RSS

Pemimpin kok Korupsi?

08 Feb

Kasus-kasus korupsi yang marak belakangan ini makin banyak melibatkan pimpinan. Baik itu pemimpin partai politik, pemimpin kementerian, ataupun kepala daerah. Kita lalu bertanya, memang seperti apa sih pemimpin itu seharusnya; mengapa tidak semua ‘yang di atas’ berarti juga seorang pemimpin (leader)? Apa hubungan leadership dengan integritas?

Angelina Sondakh: salah satu tokoh parpol yang tidak punya integritas

Angelina Sondakh, salah satu tokoh Partai Demokrat yang terbukti korupsi: tidak punya integritas

Seiring makin dekatnya pemilu 2014, dan sejalan dengan kian menurunnya elektabilitas sejumlah partai politik (parpol), soal kepemimpinan ini menjadi kian menarik untuk diperhatikan. Seiring dengan itu pula, kita juga bertanya-tanya, mungkinkah kita dapat memilih pemimpin, mulai dari presiden hingga walikota dan bupati, yang memang pantas untuk disebut sebagai pemimpin (leader) sejati. Kita kuatir, jangan-jangan nanti yang muncul hanya  para petualang politik, atau kriminal demokrasi yang hanya akan menambah deretan panjang gerombolan koruptor di negeri ini.

Tulisan ini aslinya berjudul, Pemilu dan Integritas Pemimpin, ditayangkan pada media online “Inilah.Com”, Kamis 7 Februari 2013.

Sebab, banyak di antara kita lazimnya keliru menganggap bahwa setiap orang yang berada pada posisi ‘di atas’ berarti seorang pemimpin. Kita menganggap bahwa  individu yang mengelola orang lain pada lingkungan profesional adalah seorang leader.

Mantan Presiden PKS Luthfi Hasan di KPK:  bukti absennya integritas seorang pemimpin

Mantan Presiden PKS Luthfi Hasan di KPK: bukti absennya integritas seorang pemimpin

Dalam lingkungan usaha, misalnya, pemilik atau pengusaha lazimnya memang bertindak sebagai pemimpin. Dia mengontrol operasi bisnisnya dan mengambil keputusan bagi organisasi atau perusahaannya. Misalnya, sang pengusaha itu memutar otak untuk menerapkan strategi pemasaran baru, atau mencari terobosan agar bisa meningkatkan kepuasaan pelanggan, dan sebagainya.

Tetapi masalahnya, tidak semua orang pada posisi ‘mengawasi’ atau ‘mengontrol’ berarti adalah seorang leader. Lebih lagi di arena politik, khususnya di Indonesia ini, karena kita tahu sistem perekrutan di parpol kita yang jauh dari ideal. Kekayaan kandidat, misalnya, masih menjadi penyebab utama terpilihnya mereka ke dalam pusaran kekuasaan, sementara sejumlah orang berbakat, jujur dan punya integritas justru sulit berkiprah karena ‘kurang gizi’.

Tak terlalu jadi masalah sebenarnya, asalkan pimpinan di sektor politik itu memang punya kemampuan leadership yang prima, khususnya karena punya integritas tinggi. Repotnya, yang ada saat ini, sebagaimana kita lihat sendiri, banyak pimpinan politik di negeri kita adalah merupakan para petualang demokrasi yang gemar gratifikasi atau korupsi. Sementara integritas yang seharusnya menjadi sikap utama seorang pemimpin justru absen.

Kita tidak tahu berapa prosen politisi kita masih bisa dipercaya saat ini, karena sejauh yang penulis ketahui belum ada survei yang komprehensif mengenai hal itu. Tetapi kita bisa berkaca pada survei yang dilakukan di Inggris tahun 2009 lalu.

Saat itu, sebagaimana dilansir media Inggris Guardian, hasil survei menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap politisi, para menteri dan pemimpin usaha sangat anjlok, gara-gara skandal pembiayaan milyaran pounsterling oleh para anggota parlemen Inggris.

Survei terhadap 2.023 orang itu menunjukkan kepercayaan rakyat terhadap politisi turun dari 21 prosen tahun sebelumnya menjadi 13 % saja. Sekitar 82 % responden survei itu tidak lagi percaya bahwa politisi menyampaikan kebenaran (trust) –  lebih parah dari tahun sebelumnya yang menunjukkan angka 73 %.

Ketua Umum Partai Demokrat  Anas Urbaningrum dan tokoh Demokrat yang terbukti korup Nazaruddin: menurunkan elektabilitas partai pada pemilu

Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan tokoh Demokrat yang terbukti korup Nazaruddin: menurunkan elektabilitas partai pada pemilu

Para menteri pun mengalami hal serupa. Meski angkanya lebih baik dari anggota parlemen, tetap saja jumlah yang percaya kepada para menteri di Inggris pada 2009 itu hanya 16 %, turun dari 24 % pada tahun sebelumnya.

Bukan hanya soal integritas, sebenarnya. Sesungguhnya, seorang leader juga mesti memiliki beberapa sifat lain seperti bersikap proaktif dan inovatif, punya ambisi dan penuh percaya diri.

Dalam artikelnya di situs ‘Leadership, Innovation and Strategy’,  akhir Januari lalu, David Burkus dari Oral Roberts University (AS) mengemukakan bahwa, sejumlah karakteristik asli seorang leader, di antaranya adalah memiliki dedikasi kepada segala kehormatan atau hal-hal yang mulia, memegang teguh prinsip-prinsip moral, cakap dalam menginspirasi dan memengaruhi, punya semangat belajar, berani berpikir beda dan kaya imajinasi terhadap hal-hal yang ‘impossible’, visioner, dan berani mengambil inisiatif serta kreatifitas berpikir outside the box.

Jangan kuatir bila Anda sekarang belum menjadi leader yang sesungguhnya, atau jika Anda hanya bekerja sebagai bawahan atau staf. Sepanjang Anda mampu mengadopsi dan menerapkan kualitas-kualitas leadership itu secara sungguh-sungguh, secara alamiah Anda akan menjadi seorang leader yang handal. Kalau pun tidak menginspirasi dan mengontrol anak buah, sikap-sikap leadership yang Anda jalankan itu sudah bisa memberi inspirasi dan mengelola diri Anda sendiri untuk meraih potensi-potensi yang lebih tinggi.

Menurut CEO Booker Consultant Dianna Booher, sebagaimana dikutip CNN.Com, untuk mencapai tingkatan sukses yang lebih tinggi, Anda bisa‘bertindak bagai seorang leader’. Dengan langkah-langkah kecil pun Anda dapat mengembangkan, memodifikasi atau menumbuhkan ‘kebiasaan,sikap, kecakapan dan keunikan diri’ yang menentukan batasan siapa Anda.

Dari semua karakteristik seorang leader itu, yang paling penting adalah membiasakan diri dalam hidup yang penuh integritas. Seorang pemimpin, baik dalam bidang politik atau pun usaha, mendasarkan semua tindakan dan keputusannya pada kejujuran dan ketulusan, sehingga akan menciptakan trust dan kredibilitas. Bila ini dilakukan, mereka akan mendapat kepercayaan dan dianggap kredibel untuk diberi banyak kesempatan oleh orang banyak. Artinya, bila ia seorang politikus, ia akan lebih mudah meraih suara dalam pemilu.

Andi Mallarangeng dan Nazarudiin  (foto Tempo):  akibat ulah keduanya dan tokoh lainnya kepercayaan rakyat pada Partai Demokrat menurun.

Andi Mallarangeng (kanan) dan Nazarudiin: akibat ulah keduanya dan tokoh lainnya kepercayaan rakyat pada Partai Demokrat menurun. (Foto: Tempo]

Selain itu, seorang pemimpin lazimnya mau mendengar dan menjadi pengamat. Dalam sunyi, tidak banyak bicara, otomatis ia akan banyak belajar. Dua sikap lainnya adalah, konsisten pada komitmen  – yakni melaksanakan apa yang dikatakan, dan selalu bertanggungjawab — dan selalu membangun koneksi dengan orang baru, baik yang hendak dibantunya, atau pun orang-orang yang bisa membantunya. Dengan begitu, seorang dengan leadership yang baik akan memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan perspektif baru dari orang lain, dan tumbuh sebagai seorang yang penuh percaya diri.

Tetapi tetap saja, integritas dan transparansi merupakan yang paling penting dari semuanya. Sudah jamak bahwa transparansi yang sebenarnya hanya muncul ketika pemimpin atau organisasinya menghormati integritas semua pemangkukepentingannya, dan tidak berusaha memanipulasi mereka dengan mengontrol akses terhadap informasi.

Sebenarnya dalam era perkembangan teknologi saat ini, semua pemimpin mesti sadar bahwa kini orang makin mudah mengakses informasi yang ditutup-tutupi, dan memperoleh sejumlah besar informasi, khususnya dari internet.

Komunikasi yg jujur dan transparan merupakan faktor utama dalam reputasi:  juga berlaku dalam memilih pemimpin politik.

Komunikasi yg jujur dan transparan merupakan faktor utama dalam reputasi: juga berlaku dalam memilih pemimpin politik.

Kini teknologi menciptakan harapan dan menghasilkan cara-cara, disukai atau tidak, agar setiap pemimpin dan organisasinya bersikap lebih terbuka. Akses terhadap informasi lewat Internet telah mengubah keseimbangan kekuasaan  dari supplier (organisasi) kepada audience (khalayak).

Teknologi telah berhasil menggiring sistem politik agar membagikan informasi yang awalnya confidential (rahasia). Semua pihak, khususnya pemimpin dan para pengambil keputusan harusnya sadar bahwa integritas dan transparansi kini dibanggakan sebagai sebuah keutamaan baru yang penting, dan ‘kejujuran’ (trustworthiness) kini menjadi mantra bagi leadership.

Akhirnya, kita berharap pemimpin model itulah yang bakal lebih berperan di Indonesia pasca pemilu 2014 mendatang.

Advertisements
 
 

Tags: , , , ,

One response to “Pemimpin kok Korupsi?

  1. mieke1506

    13/03/2013 at 10:13 pm

    Pemimpin korupsi boleh jadi karena peluangnya menjadi pemimpin diperoleh melalui . . . . . . . DUIIIIT – yang tidak sedikit jumlahnya dan entah dari mana asal perolehannya

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: