RSS

Ramadan di Sampang – Media Indonesia 30 Juli 2013

30 Jul

The largest Shia majority countries are Iran, ...

The largest Shia majority countries are Iran, Iraq, Azerbaijan, and Bahrain; all are coloured in dark red. (Photo credit: Wikipedia)

Saat sahur di sebuah musola di Sampang, Madura, kita membayangkan sekelompok orang bermunajat, memohonkan kebaikan bagi tetangga, teman dan handai tolan. “Tuhan, kenyangkanlah setiap yang lapar di antara kami; Gusti, lapangkanlah mereka yang sedang dalam kesulitan.”

Itu petikan salah satu doa Imam Syiah, yang menjadi panutan mereka. Saat Ramadan, khususnya pada setiap habis solat, doa semacam itu , yang di dalamnya selalu menyertakan orang lain, banyak mereka lantunkan, sesuai tuntunan akhlak ke-12 Imam Syiah Istna’asyariyah.

Namun, rupanya ajaran agar berbudi baik itu tidak cukup membuat mereka hidup tenang. Mereka dianggap sesat, sehingga harus dikucilkan dan mengungsi di negerinya sendiri. Rumah dan pesantren mereka dibakar, dan aparat negara melakukan pembiaran, lalu mengatakan bahwa itu karena mereka ‘berkonflik’ dengan yang mayoritas, bukan sedang didhalimi atau ditindas.

Opini ini dimuat pada harian Media Indonesia, 30 Juni 2013. Silakan klik di sini untuk melihat e-paper Media Indonesia itu.

Mereka dituduh menyeleweng, atau kafir, sehingga mesti bertaubat. Akibat tudingan model begitu, tidak heran bila dalam pertemuan dengan pengungsi Sampang di Surabaya pekan lalu, Menteri Agama Suryadharma Ali dan ulama yang mendampinginya ngotot meminta para pengikut Syiah itu melakukan ‘taubatan nasuha‘ lebih dulu sebelum dipulangkan ke Sampang. Menurut Direktur LBH Universalia Hertasning Ichlas,yang mendampingi pengungsi, keyakinan yang didorong tekanan dan paksaan model itu, tidak konstitusional, semu, dan memalukan bagi cara dakwah Ahlus Sunnah.

Tuduhan yang lain adalah bahwa Qur’an Syiah berbeda. Tetapi, anggapan itu dibantah banyak pakar Muslim, baik dari Syiah atau pun Sunni. Dalam sebuah seminar Sunni-Syiah di Jakarta tahun 80-an, Nurcholish Madjid (almarhum) terpaksa menunjukkan dua kitab Al Qur’an (yang dibelinya di Iran) kepada peserta seminar. Keduanya sama dengan Qur’an kita. Cak Nur rupanya tak suka mayoritas Muslimin yang Sunni memfitnah saudaranya yang minoritas. Ketika bertugas ke Iran sebagai wartawan, penulis juga membuktikan Qur’an yang dijual di sana sama persis dengan Qur’an kita. Qur’an itulah yang dibaca dalam setiap Musabaqah Tilawatil Qur’an Internasional, yang diikuti qari’ Sunni dan Syiah sedunia.

Bayi-bayi anak-anak pengungsi Syiah di GOR Sampang: Apa salah mereka?

Bayi-bayi anak-anak pengungsi Syiah di GOR Sampang: Apa salah mereka?

Sesungguhnya fitnah model begitu bukan hal baru. Sejak dahulu politik penguasa Bani Umayah (661-750 M) dan Bani Abbasiyah (750-1258 M) biasa mendiskreditkan para pengikut keluarga (Ahlul Bait) Nabi, yang populer disebut Syiah, karena kuatir ‘ancaman’ yang mungkin datang dari para pemimpin keluarga Nabi yang banyak mendapat penghormatan dan simpati masyarakat luas baik secara terang-terangan atau pun diam-diam.

Akibatnya, kelompok Syiah yang sejak awal terbentuknya sudah selalu terjepit dan dianiaya, sering menjadi bulan-bulanan musuh politik mereka, atau oleh mereka yang kurang paham mengenai perbedaan mazhab dan perlunya sikap toleran. 

Sejarahnya memang begitu, sehingga tak heran bila mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif dalam diskusi di sebuah stasion TV swasta belum lama ini mengatakan bahwa semuanya, baik penganut Sunni maupun Syiah mesti kembali menengok sejarah.

Lima nama di samping nama Allah SWT -- sering dibaca pengikut NU dan Syiah: Al Mustafa (Nabi) Saw, Al Murtadha (Ali bin Abithalib as), Kedua anaknya, Al Hasan dan Al Husain (as), dan ibu keduanya, Siti Fatimah (as). Kelimanya disebut Ahlil Kisaa'; Mereka yang dipilih Allah SWT.

Lima nama di samping nama Allah SWT — sering dibaca pengikut NU dan Syiah: Al Mustafa (Nabi) Saw, Al Murtadha (Ali bin Abithalib as), Kedua anaknya, Al Hasan dan Al Husain (as), dan ibu keduanya, Siti Fatimah (as). Kelimanya disebut Ahlil Kisaa’; Mereka yang dipilih Allah SWT.

Syiah Diciptakan Abdullah bin Saba’ ?

Di antara sejarah yang penting mengenai Syiah adalah adanya anggapan bahwa mazhab Syiah diciptakan Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang bermaksud memecah belah Islam. Namun, banyak pakar, baik dari kalangan Syiah mau pun Sunni, yang membantah hal itu . Menurut mereka, kisah Abdullah bin Saba’ hanya bersumber dari Saif bin Umar (hidup pada pertengahan abad kedua Hijrah) yang diragukan kredibilitasnya.

Ilmuwan kenamaan Mesir Thaha Husain, juga menyatakan figur Bin Saba’ itu hanya fiktif, dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah. Profesor Quraish Shihab mengutip itu (2007, hal. 65). Shihab juga beranggapan, para penganut Syiah, pakar-pakar Sunni, dan Ibnu Khaldun (dalam Tarikh-nya) berpendapat bahwa benih Syiah muncul sejak masa Nabi SAW, atau setidaknya secara politis benih itu muncul saat wafatnya Nabi SAW.

Sejarawan menulis, saat Nabi baru wafat sebagian sahabat Nabi, dipimpin Umar bin Khattab ra, membaiat (mengangkat) Abubakar ra sebagai Khalifah I di balairung Tsaqifah Bani Saidah, di pinggiran kota Madinah. Pada waktu yang sama, keluarga Nabi SAW dan sejumlah sahabat lain tidak ikut ke Tsaqifah, melainkan tetap berada di samping jenazah Nabi yang belum dimakamkan. Mereka keberatan terhadap pengangkatan Abubakar itu, antara lain karena telah meyakini bahwa nash Al Quran dan hadis Nabi telah jelas menunjukkan bahwa penerus kepemimpinan pasca-Nabi adalah Ali bin Abithalib ra. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai ‘pengikut’ (atau Syiah) Ali, sebagai pembeda dengan Syiah sahabat Abubakar dan Umar.

Selanjutnya Syiah berkembang dan terpecah menjadi empat kelompok besar,  Ghulat (yang ekstrim), Ismailiyah, Zaidiyah dan Imamiyah  alias Istna’Asyariyah (12 Imam). Sebagian firqah itu terpecah-pecah lagi, sementara lainnya (seperti Ghulat) sudah punah. Hanya dua kelompok yang terus bertahan, dan dimasukkan ke dalam golongan umat Islam, yakni Syiah Zaidiyah (banyak terdapat di Yaman), dan Syiah Itsna’Asyariyah yang merupakan kelompok terbesar dan dianut penduduk Iran, Irak, Suriah, Lebanon, Kuwait, Bahrain, India, Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan tiga jutaan orang di Indonesia. Sekitar 250-an juta penganut mazhab Syiah di dunia ((15-20 % dari 1,7 Milyar Muslimin dunia) itu selama ini tetap melaksanakan haji dan umrah, karena pemerintah Saudi tak pernah menganggap mereka di luar Islam.

Sejarah para pendiri mazhab fiqih juga menunjukkan mereka saling bertukar ilmu satu dengan lainnya. Ja’far As-Shadiq, Imam Syiah ke-enam, misalnya adalah guru dua pemimpin mazhab Sunni, Nu’man bin Tsabit alias Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi), dan Malik (pendiri mazhab Maliki). Kemudian, Imam Syafi’i berguru kepada Imam Malik, dan Imam Hambali berguru kepada Syafi’i.  Hambali dan Syafi’i (yang paling banyak diikuti di Indonesia) adalah juga pendiri mazhab Sunni.

Maka bisa dikatakan bahwa, bila hendak melihatnya dari sisi positif, sejatinya perbedaan yang ada antara kedua mazhab besar itu utamanya hanya berkisar dalam masalah sejarah dan politik jaman dulu, yang mestinya pada era kita sekarang tidak perlu sampai membuat permusuhan antara keduanya. Terlebih di Indonesia, di mana Syiah terbukti memiliki peran dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara jaman dulu. NU sendiri, menurut banyak pakar, secara budaya juga dekat dengan Syiah. Menurut tokoh asal Madura Mahfud MD, orang Sunni di Madura kerap mengucapkan salawat yang sama dengan orang Syiah — misalnya, dalam penyebutan lima orang yang pasti tidak masuk neraka, yakni Nabi Muhammad SAW,  Ali (Al-Murtadho), kedua anak Ali, Hasan dan Husein,  serta ibu mereka Siti Fatimah, yang adalah putri Nabi.

Sejak lama para ulama, termasuk Syaikh Al-Azhar Mahmoud Syaltout dalam dokumen Fatwa ini menyatakan bahwa Syiah termasuk salah satu mazhab Islam yang sah.

Sejak lama para ulama, termasuk Syaikh Al-Azhar Mahmoud Syaltout (dalam dokumen Fatwa ini) menyatakan bahwa Syiah termasuk salah satu mazhab Islam yang sah.

Makanya banyak yang mensinyalir, mungkin saja ada sekelompok kecil Islam garis keras Salafi-Takfiri — dengan berbekal ‘pembersihan’ tauhid dan mengaku sebagai ‘Sunni’ — telah memprovokasi sementara ulama lokal untuk menghabisi Syiah sampai akar-akarnya. Sehingga kita jadi bertanya, bagaimana mungkin ulama di wilayah NU yang terkenal toleran dan andap asor, tiba-tiba tega mengusir orang Islam lain?

Bagaimana pun, bila masih tetap ngotot bahwa Syiah berbeda dengan Sunni, dengan kacamata positif kita tetap bisa melihat hal itu sebagai desain Allah.

Tulisan di Media Indonesia sampai di atas. Di bawah saya kutipkan bagian yang terpotong (sebelum diedit)  oleh redaksi Media Indonesia:

Bagaimana pun, bila masih tetap ngotot bahwa Syiah berbeda dengan Sunni, dengan kacamata positif kita tetap bisa melihat hal itu sebagai desain Allah, karena Tuhan memang menciptakan manusia berbeda-beda, agar ‘saling berlomba dalam kebaikan’. Dan kebaikan itu tentu saja berwujud dengan saling mencintai, menghargai, tasamuh, dan toleransi dalam keragaman — bukan saling cerca.

Walhasil, itulah harapan kita, agar dalam suasana bulan suci Ramadhan ini para pengungsi Sampang itu bisa kembali hidup nyaman dalam naungan Negara Kesatuan. Dalam asa yang penuh optimisme itu, mereka dan kita tampaknya layak melantunkan lanjutan doa di atas: “Ya Allah, kembalikanlah mereka yang terasing dari kampung halamannya; Bebaskanlah setiap yang terbelenggu dalam cengkeraman orang lain; Ya Allah, Perbaikilah setiap keburukan yang ada di tengah-tengah kaum Muslimin.”

Advertisements
 

Tags: , , , , ,

2 responses to “Ramadan di Sampang – Media Indonesia 30 Juli 2013

  1. mieke1506

    17/08/2013 at 5:26 pm

    Saya bagikan lagi via FB, ya- nuhun pisan

     
  2. hayyaaherbalism

    04/08/2013 at 10:42 pm

    Reblogged this on HAYYAHerbalism.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: