RSS

12 Ribu Tahun Sebelum Adam

31 Dec

Dengarlah kisah Abdullah bin Amr ini: Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah saw. Aku bermaksud menghapalnya. Tapi orang-orang Quraisy melarangku dan mereka berkata:

Lukisan Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril

Lukisan Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril

“Engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Muhammad? Padahal ia hanya seorang manusia yang berbicara saat marah dan senang.”

Aku berhenti menulis. Tetapi kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah (saw). Kemudian beliau (Nabi saw) menunjuk kepada mulutnya dan berkata:

“Tulis saja. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tidak ada yang ke-luar dari sini kecuali kebenaran.”

 

 

Catatan: Tulisan ini awalnya ditayangkan pada 6 Februari 2012. Untuk memperingati Maulid Nabi saw pada bulan Rabi’ul Awwal 1435 H (awal tahun 2014) ini, sengaja ia kita ‘remajakan’ kembali, agar dapat untuk berbagi bersama lebih banyak pecinta Sang Al-Mustafa (saw) pada Hari Kelahiran beliau. Baca juga bagian berikutnya di sini.

Benarkah Nabi saw Manusia Biasa — dan Mengapa Wajib Mencintai Beliau dan Keluarganya?

Kesalahan terbesar pihak yang menolak mengakui kebesaran Nabi Muhammad dan menolak memujanya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharamkan, adalah karena mereka melihat Nabi Muhammad saw dengan kacamata materi. Mereka hanya melihat Nabi saw sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi rohani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.

SESUNGGUHNYA dalam diri Rasulullah saw terdapat suri teladan yang baik bagi kamu (yaitu) bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) hari akhir dan banyak menyebut Allah (QS. 33:21)

Journey of the Prophet Muhammad; Leaf from a copy of the Majma al-tawarikh (Compendium of Histories), ca. 1425; Timurid, Herat, Afghanistan Colors, silver, and gilt on brownish paper; 16 7/8 x 13 in. (42.8 x 33 cm) Cora Timken Burnett Collection of Persian Miniatures and Other Persian Art Objects, Bequest of Cora Timken Burnett, 1956 (57.51.9)

Kisah Perjalanan Nabi (saw) dalam lukisan (dibuat sekitar tahun 1425 M). Journey of the Prophet Muhammad; Leaf from a copy of the Majma al-tawarikh (Compendium of Histories), ca. 1425; Timurid, Herat, Afghanistan
Colors, silver, and gilt on brownish paper; 16 7/8 x 13 in. (42.8 x 33 cm)
Cora Timken Burnett Collection of Persian Miniatures and Other Persian Art Objects, Bequest of Cora Timken Burnett, 1956 (57.51.9)

 

Kedudukan Nabi dalam al-Quran

Terdapat puluhan ayat di dalam al-Quran yang memuja Nabi Muhammad saw, apakah dalam bentuk pujian langsung, seperti ayat yang menyatakan bahwa Nabi memiliki akhlak yang sangat luhur. Atau dalam bentuk penyebutan sifat-sifat terpuji yang dimiliki Nabi. Berikut beberapa contoh keagungan Rasulullah sebagaimana dalam al-Quran.

1. Keimanan semua rasul kepada Nabi. Imam ‘Ali bin Abi Thalib (as) berkata: Setiap kali Allah mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Nabi Muhammad saw diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama.

Dan ketika Allah mengambil janji dari para nabi: “Aku telah berikan kepada kalian al-kitab dan al-hikmah, maka ketika Rasul itu (Muhammad saw) datang kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, kalian benar-benar harus beriman kepadanya dan membelanya.” Dia (Allah) berkata: “Apakah kalian menerima dan berjanji akan memenuhi perintah-Ku ini?” Mereka berkata: “Ya, kami berjanji untuk melakukan itu.” Dia berkata: “Kalau begitu persaksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kalian.” (QS. 3:81)

2. Kabar gembira tentang kedatangan Muhammad saw. Al-Quran menjelaskan bahwa para penganut Ahlul Kitab tahu betul tentang kedatangan Nabi Muhammad saw, sebagaimana mereka tahu betul siapa anak mereka. Bahkan mereka saling memberi kabar gembira tentang kedatangannya itu (QS. 2:89, 146). Dan itu pula yang dipintakan Nabi Ibrahim as dalam doanya:

Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (Muhammad) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS. 2:129).

Budayawan dan penulis Rusia Leo Tolstoy tentang Nabi Muhammad saw

Budayawan dan penulis Rusia Leo Tolstoy tentang Nabi Muhammad saw

3. Penciptaan Nabi Muhammad saw sebelum Nabi Adam as. Tetapi penciptaan itu masih dalam wujud “nur” atau cahaya. Ketika Allah menciptakan Adam, Ia menitipkan nur itu pada sulbi Adam yang kemudian berpindah-pindah dari satu sulbi ke sulbi yang lain hingga sulbi ‘Abdullah, ayah Nabi. Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda:

Allah telah menciptakanku dalam wujud nur yang bersemayam di bawah ‘arasy dua belas ribu tahun sebelum menciptakan Adam as. Maka ketika Allah menciptakan Adam, Ia meletakkan nur itu pada sulbi Adam. Nur itu berpindah dari sulbi ke sulbi; dan kami baru berpisah setelah ‘Abdul Muthalib. Aku ke sulbi ‘Abdullah dan ‘Ali ke sulbi Abu Thalib. Al-Quran menyebutkan bahwa sulbi-sulbi tempat bersemayamnya nur itu adalah sulbi-sulbi orang-orang suci. Ini berarti bahwa orangtua dan nenek moyang Rasulullah sampai ke Nabi Adam as. Istilah al-Quran, al-Sajidîn, orang-orang patuh. Allah berfirman: Dan bertawakallah kepada Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu saat engkau bangun dan perpindahanmu dari sulbi ke sulbi orang-orang patuh (QS. 26:217-219).

4. Nabi Muhammad saw adalah manusia suci. Tidak pernah berbuat kesalahan, apalagi dosa. Namun demikian, ia tetap manusia biasa seperti manusia lainnya, dalam arti bahwa secara biologis tidak ada perbedaan antara Nabi saw dengan yang lain. Allah berfirman dalam QS. 33:33:

“Sesungguhnya yang dikehendaki Allah ialah menjauhkan kamu wahai Ahlul Bait dari segala kotoran dan mensucikan kamu sesuci-sucinya”. Riwayat-riwayat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait pada ayat di atas adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan Nabi Muhammad saw sendiri.

5. Nabi Muhammad selalu dibimbing Allah Swt. Ucapannya, perbuatannya, tutur katanya dan sebagainya, semuanya ; di bawah pengarahan dan bimbingan Allah Swt.

Sesungguhnya dia (Muhammad) tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsu, melainkan semuanya semata-mata adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (QS. 53:3-4).

6. Nabi Muhammad saw adalah panutan yang sempurna, uswatun hasanah. Allah berfirman:

Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik buat kamu.” (QS.33:21). Karena itu, maka “Apa pun yang dibawanya harus kamu terima dan apa pun yang dilarangnya harus kamu jauhi.” (QS. 59:7)

Foto lama kota “Madinah Al-Munawarrah”

 

7. Dibukanya rahasia kegaiban kepada Nabi Muhammad saw. Allah berfirman: Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada rasul yang dikehendaki (QS. 72: 26-27). Tentu saja Rasulullah saw berada di urutan paling atas di antara para rasul yang menerima anugrah utama ini.

8. Allah memuji Nabi Muhammad saw dengan berbagai pujian karena keluhuran akhlak-nya (QS. 68:4); kepeduliannya dan kasih sayangnya kepada umat manusia (QS. 9:128) dan pengorbanan diri, tidak mementingkan diri demi kebahagiaan orang lain (QS. 20:2-3). Selain itu Allah Swt memberi perhatian yang khusus kepada Nabi Muhammad saw jika ada sedikit saja “masalah” yang dihadapinya (QS. 93:1-3; 94:1-4).

Nabi Sebagai Manusia Biasa?

Dari sekian ayat yang kita lihat di atas tidak dapat disangkal bahwa Nabi Muhammad saw bukan manusia biasa, dalam arti bahwa kedudukannya sangat-sangat mulia di sisi Allah. Ia telah diciptakan Allah sebelum menciptakan yang lainnya. Nabi telah dipersiapkan membawa amanat-Nya jauh sebelum utusan-utusan lainnya. Bahkan utusan-utusan itu diperintahkan untuk mengimaninya dan mengabarkan kepada umat manusia kedatangannya. Nabi ditetapkan sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan, dan sebagainya. Akan tetapi semua ini tidak harus membuat kita memposisikannya sebagai bukan dari golongan manusia, seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi ‘Isa as. Nabi Muhammad saw tetap manusia sebagai-mana manusia lainnya, sebagaimana isyarat al-Quran dalam beberapa ayatnya di atas. Pada diri Nabi Muhammad saw terdapat segala sesuatu yang ada pada manusia, yakni dimensi biologis manusia.

Karena itu Nabi makan, minum, sakit, tidur, berdagang, berkeluarga, senang, sedih, dan sebagainya, seperti umumnya manusia. Al-Quran sengaja menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia, basyar, seperti manusia lainnya untuk membantah alasan penolakan kaum musyrikin terhadap Nabi saw bahwa ia bukan dari golongan malaikat, atau (paling tidak) ‘bekerjasama’ dengan malaikat (QS. 25:7) dan juga mengingatkan kaum Muslimin supaya tidak mengulangi kesalahan seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi Isa yang menganggapnya sebagai Tuhan.

Tetapi, ketika kita mengatakan bahwa Nabi adalah ‘manusia biasa’ seperti manusia lainnya, tidak berarti bahwa kita harus menganggapnya salah, keliru, melanggar, atau segalanya lalu berakhir sesudah beliau wafat. Tidak. Sama sekali tidak demikian. Kesucian, keterpeliharaan dari dosa (ma’sum), hidup abadi bersama Allah sesudah kematian, atau kemampuan berhubungan dengan-Nya sesudah kematian, adalah perkara ruhani yang mungkin saja dicapai oleh manusia asalkan (jika) ia telah mencapai kedudukan ruhani yang begitu tinggi, atau katakanlah mencapai maqamInsan Kamil.

Allah Swt memang menciptakan manusia dari unsur tanah, yang menghasilkan dimensi biologisnya. Namun, Allah juga menciptakan unsur lainnya pada manusia, yakni ‘ruh’ Allah, yang justru dapat membuat manusia lebih tinggi dari makhluk mana pun, bahkan dibanding malaikat sekali pun.

Tingginya kedudukan itu terjadi jika — melalui ruh itu — manusia tadi mampu mengatasi unsur biologisnya. Itulah sebabnya mengapa malaikat dan jin atau Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam atau manusia. Itulah pula mengapa Nabi Muhammad dapat menembus Sidratul-Muntaha, sementara Jibril akan hangus terbakar jika berani mencoba melangkahkan kaki meskipun hanya setapak. Padahal Jibril adalah penghulu para malaikat. Karena Nabi Muhammad telah mencapai derajat kesempurnaan mutlak insani. (Salah satu buku yang memuat kisah perjalanan ini dan sering dibaca pada peringatan Maulid Nabi saw, misalnya, adalah kitab “Samtu ad-Dhirar“, karya Habib Ali Al-Habsyi).

Miniature of Muhammad re-dedicating the Black ...

Lukisan miniatur pengembalian Hajar Aswad ke Ka’bah — salah satu prestasi keadilan dan amanah Nabi saw sejak masih muda.

Kesalahan terbesar pihak yang menolak mengakui kebesaran Nabi Muhammad di atas dan menolak memujanya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharamkan, yaitu karena mereka melihat Nabi Muhammad saw dengan kacamata materi.

Mereka hanya melihat Nabi saw sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi ruhani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.

Melihat seorang hanya dari dimensi biologisnya adalah logika orang-orang kafir. Bukan logika orang-orang beriman. Dengan alasan bahwa para utusan itu ‘hanya manusia seperti mereka’, orang-orang kafir menolak mengakuinya sebagai nabi atau rasul. Di sini, baiklah kita tengok ayat-ayat Qur’an ini:

“Dan tidaklah menghalangi orang-orang (kafir) untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali mereka membuat alasan: Apakah Allah mengutus rasul dari golongan manusia? (QS. 17:94).

Tapi orang-orang beriman berkata: “Kami mengimaninya. Semuanya dari sisi Tuhan kami”. (QS. 3:7).

Selain itu, mereka yang mengaggap maulid itu bid’ah, biasanya karena menyamakannya dengan sebuah tindakan ‘ibadah mahdhah‘ (mah-dhoh) . Padahal perayaan atau peringatan Maulid yang dimeriahkan dengan berbagai kegiatan sebagai tanda sukacita atas kelahiran Rasul saw bukan merupakan ‘ibadah mahdhah‘.

Nah, dalam kaidah Islam, ada aturan penting bahwa dalam segala ibadah mahdhah, maka prinsipnya adalah “semua tidak dibolehkan kecuali yang yang telah ditetapkan.” Contoh ibadah mahdhah itu adalah ibadah dalam rukun Islam yang lima itu (syahadat, shalat, zakat, puasa, haji). Maka, dalam hal ini, siapa pun tidak boleh menambahi sesuatu atau mengurangi sesuatu di dalamnya. Dengan kata lain, tidak boleh ada kreativitas di dalam ibadah mahdhah itu. Sehingga  siapa pun tidak boleh, misalnya, menambah jumlah roka’at solat subuh menjadi tiga — karena merasa ingin lebih dekat dengan Allah.

Pasangan ibadah mahdhah adalah ‘muamalah’. Dalam hal ini, prinsipnya semua (kreativitas) diperbolehkan, kecuali yang nyata-nyata dilarang. Muamalah, adalah semua selain ibadah mahdhoh. Contohnya adalah berdakwah lewat telepon, atau membaca solawat dan puji-pujian kepada Nabi saw di masjid pada saat di luar solat, menggambar komik dakwah, atau ketika menunggu imam masuk ke masjid. Nah, yang begitu itu, prinsipnya boleh — bukan bid’ah. Logis kan? Masa orang tidak boleh berkreasi, sepanjang kreativitasnya itu dalam koridor ‘amar ma’ruf nahi munkar’? Masalahnya, mungkin yang suka menuduh bid’ah itu tidak pernah tahu apa yang dibaca pada saat peringatan Maulid di sana sini di seluruh dunia. Bukankah yang dibaca adalah kalimat-kalimat ‘toyyibah‘ (baik, manis), kisah sejarah dan akhlak Nabi saw (agar orang meneladani akhlaknya), dan syair-syair cinta kepada Allah, kepada Nabi saw, keluarga dan sahabat beliau?

* Baca juga: “Maulid Nabi, Antara Pro dan Kontra“.

Sikap kepada Nabi saw

Berdasarkan beberapa ayat tentang keagungan Nabi Muhammad saw di atas dan beberapa riwayat Nabi, kita dapat melihat betapa Allah menuntut kita untuk menghormati dan mengagungkan rasul-Nya.

Coba perhatikan ayat shalawat (solawat). Adakah perintah yang sama dengan perintah shalawat, yaitu yang didahului dengan pernyataan bahwa Allah dan malaikat-Nya telah melakukannya terlebih dahulu dan oleh karena itu kita pun diperintahkan untuk melakukan-nya, selain shalawat kepada Nabi? Tidak ada. Perintah itu berarti kita harus selalu melihat Nabi dengan penuh ta’dzim (pengormatan) dan agar kita selalu membalas jasa-jasanya.

Oleh karena itu pula, Nabi saw selalu mengingatkan bahwa orang yang tidak mau bershalawat kepadanya adalah bakhil atau kikir. Bahkan orang yang datang ke tanah suci tapi tidak mampir ke Madinah untuk berziarah kepadanya (berarti) telah memutus hubungan silaturrahmi dengannya.

Masa depan di tangan Islam. Berkat jasa Nabi saw milyaran orang di dunia menjadi Muslimin (meski ‘Barat’ memotretnya secara ‘menyeramkan’).

Pada ayat tawassul kita bahkan diperingatkan Allah: jika ingin dosa-dosa kita diampuni oleh-Nya harus bertawassul kepadanya. Jika tidak, Allah tidak akan mengabulkan permohonan ampun kita. Allah juga mengingatkan agar kita tidak memperlakukannya sama dengan kita (manusia yang bukan nabi), sebab hal itu dapat menghapus pahala amal ibadah kita (QS. 49:2-3).

Selain itu, kita juga diperingatkan untuk tidak menganggap apa yang dilakukan atau diucapkan Nabi saw lahir karena emosi atau hawa nafsunya. Tapi semuanya atas bimbingan Allah yang tidak pernah salah. Ia tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu yang diterimanya (QS. 53:3-4).

Dengan demikian, yang mengagungkan dan memerintahkan kita untuk mengagungkan Nabi Muhammad saw adalah Allah Swt sendiri. Bukan kita. Kita hanya mengikuti perintah dan ajaran Tuhan saja. Lalu mengapa kita harus menentang Allah dan Rasul-Nya, hanya karena takut jatuh dalam hantu “kultus” yang kita ciptakan sendiri (seperti sering dituduhkan kaum Wahhabi-Takfiri)?

Selanjutnya silakan meruju ke bagian II (dua) tulisan ini di sini.

Advertisements
 
30 Comments

Posted by on 31/12/2013 in Diskusi Agama, Pemikiran

 

Tags: , , , ,

30 responses to “12 Ribu Tahun Sebelum Adam

  1. Fiar

    05/01/2015 at 1:26 pm

    Ya Allah! Curahkan rahmat Mu kpd Nabi Muhammad dan keluarganya sbg mahluk pertama yg Kau ciptakan, sebagai Rasul terakhir. Ya Allah curahkanlah rahmat Mu kpd Nabi Muhammad dan keluarganya di tempat yg paling mulia. Ya Allah! Curahkanlah rahmat Mu kpd Nabi Muhammad dan keluarganya sebagai utusan. Anugerahkanlah beliau Al Wasilah, kemuliaan, keutamaan, dan tingkat yg agung. Ya Allah, sesungguhnya aku beriman kpd Nabi Muhammad dan keluarganya walaupun belum melihatnya, maka janganlah Engkau haramkan daku pada hari kiamat utk melihatnya, karuniakanlah agar daku menjadi sahabatnya dan mati dalam mengikuti ajarannya, berilah daku minuman dari telaganya yg karenanya daku tdk akan haus selamanya, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah sebagaimana daku beriman kpd Nabi Muhammad sawa walau daku belum pernah melihatnya, maka tampakkanlah wajahnya di surga nanti. Ya Allah sampaikan salam penghormatan yg banyak dariku kpd ruh Nabi Muhammad sawa. Ya Rabb!

     
    • JURIJUJUR

      30/11/2015 at 10:20 pm

      Bagaimana jawaban nabi ini ketika ditanya ??

      Muhammad memberikan jawaban terus terang: “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku dan dirimu.”(Qs 46:9)

       
  2. abu

    15/07/2013 at 7:51 pm

    Mohon sebelumnya mau menambahkan, islam itu berasal dari mekah dan madinah, disanalah kota suci untuk islam,jadi jangan ikut2tan tradisi di hindu yg dicampur unsur2 islam seperti 7 hari,maulid nabi,dll..yg berasal dari indonesia.

     
  3. abu

    15/07/2013 at 7:50 pm

    Mohon sebelumnya mau menambahkan, islam itu berasal dari mekah dan madinah, disanalah kota suci untuk islam,jadi jangan ikut2tan tradisi di hindu yg dicampur unsur2 islam seperti 7 hari,maulid nabi,dll..

     
    • Alex B

      15/07/2013 at 10:28 pm

      @abu
      itu perlu dibuktikan dulu….!
      sekali lagi intropeksi diri sendiri dulu sebelum mengkritik orang lain…
      bukankah akidah salafy juga banyak meniru akidah yahudi dan nasrani?

      akidah Salafi Wahhâbi yang mereka warisi dari kaum Mujassimah Musyabbihah yang pada gilirannya mereka juga mewarisinya dari ajaran Yahudi yang sengaja disisipkan oleh para pendeta Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam, seperti Ka’ab al Ahbâr, Wahb bin Munabbih dkk!

      baca lengkapnya disini:

      http://abusalafy.wordpress.com/2013/07/12/membongkar-kepalsuan-syubhat-ustadz-firanda-dalam-buku-ketinggian-allah-di-atas-makhluk-nya-1/

       
    • Alex B

      16/07/2013 at 10:09 pm

      @Abu

      kalo masyayekh salafiyun benar2 mau memberantas bid’ah sebaiknya di awali
      di kota suci Mekkah dan Madinah…. karena kota ini sekarang di duduki oleh kerajaan
      yang bid’ah berdasarkan nash dari Nabi….. yakni Kerajaan Arab Saudi bukannya khilafa islamiyah, tapi
      meniru dinasty bid’ah umawiyah…
      sebagaimana kata Syekh Albani:

      Bahwa Muawiyah adalah orang pertama yang merubah sunnah Nabi saw

      أول من يغير سنتي رجل من بني أمية
      “Orang pertama yang akan merusak Sunnah/agamuku adalah seorang dari bani Umayyah.”

      Syekh Albani Setelah menyatakan bahwa hadis ini adalah berstatus “Hasan”, ia menegaskan bahwa yang dimaksud dengan: seorang dari bani Umayyah ini adalah Mu’awiyah… dan di antara kejahatannya dalam merusak agama adalah:

      ولعل المراد بالحديث تغيير نظام اختيار الخليفة ، وجعله وراثة . والله أعلم

      Mungkin yang dimaksud dengan hadis ini adalah merubah sistem kekhalifahan dan dijadikannya sebagai warisan/turun temurun. Allahu A’lam.

      keterangan lengkap Syekh Albani ttg itu silahkan buka web kumpulan hadisnya ini:

      http://islamicweb.com/arabic/books/albani.asp?id=12235

      Nah jelas keluarga al Saud meniru Muawiyah dalam mempraktekkan bid’ah kenegaraan
      yang menjadikan kota suci Makkah dan Madinah di kuasai oleh keluarga al Saud secara
      turun temurun sebagaimana Muawiyah bin Sufyan merubah khilafah menjadi kerajaan
      yang turun temurun…

      Jadi sebaiknya para salafiyun dan masyaikhnya mengurusi dan membebaskan Hijaz dari
      bid’ah Al Saud…. dan tidak menuduh praktek umat Islam sebagai meniru hindu dan sebagainya

      Kira-kira para muthowek dan masyaikh salafiyun beranikah ber-amar ma’ruf nahi munkar melawan
      Dinasti Al Saud?
      Jika tidak sebaiknya mereka tidak sibuk membid’ahkan dan mensesatkan umat muhammad yang muwahhid..!

       
  4. abu

    15/07/2013 at 7:45 pm

    Assalamualaikum. Saudara2 ku seiman ,benar saya juga sangat mecintai baginda rasulullah.saw ,,tapi para sahabat dan keluarga rasulullah.saw sendiri tidak pernah melakukan maulid nabi, apakah mereka tidak mecintai rasul ???? Apakah mereka tidak mengerti betapa agung nya rasul??? Kalian salah,para sahabat rasul yg pertama kali percaya dan meyakini rasul bahkan berjuang bersama rasul tetapi mereka tidak pernah merayakan hari kelahiran rasul, lalu rasul sendiripun hanya berpuasa dihari kelahiran nya,,lalu anda2 sekalian tau dari mana acara maulid nabi yg seperti sekarang ini benar????? DARI TULISAN DIATAS TIDAK ADA YG MENjELASKAN CARA MERAYAKANNYA!!!! Bahkan RASUL MELARANG ADA LUkiSAN BELIAU KRNA TIDAK MAU DIPUJA PUJA!! . Semoga ALLAH.swt memaafkan anda..krna merayakan hari kelahiran nabi itu cara orang nasrani merayakan kelahiran nabi isa .as.

     
    • Alex B

      15/07/2013 at 9:33 pm

      @abu

      Mas abu ..perbuatan sahabat itu bukan tolak ukur…
      toh sahabat sendiri banyak melakukan bid’ah

      salah satu contoh sebagaimana diakui ahli hadis kebanggaan salafiyun Syekh Albani bahwa sahabat Muawiyah adalah orang pertama yang merubah sunnahnya:

      أول من يغير سنتي رجل من بني أمية
      “Orang pertama yang akan merusaka Sunnah/agamuku adalah seorang dari bani Umayyah.”

      Syekh Albani Setelah menyatakan bahwa hadis ini adalah berstatus “Hasan”, ia menegaskan bahwa yang dimaksud dengan: seorang dari bani Umayyah ini adalah Mu’awiyah… dan di antara kejahatannya dalam merusak agama adalah:

      ولعل المراد بالحديث تغيير نظام اختيار الخليفة ، وجعله وراثة . والله أعلم

      Mungkin yang dimaksud dengan hadis ini adalah merubah sistem kekhalifahan dan dijadikannya sebagai warisan/turun temurun. Allahu A’lam.

      keterangan lengkap Syekh Albani ttg itu silahkan buka web kumpulan hadisnya ini:

      http://islamicweb.com/arabic/books/albani.asp?id=12235

      dan banyak contoh2 lainnya dalam hadis…

      Nah kalo sahabatnya sendiri banyak juga yang melakukan bid’ah lalu bagaimana menjadikan mereka sebagai tolok ukur kebenaran? apalagi jika tidak disandarkan kepada nash

      Selanjutnya
      tidak ada di zaman Nabi saw juga bukan tolak ukur bid’ah karena
      agama Islam itu agama yang universal sepanjang zaman, dan Al Qur’an (nas) itu juga untuk sepanjang zaman tidak jumud…. dalam hal-hal tertentu (yang tidak pasti seperti hukum kewajiban solat, puasa dll) maka disitu masih ada tempat untuk berijtihad

      pembahasan ini adalah pembahasan kuno….. yang diulang ulang kembali oleh kaum yang hobi mensesatkat dan membid’ahkan orang…. padahal banyak juga melakukan bid’ah dholalah

      satu contoh
      mana dalilnya bahwa Rasul saw menganjurkan solat taraweh berjamaah? apalagi dalam taraweh diselingi ceramah dsb apa ada tuh contohnya dari Nabi saw,? apa bukan bid’ah itu?

      Nabi seumur hidup hanya 3 kali melakukan solat malam berjamaah di waktu ramadan/taraweh, (istilah ini juga bid’ah karena tidak ada di zaman nabi saw) itupun beliau tidak mengajak umatnya solat berjamaah apalagi menganjurkannya…. setelah itu beliau solat sendiri di rumah, bahkan beliau takut itu di wajibkan…. anehnya sekarang umatnya malah menjadikan ritual ramadan ini seakan-akan wajib? kenapa kita tidak ikuti perintahnya solat malam/taraweh sendirian saja di rumah seperti beliau? bukankah beliau mengatakan bahwa sebaik-baik solat sunah itu di rumah? dan bukankah sebaik-baik teladan itu beliau?

      Dalam hadis disebutkan bahwa yang mengumpulkan orang untuk solat malam berjamaah di waktu ramadan adalah khalifa Umar…. dan dalam hadis beliau juga menyatakan bahwa yang utama itu adalah yang tidur dahulu lalu solat malam (tentunya di rumah masing2 bukan berjamaah di masjid) karena Umar sendiri tidak ikut solat berjamaah apalagi ikut mengimami (silahkan lihat hadis taraweh di Bukhari dan Muslim),
      lalu kenapa kita ramai2 bertaraweh di masjid dan mengatakan bahwa itu yang utama, bukankah itu bid’ah?

      nggak usah ribut membid’ah kan orang mas…. bukan zaman nya…. koreksi diri sendiri aja… koreksi bid’ah di diri sendiri sebelum membid’ahkan orang lain…
      masih banyak PR buat umat ini

       
  5. Amirullah

    11/07/2013 at 9:58 am

    Assalamu alaikum Wr Wb, sungguh indah islam itu, mengapa manusia hanya berpikir yang bisa di lihat saja yang baik sementara yang ghaib diabaikan, padahal akal pikiran manusia tidaklah mampu menjangkau yang ghaib bila tidak melihat dengan hati.

     
  6. Amri Syaiful

    09/05/2013 at 1:54 pm

    I LOVE ALLAH SWT and PROPHET MUHAMMAD RASULULLAH

     
  7. danix

    13/03/2013 at 10:52 pm

    thanks

     
  8. danixpujangga

    13/03/2013 at 10:51 pm

    orang kafir saja bergembira saat lahir nya nabi muhammad di ampuni dosanya pada hari senin.. apalagi umatnya.. bahkan para malaikat saja bersolawat kepada nabi.. apalagi umatnya. saya sedih klw ada umat yg mengaku nabinya muhaammmad ada yg melarang pringatan maulid nabi padahal peringatan itu intinya adalah salawat kpada nabi dan ukhuwah terkandung di dlmnya krna kita manusia adalah mahluk sosial

     
    • abu

      15/07/2013 at 7:53 pm

      Tapi kan para sahabat dan keluarga rasul tidak mlakukan nya..padahal mereka orang2 yg dijamin benar dan masuk surga bersama rasul oleh ALLah.swt . Jd jangan lebay deh

       
      • Alex B

        15/07/2013 at 10:21 pm

        @ABU
        Siapa yang di jamin sorga itu bos?
        kalo Ahlulbait nya ya?
        kalo sahabatnya nanti dulu, ada yang dijamin ada tidak?
        jadi bukan smua….!
        jadi jangan lebay juga gitu

         
      • ryan

        12/10/2013 at 1:54 am

        mas abu. ngapain nabi muhammad&sahabat merayakan maulid wong mengislamkan orang arab yg masih jahiliyah. masih sembunyi 2 nabi ngurusi urusan besar(mentauhidkan orang arab saat itu masih jahiliyah.)bukankan maulid nabi suatu perayaan yg didlmnya ada solawat sejarah & prilaku nabi.kita tdk menyembah nabi.bukankah alloh menyuruh kita unt mencintai Alloh & rosulnya.arti mencintai luas mas abu.lain dgn menyembah.wong nabi aja puasa hari senin(lahirnya)kalau sahabat nabi melakukan maulid tdk menutup kemungkinan salah tafsir.

         
  9. rahmat kurniawan

    14/02/2013 at 2:52 pm

    assalamualaikum..
    benarkah Muhammad ada sebelum adam itu ?
    apakah dy satu nama dgn Allah?
    mengapa tidak nama yg lainya
    bagaimana kita mengimani dy dalam tahyat ketika sholat smentara dy juga Nur mngkin saja (gaib)
    smntara akal,fikir,faham,dan hayal slalu ada pada ruh kita,kmna ruh kita saat bersyahadat?
    mohon bantu saya ,kiranya saya mendapat pelajaran yg sangat terang.
    terimakasih ,wassalamualaikum

     
  10. rania radhiyah

    01/02/2013 at 11:32 pm

    Muslim yang ragu dan enggan merayakan Maulid Nabi saww memang ada dan tentu pandangan ini hanya dimiliki oleh muslim yg berpemikiran sempit, yang beriman kepada “Tuhan yang berkekuasaan terbatas” yg biasanya mereka dudukkan hanya di singgasana (Arsy). Bagi orang semacam ini, perbedaan mutlak antara Khaliq ( Pencipta ) dan Makhluq (yang dicipta) menjadi kabur karena mereka secara emosional mengenakan batas -batas kepada “Yang Tak Terbatas”. Akibatnya, pemikiran mereka ini meletakkan mereka pada posisi yg salah sehingga harus mengecilkan “ciptaan terbaik” demi mendudukkan اَللّهُ ditempat Nya sebagai Tuhan.

     
    • Syafiq Basri

      02/02/2013 at 11:38 pm

      Benar sekali. Terima kasih atas komentar yg sangat bernas! 🙂

       
  11. zindagi

    18/11/2012 at 7:17 am

    Bagus sih,untuk dongeng sama anak kecil sebelum tidur.

     
    • Syafiq Basri

      18/11/2012 at 5:05 pm

      Dan anak kecilnya itu biasanya yang menulis tanggapan tanpa nama asli ; karena ia tidak punya alasan yang cukup nalar… Hehehe 🙂

       
  12. anggawi

    12/02/2012 at 2:47 pm

    Karena sholawat adalah doa yang pasti dikabulkan oleh Allah SWT, maka bisa dikatakan ketika kita berdoa kepada Allah SWT agar doa tersebut diterima maka kita berwasilah kepada sholawat kepada Rasulullah Muhammmad Saaw dan Keluarganya. Awali doa dengan sholawat dan ditutup dengan sholawat. Membaca tulisan ini sangat gamblang dan layak kita memperingati suri kehidupan Rasulullah Muhammad Saaw setiap saat.

     
  13. dyah sulistyorini

    08/02/2012 at 7:02 am

    artikel menarik… it’s worth to be shared.

     
    • Syafiq Basri

      08/02/2012 at 4:25 pm

      Terima kasih Mbak Dyah. Appreciate your comment.
      Sering-sering ya. Hehehe 🙂

       
  14. Dewi K. Utama

    08/02/2012 at 3:36 am

    Bukankah kekhidmatan kita pada Nabi Muhammad; diantaranya dilakukan dengan mengucapkan shalawat? Isi shalawat adalah doa permohonan kita pada NYA untuk memberikan “HIS Blessings” pada beliau beserta keluarganya. Tentunya ini sangat berbeda dengan mengucapkan doa agar Nabi Muhammad yang menolong kita; karena doa untuk memohon pertolongan hanya kita tujukan pada ALLAH SWT.
    Mohon maaf bila pemahaman saya ini tidak tepat

     
    • Syafiq Basri

      08/02/2012 at 4:21 pm

      Yth Mbak Dewi K.Utama,
      Saya pikir Anda sejalan dengan kita, Mbak. Hanya Allah sajalah yang bisa memberikan ‘blessings’ dan sebagainya kepada kita, makhluknya. Adapun solawat yang kita lakukan kepada Nabi Muhammad saw adalah juga karena perintah Allah. Kalau pun kita mengharap nantinya kelak Nabi saw memberi syafa’atnya kepada kita di Hari Kemudian, itu akan terjadi karena seijin Allah saja. Semuanya seijin Allah.

      – Yang harus dicatat adalah bahwa: Allah juga memberikan kepada makhluk tertentu keistimewaan-Nya. Ada makhluk tertentu — manusia, tumbuhan, waktu dan tempat tertentu — yang diberi ‘keistimewaan’ oleh Allah. Misal, tumbuhan jamur tertentu diberi keistimewaan bisa menyembuhkan penyakit. Belakangan tumbuhan itu diketahui bernama jamur. Kandungan tanaman itu, setelah diteliti oleh Alexander Flemming (1928), ternyata berisi zat ‘peniciline’ — yang kemudian dikembangkan menjadi antibiotika. Kalau dulu kita makan jamur itu (sebelum diketahui Flemming), agar sembuh dari penyakit, bukan berarti kita ‘syirik’. Sebab, Yang Menyembuhkan hanya Allah saja, tapi prosesnya ‘melalui’ tumbuhan jamur tadi.
      – Demikian pula, waktu2 istimewa, misalnya saat hujan, sepertiga malam terakhir, malam Jum’at, saat berlangsungnya ijab-kabul, dsb — semuanya dikatakan sebagai saat ketika doa sangat mustajab. Tempat pun juga demikian: masjidil haram (Mekah dan Madinah), tempat-tempat suci, makam orang suci (wali), dan sebagainya — juga diberi ‘keistimewaan oleh Allah, dan hanya ‘atas ijin Allah’ — sekali lagi atas ijin Allah — maka doa di tempat itu biasanya sangat makbul (mudah diterima).
      – Nah, kalau tumbuhan, waktu dan tempat saja diberi ‘keistimewaan’, apatah lagi Nabi Muhammad saw: kalau beliau minta sesuatu kepada Allah buat kita, maka atas ijin Allah, bisa dijamin apa yang beliau mintakan itu pasti dikabulkan Allah. Pengabulan itu pun atas seijinnya, sebagaimana keisitimewaan yang dimiliki Nabi saw juga terjadi atas seijin Allah.
      – Bagaimana kalau Nabi saw sudah wafat? Menurut sementara ulama, tidak ada bedanya, karena yang wafat itu kan hanya jasad beliau, sementara ruh-nya hidup sepanjang masa. “Jangan kamu mengira mereka yang mati di jalan Allah itu adalah ‘mati’; melainkan mereka hidup di sisi Allah, dan mendapatkan rejeki,” begitu bunyi salah satu ayat Al-Qur’an.
      – Semoga pemahaman saya ini juga benar adanya, Mbak Dewi. Kalau keliru, saya mohon dikoreksi.
      Sekali lagi terima kasih.

       
    • Zulfan Afdhilla Al-Muntadzar

      15/05/2012 at 3:14 pm

      Kenapa Rasul Memyuruh Ummatnya bershalawat?
      1. Rasa Terimakasih kepada Beliau atas perjuangannya
      2. Agar diberi “syafaat” (pertolongan Nabi) di hari kiamat. Qala Nabiy: Nanti jubah beliau akan beliau taruk di tiang timbangan bagi ummatnya yang sering bershaawat..

       
      • Syafiq Basri

        17/05/2012 at 1:05 am

        Terima kasih tausiyah-nya,Bung Zulfan Al-Muntadzar. Jazaakallah khair.. 🙂

         
  15. Mieke Gembirasari

    07/02/2012 at 10:03 pm

    Saya bagikan lagi di FB via nama saya, ya – berharap lebih banyak lagi orang yang membaca dan yang tercerahkan – aamien. hatur nuhun pisan

     
    • Syafiq Basri

      08/02/2012 at 4:03 pm

      Sure, Teteh Mieke. Hatur nuhun pisan ya Teh.. 🙂
      Jazaakillah khair.

       
  16. Syafiq Basri

    07/02/2012 at 12:03 pm

    Dalam ilmu psikologi-komunikasi dikenal istilah ‘out of sight of of mind’ — jauh di mata jauh di hati. Atau, kata kita,”tak kenal maka tak sayang”. Jika orang hanya dikenalkan dengan penyanyi atau bintang film kondang, ia hanya akan mencintainya — karena sering menyebut namanya, sering melihat fotonya, dan sebagainya. Lagi pula, itu bisa ‘direkayasa’ — maka muncullah iklan yang diulang berkal-kali, agar orang kemudian ‘kenal’, lalu paham, lalu punya persepsi positif, kemudian ‘percaya’ pada tokoh (atau produk) tertentu — dan seterusnya. Akibatnya, kalau anak-anak tidak pernah dikenalkan pada sejarah Nabi saw, keluarga dan sahabatnya yang terpilih, jangan heran bila mereka kemudian jauh dari akhlak mereka. 🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: