RSS

Pejuang Yang Mencium Tangan Isterinya

02 May

“Tangan yang mengabdi pada ibunya adalah tangan yang suci. Orang yang tidak berbuat baik pada ibunya, tidak akan baik pada siapapun. Aku berterimakasih karena engkau telah mengabdi pada ibumu dengan penuh cinta dan kasih sayang.” (Petikan dialog Mustafa Chamran dengan isterinya).

Mustafa Chamran Savei adalah sosok pejuang Islam yang mati syahid saat berjuang untuk negaranya. Dalam buku karya Habibah Ja’fariyan, berjudul Chamran be Rewoya-e Hamsar-e Syahid (yang edisi Indonesianya diterbitkan oleh penerbit Qorina), pembaca akan terpukau pada kisah human interest yang indah, penuh cinta dan kemesraan suami-isteri.

Kisah ini saya petik dari blog Pencari Ilmu (klik di sini), dengan sedikit editing dan penambahan di dalamnya.
Setelah membaca buku ini, banyak yang terkesan dan menganggapnya lebih menarik dari novel-novel lainnya. Berbeda dengan banyak novel lain — apalagi yang menghadirkan tokoh fiktif — kisah Mustafa Chamran adalah cerita nyata zaman kini, ketika nilai-nilai perjuangan, keadilan dan kemanusiaan makin perlu digencarkan.
Mustafa Chamran - Syahid yang Mencium Tangan Isterinya

Mustafa Chamran – Syahid yang Mencium Tangan Isterinya

Selain pejuang, Syahid chamran ternyata memiliki jiwa yang romantis dan sangat menyayangi dan menghormati wanita (istrinya). Bagaimana ia merapikan tempat tidur dan menyediakan sarapan untuk istrinya hingga akhir hayatnya (walau lebih didasari oleh janji yang diucapkannya kepada ibu mertuanya), menjadi contoh yang luar biasa. Ia seperti hendak mengingatkan kita pada kebiasaan yang dilakukan Nabi saw kepada istri-istrinya. Chamran adalah salah seorang pendiri Hizbullah, sehingga pemimpinnya yang sekarang pun, Sayyid Hasan Nasrallah, sangat menghormati Chamran.

Tentang romantisme Chamran bisa dilihat dari kisahnya mendapatkan restu keluarga istrinya dan mempertahankan pernikahan dari tentangan keluarga istrinya dengan akhlak yang indah. Antara lain diceritakan ketika ia mengantarkan ibu mertuanya ke rumah sakit di saat peperangan tengah berkecamuk.

Chamran adalah seorang ilmuwan (scientist) yang pernah menjadi Menteri Pertahanan pertama pasca-revolusi Islam Iran. Ia juga pernah menjadi anggota parlemen negeri itu.
Pada akhir tahun 50-an, Mustafa Chamran pindah ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikannya. Ia meraih gelar Master of Science dari Texas A&M University. Gelar PhD-nya diperoleh Chamran dari the University of California, Berkeley, pada tahun 1963.
Pada tahun 60-an, ia menjadi salah satu anggota senior Gerakan Perdamaian Iran, yang dipimpin Mehdi Bazargan. Chamran menjadi salah seorang anggota sayap gerakan itu bersama tokoh-tokoh seperti Ebrahim Yazdi, Sadegh Ghotbzadeh dan Ali Shariati. Sebagai orang pergerakan anti Syah Iran, Chamran dan kawan-kawannya memperkuat ketrampilan militer mereka. Ia antara lain mendapatkan latihan militer di Kuba dan Mesir.
Pada tahun 1971, Chamran meninggalkan AS menuju Lebanon, dan bergabung dengan PLO (Palestine Liberation Organization) dan Gerakan Amal (Afwaaj al-Muqawwamah al-Lubnaniyah) di Lebanon Selatan. Chamran bahkan membantu pendirian Amal, dan sempat menjadi tangan kanan Musa Sadr, pendiri Amal.
Di masa perang antara Iran dan Irak (yang berlangsung selama delapan tahun, 1980-1988), Chamran memimpin pasukan infanteri. Mantan komandan tentara sukarelawan paramiliter (Pasdaran) Iran itu, tertembak kaki kirinya oleh mortar tentara musuh hingga dua kali. Namun ia menolak meninggalkan pasukannya. Baru pada 20 Juni 1981, ketika perang makin gencar, Amran mati syahid. Jasadnya kini terbaring di pemakaman Behesht-e Zahra, Teheran.
Chamran di medan perang

Chamran di medan perang

Sebuah legenda Chamran itu. Penghargaan kepadanya datang bertubi-tubi. Selain diangkat sebagai pahlawan, banyak bangunan dan jalan di Iran dan Lebanon diberi nama Chamran. Mendiang Ayatullah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran, menyebut Chamran sebagai “Komandan Islam yang Membanggakan”.
Penulis Inggris Nick Robinson menerbitkan biografi Chamran pada tahun 2013. Lalu, pada 2014, sebuah film berjudul ‘Che’ dirilis untuk menghormati Chamran. Film itu di menggambarkan dua hari dari kehidupan Chamran sesudah revolusi Islam Iran, dan menerima banyak penghargaan.

Film CHE versi Iran:

Kembali ke buku Habibah Ja’fariyan itu. Pembaca juga bisa menyimak bagaimana Chamran meminta istrinya untuk selalu menemani ibu isterinya (mertua Chamran) hingga sembuh. Kisah penuh nilai kemanusiaan di dalamnya amat menyentuh. Pada salah satu bagiannya, pembaca dapat melihat penggambaran kelembutan hati seorang suami kepada isterinya.

Dikisahkan bahwa sambil mencium tangan istrinya, Mustafa Chamran mengucapkan “terimakasih“. Airmata lelaki itu berurai.

Tentu saja istrinya heran dan bertanya: “Terima kasih untuk apa, Mustafa?”

Mustafa pun menjawab, “Inilah tangan yang telah mengabdi pada ibunya di hari-hari yang sulit. Tangan ini suci bagiku dan aku harus menciumnya.”

Istrinya berkata lagi, ”Mengapa engkau berterima kasih padaku? aku berbuat begitu lantaran beliau adalah ibuku, bukan ibumu. Justru engkaulah yang telah berbuat baik kepada beliau.”

Mustafa lalu menanggapi, “Tangan yang mengabdi pada ibunya (adalah tangan yang) suci. Orang yang tidak berbuat baik pada ibunya, tidak akan baik pada siapapun. Aku berterimakasih karena engkau telah mengabdi pada ibumu dengan penuh cinta dan kasih sayang.”

– “Mustafa, setelah semua perlakuan kasar yang mereka lakukan padamu, engkau masih mengucapkan kata-kata seperti ini?”

+ “Mereka berhak berbuat demikian lantaran mereka menyayangimu. Mereka kurang begitu mengenalku. Dan ini sangat wajar, setiap orangtua ingin menjaga anak gadisnya.”

Adalagi sebuah pesan Mustafa Chamran yang luar biasa buat para pencinta yang mendapat ujian dari keluarga pasangannya. Ini kata Chamran kepada istrinya, “Berusahalah dengan cinta dan kasih sayang untuk membuat kedua orangtuamu ridha.  Aku tidak suka, sementara aku menikah denganmu (tetapi) hati ayah ibumu terluka.”

 

 

Akhirnya, simak syair doa-doa Cahmran untuk Ghadeh istrinya berikut ini:
“Ya Allah! Aku memohon satu hal dari-Mu dengan penuh ketulusan;
Jadilah engkau pelindung bagi Ghadeh
dan janganlah Engkau membiarkannya sendiri.
Setelah kematianku, kuingin melihatnya terbang
Ya Allah! Kuingin sepeninggalku Ghadeh tidak berhenti melangkah diatas jalur kebenaran
Kuingin ia memikirkanku bak sekuntum bunga indah yang tumbuh di jalan kehidupan dan kesempurnaan
Kuingin Ghadeh memikirkanku seperti sepotong lilin-lemah-kecil yang menyala dalam kegelapan hingga akhir hayatnya,
Dan dia beroleh manfaatnya dari cahayanya untuk masa yang singkat
Kuingin dia memikirkanku sebagai angin surgawi yang berembus dari langit,
yang membisikkan di telinganya kata-kata cinta dan pergi menuju kata tanpa batas…

Selengkapnya mengenai Chamran ini dapat dilihat di:

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: