RSS

Pengin Bahagia? Optimislah!

19 Jan

Kehidupan kita sekarang rasanya menyesakkan dada. Puluhan kasus korupsi, geng motor, pembunuhan, perkosaan, radikalisme atas nama agama, peristiwa Mesuji dan Bima, perseteruan dalam partai politik, dan banyak lainnya, membuat hati kecut.

Banyak orang lantas menjadi pesimis, seolah tidak ada lagi harapan dan masa depan. Banyak orang jadi apatis – sehingga tak heran bila banyak yang lebih memilih ‘golput’ pada pemilihan kepala daerah.

Tulisan lain tentang KEBAHAGIAAN: klik di sini.

Padahal, tidakkah seharusnya semangat optimisme mesti terus dipompa dan ditularkan? Saat bicara di kantor, di kendaraan, di caf atau warung kopi, tidakkah sebaiknya kita juga melihat banyak hal dari sisi positif, ketimbang hanya dari sudut pandang yang negatif?

Optimisme: kunci sukses dan bahagia

Banyak yang menganjurkan agar orang bicara optimisme – melihat gelas ‘setengah penuh’, ketimbang hanya melihatnya sebagai ‘setengah kosong’.

Artikel aslinya berjudul, “Menyebarkan Optimisme”, dimuat dalam rubrik Celah, media online ‘Inilah.Com’, Jumat 20 April 2012.

Sebab hanya dengan begitu, kata banyak orang, kita bisa meraih kebahagiaan. Dan siapa sih yang tidak ingin bahagia?

Sebab, hanya pada mereka yang menyimpan optimisme saja lah berbagai hal bisa diselesaikan secara baik. Hanya pada pemimpin yang penuh optimisme sajalah inovasi dan kreatifitas bisa dikembangkan untuk menyelesaikan pelbagai persoalan.

Orang sering menyamakan optimisme dengan kebahagiaan (happiness), tetapi sesungguhnya optimisme itu bukan perasaan. Optimisme adalah keyakinan (belief) mengenai masa depan.

Orang yang optimis percaya bahwa akan lebih banyak hal baik terjadi kepadanya ketimbang hal-hal buruk, bahwa segalanya akan berjalan sesuai dengan yang diharapkannya, bahwa masa depan adalah positif, dan ketidakpastian merupakan kesempatan merebut yang terbaik ketimbang yang terburuk.

Begitu banyak alasan untuk optimis – tokoh-tokoh besar dunia pasti optimis

Makin positif sikap seseorang, makin besar harapannya mengalami masa depan yang positif, makin luas pandangannya. Orang-orang optimis mendapatkan lebih banyak kesenangan pada kehidupan sehari-hari, mereka lebih tahan pada berbagai benturan, stress dan lika-liku kejutan tak enak yang sering muncul secara tak terduga dalam hidup. Mereka memiliki hubungan (relationship) yang lebih baik dengan banyak orang, dan bahkan mungkin sekali secara fisik lebih sehat.

Pada gilirannya, seluruh outcome positif di atas secara alamiah akan membangkitkan harapan bagi munculnya masa depan yang (minimal) sama positifnya atau bahkan lebih baik lagi.

Seorang guru yang optimis, misalnya, cenderung memiliki sifat yang akan mengkonfirmasi keyakinannya mengenai kekuatan (semangat)-nya dalam mendidik, sehingga siswanya pun memetik hasil yang lebih baik.

Begitu pula, seorang atlit yang optimis cenderung mewujudkan semua gol-nya, yang kemudian mengarahkannya kepada keyakinan yang lebih kuat bahwa ia akan berhasil.

Perenang wanita AS, Florence May Chadwick membuktikan hal itu. Ia adalah wanita pertama yang berhasil menyeberangi Selat antara Perancis dan Inggris dua kali bolak-balik pada 1950.

Pada 1962, wanita kelahiran 1918 itu pernah menyeberangi Selat Catalina, antara Pulau Catalina dan pantai Palo Verdes (California), yang berjarak 26 mil. Kondisi laut di selat itu penuh dengan hiu dan kabut yang sangat tebal.

Pada awal penyeberangan, sesudah 16 jam berenang Florence mulai meragukan dirinya. Ia menyerah, karena tak melihat garis pantai di ujung sana. Tentu saja ia kesal. Setelah kembali ke atas perahu kecil yang mendampinginya selama 16 jam itu, ternyata pantai hanya tinggal satu mil di depannya.

Tetapi sebagai seorang yang optimis, ia tidak menyerah. Dua bulan kemudian Florence mencoba lagi. Dalam kabut yang sama pekatnya dan belasan ikan hiu di sekitarnya, Florence berhasil mencapai pantai California itu.

Sebabnya satu, “Saya menyimpan bayangan image garis pantai di benak saya selama berenang,” katanya. Sejak itu, sang perenang jarak-jauh terbesar wanita itu menjadi wanita pertama yang berhasil menyeberangi Selat Catalina.

Florence Chadwick: optimisme adalah syarat bagi juara

Optimisme merupakan sebuah dimensi kepribadian (personality) — yang bisa dikaitkan dengan makin bahagia dan sehatnya seseorang. Tetapi harus diingat bahwa untuk kebahagiaan dan kesehatan itu masih ada faktor-faktor seperti kesuksesan, kebersihan, disiplin dan beberapa faktor lainnya.

Mereka yang terbuka (extrovert) lebih bahagia, sedangkan orang yang ‘kasar’ lazimnya kurang bahagia. Mereka yang merasa aman (secure) lebih bahagia, sementara yang sering cemas kurang bahagia.

Diperkirakan 25 prosen optimisme merupakan warisan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa faedah optimisme itu tak bisa diperoleh jika orang hanya ‘merasa dalam keadaan optimis’, karena optimisme yang sesungguhnya hanya bisa diraih dengan ‘melakukan’ sesuatu. Dengan kata lain, Anda mesti menjalaninya.

Semua keyakinan optimistik akan berfungsi menjadikan kaum yang optimis hidup lebih baik, karena mereka ‘menciptakan’ suasana bagi dirinya dan orang-orang sekitarnya ke dalam situasi ‘positif’.

Itu bukan berarti orang optimis tidak pernah gagal. Tetapi, mereka yang optimis tidak mudah menyerah. Mereka lazimnya lebih tahan (persistent) dalam mengerjakan berbagai hal, termasuk saat menghadapi tantangan – karena keyakinan pada adanya harapan terhadap hasil positif (positive outcome expentancies).

Cinta lebih baik ketimbang kemarahan; Optimisme lebih baik daripada putus asa.

Tentu saja itu bukan hanya terjadi sekali-sekali, melainkan terus dipelihara sepanjang waktu. Boleh jadi pada hari Senin seorang optimis gagal melakukan sesuatu, tetapi hari Selasa, Rabu dan seterusnya, dan bulan-bulan berikutnya, ia tetap menunjukkan sikap dan berlaku optimistik.

Begitulah, orang optimis akan memelihara sikapnya, dan berusaha merealisasikan tujuan-tujuan (gol) hidupnya. Dari penelitian terhadap ribuan mahasiswa di Amerika, guru besar psikologi dari University of Kentucky, Suzanne Segerstrom melihat bahwa mahasiswa yang optimis dan pesimis tidak berbeda dalam melihat pentingnya ‘tujuan’ bagi mereka. Rata-rata seluruh mahasiswa menetapkan angka 4,1 (dari skala 1 sampai 5) mengenai betapa ‘pentingnya’ cita-cita bagi mereka.

Tetapi, beda dengan yang optimis, mereka yang pesimis hanya menetapkan pentingnya tujuan, tanpa menunjukkan komitmen mereka, dan tidak meyakini bahwa mereka bisa meraihnya. “Konsekuensinya, kaum pesimis jarang sekali menunjukkan progress terhadap pencapaian tujuan. Mereka lebih sering berhenti mengejar cita-cita itu, baik untuk sementara waktu, menundanya, atau pun meninggalkannya secara total,” kata Suzanne.

Beda halnya dengan kaum optimis; mereka tahu bahwa mengharapkan sebuah kesuksesan adalah sebuah ‘self-fulfilling prophecy,’ – pemenuhan apa yang diinginkan diri. Artinya, mereka yang punya keyakinan optimistik percaya kepada tujuan (gol) yang mereka tetapkan, bekerja lebih keras meraih tujuan itu, sehingga menyiapkan diri mereka naik tangga meraih sang keberhasilan itu. Oleh karena itu, maka bayangan ‘memenuhi apa yang diinginkan diri’ itu bisa terwujud.

Bahkan dalam hubungan persahabatan, orang optimis menunjukkan perilaku yang sesuai dengan sikapnya itu. Banyak penelitian membuktikan mereka yang optimis punya lebih banyak teman dan jaringan yang lebih luas. Ini karena mereka melakukan lebih banyak usaha dan ‘investasi’ terhadap kawan baru dan membina hubungan baik dengan jejaring mereka. Makin banyak usaha yang ia lakukan dalam hubungan sosial, makin banyak hubungan yang ia peroleh.

Senyum seorang optimis: Menyebar. Menular…

Sebuah studi membuktikan bahwa makin banyak jumlah panggilan telepon dan jumlah surat dibuat oleh mereka yang optimis, makin banyak acara yang mereka hadiri, makin banyak tetangga yang mereka kenal, dan seterusnya. Oleh karena itu rata-rata mereka lebih bahagia.

*) Konsultan komunikasi, wartawan, dosen komunikasi di Universitas Paramadina. http://www.syafiqb.com. [mor]

Advertisements
 

Tags: , ,

7 responses to “Pengin Bahagia? Optimislah!

  1. Fajar Satria

    30/05/2012 at 10:33 pm

    saya sangat setuju dengan posting yang pak syafiq buat tentang optimisme ini, memang kegagalan selalu akan terjadi ke siapapun, termasuk saya pribadi, tetapi ketika saya terus mencoba dan bersikap optimis, alhamdulillah saya mendapatkan hasil yang terbaik. pengalaman yang saya rasakan tentang rasa optimis ketika di perkuliahan, adalah ketika saya mengikuti kepanitiaan sekaligus peserta di pameran fotografi di Universitas Paramadina minggu kemarin, pada saat pak Anies Baswedan memilih foto mahasiswa yang lain sebagai foto favorit, saya merasa terserang rasa down, dan tadinya saya memutuskan untuk berdiam diri dan termenung, tetapi saya tidak jadi melakukan hal tersebut, dan tetap menjalankan tugas saya sebagai panitia dengan semangat. dan ternyata ada manfaat dari itu semua, saya mendapatkan teman baru, dan dia adalah mahasiswi dari Universitas arab yang sedang kunjungan ke kampus paramadina dan tertarik untuk mengetahui hasil karya fotografi saya :D, setelah hari pertama pameran fotografi berakhir, saya berpikir, “mungkin kalau gue tadi ngedown dan duduk termenung di pojokan ga jelas, mungkin gue ga dapet temen baru hari ini. rasa optimis itu memang sangat bermanfaat, terutama dalam kehidupan sosial, seperti yang ada di tulisan pak syafiq 🙂

     
  2. mieke1506

    28/04/2012 at 6:26 am

    Terima kasih. Saya jadi bersemangat untuk belajar menulis.

    Konon, seorang dokter anak yang jengkel pada ibu pasien, yang mengatakan bahwa anaknya sulit makan (ini keluhan umum ibu-ibu yang mempunyai anak balita), “dilepeh (dimuntahkan lagi) terus, Dok” berkata: “Berapa suapan yang sudah Ibu coba?” Si Ibu sedikit kaget, menjawab terbata-bata (ini improvisasi saya): “Lima kali sih ada, Dok.” Bu Dokter langsung menyambar: “Nah, coba terus. Siapa tahu pada suapan yang ke-10 tidak ia lepehkan lagi” begitu katanya.

    Saya pernah baca bahwa cara anak kecil (toddler) belajar, khususnya belajar berjalan, adalah contoh sikap optimis sejati. Jatuh – bangun – jatuh – bangun – . . . . . .TIdak ada anak kecil yang kapok mencoba berdiri (kecuali jika ia berhambatan – anatomis atau psikologis), untuk selanjutnya melangkah setapak demi setapak – lebih banyak jatuh ketimbang berhasil – lalu berjalan dan . . . . berlari, meskipun untuk jatuh lagi.

    Saya pernah mencontohkan biografi Helen Keller pada murid-murid saya, berharap menumbuhkan optimisme mereka. Masa kita yang dikaruniai indra sempurna tidak bisa bersikap lebih optimis daripada dia. Apalagi kalau kita ingat bahwa putus asa adalah dosa . . . . Salam

     
    • Syafiq Basri

      30/04/2012 at 12:46 am

      Menarik sekali komentar Teh Mieke. Helen Keller itu pasti menarik jika ditulis bigorafinya Teh. Ayo dong. Tapi nanti jangan lupa share ya.. Nuhun juga.

       
  3. -Jeany Chen- 이준나

    26/04/2012 at 12:39 pm

    Berbicara mengenai optimis, apalagi ditambah ada foto “Albert Einstein” yang bapak masukkan diatas. Saya teringat dengan beberapa “quotes” beliau yang sangat memotivasi saya. Einstein pernah berkata, ” I think and think for months and years. Ninety-nine times, the conclusion is false. The hundredth time I am right”. Ya, kita tidak akan pernah tahu bahwa kapan kegagalan berhenti datang apabila kita menyerah. Seringkali kita merasa jauh dari keberhasilan. Kita menjadi pesimis ketika kegagalan itu datang. Padahal, mungkin kita sudah selangkah lebih dekat dengan keberhasilan itu sendiri. Siapa tahu dengan mencobanya sekali lagi, kita berhasil. Itulah prinsip dari Einstein, yang kita semua ketahui sosoknya sebagai orang yang sangat berpengaruh di dunia, baik dalam pendidikan maupun filsafat. Saran saya, optimis tidak hanya diberlakukan untuk hal-hal hebat dan besar. Dalam agama Kristen, saya juga diajarkan bahwa, “Barang siapa setia dengan perkara kecil, maka ia dapat dipercayakan Tuhan untuk melakukan perkara yang besar”. Einstein juga mempertegas hal ini dengan mengatakan, “Anyone who doesn’t take truth seriously in small matters cannot be trusted in large ones either”. Jadi kalau mau membangun sebuah negara yang sejahtera, pemerintah, media dan masyarakat harus optimis untuk menuntaskan dulu masalah-masalah yang kecil. Jika masalah di dalam rumah, daerah atau kotanya sendiri saja belum beres, bagaimana bisa membereskan masalah negara? Mulai dari hal kecil. Hargai hal kecil sebagai sebuah permulaan untuk menguji kemampuan kita, dan lambat laun kita akan mulai terbiasa menemukan solusi untuk hal-hal yang lebih besar. Jika boleh berbagi, hal inilah yang membuat saya “stay survive” dan sering kali berhasil dengan baik dalam study saya. Tidak pernah menyepelekan tugas yang kecil sekalipun dan selalu memberi yang terbaik dalam setiap hal apapun, bahkan yang paling kecil dalam hidup saya, itulah saya dalam menerapkan optimisme.

     
    • Syafiq Basri

      27/04/2012 at 1:29 am

      Terima kasih, Jeany.
      Setuju, kita mesti memulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, kemudian menularkan optimisme itu kepada keluarga, kawan dan orang banyak.

       
  4. mieke1506

    22/04/2012 at 5:17 pm

    Konon, pada dasarnya, orang melihat apa yang ingin dilihatnya. Jadi, di tengah-tengah carut-marutnya negara Pak Kiwir (untung bukan negaraku), selalu terlihat celah, selalu ada harapan untuk memperbaiki keadaan – bagi mereka yang optimis. Kalaupun kita tidak berkekuatan mengubah orang lain atau suatu keadaan, namun kita selalu dapat mengendalikan/mengubah diri kita sendiri – bila mau. Yang mungkin berat adalah jika kita “berjuang” sendirian. Oleh karena itu, jangan menyendiri (samar-samar saya ingat pada kalimat “Tangan Allah beserta jamaah”); namun ada baiknya juga mengingat “It’s better to be alone than with a bad companion.”
    Maaf, saya sedang belajar mengetik sepuluh jari dengan cepat. Jadi saya memanfaatkannya untuk menulis di sini. Salam

     
    • Syafiq Basri

      22/04/2012 at 7:41 pm

      Tuh, benar kan kata saya (di komentar page ‘Saling Belajar’) : Anda punya bakat menulis yang bagus sekali. Menulis cepat dengan 10 jari saja sudah bisa sebaik itu, apalagi kalau dilakukan secara perlahan dan hati-hati –pasti isinya makin nge-‘jreng’ dan bernas!
      Terima kasih dan salam juga.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: