RSS

Asyiknya Nonton Bola Eropa

29 Jun

Tidak perkara siapa yang Anda jagokan dalam kejuaraan sepakbola Piala Eropa 2012 ini, yang jelas Anda pasti menikmati tontonan pertandingan itu malam demi malam, hari demi hari.

Kini, saat memasuki saat-saat menjelang final, keasyikkan menonton turut memuncak, sehingga orang seolah lupa bahwa Eropa sedang dilanda krisis ekonomi.

Sejak sepakbola menjadi suguhan di televisi (TV), ia tidak lagi hanya menjadi penghibur bagi ratusan ribu penonton di stadion, tapi juga bagi miliaran orang di depan televisi di dunia.

Kegembiraan tim Itali setelah menang 4-2 melawan Inggris

Saat nama-nama besar seperti Ronaldo (alias CR7), Iniesta, Xavi, Pirlo, Bufon, Balotelli, serta Ozil, Klose dan Schweinsteiger mengadu kepandaian di lapangan Polandia dan Ukraina, kita semua terkesima di depan layar kaca. Dan nama-nama itu lebih banyak dibicarakan orang ketimbang nama pemimpin dunia, artis, bahkan pemenang Nobel sekali pun.

Artikel ini aslinya ditayangkan dalam portal media, “Inilah.Com”, Kamis 28 Juni 2012.

Banyak dari kita bersedia melek, begadang sendirian atau beramai-ramai, meski harus menunggu pertandingan pada dini hari. Jarang ada acara yang menggugah orang sampai sedemikian semangat seperti sepakbola.

Ozil (no.8) dan Gomez

Memang bukan hanya sepakbola. Kebanyakan peristiwa olahraga (sporting events) seperti tenis, basket, rugby, balapan F-1, dan badminton mengalahkan berbagai program komedi, sinetron, dan berbagai ‘reality show’ lain.

Sebabnya, antara lain, karena siaran langsung olahraga merupakan satu-satunya acara yang benar-benar hidup (life). Kalau ada komedi atau sinetron ditayangkan TV pada jam satu dini hari, misalnya, kecil kemungkinan pemirsa bersedia menunggunya.

Beda halnya dengan siaran olahraga, khususnya sepakbola. Saat berlangsung laga Spanyol melawan Portugal Kamis dini hari (28 Juni) atau saat pertandingan hidup-mati antara Jerman melawan Itali pada Jumat dini hari (29 Juni), jutaan penonton tetap asyik dan tak bergeming dari depan TV – seolah lupa bahwa pada hari yang sama mereka mesti pergi bekerja atau sekolah.

Ronaldo – bintang Portugal

Memang, peristiwa olahraga yang disiarkan media kini melangkah lebih jauh ketimbang menjadi refleksi realitas dari permainan yang berlangsung. TV pun telah mengubah olahraga itu sendiri. Ia juga mengubah bagaimana benak kita memahami olahraga dan hati kita bereaksi terhadapnya.

Sekarang ini, peristiwa olahraga telah menjadi satu-satunya reality program yang sebenarnya, dengan spontanitas yang meluncur deras, ketidakterdugaan (unpredictability), ketegangan (suspense), dan berbagai kejutan yang semuanya membentuknya menjadi format sebuah hiburan yang memukau.

Peristiwa olahraga menciptakan tim olahraga dan fans mereka, yang diperkaya loyalitas berkelanjutan dari generasi ke generasi, nyaris tidak dibatasi umur dan jenis kelamin.

Seorang fan Spanyol: tidak peduli jenis kelamin

Di antara yang menyebabkan orang asyik menonton acara ‘sporting events’ itu adalah karena yang kita lihat di media mendekatken kepada realitas, sehingga kita merespon kepada isi (pesan) media sebagai seolah-olah sesuatu yang ‘nyata’.

Banyak teori dikemukakan mengenai pengaruh olahraga pada media, baik yang menyangkut dampak sosial maupun emosi yang terlibat — kenikmatan atau pun kekecewaan — yang dirasakan oleh pemirsanya.

Nah, emosi itulah yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam apresiasi orang pada media, khususnya radio dan televisi. Barangkali tidak ada jenis program yang sedemikian menyentuh emosi lebih kuat dari olahraga dan musik. Keduanya boleh jadi mengalahkan berbagai genre show lain seperti show aksi-petualangan, opera sabun, pertunjukan games dan komedi.

Patriotisme fans Jerman

Yang kita rasakan saat ‘menonton’ atau ‘mendengar’ merupakan bagian utama pengalaman psikologis kita secara keseluruhan. Jika aspek emosi itu absen, kita kehilangan dimensi penting sebuah pengalaman.

Kalau Anda tidak pro kepada tim Jerman atau pun tim Azzurri Italia — dan hanya suka Ronaldo dan tim Portugal-nya, yang sudah tersingkir — umpamanya, maka Anda tak akan memperoleh pengalaman emosional setinggi mereka yang jadi fans tim panser Jerman atau pun tim Itali yang dibesut Cesare Prandelli.

Bicara soal emosi ini, sesungguhnya ada dua komponennya: fisiologis dan kognitif. Secara fisiologis contohnya adalah saat organ tubuh kita terpicu (aroused), terjadi beberapa perubahan di badan seperti detak jantung yang makin cepat, berkeringat, dan perubahan di kulit lainnya.

Tim Jerman sedang bergembira

Namun kita juga ‘berpikir’(kognitif) tentang perasaan kita itu, dan sebab-sebab yang berkaitan dengannya serta ‘pemaknaan’ (apresiasi) terhadap yang kita pikirkan itu. Ini misalnya terjadi saat Anda merasa sangat ‘melambung’ ketika baru saja mendapat tawaran pekerjaan baru, karena Anda akan menginterpretasikan situasi ‘gembira’ itu, sehingga muncul suatu keadaan tubuh tertentu yang bisa jadi serupa dengan keadaan ketika baru saja selamat dari kejaran seorang perampok.

Begitulah. Emosi merupakan motivasi paling penting yang mendorong orang menonton acara olahraga. Dalam kaitan ini, ada lima tingkatan motivasi yang secara berurutan akan menurunkan keterlibatan emosi kita.

Pertama adalah dimensi kefanatikan fan (fanship), yang pada intinya menyorot pada luapan kegembiraan saat kemenangan dan identifikasi yang melekat kuat pada para pemain tim yang dikagumi. Makin Anda ‘nge-fen’ pada sebuah tim, maka kian gembira-lah Anda saat tim itu menang.

Pirlo: kegesitannya mendebarkan jantung lawan (dan penonton)

Kedua, motivasi ‘pembelajaran’. Ini diperoleh dari informasi mengenai pertandingan dan para pemainnya. Itu sebabnya Anda mungkin tidak merasakan nikmatnya ‘drama’ (makin dramatis pertandingan, makin nikmat menontonnya) kemenangan tim Itali dalam adu penalti melawan Inggris, kalau Anda tidak seberapa mengenal Andrea Pirlo atau hebatnya penjaga gawang Bufon. Dalam adu penalti Senin lalu itu, Italia akhirnya melangkah ke babak semifinal Piala Eropa 2012 setelah mengalahkan Inggris 4-2.

Ketiga, motivasi pelepasan ketegangan, bersantai, makan dan minum. Itu sebabnya iklan makanan dan minuman semarak ditayangkan saat ada ‘sporting events’, karena para pemasar tahu getolnya orang menonton acara olahraga.

Dimensi berikutnya, keempat, adalah tentang ‘teman’ yang ikut menonton bersama. Motivasi ini khususnya penting dalam hubungan kekeluargaan atau saat bersama orang-orang penting dalam hidup Anda.

Pada titik ini, ada aspek sosial yang juga mendapat banyak perhatian. Siapa yang ikut memirsa pertandingan bersama Anda di rumah, atau ‘nobar’ (nonton bareng) di Cafe, misalnya, menentukan seberapa kenikmatan yang bakal Anda peroleh. Sebab semuanya menjadi pengalaman emosi yang secara sosial sulit disaingi program TV lainnya. Itu sebabnya ada pendapat yang mengemukakan, bahwa menonton sebuah peristiswa olahraga sendirian tidak akan senikmat menonton bersama teman-teman atau keluarga.

Kesedihan pendukung Inggris setelah timnya kalah

Dimensi terakhir, kelima, adalah dimensi ‘filler’, yakni memirsa hanya untuk sekedar ‘membunuh’ waktu atau karena mengalihkan perasaan bosan. Jika ini yang menjadi motivasi, tentu saja keterlibatan emosi sang pemirsa sangat rendah. Bahkan paling rendah di antara kelima dimensi di atas.

Baca juga:

Advertisements
 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: