RSS

Tembok China dan Persistensi Beribadah 2

01 Jul

… Kita bukan Einstein atau ahli matematika pemenang Nobel, tapi secara bodoh barangkali penggunaan angka nol (0) sebagai penyebut dalam formula N/0 itu boleh jadi karena di kampung akhirat itu semuanya nol. Karena di sana (berbeda dengan dunia yang fana) tidak ada dimensi waktu (dan ruang) — maka segalanya adalah ‘nol’ belaka. Semuanya. Semuanya tidak ada, kecuali Tuhan sendiri.

— (Sebelumnya, di bagian 1,kita bicara mengenai persistensi ibadah dan kaitannya dengan tembok China)

Tembok Great Wall China

Walhasil, persistensi itulah barangkali sebuah makna yang mungkin saja berhubungan dengan hadis: belajarlah sampai ke negeri China. Entah hadis itu sahih atau tidak (dan mengapa harus ‘China’ yang dipilih, mungkin karena dulu peradaban China yang jauh dan Persia yang dekat sajalah yang dikenal bangsa Arab pada abad ke-enam Masehi), yang jelas, kini China memang menjadi sebuah negeri adidaya yang sangat diperhitungkan di dunia, menyaingi Amerika.

(Di China sendiri terdapat sekitar 21 juta orang Islam, yang artinya lima kali lipat penduduk Palestina atau Singapura dan hampir menyamai jumlah penduduk Australia atau Malaysia.)

Di China, di Palestina atau di Indonesia, semua yang ingin berjuang untuk jangka panjang rupanya memang harus persisten. Dengan kata lain: sabar dan tidak mengenal kata ‘lelah’.

Oleh karena itu — menillik kembali kepada pengorbanan dan keabadian — mestinya sebuah ibadah dalam bentuk doa misalnya tidak ada maknanya apa-apa jika hanya dilakukan selama satu atau dua jam, atau bahkan sepekan atau sebulan.

Di sini kuantitas itu, bilangan itu, hanya nol besar. Yang bermakna kiranya hanyalah kualitas atau mutu. Mutu sebuah ibadah kiranya paralel dengan besarnya nilai kesabaran dan keikhlasan.

Maka, sebuah doa seperti di bawah ini mungkin akan menuntut pembacanya (atau lebih tepat: penyerunya) sabar dan ikhlas — meski lama melafalkannya sebetulnya hanya butuh tempo 12-an menit saja.

Semua yang Agung, Kecil di Hadapan-Mu 

  • Wahai Dia yang menyayangi yang tidak disayangi manusia; Wahai Dia yang menerima yang ditolak makhluk-Nya; • Wahai Dia yang tidak merendahkan orang yang memerlukan-Nya;

Wahai Dia yang tidak mengecewakan mereka yang bermohon kepada-Nya; Wahai Dia yang mensyukuri yang sedikit dan membalas dengan banyak; Wahai Dia yang mendekat kepada mereka yang mendekati-Nya;

  • Wahai Dia yang mengajak ke hadirat-Nya, orang-orang yang berpaling dari-Nya; Wahai Dia yang tidak mengubah nikmat dan tidak segera membalas; Wahai Dia yang menjadikan kebaikan berbuah, sehingga menumbuhkannya, dan memaafkan kesalahan sehingga bahkan menghapuskannya;

  • Semua yang agung, kecil di hadapan-Mu, Semua yang mulia, hina di hadapan kemuliaan-Mu;  Kecewalah orang yang berangkat kepada selain-Mu, Rugilah orang yang tidak menghadap kepada-Mu; Lenyaplah orang yang tidak tinggal bersama-mu, Malang benar orang yang memisahkan diri kecuali yang bergabung pada karunia-Mu;

Pintu-Mu terbuka bagi para perindu… AnugerahMu disebarkan pada para peminta, pertolonganMu dekat pada pemohon bantuan;

Para pengharap tidak akan kecewa pada-Mu, para penghadap tidak akan putus asa atas pemberianMu, para pemohon ampunan tidak akan celaka dengan hukuman-Mu;

RezekiMu Engkau bukakan (bahkan) kepada orang yang menentang-Mu, santunanMu diberikan kepada orang yang memusuhiMu, kebiasaanMu selalu berbuat baik kepada para pendosa, Tradisi-Mu ialah ‘membiarkan’ para pelanggar, sehingga kesabaran-Mu seolah mengelabui mereka sehingga mereka lupa kembali kepada-Mu, Pengabaian-Mu memalingkan (wajah) mereka dari menyudahi perbuatan dosa;

  • Engkau tidak tergesa-gesa kepada yang melanggarMu, agar mereka masih sempat kembali pada perintahMu, Engkau biarkan mereka karena keyakinan akan kekalnya kekuasan-Mu;

Kelambanan-Mu bukan kelemahan, penangguhanMu bukan ketakberdayaan, Pengendalian-Mu bukan kelalaian, penantian-Mu bukan ketakutan;

Tetapi semuanya itu Engkau lakukan agar hujah-Mu lebih kuat, kemurahanMu lebih sempurna, kebaikan-Mu lebih merata dan mencukupi, nikmatMu lebih paripurna,

  • Semua itu sudah terjadi, selalu terjadi dan akan terjadi; Kemuliaan-Mu lebih tinggi dari yang didefinisikan hakikatnya, Niatan-Mu lebih banyak dari yang (bisa) dihitung bilangannya, KebaikanMu lebih berlimpah dari syukur yang bisa dipanjatkan;

Dan inilah kami, kami berangkat kepada-Mu untuk menemui-mu, kami memohon kepada-Mu sebaik-baiknya bantuan, Sampaikan salawat kepada Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya yang terpilih,

Dengarkanlah seruan kami; Ijabah doa kami, Janganlah tutup hari-hari kami, bulan kami, dan tahun kami dengan kekecewaan; Jangan marahi kami dengan penolakan thdp permohonan kami; Muliakan datangnya kami dari sisi-Mu dan kembalinya kami juga hanya kepada-Mu;

Lembaran Al-Quran huruf Kufah – abad 10

Sungguh Engkau tidak dibatasi oleh apa yang Kau inginkan; Engkau tidak lemah untuk diminta; engkau berkuasa atas segala sesuatu, Tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung…

  • Wa anta ’alaa kulli syai-in qadiir, wa laa haula wa laa quwwata illa billah –al ’aliy al-’adhiem. 

bersambung ke ‘Doa-doa Ahli Sujud’.

(Sumber doa: Imam Ali Zainal Abidin a.s., salah seorang cucu Nabi saw, yang dikenal dengan julukan “ahli Bersujud” atau As-Sajjaad)

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on 01/07/2012 in Diskusi Agama, Doa, Pemikiran

 

Tags: , ,

One response to “Tembok China dan Persistensi Beribadah 2

  1. Anissa Windyah Sari

    05/07/2012 at 3:05 pm

    Allahumma sholli ala Muhammad wa aali Muhammad wa ‘ajjil faraja Al-Qaim…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: