RSS

Wah, Gara-gara Muawiyah, Banyak Hadis Yang Kontradiktif

20 May

Sunnah Nabi saw dan sejarah telah diselewengkan. Akibatnya, yang terjadi sekarang ini di dunia Islam, sejatinya merupakan akibat penyelewengan dan kampanye hitam tokoh terdahulu, utamanya Muawiyah bin Abu Sufyan.

Kita tahu bahwa berkembangnya sebuah pemikiran, ideologi atau mazhab (kredo) selalu berkaitan dengan kekuasaan. Suatu ideologi atau sekte (mazhab) suatu agama pada sebuah bangsa akan berkembang apabila penguasa bangsa itu mendukungnya.

Banyak contoh tentang itu. Komunisme berkembang di Rusia (Uni Sovyet dulu) karena penguasa di situ menggalakkan pemikiran Karl Marx dan sebagainya. Di Iran, Islam mazhab Syiah berkembang berkat kekuatan para penguasa negeri Persia itu cenderung lebih suka pada pemikiran mazhab tertua dalam Islam itu.

Demikian pula, di Arab Saudi orang banyak menganut paham Wahhabi (atau kadang disebut ‘Salafi’), karena penguasa Ibnu Saudi sejak dulu sangat getol membantu pengembangan pemikiran Muhammad Abdul Wahhab, pendiri Wahhabi.

Rupanya, di dalam sejarah Islam, perkembangan sebuah mazhab tidak bisa dilepaskan dari apa-apa yang dianut dan dipelajari para ulama dari kitab-kitab rujukan agama — termasuk kitab hadis — yang disediakan, diperbanyak atau dipromosikan penguasa di tempat itu.

Sejarah menunjukkan bahwa sebagian buku hadis yang dijadikan rujukan ulama di beberapa bagian negara Muslim ternyata banyak dipengaruhi oleh kekuasaan Muawiyah, sang pendiri Bani Umayyah yang dikenal benci pada Khalifah Ali bin Abithalib (ra), dan keluarga Nabi SAW. (Baca blog berikut: klik di sini).

Ali bin Abithalib as: kesalehan utama, setelah Nabi Muhammad SAW

Ali bin Abithalib as: kesalehan utama, setelah Nabi Muhammad SAW

Maka tidak heran, apabila sejak ratusan tahun lalu, ada sementara ulama yang kemudian ikut, atau ikut-ikutan, pada sikap permusuhan tersebut. Pada jaman Bani Umayah dulu, para khatib Jum’at di berbagai tempat seolah berlomba-lomba melaknat Ali bin Abi Thalib ra, dan mencaci-maki Ali dan Ahlulbait beliau.

Itulah sedikit latar belakang, mengapa di mata sebagian ulama, mazhab Syiah yang mengutamakan Sayidina Ali bin Abithalib ra dan Ahlul Bait Nabi saw, dikucilkan, dihujat, atau bahkan diserang dan difitnah dari kanan kiri.

Note: Yang patut dicatat, adalah bahwa, Ali adalah satu-satunya menantu Nabi saw, yang menikahi putri beliau Siti Fatimah ra, dan mereka bersama kedua putranya, Al-Hasan dan Al-Husain (ra) adalah anggota Ahlul Bait (keluarga inti) Nabi saw. Sedangkan Muawiyah putra Abu Sufyan adalah musuh bebuyutan Sayidina Ali, dan yang menyuruh orang (Abdulrahman bin Muljam) untuk membunuh Ali, sementara putra Muawiyah, Yazid, memerintahkan pembunuhan kepada Al-Husain (ra), putra Ali.

Tulisan yang dilansir dari blog Syeikh Hasan Farhan Al-Maliki ini menunjukkan bahwa seorang ulama ahli sejarah, Al-Madaini (Wafat pada 22 H) pernah mengatakan bahwa, Mu’awiyah menulis sepucuk surat yang ia kirim kepada seluruh aparat dan kaki-tangannya di berbagai wilayah kekuasaannya, yang di antaranya mengancam pada siapapun yang meriwayatkan hadis tentang keutamaan keluarga (Ahlul Bait) Nabi saw.

“Hilanglah kekebalan bagi seseorang yang meriwayatkan hadis apapun tentang keutamaan Abu Thurab (Ali bin Abi Thalib) dan Ahlul baitnya,” bunyi sebuah perintah Muawiyah pada waktu itu, sebagaimana dikutip Hasan Al-Maliki dari Al-Madaini.

Hasan Farhan Al-Maliki berkata bahwa, di antara kandungan Nash sejarah yang terdapat dalam dua kitab Shahih (bahkan telah mencapai tingkat mutawatir) itu menyatakan bahwa, “Muawiyah dan para pejabat pemerintahannya telah memerintah pelaknatan atas Imam Ali.”

Pengaruhnya terhadap Pecinta Ahlul Bait 

Pada masa Muawiyah itu, dampak surat perintah tadi paling terasa di Kufah, Irak. Pasalnya, di Kufah banyak pecinta (Syi’ah) Ali as.  Ketika itu, Mu’awiyah menunjuk Ziyad (putra Sumayyah) sebagai gubernur wilayah itu dan sekaligus menggabungkan wilayah Bashrah ke dalam wilayah Kufah.

Ziyad pun kemudian mengejar-ngejar kaum Syi’ah Ali. Itu mudah bagi Ziyad, karena ia sangat mengenali mereka, sebab dahulu (di masa Ali ra) Ziyad sendiri berasal dari kalangan mereka. Ziyad membunuhi mereka di setiap tempat, mengintimidasi mereka, memotong tangan dan kaki mereka, serta menusuk mata mereka dengan pedang panas. Banyak dari mereka yang disalib atau digantung di atas batang pohon kurma. Ziyad juga mengusir mereka dari negeri Irak, sehingga tidak ada lagi seorang yang terkenal yang tersisa di sana.

Secara jangka panjang, pengaruh Muawiyah yang kita temukan hingga hari ini adalah munculnya semacam ‘alergi’ (rasa sensitif) negatif terhadap setiap orang yang menyebut keutamaan Imam Ali as. dan Ahlul Bait beliau, sehingga wajah-wajah bermuka masam setiap kali nama ‘Ali’ disebut dengan kebaikan

Sampai-sampai sebagian ulama berkata: “Mengapakah jika disebut keluarga Ibrahim dan keluarga Imran wajah-wajah kalian berseri-seri, tetapi jika keluarga Muhammad disebut wajah-wajah kalian cemberut?”

Alergi, sikap negatif dan dada yang tiba-tiba ‘sesak’ karena tidak suka ketika orang menyebutkan kebaikan Ahlul Bait Muhammad saw adalah hasil dari surat ketetapan pertama Mu’awiyah itu.

Repotnya, sikap seperti itu mereka anggap bagian dari Sunnah dan merupakan akidah Salaf-us-Saleh, persis sebagaimana yang dianggap oleh sebagian orang di masa Mu’awiyah, kecuali sedikit orang yang punya kesadaran.

Bukti-bukti pendukungnya sangat banyak. Menurut Al-Maliki, kita bisa membaca bukti-bukti itu dalam keterangan ulama tentang biografi Ziyad dan seorang pejabatnya (yang memerintah kota Basrah) yaitu Samurah bin Jundub. Di sana Anda akan menemukan banyak bukti kebenaran adanya surat ketetapan Mu’awiyah ini.

Ketetapan Muawiyah Kedua

Tidak cukup begitu, Mu’awiyah menulis surat ketetapan kedua, yang ia kirimkan kepada seluruh aparatur pemerintahannya di seluruh daerah.

“Jangan terima kesaksian apapun dari seorang  Syi’ah Ali dan Ahlul-Bait-nya,” kata Muawiyah.

Akibat surat keputusan Mu’awiyah itu adalah ditepisnya hadis-hadis riwayat Ahlul Bait, dan diasingkannya tokoh-tokoh terpercaya dari kalangan pecinta Ali seperti Harits Al-Hamdani Al-A’war, Ashbugh bin Tabatah, Maitsam at-Tammar, Rusyaid Al-Hajari, Amru bin Al-Hamaq Al-Khuza’i, Hujur bin Adi, dan Abu Thufail Amir bin Watsilah.

Bahkan para sahabat yang pernah ikut berjuang bersama Nabi saw di peperangan Badar pun di-dha’if-kan. Di antara mereka adalah Midlaj bin Amr as-Sulami, dan Shaleh bin Syaqran. Sementara itu ribuan hadis-hadis lain, dari orang-orang yang disukai Muawiyah, dibesar-besarkan, padahal mereka datang belakangan.

Para ulama Muawiyah mengolah ribuan hadis riwayat mereka, dan menjadikannya rujukan utama, sedangkan hadis para sahabat senior yang berjuang bersama Nabi saw di perang Badar dan berbai’at kepada beliau di bawah pohon (Bai’at Ridhwan) dari kalangan sahabat pembela Ali ditelantarkan, atau minimal di-dha’ifkan (dikatakan sebagai ‘dha’if‘, atau lemah).

Ulama di bawah pengaruh Muawiyah itu menjunjung tinggi dan menetapkan status tsiqah (jujur, terpercaya) bagi kebanyakan perawi Nashibi (pembenci Imam Ali as dan keluarga Nabi saw).

Maka, kita pun kini terkena dampaknya. Berapa banyak ulama kita yang mau (atau sempat) berpikir jernih dan kritis terhadap hal ini? Kita bisa melihat sendiri, setidaknya dari berapa dalam ilmu dan pemahaman mereka terkait hadis dan sejarah kelam akibat ulah Muawiyah itu.

Selanjutnya mengenai upaya politis Muawiyah dan dampaknya hingga sekarang ini, dapat Anda rujuk pada pembahasan di blog berikut ini (klik di sini).

 

 

Intellektual Pertama dalam Islam: Ali bin Abithalib as

Intellektual Pertama dalam Islam: Ali bin Abithalib as

 

 

Advertisements
 

Tags: , , ,

One response to “Wah, Gara-gara Muawiyah, Banyak Hadis Yang Kontradiktif

  1. Muhammad Assegaff

    20/05/2015 at 10:19 am

    Zen Dari: sembrani Kepada: asgf_2001@yahoo.com Dikirim: Rabu, 20 Mei 2015 10:10 Judul: [New post] Wah, Gara-gara Muawiyah, Banyak Hadis Yang Kontradiktif #yiv8246265922 a:hover {color:red;}#yiv8246265922 a {text-decoration:none;color:#0088cc;}#yiv8246265922 a.yiv8246265922primaryactionlink:link, #yiv8246265922 a.yiv8246265922primaryactionlink:visited {background-color:#2585B2;color:#fff;}#yiv8246265922 a.yiv8246265922primaryactionlink:hover, #yiv8246265922 a.yiv8246265922primaryactionlink:active {background-color:#11729E;color:#fff;}#yiv8246265922 WordPress.com | Syafiq Basri posted: “Sunnah Nabi saw dan sejarah telah diselewengkan. Akibatnya, yang terjadi sekarang ini di dunia Islam, sejatinya merupakan akibat penyelewengan dan kampanye hitam tokoh terdahulu, utamanya Muawiyah bin Abu Sufyan.Kita tahu bahwa berkembangnya sebuah pemi” | |

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: