RSS

Sampang Ingatkan Kita pada Habib Syekh

04 Sep

Habib Syech (kiri) bersama Sheikh Hisham Kabbani (tokoh sufi dari AS).

Tragedi Sampang menjadikan banyak orang miris. Kita menjadi ngeri terhadap kekerasan yang sewenang-wenang, dan mengancam persatuan ukhuwah umat serta ikatan kebangsaan kita.

Kita kemudian harus menengok kembali pada ajakan penuh toleransi; dan menggugah semua pihak, khususnya ulama, untuk bercermin pada metode dakwah yang sejuk dan berbudaya, yang sesuai dengan masyarakat kita yang cinta damai.

Salah satu di antaranya adalah metode dakwah yang dilakukan seorang da’I asal Solo yang belakangan ini makin tenar di dalam dan luar negeri.

Pengajiannya dihadiri puluhan ribu penggemar. Pilihan cara keberagamaan yang diajarkan sang habib penuh nuansa spiritualitas, manis, humanis, merangkul dan bukan ‘menggebuk’, sehingga tampak lebih cocok bagi Indonesia.

Ia adalah Habib Syekh bin Abdulkadir AA. Meski belum tampil di televisi (karena ia agak ‘media shy‘), namanya terus melejit. Situs mengenainya diunggah para penggemarnya ke media sosial termasuk Facebook dan beberapa blog.

Lagu-lagu religinya muncul di MP3 dan Youtube. Rekaman kasidah Solaatun bi Salaamil Mubiini yang diunggah ke Youtube oleh Kemenag DIY pada 4 Maret 2011, misalnya, hingga 31 Agustus kemarin telah diakses hampir 470 ribu kali, sementara lagu religinya, Ya Hananaa meraih 326 ribuan views.

Perhatikan video youtube Habib Syekh bersama Dahlan Iskan ini, dalam acara Penutupan Hari Lahir GP Ansor ke-78 di Solo, Juli 2012.

”Beliau itu kalau di Amerika mirip bintang rock terkenal,” kata Mark Woodward, ahli dari Arizona State University yang sedang meneliti dakwah Habib Syekh, dalam sebuah seminar internasional tentang ’Dakwah Damai Habib’ di Jakarta, pertengahan Juli lalu.

Secara piawai sang habib memanfaatkan seni musik sebagai salah satu alat dakwah guna menarik khalayak. Melodi kasidah dan lantunan solawat itu membawa keteduhan di hati hadirin. Ribuan di antara mereka, khususnya anak muda, hapal dan fasih menirukan kasidahnya. Maka, ia pun kemudian menjadi ’selebriti’ religius seperti Opick, Haddad Alwi dan Sulis.

Habib Syekh bersama Dahlan Iskan: dakwah yang humanis dan manis

Habib Syekh bisa dianggap penerus tata-cara dakwah para penyebar Islam sejak dahulu kala, seperti Wali Songo atau para juru dakwah dari abad sebelumnya, yang metoda dakwahnya mengacu pada sufisme, bersifat inklusif, penuh kedamaian dan sangat akomodatif.

Tulisan ini aslinya ditayangkan dalam portal media online “Inilah.Com”, Ahad 2 September 2012.

Sebagai contoh, di antara tindakan mendasar yang dilakukan Wali Songo dalam hal ini adalah ketika para wali itu mereformasi cerita, desain dan pertunjukan wayang — yang sejak 1500-an tahun lalu dikenal sebagai ‘show’ yang sangat digandrungi masyarakat banyak — sehingga sesuai dengan konsep ‘tauhid’ (pengesaan kepada Tuhan) dan pesan-pesan agama.

Nah, model dakwah seperti itulah yang rupanya dikembangkan Habib Syekh, sehingga secara singkat berhasil menciptakan kekaguman khalayak kepadanya, yang dalam istilah Woodward disebut dengan ’Syekhomania.’

Qasidah “Solaatun bis Salaamil Mubiini”: menjadi populer

Syekhomania kemudian menjadikan sang habib juga didekati para penguasa, termasuk bupati, walikota, gubernur, dan dari para petinggi keraton. Saat menemuinya lebaran lalu, saya melihat seorang bupati salah satu kabupaten di Jawa Tengah sedang ’sowan’ kepadanya.

Gerakan di lingkungan penguasa seperti keraton, misalnya, bersama hangatnya kondisi ruang publik di kalangan NU dan predikat Syekh sebagai habib, menjadikan simpati kepadanya kian meningkat.

Di lingkungan Kesultanan Yogyakarta, semua yang di atas pada gilirannya membuahkan sebuah pola baru hubungan baik (rekonfigurasi ) antara Islam dan ’State’. Ini jelas suatu fenomena yang menarik. Bahkan sampai lima tahun yang lalu saja, tak terbayang keraton akan mengundang seorang habib untuk bersolawatan yang khas budaya Islam Timur Tengah dan bersifat ortodoks.

Pasalnya, Islam keraton lazimnya dekat dengan budaya lokal, bahkan ’kejawen’. Kita melihat bahwa selama ini ada semacam sejarah rivalitas, setidaknya keberasingan, di antara keduanya. Maka, kehadiran habib Syekh di dalam keraton Yogya dapat dilihat sebagai simbol mengendurnya rivalitas di antara keduanya.

Mungkin sekali kedekatan itu juga disumbang oleh kenyataan bahwa Syekh sendiri sering melantunkan lagu dan khutbah dalam bahasa Jawa yang fasih, sehingga terdengar lebih ’njawani’, dan cocok dengan komunitas dan petinggi keraton Yogyakarta.

Tetapi ’Syekhomania’ bukan saja di Yogya. Ia menjamur ke berbagai kota dan desa di Madura, Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Jakarta, hingga Brunei, Malaysia dan Singapura. Di Solo, tempat kelahirannya, *Syekhomania* menyelusup bahkan hingga ke lokalisasi pelacuran di Silir.

Kerumunan Syekhomania di alun-alun Yogyakarta 2010

Sesudah menggebrak lewat acara ‘Silir Berzikir’, ia kemudian berhasil memengaruhi banyak Pekerja Seks Komersial dan para ‘centeng’ yang ada untuk meninggalkan pekerjaan maksiat mereka. Syekh mengarahkan dan membantu mereka (juga dengan dana dari kantong sang habib) agar menekuni bidang pekerjaan baru. “Biasanya mereka itu kan terdesak secara ekonomi,” katanya.

Selain kebijakan lokal yang diandalkan sang habib, tampaknya yang juga menjadi landasan utama munculnya Syekhomania adalah karisma kolektif terhadap Ba-Alawi(keturunan Nabi melalui Alwi bin ‘Ubaydillah, seorang tokoh migran ke Hadhramaut di abad 9) secara umum, habibisme (kecintaan kepada habib, yang memiliki silsilah bersambung hingga Nabi saw), dan sikapnya yang anti fundamentalisme dan radikalisme.

Foto sebagian para habaib zaman dulu: damai, anti radikalisme

Sesungguhnya, selain Syekh, kita melihat beberapa habib lain juga memiliki gaya serupa.

Di Pekalongan, misalnya, ada Habib Lutfi bin Yahya – yang juga bergaya model Wali Songo, dan sering berkhutbah dalam bahasa Jawa.

Buku Habib Lutfi bin Yahya: ala walisongo

Sebelum itu, dulu ada Habib ’Keramat Empang’ Abdullah bin Muhsin Alatas, Bogor, dan Habib Idrus Al-Jufri, pendiri lembaga pendidikan Al-Khairat di Palu, Sulawesi Tengah. Berkat dakwah damai yang menyentuh kepentingan khalayak, Habib Idrus yang dikenal dengan julukan ’Guru Tua’ itu berhasil mengembangkan 1500-an cabang Al-Khairat di berbagai pelosok wilayah Indonesia Timur.

Habib Idrus bin Salim Al Jufri – pendiri Al-Khairat Palu: berjasa besar di Indonesia Timur

Di Jawa Timur dulu juga banyak sekali habib beken, yang rata-rata juga aktif dalam pendidikan, dan dakwah dengan bahasa Jawa atau Madura.

Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar: menekankan akhlak

Di antaranya adalah Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), Habib Abdullah bin Abdulqadir Bilfagih (Malang), Habib Saleh Alhamid (Tanggul), dan Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdhar (yang makamnya ada di kompleks Ampel, Surabaya).

Belakangan ini anak cucu para habib itu melanjutkan langkah pendahulunya secara penuh kedamaian, akhlak tinggi dan spiritualitas.

Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf – Gresik (tengah)

Pilihan model keberagamaan mereka itu, yang berwarna sufisme, kental dengan spiritualitas, dan menunjukkan gaya yang sangat terbuka, humanis, pluralis, dan anti pertikaian antar-mazhab itulah yang menjadikan dakwah mereka terasa lebih cocok bagi Indonesia. Juga sangat tepat bagi masyarakat Sampang dan Madura yang rata-rata cinta pada habaib.

Baca juga:

Advertisements
 

Tags: , , ,

6 responses to “Sampang Ingatkan Kita pada Habib Syekh

  1. nadi

    04/09/2012 at 11:42 am

    Bagus memang harus dgn damai..karena damai itu indah

     
    • Syafiq Basri

      05/09/2012 at 12:38 am

      Betul sekali… Bagaimana kabar Semarang, meski panas tapi tetap damai kan? Hehehe 🙂
      Trims.

       
  2. Riri Artakusuma

    04/09/2012 at 9:59 am

    Sesungguhnya Islam diciptakan sebagai rahmatan lil’alamin. Begitulah sang Habib Syekh bin Abdulkadir AA, melakukan dakwahnya. Dari sudut pandang pendakwah yg juga termasuk public speaker, beliau tahu betul bagaimana dakwah itu bisa diterima dan di deliver dengan baik ke tengah masyarakat. Banyak hal baik yang disampaikan dengan cara yang tidak baik, karenanya penting pula dipikirkan mengenai CARA-nya untuk menyampaikan hal baik. Jika ini diperhatikan, tak usah khawatir, pesan yang akan disampaikan bisa diterima dngn cara yang baik pula, dan bukan menjadi konfrontasi.

     
    • Syafiq Basri

      05/09/2012 at 12:37 am

      Benar… ‘Cara’ menyampaikan tidak kalah penting dengan ‘apa’ yang disampaikan.

      Terima kasih, Mbak Riri.

       
  3. Anissa

    04/09/2012 at 9:28 am

    rindu Indonesia yg damai….
    Smg Sampang menyadarkan banyak pihak

     
    • Syafiq Basri

      05/09/2012 at 12:42 am

      Setuju… Semoga banyak hikmah (pelajaran) yang bisa dipetik dari peristiwa itu. Dan tidak boleh terulang lagi.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: