RSS

Reaktif atau Responsif? Pelajaran dari Kecoak

31 May

Catatan: Waktu menulis ini, kita mungkin diingatkan pada acara talkshow ‘Mata Najwa’ di Metro TV akhir Mei 2014. Saat itu, Anies Baswedan menanggapi ‘serangan’ pertanyaan Najwa Shihab secara tenang. Pikirannya jernih. Ia tidak terpancing pada ‘provokasi’ Najwa sebagaimana Mahmud MD yang sempat kelihatan agak gagap menjawab Najwa. Anies rupanya telah menyiapkan diri dengan pesan-pesan kunci tentang apa yang akan ditanyakan Najwa. Ia merespon, bukan bereaksi. 

 

Mendadak sontak, seekor kecoak mendarat di pangkuan seorang wanita. Dia panik dan berteriak histeris. Tangannya berusaha mengusir kecoak secara membabi buta. Badannya kelojotan. Pengunjung lain ikut berteriak. Histeris. Itu terjadi di sebuah restoran.

Reaktif, atau Responsif; Panik gara-gara kecoak

Reaktif, atau Responsif; Panik gara-gara kecoak

Tidak lama, serangga dari ordo Blattaria itu terbang lagi. Kali ini ia hinggap di tubuh seorang wanita lain yang sudah berumur. Ia sekarang jadi “korban”.

Seperti wanita yang tadi, si ibu ber-reaksi secara dramatis, dan gemeteran. Panik. Ia menggebrak-gebrak, berteriak sampai kecoak pergi.

Kecoak adalah serangga dari ordo Blattaria atau Blattodea. Sekitar 30 spesies (dari 4.500-an spesies) Blattaria berhubungan dengan habitat manusia, tinggal dan hidup di pemukiman penduduk. Hanya empat yang tergolong pest, dan salah satu pest yang paling banyak dikenal adalah spesies American cockroach.
Kebanyakan jenis serangga ini aktif pada malam hari (nocturnal). Penelitian menunjukkan bahwa kecoak merupakan salah satu serangga (bersama lalat buah) yang paling tahan — tidak mudah mati. Banyak spesies kecoak bisa tahan tanpa makan selama sebulan.
Mampu hidup tanpa udara sekitar 45 menit, kecoak juga bisa survive setelah tenggelam di air selama 30 menit. Ia diduga akan “mewarisi bumi”, bahkan seandainya semua manusia meninggal gara-gara perang nuklir sekali pun.

Kali ini kecoak itu mendarat ke tubuh salah seorang pelayan restoran.Tapi, berbeda dengan kedua wanita tadi, si pelayan menangani serangga itu secara santai. Ia tenang sekali. Tidak panik. Diperhatikannya gerak gerik kecoak. Secara pelahan sang pelayan menangkap kecoak tadi dengan tangannya. Lalu membuangnya jauh-jauh ke luar restoran.

Ini adalah tentang Teori Kecoak tentang Pengembangan Pribadi; The Cockroach Theory for Self Development.

Hewan melata yang bisa terbang.

Hewan melata yang bisa terbang.

Sambil minum kopi, Sundar Pichai  — yang mengisahkan kejadian itu — merenung dan berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi di restoran itu. Lulusan MIT (AS) dan kini menjabat sebagai Global Head Google Chrome itu mengatakan, “Saya memperhatikan kejadian tadi. Apakah si kecoak bertanggung jawab pada drama itu, atau manusia-lah yang sebenarnya bertanggungjawab terhadap apa yang menimpa dirinya?” “Lebih dari masalah yang terjadi,” kata Pichai, “reaksi saya terhadap problem-lah yang sebenarnya menciptakan chaos dalam hidup saya.”

Pelajaran dari cerita itu:

  • Saya paham bahwa saya semestinya tidak ‘bereaksi’ di dalam hidup ini, tetapi saya harus ‘merespon’.
  • Para wanita itu bereaksi pada kecoak, sedangkan si pelayan memberi respon.
  • Mengapa si pelayan tidak terusik? Ia dapat menangani urusan itu  hampir secara sempurna, tanpa chaos.
  • Bukanlah si kecoak, tapi ketidakmampuan para wanita itu menghadapi gangguan yang muncullah, yang menyebabkan terganggunya para ibu tadi.

 

Pantaslah kecoak bisa bertahan begitu lama...

Pantaslah kecoak bisa bertahan begitu lama…

  • Saya menyadari, bukanlah teriakan atau hardikan ayah saya atau boss atau isteri saya yang sesungguhnya mengganggu saya, tapi ‘ketidakmampuan saya menangani gangguan‘ akibat teriakan merekalah yang sebenarnya mengganggu saya.
  • Bukanlah kemacetan di jalan yang sibuk yang mengganggu saya, melainkan ketidakmampuan saya mengelola gangguan akibat kemacetan lah yang membuat saya jadi merasa terganggu.
  • Reaksi selalu berdasarkan instinct (perasaan) saja, sedangkan respon merupakan hasil pemikiran yang seksama.

Itu semua menjadi salah satu cara yang berharga untuk memahami ‘makna’ kejadian dalam hidup.

Advertisements
 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: