RSS

Mau Bahagia? Optimislah

16 Sep

Sebuah studi membuktikan, makin aktif seseorang, makin optimis dia, maka makin bahagia juga orang itu. Orang optimis lazimnya lebih banyak menelepon, menulis surat, lebih banyak acara yang mereka hadiri, dan lebih banyak tetangga yang mereka kenal. Oleh karena itu rata-rata mereka lebih bahagia.

Diperkirakan 25 prosen optimisme merupakan warisan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa faedah optimisme itu tak bisa diperoleh jika orang hanya ‘merasa dalam keadaan optimis’, karena optimisme yang sesungguhnya hanya bisa diraih dengan ‘melakukan’ sesuatu. Dengan kata lain, Anda mesti menjalaninya.

Melakukan apa saja dengan gembira: optimisme sebagai kunci kebahagiaan

Kehidupan kita sekarang rasanya menyesakkan dada. Puluhan kasus korupsi, pembunuhan, perkosaan, radikalisme atas nama agama, peristiwa Sampang, Mesuji dan Bima, perseteruan dalam partai politik, geng motor, kecurangan dalam Ujian Negara, dan banyak lainnya, membuat hati kecut.

Banyak orang lantas menjadi pesimis, seolah tidak ada lagi harapan dan masa depan. Banyak orang jadi apatis – sehingga tak heran bila banyak yang lebih memilih ‘golput’ pada pemilihan kepala daerah.

Padahal, tidakkah seharusnya semangat optimisme mesti terus dipompa dan ditularkan? Saat bicara di kantor, di kendaraan, di caf atau warung kopi, tidakkah sebaiknya kita juga melihat banyak hal dari sisi positif, ketimbang hanya dari sudut pandang yang negatif?

Banyak yang menganjurkan agar orang bicara optimisme – melihat gelas ‘setengah penuh’, ketimbang hanya melihatnya sebagai ‘setengah kosong’.

Optimisme adalah Keyakinan – Hellen Keller

[Tulisan ini pernah dimuat di blog ini April lalu, tapi atas saran beberapa kawan, saya posting ulang untuk Anda yang belum sempat membaca. Artikel aslinya berjudul, “Menyebarkan Optimisme”, dimuat dalam rubrik Celah, media online ‘Inilah.Com’, Jumat 20 April 2012.]

Sebab hanya dengan begitu, kata banyak orang, kita bisa meraih kebahagiaan. Dan siapa sih yang tidak ingin bahagia?

Sebab, hanya pada mereka yang menyimpan optimisme saja lah berbagai hal bisa diselesaikan secara baik. Hanya pada pemimpin yang penuh optimisme sajalah inovasi dan kreatifitas bisa dikembangkan untuk menyelesaikan pelbagai persoalan.

Orang sering menyamakan optimisme dengan kebahagiaan (happiness), tetapi sesungguhnya optimisme itu bukan perasaan. Optimisme adalah keyakinan (belief) mengenai masa depan.

Orang yang optimis percaya bahwa akan lebih banyak hal baik terjadi kepadanya ketimbang hal-hal buruk, bahwa segalanya akan berjalan sesuai dengan yang diharapkannya, bahwa masa depan adalah positif, dan ketidakpastian merupakan kesempatan merebut yang terbaik ketimbang yang terburuk.

Begitu banyak alasan untuk optimis – tokoh-tokoh besar dunia pasti optimis

Makin positif sikap seseorang, makin besar harapannya mengalami masa depan yang positif, makin luas pandangannya. Orang-orang optimis mendapatkan lebih banyak kesenangan pada kehidupan sehari-hari, mereka lebih tahan pada berbagai benturan, stress dan lika-liku kejutan tak enak yang sering muncul secara tak terduga dalam hidup. Mereka memiliki hubungan (relationship) yang lebih baik dengan banyak orang, dan bahkan mungkin sekali secara fisik lebih sehat.

Pada gilirannya, seluruh outcome positif di atas secara alamiah akan membangkitkan harapan bagi munculnya masa depan yang (minimal) sama positifnya atau bahkan lebih baik lagi.

Seorang guru yang optimis, misalnya, cenderung memiliki sifat yang akan mengkonfirmasi keyakinannya mengenai kekuatan (semangat)-nya dalam mendidik, sehingga siswanya pun memetik hasil yang lebih baik.

Begitu pula, seorang atlit yang optimis cenderung mewujudkan semua gol-nya, yang kemudian mengarahkannya kepada keyakinan yang lebih kuat bahwa ia akan berhasil.

Dahlan Iskan: contoh pemimpin yang optimis, selalu melakukan sesuatu dengan riang

Perenang wanita AS, Florence May Chadwick membuktikan hal itu. Ia adalah wanita pertama yang berhasil menyeberangi Selat antara Perancis dan Inggris dua kali bolak-balik pada 1950.

Pada 1962, wanita kelahiran 1918 itu pernah menyeberangi Selat Catalina, antara Pulau Catalina dan pantai Palo Verdes (California), yang berjarak 26 mil. Kondisi laut di selat itu penuh dengan hiu dan kabut yang sangat tebal.

Pada awal penyeberangan, sesudah 16 jam berenang Florence mulai meragukan dirinya. Ia menyerah, karena tak melihat garis pantai di ujung sana. Tentu saja ia kesal. Setelah kembali ke atas perahu kecil yang mendampinginya selama 16 jam itu, ternyata pantai hanya tinggal satu mil di depannya.

Tetapi sebagai seorang yang optimis, ia tidak menyerah. Dua bulan kemudian Florence mencoba lagi. Dalam kabut yang sama pekatnya dan belasan ikan hiu di sekitarnya, Florence berhasil mencapai pantai California itu.

Sebabnya satu, “Saya menyimpan bayangan image garis pantai di benak saya selama berenang,” katanya. Sejak itu, sang perenang jarak-jauh terbesar wanita itu menjadi wanita pertama yang berhasil menyeberangi Selat Catalina.

Florence Chadwick

 

Optimisme merupakan sebuah dimensi kepribadian (personality) — yang bisa dikaitkan dengan makin bahagia dan sehatnya seseorang. Tetapi harus diingat bahwa untuk kebahagiaan dan kesehatan itu masih ada faktor-faktor seperti kesuksesan, kebersihan, disiplin dan beberapa faktor lainnya.

Mereka yang terbuka (extrovert) lebih bahagia, sedangkan orang yang ‘kasar’ lazimnya kurang bahagia. Mereka yang merasa aman (secure) lebih bahagia, sementara yang sering cemas kurang bahagia.

Diperkirakan 25 prosen optimisme merupakan warisan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa faedah optimisme itu tak bisa diperoleh jika orang hanya ‘merasa dalam keadaan optimis’, karena optimisme yang sesungguhnya hanya bisa diraih dengan ‘melakukan’ sesuatu. Dengan kata lain, Anda mesti menjalaninya.

Semua keyakinan optimistik akan berfungsi menjadikan kaum yang optimis hidup lebih baik, karena mereka ‘menciptakan’ suasana bagi dirinya dan orang-orang sekitarnya ke dalam situasi ‘positif’.

Itu bukan berarti orang optimis tidak pernah gagal. Tetapi, mereka yang optimis tidak mudah menyerah. Mereka lazimnya lebih tahan (persistent) dalam mengerjakan berbagai hal, termasuk saat menghadapi tantangan – karena keyakinan pada adanya harapan terhadap hasil positif (positive outcome expentancies).

Tentu saja itu bukan hanya terjadi sekali-sekali, melainkan terus dipelihara sepanjang waktu. Boleh jadi pada hari Senin seorang optimis gagal melakukan sesuatu, tetapi hari Selasa, Rabu dan seterusnya, dan bulan-bulan berikutnya, ia tetap menunjukkan sikap dan berlaku optimistik.

Begitulah, orang optimis akan memelihara sikapnya, dan berusaha merealisasikan tujuan-tujuan (gol) hidupnya. Dari penelitian terhadap ribuan mahasiswa di Amerika, guru besar psikologi dari University of Kentucky, Suzanne Segerstrom melihat bahwa mahasiswa yang optimis dan pesimis tidak berbeda dalam melihat pentingnya ‘tujuan’ bagi mereka. Rata-rata seluruh mahasiswa menetapkan angka 4,1 (dari skala 1 sampai 5) mengenai betapa ‘pentingnya’ cita-cita bagi mereka.

Tetapi, beda dengan yang optimis, mereka yang pesimis hanya menetapkan pentingnya tujuan, tanpa menunjukkan komitmen mereka, dan tidak meyakini bahwa mereka bisa meraihnya. “Konsekuensinya, kaum pesimis jarang sekali menunjukkan progress terhadap pencapaian tujuan. Mereka lebih sering berhenti mengejar cita-cita itu, baik untuk sementara waktu, menundanya, atau pun meninggalkannya secara total,” kata Suzanne.

Beda halnya dengan kaum optimis; mereka tahu bahwa mengharapkan sebuah kesuksesan adalah sebuah ‘self-fulfilling prophecy,’ – pemenuhan apa yang diinginkan diri. Artinya, mereka yang punya keyakinan optimistik percaya kepada tujuan (gol) yang mereka tetapkan, bekerja lebih keras meraih tujuan itu, sehingga menyiapkan diri mereka naik tangga meraih sang keberhasilan itu. Oleh karena itu, maka bayangan ‘memenuhi apa yang diinginkan diri’ itu bisa terwujud.

Bahkan dalam hubungan persahabatan, orang optimis menunjukkan perilaku yang sesuai dengan sikapnya itu. Banyak penelitian membuktikan mereka yang optimis punya lebih banyak teman dan jaringan yang lebih luas. Ini karena mereka melakukan lebih banyak usaha dan ‘investasi’ terhadap kawan baru dan membina hubungan baik dengan jejaring mereka. Makin banyak usaha yang ia lakukan dalam hubungan sosial, makin banyak hubungan yang ia peroleh.

Senyum Optimis – menular

 

Sebuah studi membuktikan bahwa makin banyak jumlah panggilan telepon dan jumlah surat dibuat oleh mereka yang optimis, makin banyak acara yang mereka hadiri, makin banyak tetangga yang mereka kenal, dan seterusnya. Oleh karena itu rata-rata mereka lebih bahagia.

Baca juga:

Advertisements
 

2 responses to “Mau Bahagia? Optimislah

  1. Anindya Alyssa

    17/09/2012 at 8:19 pm

    Pak Syafiq,

    Sikap positif dan menjadi orang yang optimis bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Namun apabila kita ingin menunjukkan siapa diri kita kepada orang-orang dan membuat semua bangga, positif dan optimistik adalah 2 kuncian utama yang harus ditanam. Tidak segala sesuatu yang kita inginkan akan selalu tercapai saat itu juga, namun semua akan secara bertahap namun pasti akan terwujud.

    Semua orang ada saat dimana menjadi orang yang pesimis, saya pun seperti itu. Namun apa yang membuat kita menjadi sosok yang ‘berbeda’ adalah bagaimana kita menghadapi keyakinan tersebut dan merubahnya untuk mendapatkan kebahagiaan dan kepuasaan dalam diri kita. Kita pun juga bisa menjadi inspirasi bagi orang lain ketika kita sudah ‘menyalurkan’ energi positif kepada mereka. A good day lies within our power to create and think whatever we do is going to turn out well. Experience wisely, that is the key to be a better person.

    Saya pernah membuat tulisan di blog pribadi saya yang mengenai “Be Positive”. Sekiranya bapak bersedia membacanya, saya sangat senang.

    http://ichalyssa-soebandono.blogspot.com/2010/01/resolusi-2010-be-positive.html

     
    • Syafiq Basri

      17/09/2012 at 8:43 pm

      Terima kasih banyak, Icha. Anda benar, bersikap positif dan memompa optimisme adalah dua kunci utama yang harus ditanamkan dalam diri kita. Sebenarnya kedua hal itu saling berkaitan.

      Blog Icha juga menarik. Tinggal di-update saja barangkali, sebab pembaca hanya akan datang mengunjungi blog jika ia selalu di-update. Ya gak?

      Oh, saya suka bagian tulisan Icha yang ini: “Belajar dari masa lalu, dan memulai lah kehidupan kita dengan segala sesuatu yang kita yakini bahwa itu semua memang yang terbaik untuk kita. Janganlah mengulang kesalahan-kesalahan yang dulu pernah dilakukan.. Bukalah kehidupan kita dengan optimis dan juga keyakinan bahwa kita bisa menjadi orang yang lebih baik dan berguna..”

      Selamat berkarya terus ya… 🙂

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: