanya, tidak ada dasar yang dapat diandalkan dari pernyataan itu yang dihubungkan pada Khutbah Terakhir Nabi saw.

Sebagaimana kita katakan di atas, riwayat itu sama sekali tidak ada dalam kitab sahih yang enam (kutub as-Sittah). Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , ,

Beginilah Percakapan Para Habib

Tradisi sehari-hari di kalangan habib sering menjadi contoh bagaimana sikap sangka baik (husnu-dzan) dan toleransi menjadi kunci dakwah yang efektif.

Habib atau jamaknya ‘habaib’ adalah komunitas Arab yang mempunyai garis keturunan dari Nabi Muhammad saw. Kata ini hanya populer di tengah mereka yang berasal dari Hadramaut, sebuah provinsi di bagian selatan Yaman. Sementara para keturunan Nabi saw lain yang bukan berasal dari Hadramaut lazimnya disebut dengan kata ‘sayyid’ atau ‘syed’ atau ‘syarif’, bukan dengan kata “habib“.

Tulisan menarik ini merupakan karya Ustadz Husein Muhammad Alkaff. Jarang ada yang membahas masalah ini, ringan tetapi sangat menarik.  Oh ya, saya mengeditnya sedikit dan menambahkan foto dan ilustrasi di dalamnya, guna lebih menghibur pembaca.
Foto banyak habaib

Sebagian auliya habaib yang terkenal di Nusantara.

Secara umum para habib masih mempertahankan tradisi keagamaan para leluhur mereka. Dalam urusan ritual, mereka mengikuti ‘Thariqah Alawiyah (Tarekat Alawiyah) yang sudah mapan dan ajek. Mereka , misalnya, melazimkan membaca ‘Ratib’, baik ‘Ratib al-Haddâd’, atau pun ‘Ratib al-Attâs’. Selain itu, ada pula ‘Ratib al-‘Aydrûs ‘.  Biasanya para habib dan jamaahnya melantunkan bacaan Ratib setiap bakda solat Magrib.

Ada pula beberapa kebiasaan lain, seperti membaca ‘al-Wird al-Latif’ setelah solat Subuh; ‘Maulid Nabi’ SAW (dari kitab ‘Simth al Durar’ tulisan Habib Ali Al-Habsyi, dan ‘Al-Dibai’) setiap malam Jum’at ; lalu ‘Burdah al-Bushiri’ seminggu sekali, dan sebagainya. Amalan-amalan itu mereka jalankan secara turun temurun, baik sendiri maupun berjamaah.

Lazimnya, dalam acara Maulid para jamaah berzikir, di antaranya membaca solawat pada Nabi SAW, mengenang dan menyampaikan sejarah keteladanan Nabi yang mulia itu.  Tidak ada kejelekan di dalamnya, melainkan justru ucapan-ucapan kebaikan dan ajakan untuk mencontoh akhlak Nabi SAW.

Thariqah Alawiyah dicetuskan oleh Imam Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam (574-653H), kakek moyang para habaib di Indonesia dan Yaman, lalu dirumuskan secara apik dan final oleh Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad (1044-1132 H) dalam dua karyanya; al Nashâih al Diniyyah dan Risâlah al Muâ’wanah. Rujukan utama Thariqah ini dalam bidang tasawwuf adalah kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, karya monumental Imam Abu Hamid al-Ghazzâli (450-505 H), ulama kelahiran Persia (Iran sekarang), dan dalam bidang fiqih adalah Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau dikenal dengan sebutan Imam Syafii (150-204 H). Sedangkan dalam bidang aqidah-teologi adalah Abu Hasan al-Asy’ari (260- 324 H).

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , , , , , ,