Ketika Hisyam Gagal Cium Hajar Aswad


Di saat ia menunju Ka’bah,
bertawaf mencium Hajar jejak kakeknya.
Ruknul Hatim enggan melepaskan tangannya,
karena mengenal betapa ia tinggi nilainya.

Itulah Ali cucu Rasulullah,
cucu pemimpin segenap umat manusia.
Dengan agamanya manusia berbahagia,
dengan bimbingannya mencapai keridhaanNya.

Ka'bah2
Jamaah Haji tawaf di seputar Ka’bah: mencium Hajar Aswad.

Pada sebuah musim haji, penguasa kerajaan Bani Umayah Hisyam bin Abdul MalikHisyam bin Abdul Malik gagal mencium Hajar Aswad. Jangankan menciumnya, bahkan mendekat saja ia tak kunjung berhasil. Berkali-kali penguasa yang memerintah dari istananya di Damaskus (ibukota Syam, atau Syria) itu berusaha mendekati batu hitam itu, tetapi berkali-kali pula ia terdesak ribuan hujjaj, terdorong menjauh, dan gagal.

Lalu datang seorang lelaki amat tampan tapi sederhana. Tubuhnya menebarkan semerbak wangi. Tiba-tiba semua orang-orang yang sedang tawaf berhenti sejenak, membukakan jalan baginya. Bagai Nabi Musa membelah Laut Merah, kerumunan itu menyibakkan jalan, memberi kesempatan bagi lelaki itu untuk mendekati dan mencium Hajar Aswad. Sesudah itu kerumunan orang tadi pun melanjutkan tawaf mereka. Dalam diam dan penuh kekaguman yang dibalut rasa dengki, Hisyam memperhatikan semuanya itu.

Siapa lelaki berwibawa itu?

Orang-orang Syam (Syria) yang berada di sekeliling Hisyam terheran-heran. Mereka bertanya, “siapa gerangan lelaki itu?” Hisyam berlaku seolah tidak tahu siapa dia. Tapi ada Farazdaq, pujangga kenamaan dunia Arab saat itu yang juga sedang berada di antara mereka. Ia pun menjelaskan mengenai sang lelaki lewat puisi (syair)-nya yang sangat indah (lihat di bawah).

Sang lelaki itu, tidak lain adalah cicit Nabi saw, Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abithalib as, yang dikenal dengan gelar ‘Zainal Abidin’ (Ahli Ibadah yang Terbaik), atau As-Sajjaad (ahli bersujud).

Apa yang dikatakan Farazdaq saat itu? Sebelum melihat video dan syair bahasa Arabnya (di bawah), berikut ini simaklah terjemahan puisinya:

Dialah yang dikenal jejak langkahnya,
oleh butiran pasir yang dilaluinya.
Rumah Allah Ka’bah pun mengenalnya,
dan dataran tanah suci sekelilingnya.

Dialah putra insan termulia,
dari hamba Allah seluruhnya.
Dialah manusia hidup berhias takwa,
kesuciannya ditentukan oleh fitrahnya.

Di saat ia menunju Ka’bah,
bertawaf mencium Hajar jejak kakeknya.
Ruknul Hatim enggan melepaskan tangannya,
karena mengenal betapa ia tinggi nilainya.

Itulah Ali cucu Rasulullah,
cucu pemimpin segenap umat manusia.
Dengan agamanya manusia berbahagia,
dengan bimbingannya mencapai keridhaanNya.

Jika Anda belum mengenal dia, dia itulah putra Fatimah.
Putri Nabi utusan Allah,
penutup para Rasul dan anbiya.

Pertanyaan Anda “Siapa dia?”
tidak merugikan keharuman namanya.
Arab dan ajam mengenal dia,
walau Anda hendak mengingkarinya.

Tidak pernah ia berucap “tidak”,
kecuali dalam ucapan syahadatnya.
Kalau bukan karena syahadatnya,
“Tidak”nya berubah menjadi “ya”.

Berasal dari keluarga mulia
Mencintainya fardhu dalam agama
Membencinya kufur dalam agama
Dekat padanya selamat dari marabahaya.

Yang mengenal Allah pasti mengenal dia
Yang mengenal dia mengenal keutamaannya
Yang bersumber pada lingkungan keluarganya
Tempat manusia bermandikan cahaya.

Sejarah mencatat bahwa Ali bin Husain “Zainal Abidin” merupakan satu-satunya putra Imam Husain as (cucu Nabi saw) yang selamat dari pembantaian (genosida) keluarga Nabi saw oleh bala tentara Yazid bin Muawiyah (Bani Umayyah) di Karbala, Irak, pada 10 Muharram (Asyura) tahun 61 H (680 M). Saat itu, adik Al-Husain, Zainab binti Ali bin Abithalib melindunginya, sehingga Umar bin Saad mencegah agar sang algojo (Shimr bin Al-Jaushan) mengurungkan niat untuk membunuh Zainal Abidin. Itulah satu di antara sebab mengapa sang bibi (Zainab) digelari “Pahwalan Wanita Karbala”. Cucu Nabi saw Zainab (binti Ali bin Abithalib) as wafat tahun 681 M dan dimakamkan di Damaskus, Syria.

Puisi Farazdaq itu dianggap sebagai satu di antara masterpiece literatur bahasa Arab dan dokumen paling dapat diandalkan (reliable) yang menceritakan sejarah Ali Zainal Abidin dan Hisyam.

Sejarah mencatat bahwa belakangan Hisyam bin Abdul Malik menyuruh Al-Walid I meracuni Imam Zainal Abidin as, sehingga beliau syahid di Madinah pada 95 H (713 M) dalam usia 54 tahun. Imam Zainal Abidin dimakamkan di pekuburan Baqi‘, Madinah, di samping makam pamannya, Al-Hasan bin Ali bin Abithalib (cucu baginda Nabi saw). Satu di antara kumpulan doa beliau dibukukan dalam sebuah kitab berjudul, Sahihah As-Sajadiah. [Baca juga biografi Imam Ali bin Husain Zainal Abidin di sini).

Sesudah wafatnya, banyak orang yang baru menyadari bahwa kehidupan mereka selama ini diperoleh dari sedekah atau hadiah Zainal Abidin (secara diam-diam). Ia memanggul sendiri kantong-kantong makanan, mengetuk pintu lebih dari 100 keluarga, sambil menutupi wajahnya agar tidak dikenali orang. Menurut catatan, Zainal Abidin melaksanakan sekitar 20 kali haji dengan berjalan kaki.

Baca kisah singkat kejadian di atas (klik) di sini.

Sebagai khalifah Bani Umayah ke-10, Hisyam bin Abdul Malik berkuasa sejak 724 M,  menggantikan Yazid bin Abdul Malik, sampai dengan saat meninggalnya pada 743M. Selain menaklukkan sebagian wilayah India, melalui anaknya yang bernama Muawiyah, Hisyam juga sempat menyerang Kerajaan Bizantium pada tahun 113 H (731-732 M).

Dilahirkan pada 38 Hijriah (641 M), Farazdaq yang bernama asli Hammam bin Ghalib bin Sha’sha’ah At-Tamimi Ad-Darimi, alias Abu Firash lama hidup di Basrah (Irak), dan tinggal sekitar 10 tahun di Madinah. Seorang pujangga besar, pada usia 15 tahun Farazdaq telah dikenal luas sebagai seorang penyair paling ulung di jazirah Arab. Meski pernah menjadi penyair istana Al-Walid I (penguasa Bani Umayah yang memerintah antara tahun 705–715), akibat puisinya yang memuji Imam Ali bin Husain di Mekah itu, Farazdaq sempat dipenjara oleh Hisyam.

Saksikan video Syair Farazdaq di bawah ini:

 

Video terjemahan Syair Farazdaq: 

 

Sejarah mencatat bahwa Imam Ali Zainal Abidin as senantiasa mencuci dan memakai sebaik-baik pakaian ketika hendak melakukan salat, serta menaburkan wewangian. Orang-orang seringkali menjumpainya memanjatkan doa, munajat, dan menangis. Salah seorang sahabat beliau, Thawus Al-Yamani menuturkan, ketika ia mempertanyakan mengapa putra Rasulullah saw itu menangis, maka Ali bin Al-Husain as menjawabnya: ‘Meskipun aku adalah putra Rasul Allah, namun apakah dia akan menjamin keselamatanku dari azab Allah, sedangkan Allah telah berfirman, ‘Ketika itu tidak ada lagi ikatan keluarga antara mereka? ‘Sesungguhnya Allah menciptakan surga bagi siapa saja yang berbakti kepada-Nya dan berbuat baik, sekalipun dia itu seorang hamba Habasyi (berkulit hitam), dan menciptakan neraka bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya dan berbuat buruk, sekalipun dia itu seorang tuan dari Quraisy.’

Imam Ali Zainal Abidin as telah melaksanakan ibadah haji ke Mekah sebanyak 20 kali dengan berjalan kaki.

Sebagian keteladanan Imam Ali Zainal Abidin (as) dapat disimak dalam catatan singkat di halaman berikutnya (klik di sini).

 

Ibnu Taimiyah pun mengakui ketenaran Imam Ali ‘Zainal Abidin’  bin Al-Husain as. Meski ia tidak suka pada Ahlul-Bait Nabi saw, dalam buku Minhaj al-Sunnah dinukil bahwa Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa, “Beliau termasuk tokoh utama dalam ilmu dan agama. Beliau penuh kesederhanaan, sering bersedekah secara diam-diam dan memiliki banyak kelebihan, serta dikenal luas.” [Riwayat Imam Ali bin Husain selengkapnya bisa dibaca pada tautan bahasa Inggris ini (klik di sini), atau dalam tautan ini].

Dalam kitab Minhajj al-Sunna bahasa Inggris (vol. 2, p. 123, first edition), ini yang dikatakan Ibnu Taimiyah: “As for ‘Ali bin al-Husayn, he was among the leading figures of the next generation in knowledge and religion. He had humility, secret alms, and other qualities. He was famous.”

 

Inilah syair Farazdaq itu dalam bahasa aslinya:

Puisi Farazdaq untuk Imam Ali Zainal Abidin

 

Saksikan juga video ceramah Sayid Ammar Nakshawani tentang khutbah Imam Zainal Abidin di istana Yazid, kakek moyang Hisyam bin Abdul Malik:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: