RSS

Ahmad si Pedagang Kecil

18 Jan

Di luar bangunan tempat kami menginap, kulihat seorang anak laki-laki duduk di lantai yang dingin. Ia berjualan berbagai macam cindera mata. Dagangannya itu  khas dan unik bagi para peziarah yang lewat di sekitarnya.

Aku terhenyak melihat pedagang kecil itu. Yang paling menyentuhku adalah, begitu rendah hati caranya duduk dan berjualan. Tak pernah sekalipun pemuda itu mendongakkan kepala dan menawar-nawarkan dagangan, seperti lazimnya para penjual saat menjajakan dagangan mereka di pinggir jalan.

Lelaki muda ini hanya tersenyum kepada setiap peziarah yang lewat, sambil merapikan cindera mata yang dijualnya. Ada ikat kepala, bros-bros kecil, dan bendera.

Ahmad dengan dagangannya...

Ahmad dengan dagangannya…

Tidak seperti senyum lain, senyumnya adalah senyum kegembiraan, senyum yang menunjukkan keimanan.

Tulus. Jernih.

Tulisan ini mengalami sedikit editing. Aslinya adalah karya Zaenabi Aly yang dimuat pada halaman Facebook-nya. Silakan klik di sini.

Kepolosan dan kerendah-hatiannya itu, menyentuh hatiku. Kesederhanaan dan ketulusannya menarikku untuk duduk dan berbincang sebentar dengannya.

Aku berjongkok di sampingnya dan berkata,

– Assalamualaikum adikku.

Ia mendongak, melihat ke arahku sambil tersenyum, seolah memang sedari tadi, ia tengah menunggu seseorang menyapa dan mengajaknya berbicara.

+ Wa alaikum salam wahai Peziarah Al-Husain, selamat datang, selamat datang!

– Siapa namamu?”

+ Ahmad.

– Berapa tahun, umurmu?

+ Aku sebelas tahun, Kak. Semoga Allah memberkahi Kakak umur panjang sehingga bisa terus datang ke Karbala.

[ Ketika itu musim ziarah ‘arbain,mempertingati 40 hari setelah peringatan tragedi Asyura, ketika cucu Nabi saw, Al-Husain (yang biasa digelari Abaa Abdillah) syahid di Karbala, pada 10 Muharram. Jutaan orang datang dari berbagai negara di dunia ke Karbala, Irak. Juga ribuan peziarah yang datang dari Indonesia. ]

Ucapan Ahmad yang terakhir berupa doa itu membuat leherku seolah tercekat. Sambil menahan air mata haru, aku bertanya kembali padanya.

– Kenapa kau duduk sendirian di lantai yang dingin ini?

+ Kakak tahu? Ayah dan Ibuku syahid dalam sebuah peristiwa ledakan bom sewaktu mereka hendak pulang ke rumah selepas solat Jum’at. Dan sekarang, tinggal aku yang bisa menafkahi empat saudara perempuanku dan seorang saudara laki-lakiku yang cacat karena senjata kimia.

Jawaban Ahmad terasa bagai belati yang menusuk jantungku. Tak bisa lagi kutahan air mata yang sedari tadi menggantung di pelupuk mata. Kepalaku tertunduk, rasanya aku malu pada diriku sendiri.

Dengan tangan kecilnya yang dingin, Ahmad mengusap air mata di pipiku.

+ Jangan menangis Kak, ini adalah kehormatan untukku. Jangan berpikir kami sendirian, kami sekarang adalah yatim-yatim Aba Abdillah Al-Hussain (as), dan aku adalah Sang Abbas di rumah. Adakah yang lebih mulia dari ini?

Kupeluk bocah ini erat-erat. Rasanya tak ingin kulepas. Saat aku bangkit, Ahmad mengulurkan sehelai kain hijau yang diambilnya dari barang dagangannya.

Sambil tersenyum ia berkata:

+ Kakak, ambillah ini sebagai hadiah dariku. Letakkan di atas sajadah tempat kakak sholat, dan berjanjilah untuk mengingatku. JANGAN LUPA, NAMAKU AHMAD DARI KARBALA.

Dan senyum itu terus membekas di hatiku.

Aku melangkah pergi. Kusadari, ini adalah pelajaran besar dari Allah untukku.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 18/01/2014 in Artikel di Media

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: