RSS

Karet Bivak – Di pintuMu aku Mengetuk

15 May

Kemarin saya melayat seorang paman yang dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta Pusat.

Itu kuburan lama, yang lokasinya di tengah keramaian Jalan Casablanca yang menyambungkan Mal Ambassador dan Tanah Abang — persis di seberang kampus Sekolah Tinggi London School of Public Relations, tempat saya biasa mengajar.

Yakin sekali Anda juga sudah sering melayat kerabat atau teman yang wafat mendahului kita. Saya juga. Tetapi, saat pemakaman kemarin itu, ada beberapa hal menarik yang menggugah pikiran ini.

1. Kematian ternyata menjadi pengingat yang sangat baik bagi kita yang hidup. Ia antara lain menjadikan banyak orang tiba-tiba menjadi ‘saleh’. Tiba-tiba bapak-bapak berpakaian ‘santri’ berbaju koko dan kopiah. Demikian pula, kaum ibu mendadak muncul dangan wardrobe ‘tertutup’, lengkap dengan jilbab atau tudung kepala (meski sebelumnya mereka biasa ‘buka-bukaan’).

Semua kemudian menyimak pembacaan ayat-ayat suci, talqin, dan tahlil. Wajah-wajah tampak khusyu’ — mungkin terbayang ‘akhir’ perjalanan (landing) dan awal ‘take off‘ menuju kampung abadi. (Jadi ingat kata seorang ustadz, “kita memang penduduk ‘sana’, bukan ‘sini’ karena di sini kita hanya ‘mampir’  atau, dalam bahasa penerbangan, ‘transit’).

Kampung Nelayan di Italy: keindahan dunia yang tak bisa dibawa ke ‘kampung abadi’

2. Ketika penggali kubur mencangkul tanah, saya melihat cacing-cacing dan hewan ‘kaki seribu’ berkeliaran ke sana ke mari. Kadang ada juga hewan lain semacam kelabang, atau kalajengking. Semuanya penguni tanah yang bersiap menemani siapa pun tamu baru yang datang. Dari tanah, kembali ke tanah.

Tapi di luar pemakaman, suara gaduh jalanan dan deru mobil dan motor (yang jumlahnya makin hari makin banyak) — orang-orang berlalu-lalang itu belum tentu sadar bahwa mereka melewati suatu ‘wilayah’ yang kelak juga akan mereka huni.

 

Ah, saya kok jadi teringat sajak Chairil Anwar, penyair beken Angkatan 45 yang juga dimakamkan di Karet Bivak itu. Ini salah satu puisi Chairil:

 

Yang Terampas dan Yang Putus

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

3. Sekitar sejam kemudian prosesi penguburan usai. Orang-orang pada pulang. Satu persatu. Sang jenazah tinggal sendirian. Hari masuk senja ketika saya menulis ini. Anak-anak penjaga kuburan — yang sempat berlarian atau ‘menjadi pengemis dadakan’ di hadapan para pelayat — juga pulang.

Kuburan sepi senyap.

Itu di luar, di atas tanah, langit memerah, berwarna jingga ‘twilight’, kemudian menggelap.

Hitam.

Saya tak tahu yang di dalam tanah; tapi boleh yakin kegelapan lebih tebal.

Pekat.

Indonesian poet Chairil Anwar (1922 - 1949)

Chairil Anwar (1922 – 1949)

4. Sesudah itu, keluarga almarhum mendoakannya. Anak-anak (yang saleh) lazimnya akan berzikir dan mendoakan orang-tuanya, dengan atau pun tanpa upacara ‘tahlilan‘ (yang suka dibid’ah-kan orang-orang yang kurang paham maknanya atau tidak pernah tahu apa yang dibaca dalam acara tahlilan).

Tapi sang jenazah sendirian tergeletak di liang lahad seluas dua x satu (2×1) meter tadi, hanya ditemani kain kafan dan amalnya saat hidup dulu.

Saya belum pernah dengar ada anggota keluarga atau kekasih yang bersedia menemani almarhum untuk bersama-sama tidur di sampingnya, sebesar apa pun cinta mereka kepada almarhum.

5. Di pekuburan Karet itu — yang juga tempat kakek dan salah seorang paman dimakamkan — saya perhatikan tampaknya lebih banyak nisan orang laki ketimbang wanita. Tidak jelas perbandingannya berapa, tapi yang pasti umur mrka bervariasi. Ada tua, muda, remaja dan anak-anak.

Itu semua terang bisa dibaca dari angka-angka kapan mereka lahir dan tanggal mereka menghuni perisitirahatan itu. Itu semua terang bisa menjadi ‘bacaan’ bagi yang hidup. Bahwa umur  kita tak bisa ditebak. Bisa besok kita wafat, bisa pekan depan, atau kapan saja, tergantung kapan Malaikat Izra’il mendapat order menjemput kita.

Begitulah, Saudara. Berhubung blog ini tidak dimaksudkan untuk menggurui siapa pun (emangnya saya siapa, kok berani menggurui Anda? Iya kan?), maka baiklah kita akhiri tulisan ini dengan sebuah puisi indah Chairil Anwar yang lain (yang bagian isinya saya petik jadi judul tulisan ini).

Silakan :

DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943

Baca juga:

Advertisements
 
6 Comments

Posted by on 15/05/2012 in Diskusi Agama, Pemikiran

 

6 responses to “Karet Bivak – Di pintuMu aku Mengetuk

  1. mieke1506

    27/05/2012 at 10:45 pm

    “Tuhanku
    di pintuMu aku mengetuk
    aku tidak bisa berpaling” – ini bagian yang paling saya sukai dari puisi “Doa” karya Chairil Anwar (dulu saya sampai hafal beberapa puisi karya Chairil Anwar).

    Tulisan Bang Syafiq ini mengingatkan saya pada “Memaknai Kematian” karya Pak Jalaluddin Rakhmat, yang antara lain membahas bahwa kematian adalah salah satu dari proses penyucian (at-tamhish).

    “Aku akan hidupkan kamu sebagaimana dulu Aku hidupkan” begitulah firmanNya dalam salah satu ayat Al-Quran.

    Sebagaimana kita datang dari sisiNya dalam keadaan suci, seharusnya kitapun kembali ke hadirat-Nya dalam keadaan suci pula. Karena besarnya kasih sayang Allah swt, kita diberi peluang penyucian – oleh-Nya – dalam tiga episode kehidupan. Pertama, di dunia ini; kedua, di alam barzakh dan ketiga, di alam akhirat. Nah, yang akan menentukan lama tidaknya kita di alam barzakh adalah amal-amal kita di dunia. Di alam barzakh ini satuan waktunya adalah dosa-dosa kita. Makin banyak dosa, makin lama pula perjalan yang akan kita tempuh (karena banyaknya yang harus “dicuci”).

    Salah satu do’a yang disunnahkan dibaca saat ziarah kubur adalah:
    “Ya Allah, sayangilah keterasingannya, temani kesepiannya, tentramkan keresahannya, curahkan kepadanya kasih-Mu dengan kasih yang membuatnya tidak memerlukan kasih siapapun selain Engkau, dan gabungkan dia dengan orang yang sebelumnya ia ikuti (sayangi)”
    (Allaahummar ham ghurbatahu wa shil wahdatahu wa aanis wahsyatahu wa aamin raw’atahu wa askin ilayhi min rahmatika rahmatan yastaghnii bihaa ‘an rahmati man siwaaka wa alhiqhu bi man kaana yatawallaah.”

    Mari kita memeriksa diri kita masing-masing, siapakah ia yang kita ikuti (sayangi) karena dengannya-lah kita akan digabungkan, kelak.
    Salam dan terima kasih atas pengingatnya

     
    • Syafiq Basri

      29/05/2012 at 11:40 am

      Indah sekali doanya ya:
      – Ya Allah, sayangilah keterasingannya, temani kesepiannya, tentramkan keresahannya, curahkan kepadanya kasih-Mu dengan kasih yang membuatnya tidak memerlukan kasih siapa pun selain Engkau, dan gabungkan dia dengan orang yang sebelumnya ia ikuti (sayangi)…
      – Kelihatan bahwa yang mengajarkan doa seperti ini pasti seorang suci dan dari keluarga suci — bukan orang biasa.
      – Terima kasih sekali Teh Mieke. Jazaakillah khairan katsieran.

       
  2. harisdjauhari

    18/05/2012 at 6:08 pm

    mencerahkan sekaligus menggelapkan.

    dan hendaklah kita memperbanyak mengingat mati.
    Seakan menampar segala kesombongan diri dan menjerumuskan keegoisan yang berujung pada syirik.
    menggelapkan bayang dari raga kemanusiaan. jika sinarNya telah hilang dari pandangan.
    apa hendak dikata, kematian sebagai pengingat. dan ini cukup lah berarti.

    terima kasih Pak Syafiq..watawa shoubil haq watawa shoibish sobr…

     
    • Syafiq Basri

      18/05/2012 at 8:17 pm

      Terima kasih banyak, Bung Haris Djauhari. Benar, dan saling memperingatkanlah kita kepada (dengan) kebenaran, dan saling mengingatkan dengan (kepada) kesarabaran…

       
  3. Ali Reza

    15/05/2012 at 8:23 am

    Terima kasih ….. tulisan anda mengingatkan bahwa satu saat (yang entah kapan) saya sebagai mahluk hidup (saat ini) akan berjumpa ajal/maut. Bukankah ajal/maut itu pula yang akan mengantar kita menuju KHALIK ……….. insyaALLAH ……..

     
    • Syafiq Basri

      16/05/2012 at 7:42 pm

      Sdr.Ali Reza, Terima kasih atas komentar yang mencerahkan.
      Benar, kita semua insya Allah akan menjemput (atau dijemput) maut, kembali kepada Sang Khaliq.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: