RSS

Listen to a US Preacher – Belajar dari Ulama AS

17 Apr

Islam juga berkembang di Amerika (AS). Ketika tahun 60 dan 70-an kaum Muslimin yang ada di sana masih sedikit, tetapi mereka sangat kompak. Secara gotong royong umat Islam di negara Paman Sam itu turuntangan membangun masjid, termasuk yang ada di Houston. Pelan tapi pasti jumlah mereka semakin banyak. Tapi…

A theological division within the Ummah where one group considers it part of their religion to love the ṣaḥābah and believes them to be the best generation after the Prophets of Allah, whereas another group believes that most the ṣaḥābah went astray and disobeyed the Prophet (Peace Be Upon Him and His Household) and consider it a part of their religion to curse the ṣaḥābah & some of the wives of the Prophet (PBUH).

With such conflicting doctrines of faith some have resorted to violence, hatred and blowing up other Muslims’ mosques & shrines to express their rage.

Shaykh Dr. Yasir Qadhi brilliantly addresses the controversial topic of violence and hatred towards other sects (school of thought) in Islam. Watch the video to see his interesting opinion on Muslims unity.

Tetapi sayang sekali, belakangan (bersamaan dengan makin banyaknya imigran pada tahun 70-an dan 80-an), justru ketika jumlah Muslimin di AS semakin banyak, mestinya tidak perlu ada saling ribut, berkelahi, dan saling menyebarkan kebencian satu sama lain. 

Hal di atas dikemukakan Dr. Yasir Qadhi, seorang ulama asal AS dalam sebuah konvensi masyarakat Islam di  AS (ISNA – Islamic Society of North America) tahun 2013 lalu. Merasa dirinya juga pernah berada dalam lingkungan yang menyebarkan kebencian itu, kini teolog dan Doktor (PhD) lulusan Yale (AS) itu mengajak seluruh umat Islam saling bergandengan tangan. Mari simak ceramahnya yang luar biasa di video pendek (12 menit) berikut:

“Believe what you want to believe — mazhab apa pun, silakan pilih, but allow somebody else to believe what they want to believe (tapi biarkan orang lain meyakini (mazhab atau agama apapun) yang ia ingin yakini),” kata Dr Yasir Qadhi.

Gak usah panas hati, gak usah kebakaran jenggot. Menurut Yasir, banyak cara, tempat, waktu, audience, dan metodologi untuk membahas dan berdikusi tentang hal2 yang kontroversial, tapi bukan dengan cara menyebarkan kebencian dan kekerasan. 

Menarik sekali bagaimana ia mengajak setiap Muslim bersikap dalam masalah mazhab, Sunnah – Syiah (Su-Shi) dan yang sejenisnya.

Topik ini diangkat karena urusan ‘Su-shi’ menjadi topik yg hangat di tengah masyarakat Islam di dunia dalam beberapa waktu terakhir, bahkan termasuk di Amerika sendiri (yang sangat majemuk dan biasanya sangat toleran).

Apa yang terjadi di antara Muslimin di AS dan berbagai negara lain belakangan ini, tampaknya juga mirip dengan yang terjadi di Indonesia. Kita ingat bahwa dulu (beda dgn sekarang) umat tetap bersatu, meski mereka berbeda pemikiran (NU, Muhammadiyah, dll]. Orang NU yang baca qunut dan tahlilan bisa duduk berdampingan secara damai dengan pengikut Muhammadiyah. Begitu pula sebaliknya: pengikut Muhammadiyah yang tak suka tahlilan dapat menghargai saudaranya dari NU. Dan banyak lagi contoh lainnya. Tetapi mengapa sepertinya kini banyak hal berubah? Mengapa banyak orang gemar menyebarkan kebencian kepada sesama warga, sesama pengikut Islam. Lebih jauh lagi, mengapa orang mudah melakukan kekerasan (hingga membunuh) orang-orang tak berdosa, hanya gara-gara mereka berbeda mazhab atau beda agama? Mengapa banyak yang ingin ‘menjadi tuhan’, ikut menentukan siapa akan masuk surga dan siapa masuk neraka?

 

Kebencian itu bahkan kini ramai merebak di berbagai grup Media Sosial seperti WhatsApp, Facebook, di banyak kelompok milis, dan Blackberry.

Agaknya, sebagaimana disinyalir Yasir, berbagai propaganda dan hasutan yang disebarkan kelompok tertentu (khususnya Wahabi/Salafi ekstrimis) mengakibatkan meruyaknya kekerasan di kalangan masyarakat Islam.

Di antara resep menghindari itu, kata Yasir, ulama dari kalangan mana pun selayaknya tidak mengajarkan kebencian kepada para pengikutnya. Sebab, boleh jadi ulama itu tidak melakukan tindakan kekerasan, tapi kebencian (hatred) yang disebarkannya bisa mengundang munculnya tindak kekerasan (sampai saling bunuh) yang dilakukan oleh para pengikut mereka yang awam.

Dr. Yasir Qadhi adalah imigran asal Saudi, dan konon dulunya termasuk Salafi yang keras; tetapi belakangan dia sadar, dan berubah menjadi Muslim yang moderat dan lebih bijaksana, sebagaimana tergambarkan dari ceramahnya dalam video di atas (atau di video lainnya di sini )

Circle of Cooperation

Yasir — yang merasa bersalah karena ikut menyebarkan kebencian kepada ketika ia masih berusia 20-an — mengatakan bahwa, Islam bukan hanya ‘membolehkan’, tetapi ‘mengharuskan‘ kita untuk bekerjasama dengan siapa pun dari latar belakang apa pun untuk segala yang baik dan mendatangkan kebaikan bagi masyarakat (society).

Wa ta’aawanuu ‘alaa al-birri wa-taqwaa, wa laa ta’aawanuu ‘alaa al-itsmi wal-‘udwaan, kata sebuah ayar Al-Qur’an yang dikutip Yasir. Artinya, ‘Bekerjasamalah dalam kebaikan dan takwa, dan jangan saling bantu-membantu dalam dosa dan permusuhan’.

Cooperate with everybody (of any background) when it comes to the righteousness and taqwa and dont cooperate when it comes to evil and transgression (The Holy Qur’an).

Tak peduli seberapa konservatif Anda, tak peduli apa mazhab yang Anda yakini, tetap kita harus bijaksana mengenai adanya sebuah ‘lingkaran kerjasama’ (circle of cooperation), yang bisa membawa (mengharuskan) kita untuk bergandeng-tangan.

Sebagai seorang Sunni, Yasir menganggap bahwa para pengikut Sunni, sebagaimana juga pengikut Syiah, tidak perlu kuatir jika bersatu dan bekerjasama dalam kebaikan. Sebab, dengan berpikiran luas, ketahuilah bahwa kalau pun kita bersama-sama dalam sebuah masalah (dalam circle of cooperation) itu, bukan berarti kita harus mengikuti mazhab Muslimin yang lain.

Salah satu tema yang sebenarnya bisa diterima oleh semua pihak,  kata Yasir Qadhi,  adalah membahas tentang keteladanan Imam Ali bin Abithalib ( ra), seorang pemimpin (khalifah ke-4) yang diterima semua golongan,  baik Sunni maupun Syiah.

Ali bin Abithalib as (dalam lukisan):  teladan bagi Syiah, Sunni, dan kemanusiaan

Ali bin Abithalib as (dalam lukisan): teladan bagi Syiah, Sunni, dan kemanusiaan

Selain itu, resep lain bagi persatuan umat, kata Dr.Yasir, adalah, jangan ada yang menyimpan rasa sombong atau arogansi, bahwa ‘Saya lebih baik dari dia’.

Ia seperti hendak mengingatkan hadis Nabi saw yang mengatakan bahwa, ‘siapa pun yang punya rasa sombong dalam dirinya (meski sebesar zarrah pun) tidak akan mencium bau surga’.

 

Advertisements
 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: