RSS

Aku Tak Melihat Kecuali Keindahan

30 Jun

Sayyeda Zainab Mosque

Masjid Sayyidah Zainab

Wajah Sayyidah Zainab as sedih teramat pilu. Matanya basah. Hatinya luka. Memerah darah. Kepalanya menunduk, tetapi semangatnya hendak memberontak.

Dalam istana Ibn Ziyad di Kufah, Irak, Zainab dihadapkan pada sebuah kepala manusia yang terpisah dari badannya.

Bukan kepala sembarang orang. Itu kepala cucu Nabi saw, Al-Husain (as), yang tidak lain adalah saudara Zainab — yang belum lama dipenggal secara biadab dalam sebuah perang yang tak seimbang. Sebuah pembantaian ethnic cleansing paling besar dalam sejarah manusia.

Tak lama, Zainab ditanya Ibn Ziyad: “Apa yang kau lihat pada diri saudaramu ini?”

Sambil mengajukan pertanyaan itu, Ibn Ziyad yang menjadi penguasa Kufah itu mengutak-atik gigi di kepala Al-Husain as. Ibn Ziyad adalah antek utama Yazid bin Muawiyah, yang mengerahkan ribuan tentara memerangi Al-Husain dan 72 pengikutnya di Padang Karbala, Iraq pada 10 Muharram 61 H.

Ibn Ziyad memang hendak menghina Siti Zainab, sang srikandi Karbala itu.

+ “Maa roaiytu illaa jamiielan,”, jawab Siti Zainab. Aku tidak melihat, kecuali sebuah keindahan!

Lukisan suasana Karbala -setelah Imam Husain as syahid

Tentu saja Ibn Ziyad kaget tak alang kepalang. Bagaimana mungkin, seorang wanita menjawab demikian saat kepala saudaranya yang habis disembelih dipermainkan di muka umum?

Tapi itulah Zainab, sebuah par excellence wanita keluarga (Ahlul Bait) Nabi saw.  Zainab hanya melihat sebuah ‘keindahan’, sebuah ‘kebaikan’.

Beliau rupanya sangat yakin dengan apa yang dikatakan Allah, Tidaklah akan menimpa kami sebuah musibah, kecuali yang telah ditetapkan Allah demikian. ” Lan yushiibanaa illa maa katabAllahu lanaa,” bunyi ayat-Nya.  Kata ‘lanaa dalam ayat Qur’an itu bermakna suatu kebaikan – berbeda dengan alaina, yang  berarti sebuah kejelekan.

Zainab, sebagaimana para wali Allah lainnya, ‘yakin’ seratus prosen — sekali lagi: 100 % —  bahwa yang ada bagi mereka selalu hanyalah ‘lanaa’ – kebaikan – dan bukannya ‘alaina – keburukan. Bahkan pada saat musibah sebesar itu dihadapinya, semuanya adalah kebaikan, keindahan.  “Tak ada yang terlihat di depanku selain kebaikan saja (yang datang dari Allah).

Allah: keyakinan kepada-Nya luar biasa pentingnya

Makna ini semua, kata Ustadz Muhammad bin Alwi (yang membawakan kisah itu dalamsebuah pengajian di Jakarta), menunjukkan bahwa dalam keadaan apa pun, sedih dan senang, suka dan duka, miskin dan kaya, sehat atau pun sakit, maka yakinlah bahwa semuanya hanyalah kebaikan yang Allah berikan kepada kita.

Masalahnya memang tidak semua mengerti hal itu – sampai nanti Allah menunjukkannya pada kita. Orang awam seperti kita mungkin perlu bukti dulu, baru bisa yakin.

Tapi bagi mereka yang suci jiwanya, para Nabi, para wali (auliya), keyakinan itu sedemikian tebal:  tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali merupakan ketentuan Allah, dan ketentuan itu selalu yang terbaik — bahkan jika ketentuan itu berupa sebuah musibah yang amat dahsyat sekali pun.

Saat bercerita mengenai Nabi Yusuf as yang dibuang ke dalam sumur, atau saat bayi Musa kecil dihanyutkan ke dalam sungai Nil, Ustadz mengatakan bahwa, “semuanya ditetapkan Allah sebagai perjalanan sebuah ketentuan untuk memilihkan yang terbaik bagi manusia.”

Namun, memang kebanyakan manusia  tidak memahami hal itu. Kata Allah dalam Surat Yusuf 15, wahum laa yash’uruun, namun mereka tidak menyadari (mengetahui) hal (kebaikan) itu.

Walhasil, kata Ustadz lagi, tugas kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin. Berikhtiar sekuat tenaga dan sebaik-baiknya. Lalu, ketika nanti sudah ada hasilnya, maka yakinlah bahwa hasil apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik yang dipilihkan Allah bagi kita. Namun kebanyakan manusia tidak mengerti tentang itu.

Kata Nabi saw: ”Tanda orang yakin adalah:

  • yakin adanya Allah,
  • yakin adanya kematian (sehingga menyiapkan diri untuk mati);
  • yakin pada datangnya Hari Kebangkitan;
  • yakin adanya surga (maka selalu rindu pada surga);
  • yakin bahwa neraka pasti ada (maka ia berusaha menghindarkan diri daripadanya);
  • yakin bahwa ada Hari Hisab, sehingga mereka selalu akan menghisab dirinya di dunia ini, sesuai ayat, “Dan mereka yang selalu menghisap dirinya akan selamat dari hisab.
Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 30/06/2012 in Diskusi Agama, Pemikiran

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: