Ketika Jiwa Menangis


Dalam sebuah syairnya yang indah, khalifah ke-4, Ali bin Abithalib ra, menggambarkan bagaimana jiwa seseorang harus beramal untuk Hari Kemudian dengan “meninggalkan kecintaan pada dunia”.
Dalam video 2 menitan berikut ini, syair itu terdengar indah sekali. Saya coba menerjemahkannya. Semoga bermanfaat.

Jiwa menangisi dunia, padahal ia sudah mengerti tentangnya,
Bahwa kebahagiaan di dalamnya dicapai dengan meninggalkannya,
Tiada tempat tinggal bagi siapa pun setelah maut memisahkannya daripadanya (dari dunia itu),
Kecuali tempat yang ia siapkan sebelum kematiannya,
Dan jika membangunnya dengan kebaikan, di sanalah ia kelak menikmatinya…

النفسُ تبكي على الدنيا وقد علمت
The Soul Cries over this world and yet acknowledges,

أن السعادة فيها ترك ما فيــها
that the happiness within it is to abandon what is within it.

لا دارٌ للمرءِ بعد الموت يسكُنها
There is no house for the individual to live in after death,

إلا التي كانَ قبـل الموتِ بانيـها
except for the one that he built before his death.

فإن بناها بخير طاب مسكنُه
And if he built it with goodness, pleasing his settlement will become,

Mutiara Imam Ali as

Jika keburukan desainnya, kecewa kelak pembangunnya,
Harta kita yang kita kumpulkan pewarislah yang merasakannya,
Dan rumah-rumah yang mengkorupsi waktu saat kita sibuk membangunnya,
Di manakah para penguasa yang dulu berbangga memerintah,
Hingga gelas kematian yang dituangi kini direguknya,
Dan berapa kota-kota di seantero cakrawala,
Yang kini luluh lantak, sedangkan mati semua penghuninya…

وإن بناها بشر خـــــــاب بانيـــها
And if he built it with evil, dissapointed its builder will be.

أموالنا لذوي الميراث نجمعُها
Our money for our heirs we collect it,
ودورنا لخراب الدهـــر نبنـيــها
and our homes for the corruption of time we build it.

أين الملوك التي كانت مسلطنةً
Where are the kings that were proudly dictating?

حتى سقاها بكأس الموت ساقيــــها
Till the pourer of death poured death upon them.

فكم مدائنٍ في الآفاق قد بنيت
And how many cities were built upon the horizon?

أمست خرابا وأفنى الموتُ أهليـــها
Which eventually became devastated while its citizens tasted death.

Janganlah mengabdi pada dunia dan segala yang di dalamnya.
Sebab, pasti, tanpa keraguan kematian bakal menyudahi dan mem-fana-kannya,
Setiap jiwa, meski yang sangat berkuasa,
Seluruh harapan oleh kematian menjadi sirna,
Orang menghibur diri dengannya, sedangkan masa (waktu) membunuhnya,
Dan jiwa berusaha membukanya, sementara kematian menutupnya,

لا تركِنَنَّ إلى الدنيا وما فيها
Don’t submit to this world and what’s within it,

فالموت لا شـــك يُفنينا ويُفنيــها
for surely, without a doubt, death will end us and end it

لكل نفس وان كانت على وجلٍ
For every soul, even if it was powerful,
من المَنِيَّةِ آمــــــالٌ تقويـــــــها
had hopes that were overcome by death.

المرء يبسطها والدهر يقبضُها
The individual entertains it [the soul] while time kills it,

والنفس تنشرها والموت يطويـــــها
And the individual opens it, while death puts an end to it.

Sungguh kebaikan budi pekerti (akhlak) sangat indah dan murni,
Agama yang pertama, dan akal (intelektual) yang kedua,
Ilmu pengetahuan ketiga, dan toleransi (yang) keempatnya,
Kedermawanan kelima, dan keutamaan dalam kebaikan jadi keenamnya,
Melayani (pengabdian pada) orang lain ketujuh, sedang syukur (berterimakasih) kedelapannya.
Sabar jadi kesembilan, dan kelemahlembutan adalah sisanya,

 

إنما المكارم أخلاقٌ مطهرةٌ
Surely the perfection of morals is pure,
الدين أولها والعقـــــــل ثانيـــها
Religion is its first, intellect is its second,
والعلم ثالثها والحلم رابعها
And knowledge is its third, and tolerance is its fourth,

والجود خامسها والفضل سادســــها
And generous is its fifth, and graciousness is its sixth,

والبر سابعها والشكر ثامنها
And activity serving the people is its seventh, and thankfulness is its eighth,

والصبر تاسعها واللين باقيـــــها
And patience is its ninth, and gentleness is its preserver,

Jiwa ini sudah mengerti, bahwa daku tak sudi berteman dengannya (dunia),
Dan aku tak kan menerima saran, hingga kini pun (tetap) kuingkarinya,
Daku beramal untuk Hari Esok, mengharapkan keridhoaan Pemiliknya (Allah SWT).
Tetanggaku Ahmad (Nabi SAW), dan Sang Maha Penyayang (Ar-Rahman)-lah Penciptanya,
Dari emas istananya, sedangkan wewangian adalah tanahnya,
Ja’faron (saffron) menjadi rerumputan, tumbuh subur di dalamnya,
Sungainya susu, jernih dan murni, juga madu,
Anggur pun mengalir, juga nectar yang manis di kanal-kanalnya,
Burung-burung beterbangan di antara dahan-dahannya,
Semua bertasbih (memuji) Allah, lantang benar suaranya,
Dan sesiapa inginkan rumah di surga Firdaus, hendaklah ia menyiapkannya,
Pada gelap tengah malam, ia solat dan berdoa, menghidupkannya.

 

والنفس تعلم أنى لا أصادقها
And the Soul knows that I do not befriend it,

ولست ارشدُ إلا حين اعصيـــــــــــها
And I won’t take the wise step to disobey it,

واعمل لدار ٍغداً رضوانُ خازنها
And I work for tomorrow [Hereafter] to the satisfaction of its ower,

والجار احمد والرحمن ناشيـــــها
And the neighbour is Ahmed [saaw] [in heaven] and the Merciful [SWT] is its Creator.

قصورها ذهب والمسك طينتها
Its palaces are golden, and its heavenly perfume is its mud,

والزعفران حشيشٌ نابتٌ فيــــــــــها
And the saffron is its lushed grasses, graffitied upon it.

أنهارها لبنٌ محضٌ ومن عسل
Its rivers are yoghurt, purified and of honey,

والخمر يجري رحيقاً في مجاريـــــــها
And heavenly wine flows, of sweet nectar, in its canals.

والطير تجري على الأغصان عاكفةً
And the birds fly between their branches,
تسبحُ الله جهراً في مغانيـــــــها
praising Allah [SWT] loudly in their songs

من يشتري الدار في الفردوس يعمرها
And whoever wants to own a home here he should build it,

بركعةٍ في ظلام الليل يحييـها
with a sincere prayer in the darkness of the night.

~ Ali Bin Abi Talib [a.s.]

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: