RSS

MENCINTAI atau DICINTAI

06 Aug

Pada umunnya orang merasa sudah cinta kepada Allah. Tapi menurut seorang Ustadz, jangan keburu bangga jika kita mencintai Allah. Sebab cinta itu fitrah; sebuah keniscayaan bila orang cinta pada yang indah, yang cantik, yang sempurna. Masalahnya, apakah kita dicintai Allah?

Foto surat yang dikirim Nabi Muhammad saw -- tersimpan di musium Topkapi, Turki

Foto surat yang dikirim Nabi Muhammad saw — tersimpan di musium Topkapi, Turki

Kata sang ustadz, “Cintai Tuhan sampai Dia mencintai kita.”  Tapi, bagaimana caranya, Pak Ustadz?

Tanda Allah cintai kita adalah apabila kita mengikuti Nabi saw. Berdasarkan ayat Qur’an, Nabi SAW diminta menyampaikan kepada umatnya, “Katakan (Wahai Nabi), jika kalian mencintai Allah, maka ikuti (keteladan)-ku; (agar) kelak Allah akan mencintai kalian. Qul in kuntum tuhibuunallah fattabi’uuni yuhbibkumullah’.  Artinya, setelah mengikuti Nabi saw barulah kita bisa memperoleh cinta Allah. 

Ustadz lalu memberi bocoran rahasia berikutnya: Kunci mencintai Nabi itu adalah dengan cara mencintai ‘Ahlul Bait’ (keluarga)-nya. Sebab, Al Qur’an menggariskannya sebagai berikut ini: “Qul laa asalukum alaihi ajran illaa mawaddata fil qurba.” Artinya: “Katakan (Wahai Nabi, bahwa) aku tidak minta upah (dari ajakan dan dakwahku ini membawa kpda agama Tauhid), kecuali kecintaan kalian kepada karib kerabat (Ahlul Bait )-ku.”

The 100 - buku Michael Hart: bukti umat Islam yang cinta kepada Nabi Muhammad SAW

The 100 – buku Michael Hart: bukti umat Islam yang cinta kepada Nabi Muhammad SAW

Ada 3 tanda cinta:

  1. Mengenal yang dicintai. Ma’rifah. Ini semacam pepatah, ‘tak kenal maka tak sayang’. Mana mungkin Anda mencintai seseorang bila tak mengenalnya. Maka, untuk mencintai kerabat (Ahlul Bait) Nabi SAW, kita harus mengenal mereka lebih dulu.
  2. Manifestasi: tampak dari perilaku si pecinta. Di antara manfiestasi cinta adalah perilaku sang pecinta kepada yang dicintainya. Seperti Geisz mencintai Layla, maka segala sepak terjang Layla diikutinya. Jejak kakinya pun ditapakinya. Bahkan dinding rumah Layla pun dapat menjadi sasaran ciuman Geisz — karena ia membayangkan di balik dinding itu ada Layla, sang kekasih. Itu juga yang dilakukan ketika orang, misalnya mencium bunga, tanda bahwa ia menyukai atau mencintai bunga tadi.
  3. Cinta itu menjadi sebuah ‘muntahaa‘ — tujuan akhir. Orang yang dicintai lebih dipentingkan ketimbang diri sang pecinta sendiri. Pecinta memberikan porsi terbesar perhatian, waktu, biaya, dan tenaganya pada yang dicintai. Sahabat yang mencintai Nabi SAW juga selalu mengutamakan apa perintah Sang Rasul. Jika terbukti sekali saja ada pelanggaran kepada perintah Rasul SAW, maka boleh jadi cinta seseorang kepada Nabi itu tidak tulus, atau bukan cinta yang sebenarnya. Demikian pula, para sahabat yang mencintai Imam Husain as mendahulukan beliau ketimbang dirinya — sehingga banyak di antaranya yang rela mati, bahkan mati berkali-kali, demi kecintaan mereka kepada cucu Nabi SAW itu.

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 06/08/2014 in Diskusi Agama

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: