Mewaspadai Long Covid


Dua tahun pandemi ini dikuatirkan memunculkan ancaman adanya krisis yang tersamar: long covid. Dinamai juga dengan “sindroma pasca covid,” krisis ini bahkan juga mengancam banyak negara maju yang laju vaksinasinya cukup kencang seperti AS dan Inggris.

Syafiq Basri Assegaff. *)

Ancaman bisa makin parah, akibat munculnya galur baru Omicron dan, ini yang paling anyar: adanya sebuah varian baru yang sementara ini dinamai varian IHU (dari nama lembaga penelitinya, Instituts hospitalo-universitaires) di Kota Marseille, Perancis. Galur baru yang diberi kode B.1.640.2 ini mengandung 46 mutasi — lebih banyak ketimbang mutasi pada galur Omicron – dan dikuatirkan lebih menular dan lebih kebal terhadap vaksin.

Tulisan ini dimuat pada harian Kompas, 12 Januari 2022, halaman 6 (klik di sini).

Adapun long covid merupakan kumpulan sejumlah gejala (sindroma) di bagian tubuh tertentu sedikitnya selama tiga bulan setelah serangan singkat Covid. Tiga hal paling sering muncul: kesulitan bernafas, fatigue (merasa sangat lelah) dan kabut otak, alias brain fog. Tiga dari setiap lima (60%) pasien long covid di Inggris menyatakan ‘agak sulit’ melakukan aktivitas sehari-hari, dan satu dari lima (20 %) mengatakan ‘sangat sulit’ beraktivitas bahkan untuk mengerjakan tugas paruh waktu di belakang meja sekalipun.

Memang sejak awal pandemi, banyak laporan menunjukkan adanya gejala yang dialami pasien terkait dengan gangguan jaringan (sistem) syaraf dan otak. Gejala-gejala neurologis ini tampak pada saat maupun setelah infeksi. Selain fatigue dan brain fog, gangguan bisa bervariasi hingga kejang-kejang dan stroke. Pada banyak kejadian, masih tersimpan segudang misteri.

Brain fog sendiri, menurut situs kesehatan Harvard 8 Maret 2021, bukan sebuah istilah medis, melainkan digunakan orang untuk menjelaskan kondisi dirinya yang mengalami gangguan dalam berfikir, saat otak lemah dan tumpul. Ringkasnya, semacam kondisi sulit berkonsentrasi. Pada masa ‘normal’ sebelum ada Covid-19, keadaan itu bisa terjadi beberapa jam, misalnya, akibat terbang jauh (jet-lagged), akibat flu, atau efek samping setelah mengkonsumsi obat tertentu. Namun pada penderita long-covid, dikuatirkan brain fog itu bertahan lama.

Sebuah penelitian oleh Jan Wenzel dan tim dari University of Lübeck, Jerman, yang dimuat jurnal Nature Neuroscience 21 Oktober 2021 dan dikutip Forbes 8 Desember 2021 lalu di antaranya menjelaskan bahwa, di antara pasien Covid-19 menunjukkan adanya kerusakan struktural pada pembuluh darah kecil (atau kapiler) yang mensuplai darah ke otak. Kemungkinan yang terjadi adalah karena sel-sel endothelium pada dinding kapiler darah itu dibunuh oleh ‘protease’ yang dihasilkan sang virus SARS-CoV-2. Protease ini sejenis enzim yang mempercepat terpecahnya protein menjadi pecahan-pecahan asam amino – mirip dengan yang terjadi ketika ia memecah protein dalam saluran cerna.

Perlu sedikit penjelasan di sini. Yang perlu diketahui adalah bahwa seluruh pipa pembuluh darah kita, mulai yang besar hingga yang terkecil seperti kapiler itu, diselimuti beberapa lapisan ‘tembok’. Bayangkan lapisan dinding di rumah kita yang terdiri dari batu bata, semen, adukan pasir dan cat di kedua sisinya. Bedanya, bila tembok rumah itu ‘mati’, lapisan pipa pembuluh darah, sebagaimana semua jaringan tubuh kita, selalu ‘hidup’ dan terus berkembang secara bersinambung.

Nah, sebuah dinding tipis di paling dalam ‘tembok’ pembuluh dinamakan endothelium, yang merupakan lapisan yang langsung bersentuhan dengan sel-sel darah yang mengalir di dalam pipa itu. Lapisan ini menyaring semua yang dapat masuk dan keluar ke aliran darah. Sel-sel endothelium itu juga berperan penting pada pembentukan jejaring pembuluh, memberikan sinyal yang membantu pembentukan dinding-dinding pembuluh darah. Bila sel-sel endothelium itu mati, maka ia menyebabkan terjadinya string vessels, keadaan ketika bagian tertentu di kapiler itu vacuum (kosong), sehingga kapiler darah gagal berfungsi mengalirkan darah. Jika gangguan string vessels ini luas, akan terjadi kerusakan pada jaringan otak, brain pathology.

Long Covid di Indonesia. Sumber: abc.net.au

Lapisan endothelium yang rusak itu mungkin mirip dengan tersumbatnya infrakstruktur pipa yang menyalurkan air dari mesin pompa ke seluruh kran di rumah. Maka logis jika kerusakan struktural kapiler yang mensuplai darah ke otak menyebabkan gangguan fungsi otak. Menurut Jan Wenzel dan kawan-kawannya, meski infeksi langsung dalam otak masih diperdebatkan, pemeriksaan genome SARS-CoV-2 pada otak serta cairan dalam jaringan otak-dan-tulang belakang (cerebrospinal fluid) pada beberapa pasien menunjukkan bahwa sang virus mendapatkan akses ke dalam otak.

Memang ada pendapat bahwa tidak semua gejala serupa long-covid itu disebabkan oleh SARS-COV-2, penyebab Covid-19. Bahkan lama sebelum virus corona itu muncul, banyak orang sehat tertimpa gejala serupa. Sebabnya belum dapat dijelaskan secara medis. Di antara contoh klasik perkara misterius ini adalah chronic fatigue syndrome, yang tampaknya sering mengikuti infeksi virus atau pun bakteri secara umum. Saat itu, sebelum ada Covid-19, beberapa jenis migren kronis dan gejala lain sering juga menyerang banyak orang tanpa sebab yang jelas. Walakin data yang ada belakangan, bagaimana pun, menunjukkan bahwa dampak long-covid kini mendominasi berbagai latar belakang gejala-gejala yang terjadi.

Biaya mengobati kondisi itu luar biasa besar. Sejauh ini belum ada obat pilihan bagi long covid. Apa yang diketahui ilmuwan sejauh ini adalah bahwa penyakit ini merupakan kombinasi infeksi virus yang persisten (yang mungkin suatu saat nanti bisa diobati), gangguan autoimmune kronis yang membutuhkan pengobatan kompleks dan mahal seperti rheumatoid arthritis (sejenis peradangan sendi) atau multiple sclerosis, dan kerusakan terus menerus pada sebagian organ yang diakibatkan infeksi Covid. Obat bagi dua kondisi yang pertama mungkin akhirnya akan ditemukan. AS sendiri sudah mendanai sekitar 1,15 milyar dolar untuk riset. Tetapi pada saat ini, para penderita masih perlu menunggu beberapa bulan untuk direhabilitasi agar bisa kembali normal.

Pada tahun 1890-an pandemi terbesar dalam sejarah dikenal dengan nama “Flu Russia”. Membunuh satu jutaan orang, nama itu sendiri kini dianggap keliru. Mungkin sekali itu bukan influensa, melainkan sejenis nenek moyang coronavirus. Ketika itu, sedikit sekali orang punya kekebalan menghadapinya, sehingga ia lethal (mematikan). Juga ada dugaan, pada saat pandemi menghilang, ia meninggalkan gelombang penyakit baru yang menyerang saraf. Siapa tahu itu semacam long covid sekarang. Gelombang penyakit yang sama menyerang pasca pandemi besar berikutnya, Spanish Flu, 1918. Nah, hal yang serupa kini terjadi dengan pandemi Covid-19. Gelombang yang kemudian dinamakan long covid ini bermunculan di negara-negara di mana kasus akut menurun. Definisi resmi soal itu memang masih ‘cair’, karena pengetahuan mengenainya sedang terus bergulir. 

Kita belum tahu bagaimana angka kejadian long covid di Indonesia. Tetapi di Inggris sudah tampak angka insidensi yang menakutkan: menurut The Economist 1 Mei 2021 lalu, setengah juta orang Inggris menderita long covid selama lebih dari enam bulan. Kans untuk recover total tampaknya kecil, padahal sebagian besar penderita berada pada masa produktif. Diperkirakan sekitar 15 % penduduk Inggris pernah terinfeksi oleh long covid ini. Jika angka yang sama diterapkan pada kasus covid19 di dunia, yang saat itu (Mei 2021) mencapai sekitar 1,2 milyar penduduk, maka diperkirakan lebih dari 80 juta orang telah mengalami long covid.

Namun syukurlah, kini muncul harapan baru. Pada akhir 2022 diharapkan akan terjadi perbaikan pada vaksin dan pengobatan bagi Covid-19 dan beberapa penyakit lain. Meski jutaan orang yang terinfeksi saat ada pandemi akan tetap sakit, dan harus berjuang dalam kesulitan akibat kombinasi sekitar 200 gejala yang termanifestasikan sebagai long covid, namun ada cahaya bagi banyak penderita long covid setelah pertengahan 2022.
Sumber gambar: The Conversation.

Ini karena banyak proyek penelitian long-covid yang dimulai sejak 2021 mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan, sebagaimana ditunjukkan dari upaya yang dilakukan beberapa negara maju. Menurut koresponden kesehatan The Economist Slavea Chankova 8 November 2022 silam, lembaga Kesehatan Nasional AS (National Institutes of Health), misalnya, telah menggelontorkan dana lebih dari satu milyar dolar untuk menginvestigasi berbagai penyebab dan pengobatan penyakit ini, sementara Inggris tengah melakukan lebih dari 15 studi terhadap ribuan pasien long-covid.

Sedikitnya diharapkan akan muncul penemuan besar pada tiga bidang.

Pertama, adalah pemetaan biologis pada gejala-gejala paling membahayakan pada long-covid, seperti kesulitan bernafas dan brain fog. Beberapa studi misalnya, berusaha mengungkapkan perubahan apa yang terjadi pada isi (volume) otak dan strukturnya. Dengan mengetahui apakah gejala-gejala long-covid itu disebabkan oleh semacam kerusakan pada jaringan pembuluh darah, sistem syaraf atau jaringan (tissue) organ tubuh diharapkan dapat membantu ditemukannya berbagai pengobatan yang tepat.

Area penelitian kedua berfokus pada uji diagnostik dan pemindaian (scans) yang melacak dampak-dampak long covid pada sebagian organ di tubuh. Satu studi di Inggris, umpamanya, memasukkan xenon, sebuah gas tak beracun ke dalam tubuh pasien, yang kemudian dapat dilihat melalui scans pada saat zat itu berjalan di dalam tubuh, dan oleh karenanya dapat menunjukkan apakah kesulitan bernafas itu disebabkan oleh kerusakan pada paru-paru ataukah pada jaringan aliran darah (blood vessels). Studi yang lain mencari tahu apa yang terjadi pada cytokine dalam darah, molekul-molekul yang punya potensi menjadi penanda berlebihnya respon imunitas (hyperactive immune response), sesuatu yang selama ini dicurigai sebagai penyebab munculnya long covid. Banyak tes itu akan berguna untuk menelusuri bagaimana gejala-gejala long covid merespons berbagai pengobatan yang diberikan.

Wilayah ketiga adalah uji klinis secara besar-besaran guna menguji obat-obatan yang ada dan cara-cara rehabilitasi untuk mengobati gangguan kesehatan serupa yang disebabkan oleh penyakit jantung maupun penyakit paru-paru kronis. Di antara obat yang diselidiki termasuk beberapa jenis yang murah dan tersedia luas di dunia seperti aspirin dan antihistamine.

Banyak di antara penemuan yang akan terkuak dari itu semua juga akan bermanfaat bagi pemahaman dan pengobatan gangguan kesehatan lain yang memiliki gejala serupa atau tumpeng-tindih (overlapping), misalnya seperti penyakit lyme disease, chronic-fatigue syndrome dan komplikasi akibat flu (yang banyak di negara Barat). Bagi jutaan orang yang hidupnya telah dilemahkan oleh infeksi virus yang belum juga sirna, tampaknya 2022 menjadi sebuah tahun harapan.

Menghadapi itu semua, sistem kesehatan dan para pengusaha kita mesti menyiapkan bantuan bagi penderita long covid ini. Rehabilitasi yang tepat dapat mencegah runtuhnya kesehatan pribadi masyarakat dan keuangan. Pemilik perusahaan dapat ikut menampung pekerja dengan disabilitas, sementara pemerintah membantu dengan memberikan insentif. Selain itu, bekerja dari rumah dan jadwal bergilir yang fleksibel akan membantu penderita long covid untuk tetap aktif, setidaknya secara paruh waktu. Lalu, kiranya perlu ada “klinik khusus” bagi penderita ini guna mempercepat pemulihan, serupa dengan perombakan tata laksana di RS bagi penderita Covid saat kasus memuncak. Maksudnya agar tidak ada lagi pasien yang berkeliling dari satu spesialis ke spesialis lain demi menemukan diagnosa yang tepat. Kita mesti ingat dan terus berharap bahwa banyak dari penderita dapat pulih, meski setelah berbulan-bulan.

Sudah banyak kesalahan terjadi pada fase serangan akut Covid dulu. Kini tidak ada alasan untuk gagal lagi dalam merespons long covid. Dan tak ada lagi waktu untuk disia-siakan.

*) Dokter alumnus FK Unpad, Bandung; Pengajar di Institut Komunikasi & Bisnis LSPR, Jakarta.

Silakan Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s