Category Archives: Budaya

Lagu Cantik dari Desa Kecil Spanyol

Salah satu Manuscrip kuno Islam yg ditemukan di Spanyol
Salah satu manuskrip kuno Islam yang ditemukan di Spanyol

Di sebuah desa kecil di Spanyol, pada tahun 1884, sebuah rumah dibongkar. Di dalamnya ditemukan sebuah manuskrip kuno dari abad ke-17. Manuskrip itu ditulis dalam bahasa Aljamiado, bahasa Arab orang-orang Morisco yang hidup di Spanyol — yang kemudian terusir dari negeri di bagian selatan Eropa itu pada tahun-tahun antara 1600-an hingga 1700-an.

Diperkirakan antara tahun 1609 hingga 1614, sekitar 300 atau 400 ribuan kaum Muslim Morisco (sekitar 4 % penduduk Spanyol saat itu) diusir secara sistematis oleh para raja Spanyol. (Selengkapnya lihat catatan di sini).  Sebagian besar mereka yang terusir itu kemudian mukim di Afrika Utara (negara-negara Magribi, seperti Marokko, dan Tunisia). Mereka yang berhasil menghindari ekspulsi itu secara bertahap berhasil menyerap budaya lokal setempat. Prosekusi terhadap Morisco terakhir terjadi di Granada pada 1727. Pada akhir abad ke-18, identitas penduduk Muslim dan orang-orang Morisco dianggap sudah lenyap sama sekali dari Spanyol. Lihat juga video tentang potongan sejarah Islam, Orang-orang Moor, di Eropa (klik di sini).

Pemilik rumah Morisco tersebut rupanya menyembunyikan naskah kuno itu di salah satu bagian atap rumah, sebelum ia dipaksa pergi dari situ.

Inilah di antara yang tertera dalam manuskrip tadi:

  • Yaa Habibiy Yaa Muhammad [Wahai cintaku, Wahai Muhammad];
  • Wa solaatu ‘alaa Muhammad [Solawat/rakhmat) Tuhan bagi Muhammad];
  • Wa ‘alaa Aaali Muhammad [Dan bagi keluarga /Ahlul Bait Muhammad].
  • Gusti, Kirimkan rahmatmu kepada-nya (Muhammad)
  • Dan tambahkanlah cinta kami kepadanya.
  • Jadikan dan bina kami (agar) berada di antara umatnya;
  • Di bawah bendera Muhammad.
  • Kata-katamu akan selalu terdengar;
  • Doamu (pasti) akan didengar;
  • Mohon kabulkan salam damai kami (baginya).
  • Beginilah (ajaran) yang dilakukan Muhammad;
  • Allahumma solliy ‘alaa al-Mustafa (Solawat /berkah Tuhan selalu bagi ia ‘sang terpilih’);
  • Habiibina Muhammad, alaihi-s-salaam; (Cintaku Muhammad, salam selalu kepadanya);
  • Meski kami ini hanya hamba yang lemah,
  • (Tapi) Tuhan memiliki kekuatan atas segala sesuatu.

Manuskrip berupa puisi pujian kepada Nabi Muhammad saw itu kemudian dinyanyikan grup musik Sufi “Al-Firdaus”, dengan judul ‘Madha Morisco’ – Madah Orang Morisco. Mengambil seting pengambilan gambar di Andalusia (Spanyol bagian selatan), dengan menyuguhkan situs-situs yang menjadi warisan dunia (menurut UNESCO), Masjid Besar Cordoba, dan Istana Alhambra, video tersebut jadi sebuah tontotan yang sungguh mengasyikkan.

Pengusiran orang-orang Morisco
Dokumen lukisan pengusiran  orang-orang Morisco dari Spanyol

Sesudah menonton yang di atas, jangan lewatkan yang di bawah ini: sebuah video lagu cantik berisi solawat yang dipuji banyak orang. Video ‘Celtic Salawat‘ berikut dipublikasikan pada tahun 2015 lalu, dan dinyanyikan oleh Ali Keeler dan kawan-kawan:

Anies: Buatlah Sejarah, Bukan Cuma Membaca atau Menulis Sejarah

Sebagaimana Bung Karno, Bung Hatta, dan para Perintis Kemerdekaan dulu, anak muda sekarang juga adalah bagian bangsa yang terdidik. Oleh sebab itu, anak muda kini juga punya kesempatan yang sama untuk menorehkan sejarah di Republik ini. Belajarlah dengan keras, tuntas dan sepenuh hati.
Anies dan seorang siswa - Foto Kemendikbud
Anies dan seorang siswa – Foto Kemendikbud
Itu sebagian isi pesan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan pada Upacara Bendera Peringatan Hari Ulang Tahun ke-70 Kemerdekaan RI di Lingkungan Kemdikbud. Dalam bagian lain pesannya, Anies mengatakan bahwa, di antara anak-anak muda sekarang itu, mereka nantinya akan menjadi guru, sastrawan, budayawan, wartawan, pengusaha, dosen, musisi, dokter, insinyur, hakim, politisi, gubernur, menteri, bahkan presiden atau peran-peran lain yang mungkin hari ini belum terbayangkan dan bahkan belum ada. Semuanya itu, menurut Anies, dimulai dari kerja keras di hari-hari ini, dari bangku kelas ini, dan dari kerja tuntas di sekolah. Tengoklah perjuangan gemilang menuju kemerdekaan 1945 dan perjalanan Republik selama 70 tahun ini.
“Ambillah hikmah dari sejarah, lalu tugas kalian berikutnya adalah membuat sejarah. Kalian adalah pemilik masa depan, jangan menunggu tapi tempalah kepribadianmu, kembangkan prestasimu, jalin persahabatan dengan teman-temanmu, hormatilah orang tuamu dan gurumu, jadikan mereka suluh hidupmu. Hari ini kalian merayakan 70 tahun Indonesia merdeka, harap dicamkan baik-baik bahwa saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan maka kalianlah yang akan memimpin dan mengelola perjalanan bangsa ini. Bergegaslah, bersiaplah dari sekarang. Bawalah Indonesia kita ini ke puncak-puncak kecemerlangan baru,” kata Anies.

 

Berikut ini pesan Mendikbud untuk dibacakan pada Upacara Bendera Peringatan Hari Ulang Tahun ke-70 Kemerdekaan RI di Lingkungan Kemdikbud selengkapnya. 

Continue reading Anies: Buatlah Sejarah, Bukan Cuma Membaca atau Menulis Sejarah

Wah, Kini Ada Menteri yang Peduli Kebudayaan

Ada wartawan yang mengritik bahwa  Anies Baswedan​  kurang mengurusi perkara ‘kebudayaan’ negeri kita, dan hanya sibuk dengan ‘pendidikan’ melulu. Mungkin wartawan itu belum melakukan ‘check and recheck’, atau jangan-jangan ia jarang main ke Galeri Nasional, sehingga tidak tahu bahwa dalam tujuh bulan ini saja Mendikbud Anies sudah berkali-kali ke galeri itu; yang semuanya melulu urusan seni dan budaya. Anies juga ke Sangiran (Sragen), ke TIM, nonton wayang, diskusi dengan puluhan seniman dan budayawan, di Bali, di Bandung, dan di kantornya di Jakarta.
Selain itu, bahkan baru pada jaman Anies inilah ada program bernama ‘Belajar Bersama Maestro’ (BBM), yang mengumpulkan siswa-siswa berpotensi bidang seni untuk magang, nyantrik, pada maestro budaya selama masa liburan. Mereka bisa memilih magang (nyantrik) pada tokoh budaya ternama seperti Irawati Durban, Aditya Gumay, Purwacaraka, Gilang Ramadhan, I Nyoman Nuarta, Mang Udjo, dan Didik Nini Thowok.
Lukisan tentang P. Diponegoro di Galeri Nasional.
Lukisan tentang P. Diponegoro di Galeri Nasional.

Ada yang beda di Galeri Nasional, Jakarta. Suasana berbeda itu terasa, sejak Anies Baswedan berkali-kali berkunjung ke galeri itu. Continue reading Wah, Kini Ada Menteri yang Peduli Kebudayaan