Category Archives: Artikel di Media

Pengin Bahagia? Optimislah!

Kehidupan kita sekarang rasanya menyesakkan dada. Puluhan kasus korupsi, geng motor, pembunuhan, perkosaan, radikalisme atas nama agama, peristiwa Mesuji dan Bima, perseteruan dalam partai politik, dan banyak lainnya, membuat hati kecut.

Banyak orang lantas menjadi pesimis, seolah tidak ada lagi harapan dan masa depan. Banyak orang jadi apatis – sehingga tak heran bila banyak yang lebih memilih ‘golput’ pada pemilihan kepala daerah.

Tulisan lain tentang KEBAHAGIAAN: klik di sini.

Padahal, tidakkah seharusnya semangat optimisme mesti terus dipompa dan ditularkan? Saat bicara di kantor, di kendaraan, di caf atau warung kopi, tidakkah sebaiknya kita juga melihat banyak hal dari sisi positif, ketimbang hanya dari sudut pandang yang negatif?

Optimisme: kunci sukses dan bahagia

Banyak yang menganjurkan agar orang bicara optimisme – melihat gelas ‘setengah penuh’, ketimbang hanya melihatnya sebagai ‘setengah kosong’. Continue reading Pengin Bahagia? Optimislah!

Eva Bartlett dan Fitnah di Suriah

Konperensi Pers PBB ini membuktikan banyak fitnah di Suriah. Berita tentang Aleppo pun banyak diputarbalikkan media Barat.

media-is-lying-about-syria
Jurnalis sepulang dari Suriah: Ungkap kebohongan yang disiarkan media global.

Seorang wartawan independen asal Kanada Eva Bartlett, bekerja meliput di Suriah untuk waktu yang cukup panjang. Sejak 2014 Eva pernah meliput di Suriah sebanyak enam (6) kali, dan berkunjung ke Aleppo sebanyak empat (4) kali. Pada konperensi pers PBB (9 Desember 2016 silam) yang disiarkan melalui video PBB (klik link ini), empat orang yang baru kembali dari misi di Suriah menerangkan berbagai temuan mereka, yang pada intinya bertolak belakang dengan yang selama ini disiarkan berbagai media Barat.

eva-di-konp-pers-pbb
Eva Bartlett pada Konperensi Pers PBB

Eva sendiri, sebagai wartawan yang hadir pada konperensi pers itu, menjelaskan secara gamblang beberapa hal yang berbeda dengan yang selama in banyak disiarkan media internasional.

Saya bicara dengan rakyat Suriah dalam bahasa Arab, dan sebagaimana dikatakan Sara Flounders dan Donna Nassor (dua pembicara yang lain dalam konperensi pers itu), rakyat Suriah mendukung pemerintah mereka,” kata Eva,”dan itu bertentangan dengan yang selama ini disiarkan media seperti BBC, The Guardian, New York Times, dan lainnya.

Eva kemudian menjelaskan, bahwa banyak ‘hoax‘ alias fitnah yang disiarkan berbagai media. Kebohongan (lies), agenda tersembunyi (hidden agenda) dan misconceptions yang menyesatkan ternyata sengaja disebarluaskan ke dunia.

Menariknya, ketika seorang yang hadir dari koran Norwegia Aftenposten mempertanyakan, ‘mengapa jurnalis dunia harus berbohong tentang yang terjadi di Aleppo‘, Eva menguliahinya secara sangat mengejutkan. Ini di antara yang dikatakan Eva kepada sang wartawan (selengkapnya lihat teks bahasa Inggris di bawah):

“Anda bilang tentang organisasi international di lokasi (Aleppo). Katakan, organisasi mana yang Anda maksud di bagian timur Aleppo? Saya kasih tahu ya, tidak ada. Tak ada satu pun organisasi (yang Anda maksud itu) di sana. Organisasi-organisasi itu hanya mengandalkan (berita) dari sebuah organisasi ‘Pengawas Hak Asasi Manusia Suriah’ – Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) — yang sebenarnya berada di Coventry, Inggris (UK), dan hanya dijalankan oleh seorang lelaki saja.”

Perhatikan diskusi mereka di video yang panjangnya sekitar 2 menit ini (Video selengkapnya, sekitar 52 menit, ada di bagian bawah tulisan ini):

Anda tak perlu menonton seluruh video (yang panjangnya sekitar 16 menit) ini, tapi cukup perhatikan beberapa menit, mengenai apa yang dikatakan Eva Bartlett. [Video ini dilengkapi teks bahasa Indonesia]:

 

Continue reading Eva Bartlett dan Fitnah di Suriah

Hart Kultuskan Nabi saw?

Birthofmuhammed
Lukisan tentang kelahiran Nabi Muhammad saw (image via Wikipedia)
Memasuki bulan Rabiul Awwal ini, baiklah kita unggah kembali beberapa tulisan yang berkaitan dengan Maulid Nabi SAW. Tulisan yang pernah ditayangkan di sini lima tahun lalu ini adalah satu di antaranya:

Tragedi WTC Dorong Islam Berkembang Pesat

SURABAYA, KOMPAS.com — Dosen Universitas Paramadina Jakarta, Syafiq Assegaf, menegaskan bahwa tragedi serangan menara kembar WTC di AS pada 11 September 2001 justru mendorong Islam berkembang pesat di seantero dunia.

Kompas.Com; Jumat, 17 Februari 2012 | 22:24 WIB

“Tragedi WTC justru membuat orang penasaran sehingga banyak orang yang mulai mencari Al Quran dan mempelajari Islam,” katanya dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Yayasan At-Tathir di Graha Indrapura, Surabaya, Jumat.

Dalam acara yang juga dihadiri para habaib/ulama di Surabaya dan pembicara lain Dr Umar Shihab (Jakarta) itu, dia menjelaskan bahwa perkembangan pesat Islam itu terlihat di Amerika dan sejumlah negara di Eropa.

“Di Amerika sekarang, setiap tahun ada sekitar 20.000 orang yang masuk Islam, sedangkan di Eropa juga sama. Awalnya, mereka penasaran dengan Islam yang dikait-kaitkan dengan terorisme, tapi akhirnya justru tertarik dengan Islam,” katanya.

Continue reading Hart Kultuskan Nabi saw?

Ketika Komodo Terancam Anjing Gila

Aduh, ngapain sih membahas soal anjing? Bukankah banyak hal lain yang lebih penting ketimbang ngurusin anjing dan penyakit rabies? Ya tetapi ini beda, Bung. Ini berkaitan dengan Taman Nasional Komodo, yang jadi kebanggaan bangsa Indonesia– khususnya sejak Taman Nasional Komodo di Flores, NTT, dikukuhkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban alam di dunia (New Seven Wonders of Nature) pada 2013 lalu.

Summary: There are potentials for Flores to get more income from tourists visiting one of the ‘New Seven Wonders of Natures’, Komodo dragon in Komodo and Rinca islands. But now Manggarai Barat district, where both islands located, has limited budget for rabies control. This, plus the fact that FAO (ECTAD) and World Animal Protection’s program has accomplished last August, might bring new threat to the area, so that it wouldn’t to be able to achieve Rabies Free area (status) in 2020.

Sejak pengukuhan itu, kian banyak wisatawan berdatangan ke Pulau Komodo dan Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat, dengan tujuan menikmati keunikan biawak raksasa yang bernama latin Varanus komodoensis itu. Kabarnya hingga Agustus silam sekitar 80 ribuan turis masuk ke pulau-pulau itu – dan beberapa pulau lainnya di Flores.

“Tahun-tahun sebelumnya berkisar 45-50 ribuan,” kata Maria Geong, Wakil Bupati Manggarai Barat yang saya temui di acara Lokakarya Evaluasi & Keberlanjutan Program Pengendalian Rabies di Pulau Flores dan Lembata (2013-2016), akhir Agustus lalu di Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat, Flores.

Tulisan ini aslinya dipublikasikan dalam portal media Beritagar, 28 September 2016.

Setidaknya ada dua masalah penting dan harus segera ditangani. Pertama adalah kurangnya pendapatan daerah Flores dari turis yang datang, karena mereka lebih banyak menggunakan atau menginap di kapal (cruise) yang lazimnya bersandar di laut sekitar tempat wisata. Wisatawan pun kurang membelanjakan uangnya di daratan seperti kota Labuan Bajo, yang telah dideklarasikan pemerintah kita sebagai sebagai satu di antara sepuluh destinasi wisata unggulan di Indonesia. Masalah kedua adalah ancaman penyakit rabies yang sejak lama bercokol di Pulau Flores dan Pulau Lembata (selain malaria yang masih mengancam di sebagian wilayah NTT itu).

komodonationalparkindonesia1
Taman Nasional Komodo

Tentu saja itu amat disayangkan, sebab selain hewan purba komodo di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, Flores juga mempunyai banyak potensi besar daerah kunjungan wisata seperti Danau Ranamese di Manggarai Timur, Danau Kelimutu di Ende, Taman Wisata Alam Laut 17 Pulau Riung di Kabupaten Ngada, dan Taman Wisata Alam Gugus Pulau Teluk Maumere di Sikka. Continue reading Ketika Komodo Terancam Anjing Gila

Tidak Ada Vaksin Anti-Krisis, Bu Menkes

Jumat, 19 Agustus 2016.

Awal pekan ini, Ketua Posko Pengaduan Yayasan Lembaga Badan Hukum Indonesia Wahyu Nandang mengatakan keluarga korban vaksin palsu masih menuntut tanggung jawab negaraatas terjadinya kasus tersebut. Pasalnya, sudah sebulan kasus ini masih belum jelas rimbanya. Bahkan, sebelumnya pernah ada pihak yang mengusulkan tindakan class actionterhadap pemerintah atas beredarnya vaksin palsu. Alasannya, hingga saat ini belum ada pejabat pemerintah yang meminta maaf kepada para orang tua korban, sementara pejabat berwenang malah tampak buang badan.

Opini ini dipublikasikan di halaman Indonesiana Tempo pada 19 Agustus pukul 16:53 WIB (klik di sini). Sebelumnya, artikel ini terbit di Koran Tempo edisi 19 Agustus 2016 (klik di sini).

Kementerian Kesehatan pun belum terlihat bertindak menenangkan dan membuka diri kepada masyarakat. Setidaknya, ini bisa dilihat dari belum adanya informasi apa pun mengenai vaksin palsu pada laman situs Kementerian Kesehatan. Padahal, itu sebuah langkah yang harus dilakukan oleh setiap lembaga yang ditimpa krisis pada era digital.

Vaksin Palsu
Menteri Kesehatan Nila F Moeloek gendong bayi yang diduga menerima vaksi palsu. (Foto MI/MetroTVNews). 

 

Continue reading Tidak Ada Vaksin Anti-Krisis, Bu Menkes

Seandainya Saya Naik ke Langit

Ketika melihat banyaknya teror di yang terjadi belakangan ini, muncul pikiran mbeling ini. ‘Ketimbang sibuk ngurusin dunia yang banyak disalahpahami orang yang mengaku beragama, tidakkah lebih baik seorang hamba berusaha beribadah sebaik-baiknya, sehingga bisa ‘naik ke langit’ mencapai derajat amat tinggi agar bisa meniru langkah Nabi SAW untuk mencapai tempat termulia di sisi Tuhan?’

Ketika Allah membimbing - Ali as
Jika Tuhan membimbingmu untuk mengingat (berzikir kepada)-Nya, itu pertanda bahwa Dia mencintaimu. (Imam Ali bin Abithalib as).

“Wah, seandainya saya bisa begitu, setelah diberi kesempatan naik ke langit, bagaikan sebuah mi’raj, begitu maka saya tidak akan turun ke bumi,” kata kawan saya yang sedang belajar jadi pesuluk ala seorang sufi, ”Karena saya telah mencapai puncak tertinggi yang mungkin hanya bisa dibayangkan seorang hamba Tuhan.”

Ah, tentu saja kami mimpi. Kami juga keliru. Meski kekeliruan itu tidak separah absurditas (baca: kesalahan fatal) pikiran para teroris (yang mengira dirinya mati syahid lalu ‘naik’ ke surga dan ketemu bidadari), tetapi itu bukan tujuan penghambaan kepada Tuhan. Sesungguhnya Islam justru mengajarkan seorang muslim harus ‘turun’, ia mesti ‘membumi’. Fungsinya sebagai anggota masyarakat adalah hal yang sangat penting, karena Islam tidak datang hanya mengajarkan zikir dan doa – apalagi kalau sampai tujuan zikir (cara beragama)-nya melenceng dan menyesatkan hingga merugikan orang lain atau membunuh yang tidak berdosa.

Tulisan ini aslinya telah dimuat di Rubrik Nasional, Indonesiana, Tempo 13 Juli 2016 lalu (klik di sini)

Continue reading Seandainya Saya Naik ke Langit

Wah, Ternyata Bahagia itu Mudah

Dari Ramadhan ke Ramadhan masalah yang dihadapi umat Muslim boleh dikatakan sama melulu. Pada bulan suci itu, muslimin berpuasa, mengekang hawa nafsu, berbuat baik, puasa, memberi zakat, sedekah, dan sebagainya. Tapi setelah Ramadhan berakhir, banyak dari kita lupa padanya, dan kehidupan kembali seperti sediakala. Dosa demi dosa dan kemaksiatan menggantikan kebaikan-kebaikan yang sebelumnya dielu-elukan.

*) Artikel (kolom) ini aslinya berjudul, “Ramadhan, Cinta dan Kebahagiaan”, dimuat di Indonesiana Tempo (klik di sini). Versi pendeknya terbit di Koran Tempo edisi Rabu, 15 Juni 2015 (Anda harus berlangganan untuk bisa membukanya).

Barangkali sudah saatnya kita merenungkan sebuah pendekatan yang berbeda, memasuki bulan suci lewat jalan penyucian diri, menggelorakan cinta kepada Sumber Cinta, yakni Allah subhanahu wa ta’aala. Agar sesudahnya, kelakuan segala yang baik selama Ramadhan dapat berbekas dan berkelanjutan hingga bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya – sustainable.

Cinta Buta - Imam Ali as
Cinta dalam pandangan Imam Ali bin Abithalib (as).

Tapi bagaimana meraih hal itu? Tentu bukan dengan solat tarawih atau tadarus Al Qur’an semata – melainkan dengan menebarkan cinta itu sendiri. Cinta kepada sesama Muslim, sesama umat manusia, dan terhadap sesama makhluk Tuhan — sebagai salah satu satu amal penting yang dicatat Al Qur’an untuk dikerjakan. Dan tanda cinta yang paling kentara adalah berkorban untuk pihak lain, antara lain dengan memberi: perhatian, waktu, tenaga, dan dana. Karena sesungguhnya sifat mencintai lewat pemberian itu yang sejatinya akan memberi kebahagiaan kepada pelakunya. Continue reading Wah, Ternyata Bahagia itu Mudah