RSS

Memang Nabi Punya Keluarga?

04 Dec

Al-Quran dan Keluarga Nabi

Saya merasa ada yang aneh dengan umat ini. Dalam banyak ceramah dan pengajian, kita jarang mendengar ulama menceritakan tentang keluarga Nabi SAW. Seolah Rasul terakhir itu hidup seorang diri, tidak punya keluarga, tidak punya anak atau cucu, dan hanya memiliki sejumlah sahabat.

ahlul_bayt-perahu-nuh

Hadis Nabi SAW: “Ahlil-Baitku ibarat perahu Nabi Nuh; siapa yang naik ke atasnya akan selamat; dan yang tinggal (tidak menumpanginya) dimasukkan Neraka.”

 

Rupanya sikap itu menggejala akibat kekurangtahuan, atau gara-gara terbatasnya buku (sumber) bacaan yang menceritakan mengenai keluarga Nabi itu. Atau, lebih tepat seperti yang dikatakan kawan saya, “mungkin sekali memang ada upaya dari ‘kaki-tangan Bani Umayyah’, yang memusuhi keluarga Nabi SAW, untuk membatasi, bahkan melarang, pembahasan mengenai keluarga Nabi SAW, atau lebih gawat lagi, memelintir, mereduksi dan mempolitisir konsep kecintaan itu sebagai ‘bukan ajaran Ahlus-Sunnah‘ atau, lebih gawat lagi, ‘bukan dari Islam’.

This slideshow requires JavaScript.

Memang Bani Umayyah sudah lama punah, tapi ideologinya terus menggelinding hingga jaman kita sekarang — misalnya melalui gerakan Wahhabi-Salafi-Takfiri. Dan salah satu strategi mereka yang benci keluarga Nabi itu adalah: menjauhkan umat Islam dari keluarga (Ahlul-Bait, atau Ahlul Bayt) Nabi SAW. Jangankan mencintai, banyak dari kita mungkin sama sekali tidak mengenal mereka, dan kita digiring agar meyakini bahwa seolah itu ‘bukan bagian dari ajaran Islam’. Astaghfirullah.

Lihat juga tentang Bahaya Wahhabisme di tulisan ini:

quran-and-ahlulbayt

Hadis Tsaqalain di Kitab Sahib Muslim (Sunni): Perintah agar umat berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Ahlul-Bait Nabi saw.

 

 

Padahal di banyak buku karya ulama Ahlus-Sunnah (Sunni), banyak sekali terdapat hadis mengenai hal itu — sehingga siapa saja yang mau bersikap obyektif dapat mengungkapkannya secara mudah. Satu di antaranya adalah yang dijelaskan melalui video di bawah ini.

Video berikut menjelaskan secara tuntas mengenai hal itu, sebagaimana dimuat dalam kitab ‘Faidul Ghadir Syarah Jami’us Shogir’, yang ditulis oleh Al-Manawi (diterbitkan ‘Darul Fikr’, tahun 2006, jilid 3 halaman 18):

Alamah Al-Manawi memberikan penjelasan tentang hadis “Inni Tarikum fiikum Khalifatayn…dst” yang artinya : “Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua khalifah, kitab Allah (Al-Qur’an), yang merupakan tali yang terbentang antara langit dan bumi, dan ithrah-ku, Ahlulbayt-ku (keluargaku); Sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya datang di Telaga Haudh.

 

 

Di dalam menjelaskan hadis tersebut, Al-Manawi menukil kalimat dari Al-Qurthubi yang bermadzhab Maliki (satu di antara 4 mazhab Ahlus Sunnah). Ini di antara yang dikatakan Al-Qurthubi: “Dan wasiat ini (saya tinggalkan kepada kalian dua khalifah…) serta penekanan yang sangat besar ini menunjukan wajibnya menghormati keluarga Nabi saw, berbuat baik kepada mereka, memuliakan mereka, dan bahwa mencintai mereka merupakan kewajiban yang sangat ditekankan, yang mana tidak ada alasan bagi seorangpun untuk menentang hal tersebut.

Terkait wasiat (hadis) Nabi SAW mengenai ‘Dua Hal Besar’ (Tsaqalain), bisa juga disaksikan pada video berikut (minimal Anda bisa menyimak bagian yang dimulai pada menit ke 2.30 dan seterusnya): 

Sesungguhnya telah diketahui (bahwa kekhususan mereka di sisi Nabi saw), disebabkan mereka adalah bagian dari Nabi saw, maka mereka adalah pokok (akar) dari Nabi saw yang mana Nabi saw berasal dari mereka; dan keluarga Nabi adalah cabang-cabangnya yang berasal dari Nabi saw, sebagaimana sabda Nabi saw : “Fathimah (putri beliau) adalah belahan jiwaku“.

Baca juga: Ternyata 6 Kitab Utama Hadis Tidak Meriwayatkan Hadis Tsaqalain yang Biasa Kita Dengar.

Berkenaan dengan itu, Bani Umayyah menanggapi wasiat Nabi saw tersebut dengan pembangkangan dan kedurhakaan. Mereka (Bani Umayyah) menumpahkan darah para Ahlulbayt, menawan wanita-wanita dan anak-anak Ahlulbayt Nabi saw, serta menghancurkan rumah-rumah mereka, dan mengingkari kemuliaan keluarga Nabi SAW itu.

Bani Umayyah membolehkan mencaci dan melaknat Ahlulbayt. Secara jelas Bani Umayyah telah menentang wasiat Al-Musthofa (SAW); mereka justru melawan wasiat Rasulullah itu. Alangkah malunya mereka (Bani Umayyah) pada saat mereka berada di hadapan Rasulullah saw kelak di hari kiamat.

This slideshow requires JavaScript.

 

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: