Ketika Burger Digebukin

Apa yang Anda lakukan kalau melihat ada anak yang di-bully teman-temannya? Sebagian orang mungkin diam saja, tidak tahu mau ngapain. Tapi sebagian yang lain barangkali akan tergerak untuk membela anak yang dibulli itu.

Anak lucu anti bully
Kalau kamu mau membulli teman saya, kamu harus menghadapi saya lebih dulu… 

Perkara perundungan (bullying) sering terjadi di depan kita — dan lazimnya yang jadi korban adalah anak-anak, baik SD, SMP atau pun SMA. Pelaku bisa saja kakak kelasnya, atau seseorang yang tidak dikenalnya, yang angkuh dan merasa jagoan.

 

 

 

Diperkirakan di seluruh dunia ada sekitar 30 % siswa sekolah dibulli setiap tahunnya.

Iklan Layanan Masyarakat (Public Service Announcement — alias PSA) yang dibuat Burger King ini menarik sekali. Dengan judul “Bullying Jr” (junior), Burger King merekayasa adegan bullying dua kali: pertama pada siswa sekolah SMP (High School Junior), dan kedua terhadap Whopper Jr (sejenis burger yang dikhususkan untuk anak atau remaja, alias junior). Mereka hendak melihat mana dari dua bullying itu yang mendapatkan complaint (reaksi keberatan atau protes) dari para pengunjung restoran cepat saji itu.

Hasilnya, 95 % customer menunjukkan keberatan pada burger (Whopper Jr) yang digebukin (dibulli), dan hanya 12 % customer yang peduli dan membela sang siswa SMP yang dibulli.

Bullying
Drakula menghisap darah; begitu pula anak-anak yang tak beradab.  Ayo bersama-sama hentikan bullying.

Dalam PSA anti-bullying itu, mereka menunjukkan bahwa kebanyakan pembeli akan protes bila burger yang disajikan kepadanya hancur akibat digebuki (dibulli) lebih dulu; tetapi dalam iklan itu tampak bahwa para pembeli tadi ‘diam’ saja saat melihat ada anak yang ‘digebuki’ oleh sang pelaku perundungan (yang dalam iklan itu menggunakan aktor).

Jelas ini sebuah cara kampanye yang menarik. Silakan simak iklan tersebut di YouTube ini (sekitar 2 menitan):

 

Bullying memang bukan cuma terjadi secara fisik. Selain secara fisik, setidaknya ada tiga macam bullying lain, yakni emosional (kadang disebut relational), verbal, dan (yang berkembang belakangan ini) cyber bulling melalui Internet (baca di sini).

Bullying n Bulls
Biarkan kerbau (bull) saja yang melakukan bullying — sedang kita, jadilah manusia.

 

Masalahnya dengan bullying itu tidak berhenti saat seorang anak dibulli. Sekitar 15 prosen remaja yang dibulli saat berusia 13 akan menderita depresi ketika ia menginjak umur 18 tahun (baca ini). Berbagai akibat buruk lain juga terjadi, seperti perasaan kesepian, dan kecemasan (anxiety).

Dan repotnya, penderita depresi itu merupakan kelompok yang kadang melakukan bunuh diri. Dengan kata lain, seorang anak yang dibulli sekarang, dapat membawa akibat buruknya selama hidup — dan para pelaku bullying itu tidak menyadari hal itu.

anti-bullying-quotes-09
Perundungan sering menyebabkan depresi; dan depresi mengakibatkan bunuh diri. Apa kamu (pelaku bullying) mau disebut pembunuh?

Cyber Bullying: Perundungan juga terjadi di dunia Internet. Menurut data UNICEF, 2014, setidaknya satu dari enam siswa (15 %) kelas 9 sampai 12 di dunia mengalami perundungan secara elektronik setiap tahunnya. Kunjungi situs ini jika Anda ingin ikut mencegah bullying (maaf, tulisannya masih dalam bahasa Inggris).

Baca juga tentang ‘Kekuatan Kata’ di artikel berikut (klik di sini).

 

 

 

Inilah Saran Kiwir Soal WA

Banyak yang pusing atau bingung kebanjiran info di WA. Bagaimana menggunakannya secara bijaksana; bagaimana etika nyebarin foto, rekaman suara (audio) dan video di situ? Berikut ini sedikit saran dari Kiwir tentang itu.

Behavioral-Addiction-Facebook-WhatsApp
– (Itu akibat) minum alkohol semalaman? + Bukan, ini gara-gara ber-whatsapp semalam suntuk.

Saat ini luar biasa banyaknya orang menggunakan aplikasi Whatsapp (WA). Jumlah grup WA (WAG) juga merebak kayak jamur di musim hujan, hingga sering bikin pusing pengguna, saking seringnya posting atau broadcast yang sering berisi informasi gak mutu, pengulangan, atau bahkan berbagai ‘sampah informasi’ dan hoax.

Bila mengirim foto, rekaman suara, atau (lebih lagi) video, sebaiknya perlakukan ketiganya seperti “isi surat” dalam amplop. WA itu kayak amplopnya, sehingga siapa pun yang dikirimi harus diberitahu apa isinya. Jangan seperti memberi “kucing dalam karung”, sehingga yang menerima bisa kecewa saat membukanya.

Kunci pertama, kalau mau bijak menggunakan WA, adalah menyadari bahwa ‘tidak semua informasi yang Anda terima pasti benar, sah, valid, dan legitimate,’ sebab saat ini begitu mudahnya orang menciptakan isi pesan (content) yang ternyata hanya hoax, atau berita palsu.

Dunia Bermain Abad 21
Dunia Bermain Anak-anak: ketika semua sibuk dengan MedSos

Kunci kedua, tidak semua yang kita terima harus dibagikan lagi (broadcast) kepada orang lain, karena:

  1. Bisa jadi pesan itu (baik teks, foto atau video) sebenarnya hanya hoax atau berita bohong.
  2. Boleh jadi mereka juga sudah menerima posting yang sama dari orang lain; terlebih bila ia ikut berbagai grup WA.

Kunci ketiga: bila memang harus mengirim gambar, foto, rekaman suara atau video, sebaiknya Anda jelaskan dulu apa isinya, panjang besar kapasitas (KB atau MB) atau durasi video itu?

Memang tiada yang mengharuskan agar kita membuat penjelasan tentang isi gambar, suara atau video yang dikirim itu, tetapi kalau itu dilaksanakan, setidaknya bisa diperoleh beberapa manfaat seperti:

  1. Yang berminat hendak mendengar rekaman suara atau menonton video itu akan tahu apa yang akan didengar atau dilihatnya. Dia juga bisa jadi antusias men-download-nya, misalnya jika saat itu belum bisa mengunduhnya, dia akan melakukannya nanti saat sudah ada Wi-Fi.
  1. Yang kurang suka, juga tidak akan kecewa karena terlanjur download. (Dan yang tidak download itu bisa menghemat memory, dan batere).
  1. Membiasakan diri memberi pengantar, jadi bermanfaat ketika harus membawakan narasinya di luar MedSos.
  1. Lebih menghargai penerima, karena yang dikirim bukan ‘kucing dalam karung’ atau sebuah fait accompli. 
whatsapp-statistics-2016
Satu milyar pengguna WA pada tahun 2016 lalu

Mengelola Grup WA.

Bila Anda mengelola grup WA (atau WAG), ada baiknya dibuat aturan yang jelas agar seluruh anggota di situ merasa nyaman dan suka dengan grup tersebut. Bebas sih, aturan apa yang hendak Anda canangkan, tetapi beberapa di antaranya mungkin ini:

  1. Ada aturan yang jelas dan tegas, content apa yang boleh di-share di situ, dan apa yang tidak boleh. Lalu perlakukan peserta yang melanggar secara tegas dan adil; jangan berpihak hanya pada sebagian dan kejam pada yang lain.
  2. Berlakukan ‘jam tayang’ seperti program TV. Misalnya, posting di grup hanya boleh dilakukan antara jam 10.00 hingga 21.00 — sehingga tidak ada posting yang nyelonong pada tengah malam, ketika orang sudah (hendak) istirahat.

Begitu sedikit saran dari Mbah Kiwir yang belakangan ini sedang rajin mengamati Media Sosial.

Silakan jika Anda mau menambahkan saran-saran lain (tulislah di bagian komentar di bawah ini).