RSS

Soal hadis ‘Qur’an dan Sunnah’ itu

02 May

Shocking!

Aduuuh!  Dari mana dasar ulama mengatakan kita harus ‘berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah,’ jika tidak ada ayatnya, dan tidak ada kitab Hadis Sahid yang memuatnya?

Mungkin Anda akan kaget juga. Coba deh, lihat video Dr Adnan Ibrahim di tautan (link) yang ada di bawah. Beberapa kawan saya sudah terkejut luar biasa. Dalam ceramahnya, ulama Palestina yang kini tinggal di Wina (Austria) itu menyebutkan bahwa, “ternyata hadis yang amat populer di kalangan kita, mengenai wasiat Nabi saw yang terkenal dengan nama “Hadis Tsaqalain“, ternyata tidak terdapat di satu pun dari enam (6) kitab rujukan utama Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah).

Ayat Tathir (Al-Ahzab 33)

Ayat Tathir (Al-Ahzab 33)

 

Lihat juga video Ammar Nakhshawani dan link situs Sunnah.Com.

 

Hadis ‘Tsaqalain‘ (Dua Hal Utama) menukilkan riwayat bahwa Nabi saw mengatakan, bahwa, “Aku tinggalkan dua hal besar bagi kalian semua, yang jika kalian berpegang kepadanya, kalian tidak akan tersesat selamanya, yakni Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnahku.”

SahihMuslimCover

Cover Buku ‘Sahih Muslim’

 

Ternyata, sebagaimana dikatakan Adnan Ibrahim, hadits tadi tidak ada dalam satu pun di antara enam kitab ‘Kutub as-Sittah’.  Of course, that’s really shocking, Gusy!  Sebab selama ini banyak dari kita yakin, saking terkenalnya hadis itu, semua merasa seolah-olah bahwa Hadits Tsaqalain itu sedemikian kuatnya hingga dianggap hanya satu derajat di bawah Kitab Suci Al-Qur’an.

Sebagaimana kita ketahui, di kalangan Sunni, terdapat enam (6) kitab rujukan utama yang dikenal dengan ‘Kutub as-Sittah‘ (Kitab yang Enam), yakni:

  1. Bukhari.
  2. Muslim.
  3. Abu Daud.
  4. Ibnu Majah
  5. An-Nasai
  6. Turmudzi

Ternyata pernyataan (dalam hadis) itu, yang mengatakan bahwa Nabi saw bersabda “Aku tinggalkan kitab Allah dan sunahku,” merupakan kesalahpahaman (atau distorsi?) yang telah menyebar luas.

Berikut ini video Dr Adnan Ibrahim yang dimaksud di bagian atas tulisan ini:

Siapa Adnan Ibrahim? Lahir di Pengungsian Nusairat, Jalur Gaza, Palestina, tahun 1966, Adnan melanjutkan studinya (di bidang kedokteran) di Yugoslavia. Adnan pindah ke Wina (Austria) pada awal tahun 90-an, dan kemudian mendirikan lembaga Asosiasi Dialog Antar-budaya.
Minatnya pada pengetahuan menjadikan Adnan bagai sebuah ensiklopedia. Ia mempelajari dan mengajar berbagai ilmu mulai dari humanities, filsafat, teologi, ilmu-ilmu ke-Islaman, dan sebagainya. Selengkapnya Anda dapat merujuk pada blog Adnan berikut (dalam bahasa Arab). Klik di sini.

Namun, riwayat yang lemah itu, berhubung telah disampaikan jutaan kali secara massif ke seluruh dunia Islam, selama ratusan tahun dan secara terus menerus, menjadikan ia diyakini sedemikian kuat. Tegar tak tergoyahkan. Dan, orang pun nyaris tidak pernah ada yang mempersoalkan ke-sahih-an, kekuatan, atau pun otentisitasnya.

Faktanya, tidak ada dasar yang dapat diandalkan dari pernyataan itu yang dihubungkan pada Khutbah Terakhir Nabi saw.

Sebagaimana kita katakan di atas, riwayat itu sama sekali tidak ada dalam kitab sahih yang enam (kutub as-Sittah).

Buku yang mengumpulkan ke-6 kitab 'Kutub As-Sittah'

Buku yang mengumpulkan ke-6 kitab ‘Kutub As-Sittah’

Ada versi riwayat dalam Muwatta’ karya Malik, dalam Sirat RasulAllah Ibnu Hisyam, dan dalam Ta’rikh milik al-Thabari, namun semuanya memiliki sanad yang tidak lengkap dengan beberapa mata rantai sanad yang hilang. Riwayat lain yang memiliki sanad lengkap (isnad) – yang jumlahnya sangat sedikit – semuanya terdapat periwayat yang disepakati tidak dapat dipercaya oleh ulama rijal suni terkemuka.

Fakta luar biasa ini dapat dikonfirmasi oleh mereka yang tertarik dalam penelitian dengan merujuk kitab terkait.

Kitab Sahih Al-Bukhari

Kitab Sahih Al-Bukhari

Catatan: Mesti diketahui, bahwa dalam setiap hadis harus terdapat dua hal yang penting.

  1. Pertama, mengenai sanad hadis itu, dan kedua, mengenai periwayat (rawi)-nya.
  2. Kedua, baik sanad atau pun rawi, harus sama-sama kuat dan valid, sehingga hadis itu dianggap memenuhi syarat sebagai hadis yang punya validitas tinggi (sahih dan atau mutawatir).

Bila ada cacat di salah satunya, apakah sanadnya yang cacat (tidak sempurna), atau pun periawayat (rawi)-nya tercela, maka hadis tersebut ‘gagal’ untuk diterima secara aklamasi sebagai hadis yang kuat kebenaran (validitas)-nya.

Tentu saja, bukan berarti bahwa sunah Nabi saw. tidak harus diikuti. Tidak. Bukan begitu maksudnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis yang lain, sesungguhnya Nabi saw. meminta umat muslim untuk merujuk pada Al-Qur’an dan Ahlulbaitnya sebagai sumber terpercaya, murni dan terjaga bagi sunah-sunahnya.

Hadis (versi) yang kedua inilah seseungguhnya merupakan hadis yang sahih atau memiliki validitas tinggi. Berikut ini keterangannya.

Sungguh, aku tinggalkan pada kalian dua pusaka penting (tsaqalain): kitab Allah dan ahlulbaitku. Sungguh keduanya tidak akan berpisah sehingga datang menjumpaiku di telaga al-Haudh.”

Hadis Tsaqalain

Satu di antara riwayat hadis tentang “Al-Qur’an dan Ahlul-Bait Nabi SAW” (dengan redaksi ‘khalifatain’, dua khalifah). 

Hadis sahih dari Nabi Muhammad saw. di atas diriwayatkan oleh lebih dari 30 sahabat dan dicatat oleh banyak ulama Sunni. Beberapa rujukan utama hadis tersebut, di antaranya:

  • Al-­Hakim al­-Naisaburi, dalam “Al-­Mustadrak `ala al-Sahihayn” (Beirut), juz 3, hlm. 109-110, 148, dan 533). Dia menyatakan bahwa riwayat ini sahih berdasarkan kriteria al-Bukhari dan Muslim; al-Dzahabi membenarkan penilaiannya.
  • Muslim, dalam ‘Sahih‘-nya, (terjemahan Inggris), kitab 031, nomor 5920-3
  • At­-Tirmidzi, dalam kitab ‘Al-Sahih“, juz 5, hlm. 621-2, nomor 3786 dan 3788; juz 2, hlm. 219
  • An-Nasa’i, dalam “Khasa’is ’Ali ibn Abi Talib“, hadits nomor 79
  • Ahmad bin Hanbal, dalam kitab ‘Al-Musnad’, juz 3, hlm. 14, 17, 26; juz 3, hlm. 26, 59; juz 4, hlm. 371; juz 5, hlm. 181-2, 189-190
  • Ibn al­’Athir, dalam “Jami` al­-‘Usul”, juz 1, hlm. 277
  • Ibnu Katsir, dalam “‘Al-­Bidayah wa al-Nnihayah“, juz 5, hlm. 209.  Dia mengutip al-Dzahabi dan menyatakan hadis ini sahih.
  • Ibnu Katsir, dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, juz 6, hlm. 199
  • Nasir al-Din al-Albani, Silsilat al-Ahadith al-Sahiha (Kuwait: al-Dar al-Salafiyya), juz 4, hlm. 355-8. Dia menyusun banyak sanad yang dianggapnya dapat diandalkan.
Hadits Tsaqalain: Disebutkan 'Ithratiy, Ahla Baitiy', bukan 'Sunnati'.

Hadits Tsaqalain: Disebutkan ‘Ithratiy, Ahla Baitiy’, bukan ‘Sunnati’.

Sesungguhnya hadis di atas sangat sejalan dengan (dan memperkuat) apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an ini: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahlulbait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya. [Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 33].

Bagaimana dengan riwayat ‘Hadis Tsaqalain’ dari kalangan Islam Syiah? 

Rupanya, di kitab rujukan Muslimin Syiah, banyak dinukil hadis tentang itu. Di antaranya, adalah yang berikut ini: .

“..dan aku (Nabi saw) akan menanyakan kepada kalian apa yang kalian lakukan dengan Ats Tsaqalain sepeninggalku maka perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya ketika aku telah pergi. Mereka berkata “apakah Tsaqalain itu wahai Rasulullah?”. Beliau berkata “Tsaqal Al Akbar yaitu Kitab Allah ‘azza wajalla yaitu Tali yang terbentang dari Allah dan dariku di tangan kalian, ujung yang satu di Tangan Allah dan ujung yang lain ada di tangan kalian, di dalamnya terkandung ilmu mengenai perkara yang lalu dan perkara yang akan datang hingga hari kiamat. Dan Tsaqal Al Asghar adalah Haliif [sekutu] Al Qur’an dan ia adalah Aliy bin Abi Thalib dan keturunan-nya [‘alaihimus salaam], keduanya tidak akan berpisah sampai kembali kepadaku di Al Haudh. 

Selengkapnya dapat dibaca pada tautan (link) ini.

Baca juga analisa berikut (PDF File): Analisis Hadis ‘Kitabullah wa Sunnati‘.

Ayat Tathir QS 33-33

Ayat Tathir QS 33-33

Pembaca dapat juga menengok rujukan lain mengenai hal ini di sini:

Lihat juga video yang lain dari Sayed Dr Ammar Nakhshawani: 

  • Menyatukan Sunni dan Syiah: Berpegang pada Hadis yang sama yang juga dinyatakan dalam Sahih Muslim (9 menitan). — rujuk juga teks hadis yang ada di Sunnah.Com (klik link ini).

 

Selanjutnya, inilah yang diceritakan dalam Hadis Muslim, sebagaimana dikatakan Sayed Ammar dalam video di atas (maaf dalam bahasa Inggris):

Yazid b. Hayyan reported, I went along with Husain b. Sabra and ‘Umar b. Muslim to Zaid b. Arqam and, as we sat by his side, Husain said to him:

Zaid. you have been able to acquire a great virtue that you saw Allah’s Messenger (ﷺ) listened to his talk, fought by his side in (different) battles, offered prayer behind me. Zaid, you have in fact earned a great virtue. Zaid, narrate to us what you heard from Allah’s Messenger (ﷺ). He said: I have grown old and have almost spent my age and I have forgotten some of the things which I remembered in connection with Allah’s Messenger (ﷺ), so accept whatever I narrate to you, and which I do not narrate do not compel me to do that. He then said: One day Allah’s Messenger (ﷺ) stood up to deliver sermon at a watering place known as Khumm situated between Mecca and Medina. He praised Allah, extolled Him and delivered the sermon and. exhorted (us) and said: Now to our purpose.
O people, I am a human being. I am about to receive a messenger (the angel of death) from my Lord and I, in response to Allah’s call, (would bid good-bye to you), but I am leaving among you two weighty things: the one being the Book of Allah in which there is right guidance and light, so hold fast to the Book of Allah and adhere to it. He exhorted (us) (to hold fast) to the Book of Allah and then said: The second are the members of my household I remind you (of your duties) to the members of my family. He (Husain) said to Zaid: Who are the members of his household? Aren’t his wives the members of his family? Thereupon he said: His wives are the members of his family (but here) the members of his family are those for whom acceptance of Zakat is forbidden. And he said: Who are they? Thereupon he said: ‘Ali and the offspring of ‘Ali, ‘Aqil and the offspring of ‘Aqil and the offspring of Ja’far and the offspring of ‘Abbas. Husain said: These are those for whom the acceptance of Zakat is forbidden. Zaid said: Yes.
Sumber tulisan bahasa Inggris di atas ada pada link (tautan) ini, yang merujuk pada kitab Sahih Muslim:
  • Sahih Muslim 2408 a, Book 44, hadith 55, dan
  • USC-MSA web (English) reference: Sahih Muslim, Book 31, Hadith 5920.
Persatuan Sunni-Syiah

Persatuan Sunni dan Syiah: terancam tangan-tangan zionis yang ingin memecah-belah

Berikut ini bunyi hadis yang serupa dari beberapa kitab (Sunni) — maaf dalam bahasa Inggris lagi:

The Messenger of Allah (S) said: “I am leaving for you two precious and weighty Symbols that if you adhere to BOTH of them you shall not go astray after me. They are, the Book of Allah, and my progeny, that is my Ahlul-Bayt. The Merciful has informed me that These two shall not separate from each other till they come to me by the Pool (of Paradise).”

Sunni references:

1. Sahih al-Tirmidhi, v5, pp 662-663,328, report of 30+ companions, with reference to several chains of transmitters.

2. al-Mustadrak, by al-Hakim, Chapter of “Understanding (the virtues) of Companions, v3, pp 109,110,148,533 who wrote this tradition is authentic (Sahih) based on the criteria of the two Shaikhs (al-Bukhari and Muslim).

3. Sunan, by Daarami, v2, p432

4. Musnad, by Ahmad Ibn Hanbal, v3, pp 14,17,26,59, v4, pp 366,370-372, v5, pp 182,189,350,366,419

5. Fadha’il al-Sahaba, by Ahmad Ibn Hanbal, v2, p585, Tradition #990

6. al-Khasa’is, by al-Nisa’i, pp 21,30

7. al-Sawa’iq al-Muhriqah, by Ibn Hajar Haythami, Ch. 11, section 1, p230

8. al-Kabir, by al-Tabarani, v3, pp 62-63,137

9. Kanz al-Ummal, by al-Muttaqi al-Hindi, Chapter al-Iti’sam bi Habl Allah, v1, p44.

10. Tafsir Ibn Kathir (complete version), v4, p113, under commentary of verse 42:23 of Qur’an (four traditions)

11. al-Tabaqat al-Kubra, by Ibn Sa’d, v2, p194, Pub. by Dar Isadder, Lebanon.

12. al-Jami’ al-Saghir, by al-Suyuti, v1, p353, and also in v2

13. Majma’ al-Zawa’id, al-Haythami, v9, p163

14. al-Fateh al-Kabir, al-Binhani, v1, p451

15. Usdul Ghabah fi Ma’rifat al-Sahaba, Ibn al-Athir, v2, p12

16. Jami’ al-Usul, Ibn al-Athir, v1, p187

17. History of Ibn Asakir, v5, p436

18. al-Taj al-Jami’ Lil Usul, v3, p308

19. al-Durr al-Manthoor, al-Hafidh al-Suyuti, v2, p60

20. Yanabi al-Mawaddah, al-Qundoozi al-Hanafi, pp 38,183 21. Abaqat al-Anwar, v1, p16

… dan banyak lagi yang lainnya…

Advertisements
 

Tags: , , , , , ,

4 responses to “Soal hadis ‘Qur’an dan Sunnah’ itu

  1. eri - Bantul

    30/05/2015 at 8:09 am

    Alhamdulillahirabbil ‘alamin

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: