RSS

Nasihat Ayah untuk Putranya

23 May

Pada sebuah pagi yang sepi yang tidak romantis tapi bermakna, Kiwir bebenah buku di ruang kerjanya. Satu buku berdebu menarik pandangannya. Lusuh. Kiwir kaget, ini sebuah buku kecil tapi menarik. Penting malah. Isinya, tentu saja. Bukan kulit muka atau ukurannya. Lembaran-lembaran kertas putihnya mulai menguning, tanda umurnya mulai makin tua seperti diri Kiwir (dan kita semua).

Sekilas Kiwir menengarai bahwa penuturan penulis buku itu tak boleh dianggap remeh. Tapi ia heran, kok bisa selama ini buku sepenting itu nyelip di antara banyak buku lainnya? Ah, dasar aku memang careless, kata Kiwir dalam hati.

Cahaya mentari: rakhmat Tuhan bagi semua

Alhasil, ringkas cerita, Kiwir membaca ulang buku yang pernah disimaknya 7-8 tahun silam. Ini salah satu isi yang menarik untuk dibaginya dengan Anda, yang sudi mampir di blog ini.

Nasihat Imam Khomeini untuk Ahmad, putranya.

  • Anakku, jangan menghindari tanggung jawab kemanusiaan. Yakni melayani Allah dalam bentuk pelayanan kepada manusia.

Sampai di sini Kiwir merenung. Betapa tinggi makna pesan itu. Sementara ia, mungkin juga kita, sering asyik sibuk dalam ibadah mah-dhah, solat dan sejenisnya, sebagai perwujudan bakti kepada Allah, tapi cuek bebek kepada manusia-manusia di sekitarnya. Cuek kepada pengemis, pembantu dan sopir. Mengabaikan orang miskin, satpam, tukang bakso, pemulung, dan belasan jenis mustadh’affien lain. Jangankan yang jauh dari pandangan (sehingga jauh dari hati), bahkan yang di depan kornea mata sekali pun.

  • Setan tidak akan lebih kendur dalam bidang (pengabdian kepada manusia) ini daripada para pegawai dan orang-orang yang menangani urusan masyarakat. 

Sampai di sini Kiwir bingung. Apa maksudnya? Barangkali Anda, yang membaca catatan ini bisa membantunya?

Sunshine: sinar surya – Kiwir merasakan kehangatannya

Matahari pagi makin tinggi. Panasnya merasuk ke tubuh Kiwir yang pagi itu belum sempat mandi — karena ia tidak harus pergi ke kampus. Tentu saja: itu hari Ahad. Ia lalu melanjutkan bagian lain buku tadi.

  • Anakku, jangan berusaha meraih kedudukan, baik kedudukan ruhani atau duniawi, dengan dalih ingin mendekati pengetahuan Ilahi atau melayani hamba-hamba Allah. Sebab menaruh perhatian kepada kedudukan semacam itu sendiri adalah bersifat ‘setani’, apalagi berjuang memperolehnya.

Entah apa yang Anda pikirkan, tapi Kiwir memahami kalimat itu sebagai sebuah peringatan untuk sama sekali tidak mengharapkan kedudukan tinggi semisal profesor, ustadz, ulama, pejabat tinggi, pembesar atau lainnya — karena posisi-posisi itu sering menjadi lahan setan mengipas-kipaskan godaanya agar kita menjadi bangga diri, ujub dan sebagainya. Semuanya, menurut yang ia pahami, adalah penyakit hati. Dan si iblis setan jahannam sangat pintar menyelusup ke dalam hati agar orang beralih dari tujuan ‘demi Allah’ kepada demi kemuliaan semu semata.

Al-ikhlas – salah satu surat terpenting dalam Al-Quran

Begitulah pemahamannya. Wallahua’lam. Ia sendiri tidak yakin benar. Tapi setidaknya ia jadi kian mengerti arti kalimat di atas sesudah ia melanjutkan yang di bawah ini:

  • Dengarlah peringatan Allah dengan sepenuh hati, dan laluilah arah tersebut. Katakanlah,”Sesungguhnya aku mengajarkan kepada kamu dengan satu (pengajaran) bahwa kamu berdiri karena Allah, berdua-duaan atau sendiri-sendiri (QS Saba:46). Ukuran permulaan perjalanan adalah meninggikan Allah, baik dalam tugas pribadi dan perorangan, maupun dalam kegiatan masyarakat.

Sampai di sini Kiwir kian mengerti. Benar saja, yang paling penting, bahkan satu-satunya yang penting — sambil meng-enol-kan segala lainnya — adalah meninggikan Allah. Itu saja. Titik. Tidak ada tinggi atau kemuliaan lain. Tidak ilmu, tidak pangkat, tidak jabatan, tidak uang, tidak gelar. Nothing but Allah, bisik Kiwir dalam hatinya. Itulah rupanya makna ikhlas.

  • Cobalah supaya berhasil dalam langkah pertama ini, yang lebih mudah dan lebih banyak dapat dicapai pada saat muda. Janganlah dirimu menjadi tua (sebelum waktunya) seperti ayahmu, sehingga engkau akan berjalan di tempat atau bergerak mundur.

Membaca bagian itu, Kiwir jadi berpikir keras, apakah ia sudah sebijak sang penulis sehingga bisa menasihati anaknya. Ia merasa kian tua, tapi tidak makin bijaksana. Older but not wiser.

Terakhir, Kiwir mengerenyitkan dahi berulang-ulang waktu sampai pada bagian ini:

  • Hal ini menuntut kewaspadaan dan latihan diri. Jika seseorang memiliki atau mampu menguasai jin dan manusia dengan niat ikhlas, maka dia adalah pemilik pengetahuan Ilahi dan Zahid di dunia; tetapi jika niatnya karena hawa nafsu dan setan, maka apa pun yang ia raih, sekalipun jika bertasbih, maka dia akan tetap jauh dari Allah.

– Apa yang hendak Kiwir lakukan sesudah itu? Ia bingung. Ia merenggut tasbih 99 butir yang ada di atas meja kerjanya. Meremasnya pelan-pelan. Ia jadi nelangsa. Percuma saja bertasbih. Bukan karena butir-butir mirip ‘rosario‘ itu buatan China dan bukan buatan Indonesia, Saudi, Iran atau negara Muslim lain.

Bukan itu. Ia merasa sia-sia; berapa ratus ribu atau juta tasbih yang sudah dibacanya, tetap saja ia jauh dari Allah. Itu rupanya yang menjadi biang keladi: tasbihnya tidak murni, tidak ikhlas. Tapi cuma untuk tujuan-tujuan rendah, remeh dan fana belaka. Cuma untuk urusan pribadi, anak, keluarga, pakaian, badan yang bagus, wajah yang ganteng, sehat, segar, uang, kaya, tanah dan rumah. Semua yang fana — yang sebentar lagi akan ditinggalkannya karena tidak ikut ke kuburannya.

Lukisan suasana Perang Badar (Jami al-Tawarikh) : Sesudah menang dalam perang ini, Nabi saw mengatakan bahwa, ‘jihad melawan nafsu lebih besar.’

Tapi kemudian ia gembira, karena pagi itu sebuah cahaya baru berhasil merasuki kalbunya. Kiwir tersenyum sendiri. Alhamdulillah…

Pada sebuah pagi yang tidak romantis tapi hangat dan bermakna, Kiwir jadi ingat Imam Ali bin Abithalib as. Jangankan dari orang sealim dan sesaleh sang sufi Imam Khomeini, ia kini siap mengambil hikmah, “bahkan jika itu harus direbutnya dari mulut seorang kafir sekali pun.”

Baca juga:

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on 23/05/2012 in Diskusi Agama, Pemikiran

 

Tags: , , ,

2 responses to “Nasihat Ayah untuk Putranya

  1. mieke1506

    27/05/2012 at 9:28 pm

    “Ukuran permulaan perjalanan adalah meninggikan Allah, baik dalam tugas pribadi dan perorangan, maupun dalam kegiatan masyarakat” – minimal, ini yang tampaknya dapat saya usahakan. Ayo sama-sama berusaha dan saling mendo’akan agar kita semua menjadi bagian dari kafilah ruhaniah yang berjalan menuju padaNya – aamien. Salam

     
    • Syafiq Basri

      29/05/2012 at 11:41 am

      Ilaaahi Yaa Kariiem.
      Salam kembali.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: