RSS

Baik dan Buruk

27 Apr

Apakah kebaikan? Apakah keburukan? Semuanya sangat relatif, karena sesuatu bisa baik untuk seseorang, tetapi jelek bagi orang lain.

Namun, coba perhatikan pesan berikut:

Kebaikan yang setelahnya adalah api neraka, bukan kebaikan. Keburukan yang akibat (sesudah)-nya adalah surga bukan keburukan. Segala nikmat menjadi tidak berarti di hadapan surga, dan setiap bencana tanpa neraka adalah ‘aafiah (lebih baik).”

Itu nasihat dari Imam Ali bin Abithalib as.

Imam Ali and the Jinn

Lukisan Imam Ali (as) dan Jin (Photo credit: Wikipedia)

Ayatullah Mojtaba Tehrani dalam menjelaskan kalimat hikmah dari Imam Ali (as) itu mengatakan, “Parameter kita dalam menilai kebaikan dan keburukan di dunia ini secara materi. Akan tetapi Imam Ali as ingin menjelaskan kepada kita bahwa cara tersebut keliru.

Jika ternyata di balik seluruh kebaikan di dunia ini terdapat neraka jahannam, maka tidak satu pun dari hal itu yang baik. Karena sesungguhnya semua itu buruk. Apapun bentuknya, dan sumber dari seluruh kebaikan duniawi adalah uang, kekuasaan, dan semacamnya.

Tetapi ketika tidak melalui jalur syar’i (syariat) maka neraka jahannam sedang menanti. Oleh karena itu jangan bersenang hati.”

“Begitu juga sebaliknya: ‘jika di balik keburukan duniawi ada surga, maka hal sebenarnya bukan keburukan.’

… Maksudnya adalah jika ada kesulitan yang dinilai sebagai keburukan di dunia ini, perhatikan apa hasil dari hal tersebut? Jika hasilnya adalah surga, maka sesungguhnya hal itu bukan keburukan. Jika kalian memasuki jalur syar’i akan tetapi dari sisi duniawi dan materi adalah keburukan, kalian harus melihat batinnya, jika batinnya baik maka hal itu bukan keburukan, karena surga menanti.”

Riwayat ini ingin menekankan bahwa penilaian kita berdasarkan materi. Kita tidak akan mampu membedakan kebaikan dan keburukan dengan mata duniawi. Sesuatu yang baik bisa jadi sesungguhnya buruk. Dengan demikian ada kebaikan dan keburukan duniawi dan ada juga kebaikan dan keburukan ukhrawi.

Orang yang tidak memiliki pandangan ukhrawi maka dia tidak akan dapat mengetahui kebaikan dan keburukan yang hakiki. Ketika kalian menjalankan syariat, dan dalam prosesnya kalian menghadapi keburukan duniawi, maka yakinlah bahwa itu bukan keburukan, melainkan sebuah kebaikan. Begitu juga sebaliknya.”

Lukisan Imam Ali as: baik itu jika akhirnya surga.

“Setelah itu Imam Ali as melakukan perbandingan bahwa:

“Setiap nikmat duniawi tidak ada artinya dibandingkan nikmat ukhrawi (surga). Begitu juga sebaliknya: kesulitan apapun di dunia tidak ada artinya jika dibandingkan dengan siksa neraka.”

Oleh karena itu pandangan dan perbandingan kita sering keliru. Sebab kita hanya menilai kebaikan dan keburukan secara ‘materi’. Kesimpulannya, kita harus mengubah kacamata kita.”

Baca juga: tentang konsep Zuhud yang benar.
رُوِيَ عَنْ عَليٍّ عليه السلام قال:

مَا خَيْرٌ بِخَيْرٍ بَعْدَهُ النَّارُ وَ مَا شَرٌّ بِشَرٍّ بَعْدَهُ الْجَنَّةُ وَ كُلُّ نَعِيمٍ دُونَ الْجَنَّةِ فَهُوَ مَحْقُورٌ وَ كُلُّ بَلَاءٍ دُونَ النَّارِ عَافِيَةٌ.[*]

[*]. نهج البلاغه، حکمت 387، صفحه 544

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 27/04/2012 in Diskusi Agama

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: