Mengapa Varian Baru Covid-19 Lebih Berbahaya?


Waktu untuk membaca: sekitar 7-8 menit.

Varian baru virus Covid-19 terjadi karena mutasi, sebuah peristiwa yang selalu terjadi pada virus. Tetapi sebelum membahas itu, baik kita bayangkan ini: Pada sebuah kompleks perumahan, ada 14 keluarga ‘baik-baik’ dari empat RT berbeda yang pindah, lalu rumah mereka kemudian dihuni teroris, “preman,” dan kelompok radikal. Tiga rumah lain di kompleks juga roboh. Situasi menjadi gawat, sehingga polisi pun kini terus mengintai kegiatan di situ.

Tulisan ini merupakan naskah asli, yang hasil editingnya dimuat pada harian Kompas, Senin 11 Januari 2021. Dapat dibaca juga pada pranala ini: https://www.kompas.id/baca/opini/2021/01/11/mengapa-varian-baru-covid-19-lebih-berbahaya/

Perumahan itu ibarat virus SARS-CoV-2 (penyebab Covid-19) yang memiliki banyak spike (bayangkan “duri” pada kulit durian, atau paku), dan perpindahan 14 penduduk dan rubuhnya tiga rumah analog dengan mutasi yang terjadi pada gen-gen dalam virus, sedangkan “polisi” adalah para ilmuwan yang terus menginvestigasi perkembangan varian baru itu.

Yang terjadi pada varian ini adalah 14 mutasi yang menghasilkan perubahan susunan asam amino dan tiga bagian yang menghilang (deletions) pada ‘tubuh’ virus itu. Sebagian perubahan itu diyakini membawa pengaruh terhadap daya tular (transmissibility) pada manusia. Sementara itu, bagian yang hilang pada posisi spike protein 69-70 di ‘tubuh’ virus membawa dampak pada salah satu analisis (assay) hasil reaksi pemeriksaan dengan metode polymerase chain reaction (PCR). Organisasi kesehatan dunia WHO pada 20 Desember lalu melaporkan, terhapusnya spike 69-70 menggagalkan target PCR pada gen S (spike). Tetapi kebanyakan PCR yang digunakan di dunia, untungnya, menggunakan multitarget sehingga PCR masih akan menunjukkan hasil diagnosis yang baik.

Baca juga tulisan sebelumnya di sini: Perkara Virus Covid-19 yang Jarang Diungkap (Kompas, 29 Desember 2020.)

Berada di bagian paling luar virus, spike protein menjadi semacam “kunci” bagi virus untuk “menggaet” receptor sel sasaran host di badan kita, lalu masuk dan “meleburkan” dirinya (berfusi) ke dalam sel, untuk kemudian mereproduksi diri. Virus memang tidak kawin. Untuk memperbanyak dirinya (reproduksi), virus melakukannya di dalam sel tuan rumah (host): ada yang menyelusup ke inti sel, atau menyelinap ke bagian sel yang disebut ribosome seperti virus corona. Pada SARS-CoV-2, sejumlah spike yang melingkari tubuh virus menjadikannya mirip mahkota (crown); dari situlah muncul nama corona. Bagian di bawah spike adalah amplop protein. Di dalam amplop ada lapisan membrane yang melingkupi “isi” virus yang tadi berfusi dengan sel host.

Mutasi pada varian baru ini “beda”: ia lebih banyak bertransmisi (berpindah tempat, atau menyebabkan penularan) ketimbang varian-varian lain. Artinya, lebih mudah menyebar

Investigasi para ‘polisi’ melihat varian baru ini lebih menular daripada ‘orangtuanya.’ Bukti-bukti terakhir yang dilaporkan ilmuwan Inggris Desember lalu, varian baru ini 71 % lebih tinggi daya tularnya dibanding varian-varian lain. Varian yang berada dalam investigasi ini dikenal dengan B.1.1.7, atau disebut juga VUI 202012/01 (singkatan dari variant under investigation, tahun 2020, bulan 12, varian 01). Sebagaimana ditulis Elisabeth Mahase dalam British Medical Journal (BMJ), 23 December lalu, varian baru ini pertama kali ditemukan pada 2 September 2020, lalu diteliti kandunganya (sequenced) pada awal Oktober dan baru dijelaskan bahwa ia “penting” pada Desember 2020. Indonesia mengumumkan penutupan pintu masuk pada awal Januari lalu. Sehingga lebarnya jendela waktu antara September 2020 hingga awal 2021 memungkinkan sudah ada varian baru yang masuk ke negeri kita. Jika pun tidak ada varian baru yang diimpor ke Indonesia, siapa bisa menjamin bahwa tidak ada mutasi pada virus domestik? Sebab, sebagaimana lazimnya virus, biang kerok Covid-19 ini juga selalu bermutasi. Di Inggris sendiri, sebenarnya sejak Maret lalu sudah terlihat adanya delapan calon turunan mutasi yang telah dipilah-pilah, hasil penelitian kandungan virus secara mendalam (sequencing), tetapi varian B.1.1.7 inilah yang punya “keistimewaan” mencolok.

Materi Genetik yang Jadi Parasit Sejati.

Bicara virus, mengharuskan kita membahas gen, unsur terpenting pada makhluk hidup. Juga pada setiap virus, yang jumlahnya di dunia, menurut the Economist 22 Agustus 2020, diperkirakan mencapai 1031, yakni 10 dengan 31 nol di belakangnya, mengalahkan semua bentuk kehidupan yang ada di planet kita. Virus adalah sebuah materi genetik yang mengeksploitasi metabolisme organisme lain (host) demi reproduksi diri sang virus. Mereka adalah parasit dalam makna paling sejati. Di luar kode genetik yang dimilikinya (sehingga menjadikan mereka eksis), virus-virus itu meminjam segalanya dari host tempat mereka bercokol, mulai dari hewan bersel satu, protozoa, bakteri, kelelawar, manusia atau host lainnya.

Akibat Wabah Covid-19: Orang lebih banyak meluangkwan waktu berselancar di Internet.

Berbeda dengan virus, makhluk lain memiliki sejumlah sel yang mengalirkan energi dan menyimpan informasi. Metabolisme sel-sel ini memanfaatkan energi yang diperolehnya dari matahari atau makanan, untuk membangun molekul-molekul baru dan mengganti yang menua, menggunakan mekanisme di dalam gen-gen yang diwarisi dari induknya, dan mungkin diwariskan juga kepada anak-cucunya. Tetapi tidak ada metabolism dalam diri virus, karena putusnya hubungan antara metabolisme dengan gen-gen. Partikel superkecil, virion, tempat gen-gen itu dibungkus, sepenuhnya ‘beku’ (mati). Virion ini hanya sebuah rancangan materi, sebuah aransemen ‘benda’. Tetapi virus bukanlah virion. Virus itu sebuah proses, bukan sesuatu (benda). Ia hanya bisa hidup di dalam sel-sel lain, sebuah organisme yang berjalan pada perangkat keras yang dipinjam sang virus untuk memproduksi lebih banyak copy genome dirinya.

Virus tak punya rencana atau pun kehendak, tetapi ketika menginfeksi sebuah sel host, virus akan memaksa sel itu memproduksi ribuan copy virus yang identik dengan virus induk secara amat cepat. Istilah kita: beranak-pinak.

Meski selalu bermutasi sepanjang waktu, seringkali mutasi itu tak membawa dampak. Tetapi pada mutasi varian baru ini beda: ia lebih banyak bertransmisi (berpindah tempat, atau menyebabkan penularan) ketimbang varian-varian lain – yang artinya lebih mudah menyebar. Contoh: hanya selang sehari sesudah ditemukannya varian baru ini di Colorado, AS, sebuah kasus baru muncul di California.

Syukurlah tidak ada indikasi bahwa varian baru ini akan mengganggu keampuhan (efikasi) vaksin atau bakal memperparah penyakit. Meski para ‘polisi’ masih membutuhkan lebih banyak data guna memastikannya, banyak ilmuwan yakin bahwa “anak bandel” ini, kalau pun ada pengaruhnya, tidak akan mengurangi efikasi vaksin. Juga tidak cukup bukti bahwa varian ini akan memperparah gejala penyakit korona.

Walakin, ini yang penting: varian Covid-19 lebih mudah bertransmisi (transmissible). Berarti ia punya potensi membawa malapetaka besar. Menengok pada situasi pandemi sekarang ini, satu varian yang “lebih mudah bertransmisi” akan lebih berbahaya daripada varian yang “lebih ganas” (severe variant). Ini karena virus dengan angka transmisi tinggi menyebabkan sang virus lebih mudah menular (contagious) dengan risiko pertumbuhan eksponensial, sedangkan naiknya keganasan cuma akan meningkatkan risiko pertumbuhannya secara linear, membawa dampak hanya pada yang sudah terinfeksi.

Berbeda dengan hitungan linear, pertumbuhan eksponensial, yang biasa terjadi pada makhluk biologis yang membelah diri, bertambah amat cepat. Ngebut. Dimulai dari ‘seekor’ makhluk, menjadi dua, lalu “melompat” menjadi empat, dari empat ke delapan, delapan menjadi 16, dan seterusnya 16 menjadi 32, 64, 128, 256, lalu 512, kemudian mendadak naik jadi 1.024, dan seterusnya. Maka, peningkatan eksponensial menyebabkan jumlah orang yang terinfeksi virus itu dalam waktu singkat melonjak menjadi puluhan ribu bahkan jutaan.

Beda risiko antara transmisibilitas (daya tular) dan letalitas bisa ditilik dari contoh yang dikemukakan guru besar analisis wabah secara matematis dari London School of Hygiene & Tropical Medicine Adam Kucharski. Ia mensimulasikan adanya peningkatan 50 persen letalitas (daya bunuh) virus dibanding dengan peningkatan 50 persen transmisibilitas virus. Ketika itu, sebagaimana ditulis Zeynep Tufekci dalam theatlantic.com, Kucharski mengacu pada angka reproduksi 1,1 dan risiko fatalitas infeksi 0,8 pada 10.000 kasus aktif – sebuah skenario yang saat itu sesuai dengan keadaan pada berbagai kota di Eropa. Nah, berdasarkan hitungan enam hari periode infeksi, hasil simulasinya menunjukkan bahwa, ketika terjadi 129 kematian dalam sebulan, maka kenaikan fatalitas 50 persen akan menambah jumlah peti mati menjadi 193. Sedangkan, kenaikan transmisibilitas 50 % pada skenario yang sama akan melejitkan angka kematian dalam sebulan menjadi 978.

Prosentase kecil dari angka raksasa tentu masih jauh lebih besar ketimbang prosentase besar dari sebuah angka kecil. Satu persen dari 10 juta (100 ribu) tentu jauh lebih besar daripada 25 persennya sejuta (2500).

Memang transmisibilitas amat cepat melebarkan penyebaran risiko: setiap satu penderita baru secara potensial akan menginfeksi sejumlah besar orang lain. Tentu saja infeksi itu tragis, dan varian baru ini (untungnya) tidak seberapa ganas (letal) yang berarti varian ini tidak lebih mengancam bagi yang terinfeksi. Namun, ia membawa ancaman lebih besar bagi masyarakat sekitarnya, karena dapat menambah jumlah yang tertular secara dramatis. Dalam kalimat lain, prosentase kecil dari angka raksasa tentu masih jauh lebih besar ketimbang prosentase besar dari sebuah angka kecil. Satu persen dari 10 juta (100 ribu) tentu jauh lebih besar daripada 25 persennya sejuta (2500).

Justru Harus Makin Serius dalam Pencegahan

Meski belum sepenuhnya diyakini, data yang ada menunjukkan bahwa varian baru ini 71% lebih menular, disebabkan varian B.1.1.7 ini mempunyai sejumlah besar perubahan genetik yang unik, khususnya pada bagian ‘spike protein’ tadi. Memang masih ada beberapa spekulasi dalam memahami mekanisme detail pada varian baru ini. Tetapi fakta menunjukkan bahwa, cara-cara mencegah dengan protokol kesehatan justru harus dilaksanakan secara lebih serius: masker yang lebih melindungi, waktu dalam ruangan yang kian berkurang, ventilasi yang lebih baik, dan kian banyak disinfeksi pada permukaan yang mudah bersentuhan – demi memperoleh pukulan yang sama mematikan untuk peningkatan proteksi.

Pasalnya, sebagaimana disebutkan di atas, bukan mustahil muncul juga varian baru di Indonesia, meski tidak kita harapkan. Sedikitnya sudah ditemukan adanya varian baru di 35 negara, termasuk Australia, Singapura, Thailand dan Vietnam (Kompas, 5-01-2021). Epidemiolog Inggris Susan Hopkins di BMJ mewanti-wanti, sangat mungkin banyak negara lain akan melaporkan kasus varian baru ini, tergantung berapa banyak tes yang dilakukan. Inggris sendiri melakukan 10 % sample yang diuji dalam genome sequencing, di atas rata-rata yang dilakukan banyak negara lain.

Walhasil, sambil menunggu mendapatkan informasi yang lebih terang soal varian baru ini, yang amat penting dilakukan sekarang ini adalah menekan kurva angka penularan yang ada. Sebab — sementara kejamnya ancaman pertumbuhan eksponensial membayangi kita — kurva yang makin landai akan menunda potensi infeksi selama beberapa pekan, dan itu bisa menyebabkan perbedaan hasil yang amat besar ketika vaksinasi yang efektif telah dilaksanakan.

Baca juga: Jangan Meninggal Akibat Korona.

Silakan Beri Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s