RSS

Catatan dari Penggantian Anies

06 Aug

Anies bsma Jokowi

Anies Baswedan bersama Jokowi dan anak=anak sekolah.

Sejak perombakan kabinet 27 Juli lalu, masih ramai respons bermunculan dari sana-sini. Di antara yang paling ramai, yang paling banyak dikomentari adalah penggantian Anies Baswedan.

Dicopotnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu ditanggapi secara beragam. Yang paling menyentuh adalah protes para relawan dan peminat pendidikan, orang-orang muda yang bergelut membantu membenahi ruwetnya masalah pendidikan tanpa pamrih.

Tulisan ini aslinya dimuat pada Koran Sindo, Jum’at 5 Agustus 2016 (klik di sini).

Para relawan itu mengaku tidak membela Anies karena alasan personal (sehingga tidak bisa berpikir kritis lagi), melainkan karena memperjuangkan value bersama untuk ”memanusiakan manusia” di bidang pendidikan. Sejak awal mereka sudah tegas kepada Anies bahwa mereka akan membantu pejabat publik yang amanah selama on the track.

Anies bersama Jokowi dan JK - Foto Antara

Anies bersama Jokowi dan JK.

 

 

Dalam 20 bulan kepemimpinan Anies, jejaring mereka (yang peduli pada masalah pendidikan) yang telah dimulai sejak sebelum Anies menjabat sebagai mendikbud terus berkembang dari Sabang sampai Merauke. ”Sehingga bermunculanlah demikian banyak anak muda yang mencintai Indonesia dan menaruh harapan besar pada pemerintahan sekarang,” tulis relawan Ifa H Misbach di Facebook-nya, 29 Juli 2016 lalu.

Kata Ifa, harapan yang membuncah itu terutama karena melalui otoritasnya sebagai mendikbud, Anies berhasil membuka ruang-ruang kolaborasi ”gerakan teman-teman pendidikan” bersama jajaran birokrat Kemendikbud. Tidak hanya itu. ”Seumur-umur kami baru melihat adanya kolaborasi antara artis, musisi, seniman, atlet, desainer, guru, kepala sekolah, dan banyak profesi lain terlibat di Hari Pendidikan 1 Mei 2016 lalu dalam suasana kekeluargaan dan mengusung semua praktik yang sangat layak untuk diapresiasi dan bukan dalam lomba kompetisi yang mengedepankan ego,” tambah Ifa.

Di tulisan Facebook yang dishare ulang oleh 490 orang itu, Ifa juga menuliskan beberapa catatan terobosan yang dilakukan Anies dan jajarannya. Dia menghimpunnya dari beberapa relawan dan pegiat pendidikan lain seperti Bukik Setiawan, Ipong Witono, Kreshna Aditya, Najelaa Shihab, Henny Supolo, dan Nelly Maria Samosir.

Di antara terobosan itu adalah ”desakralisasi ujian nasional” (yang tidak lagi dipakai sebagai syarat kelulusan, melainkan akan dikembalikan fungsinya sebagai alat pemetaan), penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013 yang setengah matang, agar bisa dievaluasi dan direvisi kembali, dan penguatan peran orang tua (yang selama ini diabaikan negara) sebagai pilar pendidik pertama dan utama.

Lalu ada program pelibatan publik secara luas untuk peduli bahwa pendidikan adalah gerakan bersama dan bukan hanya tanggung jawab birokrat pendidikan (pemerintah) sendiri. Terobosan berikutnya adalah penghapusan kekerasan dan perpeloncoan pada Masa Orientasi Studi (MOS) di sekolah, penumbuhan spirit kebangsaan dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang mewajibkan siswa membaca buku nonpelajaran selama 15 menit setiap hari.

Anies Baswedan bersama publik di Semarang

Anies di acara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah

Langkah sangat penting lainnya adalah taktik menekan bujet pendidikan di lingkup internal Kemendikbud. Biaya anggaran yang selalu membengkak sejak puluhan tahun lalu kini bisa ditekan secara sangat signifikan.

Taktik yang dilakukan Anies dan jajarannya adalah dengan menggandeng ”relawan senyap” saat mereka melaksanakan focus group discussion (FGD) bersama para orang tua yang sebelum ini rentan mengalami diskriminasi di bidang pendidikan.

FGD itu kini dilakukan di penjara anak, rumah-rumah kumuh dan sekolah, berbeda dengan kebiasaan lama di Kemendikbud yang biasa melakukan kegiatan serupa lewat paket meeting di hotel mewah. Dengan anggaran sangat murah ala relawan itu, hasil FGD berhasil menelurkan alasan untuk mengubah kebijakan.

Mengantar Anak ke Sekolah 

 

Jadi mengapa Anies diganti? Itu karena jatah Mendikbud lazimnya adalah untuk tokoh Muhammadiyah sehingga tidak aneh bila pengganti Anies adalah Muhadjir Effendy yang memimpin Universitas Muhammadiyah Malang sejak 2000 hingga 2016. Alasan lain, kabarnya, karena pelaksanaan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) kurang berjalan dengan baik. Tentu saja ini sulit diterima. Karena, sebagaimana dimuat media, hingga 21 Juli 2016 lalu, sudah lebih dari 93% dari 17,9 juta KIP diterima siswa di seluruh Indonesia.

Anies bsma siswa SDN 01 Lebak Bulus pagi - foto Antara

Anies dan anak-anak SD.

Meski Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung tidak memberikan penjelasan alasan pencopotannya, konon Anies sendiri tidak bertanya lagi kepada Presiden Jokowi kenapa dia diganti. Anies memilih diam, sebab jika bertanya, saya pikir justru jawabannya nanti bisa jadi semacam ”fatwa” bagi Anies— dan lagipula Presiden (kalau mau) bisa mencari pembenaran apa saja.

Yang jelas, waktu ditanya apakah Anies menginginkan posisi lain setelah diganti, secara berkelakar Anies menunjukkan sikap bahwa dirinya tak pernah menginginkan posisi baru. Karena terpikir akan adanya reshuffle terhadap dirinya pun tidak pernah. Yang jadi sebab banyaknya protes orang terhadap penggantian Anies adalah karena tingginya kepercayaan (trust) orang kepada mantanRektorUniversitas Paramadina itu.

Hasil survei Indo Barometer 8 Oktober 2015 menunjukkan Anies memperoleh angka kepuasan publik sebesar 54,2%, mengalahkan beberapa menteri lain. Anies hanya kalah oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saja. Bisa dipastikan, tingginya kepuasan publik yang berjalan paralel dengan trust itu muncul karena banyaknya terobosan yang telah dilakukan Anies di kementeriannya.

Semua terobosan di atas hingga Juli lalu kelihatan amanaman saja. Baru belakangan, sekitar 10 hari sebelum reshuffle itu, ketika Anies mengajak orang tua mengantar anak pada hari pertama sekolah, muncul teori bahwa gerakan itu bisa ”membahayakan”. Gerakan Hari Pertama Sekolah yang menyinergikan orang tua dan guru dalam mendidik anak itu berhasil melibatkan jutaan orang dari berbagai latar belakang sosial politik ekonomi untuk bergerak bersama.

Hari Pertama Sekolah - Trending Topic di Twitter

Sebagaimana ditulis ‘Bintang’, tanda-pagar (hashtag) #HariPertamaSekolah sempat menduduki ranking pertama trending topic di Twitter 

Lewat gerakan mengantar anak ke sekolah itu, puluhan juta orang, lelaki dan wanita, tua dan muda, nyaris ”tidak kelihatan” secara kasatmata, secara masif dan serempak bergerak bersama- sama. Memang bisa saja gerakan sosial yang murni demi masa depan anak-anak bangsa itu dianggap bermuatan politik, lalu kemudian ditempelkan label ”gerakan yang membahayakan”.

 

foto-mantan-menteri-pendidikan-anies-baswedan-mengantarnya-anaknya-sekolah_20160801_163100

Dengan sepeda motor Anies mengantar anak ketiganya, Kaisar Hakam, ke SD Lazuardi, di bilangan Cinere.

Entah apa yang ada dalam benak Anda, saya sendiri jujur tidak tahu di mana bahayanya. Yang jelas seolah ada kekhawatiran jika ini dibiarkan, Anies bisa menjadi semacam lokomotif. Atau, kalau kata teman saya, barangkali Anies jadi seperti ”anak macan” yang sewaktuwaktu bisa menerkam majikannya.
Saya justru tidak sependapat dan menimpalinya, ”Bukankah justru jika ingin aman, Anda harus mengurung anak macan itu di dalam kandang daripada membiarkannya lepas dan kelak akan muncul lagi sebagai harimau?” Lagipula, bukankah, kalau mau, ”menjadi harimau” itu mudah bagi motivator dan tokoh inspiratif yang gemar turuntangan seperti Anies? Bukankah tempo hari sebelum jadi menteri pun ia sudah berhasil menggerakkan ribuan sarjana dan anak muda di Indonesia lewat Gerakan Indonesia Mengajar?
 

Setelah tak lagi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan banyak mengisi harinya bersama keluarga. Senin, awal Agustus lalu, misalnya, banyak wartawan dan netizen menceritakan kegiatan Anies sedang mengantar anak ketiganya dengan sepeda motor. Dilengkapi helm, Anies mengenakan jaket hitam, sementara putranya, Kaisar Hakam, juga mengenakan helm, menggendong tas dan membawa kotak seperti tempat alat musik pianika. Kaisar kini duduk di kelas 6 SD Lazuardi, Cinere. Kepada wartawan (sebagaimana ditulis Detik), Anies bercerita bahwa di hari pertama anaknya sekolah, dia bersalaman dengan semua guru sebelum upacara bendera dilakukan. Oleh Wali Kelas Kaisar, Anies diberi kertas dokumen yang merupakan ‘panduan untuk orang tua murid’. Dokumen itu merupakan edaran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Unik juga rasanya menerima kit parenting dari direktorat yang yang dulu kami gagas di Kemdikbud. Kementerian memang harus ikut menyiapkan bahan untuk dipakai orang tua dalam mendidik anaknya,” kata Anies. Saat menjabat sebagai Mendikbud, Anies memang mengeluarkan kebijakan agar para orang tua murid mengantar anaknya di hari pertama sekolah. Kini dia pun mengantar anaknya sebagai seorang bapak. Sebenarnya, ketika masih menjabat menteri pun Anies sering mengantar anak-anaknya ke sekolah. Untuk mengantar Kaisar, yang sekolahnya ada di bilangan Cinere — sekitar 8 km dari rumah Anies di Lebak Bulus — Anies lebih sering memilih naik motor. “Naik motor karena lalu lintas dari Lebak Bulus ke Cinere amat padat. Jaraknya sekitar delapan kilometer. Naik motor saja perlu waktu 45 menit. Kalau naik mobil lebih lama lagi,” kata Anies.

Merawat Benih Pohon Besar 

Bagaimanapun kini nasi sudah menjadi bubur. Yang ada tinggal harapan kepada pengganti Anies, Muhadjir Effendy, agar ia meneruskan berbagai terobosan yang baik. Janganlah berharap hasilnya akan segera dipetik secara instan. Berbagai terobosan di atas masih berupa benih yang belum jadi buah untuk bisa dikunyah langsung.

Anies - Pilih Jalan Mendaki

Pendidikan adalah proses penebaran benih. Meminjam kalimat Ifa, memang mustahil semua benih merekah, tapi sebagian pasti tumbuh dan berkembang jika para guru dan orang tua meyakininya dan mereka juga bisa berperan untuk terus memeliharanya.

###

 

 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 06/08/2016 in Pemikiran

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: