RSS

Benarkah Takdir Bisa Diubah?

23 Jul

Apakah Takdir? Apakah Qadha dan Qadr itu?

Takdir, sering disebut dengan Qadr, rupanya berbeda dengan Qadha — meski keduanya sangat berkaitan satu dengan lainnya.

QADHA: ketetapan Allah yang bersifat khusus (sunnatullah) . Yaitu suatu hasil kejadian sebelum (yang akan) terjadi misal: seseorang mati setelah sebab-sebab kematian itu terkumpul; maka ‘mati’ di sini adalah Qadha. Ada yang menyebut  Qadha sebagai ‘keputusan’. (Sementara ‘qadr’ atau ‘takdir’ adalah ketetapan).

Sifat api panas dan membakar, sifat air cair dan membasahi dll. Dalam perjalanan mahluk di muka bumi ini diberikan kebebasan untuk menentukan perjalanannya (ihktiar) menggunakan sebab-sebab yang ada (sunnatullah) .

Doa: bisa mengubah takdir

Doa: bisa mengubah takdir

QADR: (ukuran dan takdir) ketetapan Allah yang bersifat umum. Yaitu suatu teori (konsep) ukuran dari suatu kejadian setelah (yang nantinya akan) terjadi. Misal: Pandangan umum seorang jatuh dari ketinggian akan mati tapi bisa jadi tidak, sifatnya individual karena sebab-sebab terjadinya sesuatu bisa beda satu dengan yang lainnya.

Dalam bahasa Arab, kata ‘qadha’ dan ‘qadar’ dipakai untuk makna yang berbeda. Kata ‘qadha’ diartikan dalam bahasa Inggris dengan kata “fate” (maknanya mungkin serupa dengan ‘nasib’ atau hasil akhir, atau outcome), sedangkan kata ‘qadar’ atau ‘qadr’ dipakai untuk destiny (dan kita menyebutnya ‘takdir’). Dalam bahasa Inggris keduanya, fate dan destiny, sama saja artinya, karena bahasa Inggris tidak sekaya bahasa Al-Quran, sehingga tidak bisa membedakan keduanya.

Secara literal, kata ‘qadha’ berarti mengambil keputusan (to decide; to settle; to judge), seperti seorang hakim memutuskan perkara. Maka dalam bahasa Arab, kata ‘qadhi’ (hakim atau judge) disebut demikian karena ia memutuskan perkara di pengadilan. Dalam Al Qur’an kata ini banyak dipakai untuk merujuk baik kepada manusia mau pun kepada Allah. Kata ini dipakai dalam nuansa ‘memberikan keputusan akhir dan mengambil tindakan decisive(in the sense of giving a final verdict and taking a decisive action). Sedangkan kata ‘qadr‘ berarti mengukur, mengakses, dan untuk menetapkan (sesuatu). Ia juga sering dipakai dalam Al Quran.

Takdir dapat mengalami perubahan dengan berubahnya sebagian sebab dan syarat-syaratnya.

Misal: perjalanan janin yang berangsur-angsur dari sperma, segumpal darah, segumpal daging sampai membentuk sebuah makhluk kecil bernama ‘fetus’ (janin) yang sempurna, Ketika lahir, cengeeeer ke dunia, sang jabang bayi itu  telah melewati tahap-tahap beragam untuk sampai kepada takdir tersebut. Tetapi, karena di dalam tahap-tahap itu ada ruang dan waktu, maka ketika proses tadi terganggu karena suatu sebab, misalnya, maka gumpalan daging tadi bisa keluar sebelum waktunya, sehingga gugurlah janin tadi pada salah satu di antara tahapan tersebut. Artinya, di situ telah terjadi perubahan pada takdir itu.

Menurut agama, amal perbuatan baik kita (seperti sedekah) dan doa (baik dari diri sendiri atau pun doa orang lain) dapat mengubah takdir; sehingga bila seseorang semula akan tabrakan dengan patah kaki ternyata hanya mengalami ‘serempetan’ dengan luka lecet saja.

Untuk penjelasan lebih rinci, bisa merujuk ke tautan di Wikipedia ini (dalam bahasa Inggris), dan “discussion on the reasons for free-will. Anda juga dapat membaca sebuah buku (dalam bahasa Inggris) yang secara tuntas membahas mengenai manusia dan nasibnya, Man and Destiny karya Murtada Mutahhari.

Berikut kira-kira pembagiannya secara singkat:

Qadha:

  • Khusus, sunnatullah ( = hukum alam);
  • Sebelum terjadi;
  • Tergantung ikhtiar manusia untuk menggunakan sebab-sebab yang ada;
  • Destiny – pre-destination (mirip judgement) — God’s will that a certain thing should happen. (barangkali mirip ‘chance’).
  • Contoh: air = basah, tenggelam; api = panas, membakar.

Qadr:

  • Takdir, takaran; bersifat umum;
  • Setelah terjadi; Eksekusi.
  • Dapat berubah, jika sebagian sebab dan syaratnya berubah.
  • Decree; (execution) — qadar is the actual happening of the event in consequence of such predestination.

Dua orang solat di Minnesota airport (AS): mengubah takdir?

Dua orang solat di Minnesota airport (AS): mengubah takdir?

Ingat ketika Nabi Ibrahim as dibakar oleh Raja Namrud? Ketika itu Nabi Ibrahim tidak terbakar. Apakah di sini sifat api berubah menjadi ‘tidak membakar’, padahal sudah menjadi hukum alam (sunnatullah) bahwa sifat api adalah panas dan membakar. Sejauh yang dipahami sebagian orang, sifat api tetap, tetapi untuk tetap dalam sifatnya itu, api memerlukan syarat dan sebab, misalnya ada oksigen (gas O2). Di ruang hampa udara, api akan padam, tidak lagi menyala. Nah, saat Ibrahim dibakar dalam api unggun yang dinyalakan kaki tangan Namrud itu, (sejauh pemahaman saya – SB) Tuhan Yang Maha Kuasa mengubah ‘sebab-sebab’ yang ada di lingkungan api dengan cara-Nya sendiri (yang kita tidak tahu, karena ilmu kita terbatas), barangkali dengan mengusir unsur oksigen di situ, sehingga api itu tidak panas, tidak lagi membakar. Kata Tuhan dalam kitab-Nya saat Ibrahim dimasukkan dalam api unggun itu, “Wahai api, jadilah dingin dan menyelamatkan..” (Yaa naaru kuuniy bardan wa salaaman).

Tetapi mungkin sekali saja pendapat saya keliru, karena kalau yang diusir Tuhan adalah unsur oksigen, maka api akan padam, sedangkan pada kasus api unggun Ibrahim (as) itu api tetap menyala, tetapi ia tidak ‘membakar’ dan tidak panas — melainkan menjadi dingin (dan menyelamatkan). Nah, bagaimana ini menurut Anda?

Dari beberapa pendapat teman-teman, terjadi diskusi mengenai perbedaan pemahaman soal Qadha dan Qadar menurut tiga mazhab besar, Asy’ariyah yang menjadi pegangan mazhab Sunni (Ahlus-sunnah), Syiah dan Mu’tazilah:
  • Menurut konsep Asy’ariyah (Sunni): semua sudah ditentukan Allah, tidak ada freewill (keinginan atau kehendak bebas). Asy’ariyah meyakini konsep ‘Jabbariah‘ (semacam keterpaksaan), yakni bahwa perbuatan manusia adalah kehendak Tuhan. Seorang teman menganalogikan ini seperti wayang yang tergantung pada keinginan dalang. Menurut Asy’ariah: Qadha dan Qadr itu mutlak (100 prosen) merupakan ketetapan Allah, termasuk yang baik (khair) dan yang buruk (syar).
  • Mu’tazilah meyakini semuanya adalah murni seratus prosen kehendak bebas (freewill) manusia, dan tidak ada campur tangan Allah. Mu’tazilah percaya pada konsep ‘Qadariyah‘. (Qadara = kemampuan). Mereka meyakini perbuatan manusia adalah perbuatannya semata, tanpa campur tangan kekuatan Allah. Bagi Mu’tazilahQadha dan Qadr itu 100 prosen adalah hasil ikhtiar manusia sendiri.
  • Sedangkan Syi’ah meyakini bahwa kehendak Allah di atas kehendak manusia. Artinya Allah berkehendak apabila manusia menghendakinya. Konsep Syiah Ja’fari/ Itsna’asarriah dalam hal ini berada di tengah, antara kedua yang di atas — Tafwid bayna asy’ari wa mu’tazili (Tidak Asy’ari dan Tidak Mu’tazili, melainkan di antara keduanya). Syiah berpendapat bahwa Qadha dan Qadr merupakan ketetapan Allah berdasarkan hasil ikhtiar manusia..Artinya, Allah menetapkan hukum-hukum dan manusia memiliki freewill untuk memilih, tetapi Allah memiliki pengetahuan tentang apa yang akan terjadi.
Advertisements
 
5 Comments

Posted by on 23/07/2013 in Diskusi Agama, Pemikiran

 

Tags: , ,

5 responses to “Benarkah Takdir Bisa Diubah?

  1. chromasblog

    05/11/2016 at 4:38 pm

    TAKDIR ITU KETENTUAN ALLAH YANG SUDAH BAKU SEDANG QADHA ADALAH KEPUTUSAN ALLAH SETELAH ADA IKHTIYAR DARI KITA TETAPI DALAM BATAS-2 TKDIR YANG ADA PADA KITA.UMPAMA KITA BERLATIH KERAS UNTUK BISA MENGANGKAT BARBEL 200 KG, TETAPI OTOT-2 KITA HANYA DITAKDIRKAN ALLAH HANYA BISA MENGANGKAT MAXIMAL 100 KG. ORANG LAIN MUNGKIN ADA YANG DITKDIRKAN LEBIH DARIKITA/ UNTUK JELSNYA BACA BLOG SAYA DR ROMAS IDEA DG JUDUL ” TAKDIR TIDAK BISA DIRUBAH QADHA YANG BISA BERUBAH ” DG DALIL-2 AQLI DAN NAQLI

     
  2. chromasblog

    23/10/2016 at 10:25 am

    TAKDIR BISA DIRUBAH ALLAH HANYA UNTUK TUJUAN TERTENTU SEPERTI TAKDIR API PANA DIRUBAH ALLAH JADI DINGIN AGAR TIDAK MEMBAKAR TUBUH NABI IBRAHIM .TONGKAT DENGAN TAKDIR BENDA MATI BISA JADI ULAR SEBAGAI MU’JIZAT NABI MUSA.SEDANG DOA DAN BERAMAL SOLEH HANYA BISA MEMINDAHKAN DARI TAKDIR BURUK KE TAKDIR BAIK. CONTOH ORANG BERDOA AGAR DIBERIKAN TAKDIR ” RAJIN PANGKAL KAYA ” DAN DIJAUHKAN DARI TAKDIR “MALAS PANGKAL MISKIN”. RINGKASNYA BERDOA AGAR SIFAT MALASNYA DIHILANGKAN AGAR BISA KAYA

     
  3. Pingback: SUFI MUDA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: