RSS

Pada Malam-Malam yang Hening

19 Apr

Al-Qur'an pada periode Sultan Mamluk: ibadah lewat ungkapan syukur

Dikisahkan, pada malam-malam yang sepi dan hening — sering dalam dinginnya kota Madinah yang menusuk tulang — Nabi Muhammad SAW berdiri berjam-jam, menengadahkan tangan, rukuk, khusuk, dan bersujud lama sekali di hadapan “Kekasih”-nya, Allah SWT.

Akibatnya, bukan cuma mata beliau yang memerah, tapi kakinya pun bengkak. Aisyah, istri Beliau, menyoal, buat apa semua itu. “Bukankah Anda seorang yang ma’shum, yang sudah diampuni dosanya?” tanya Aisyah.

Hakikat Ibadah – oleh: Syafiq Basri
Aslinya dimuat pada rubrik Hikmah, harian Republika, 22 September 2008.

Nabi menjawab singkat: Afalam akuunu ‘abdan syakura…. Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?

Apa yang dilakukan Nabi SAW tersebut jelas merupakan contoh ibadah yang ideal. Ibadah yang didasarkan pada rasa cinta dan keikhlasan seorang hamba kepada penciptanya. Bukan amal karena ingin balasan surga, karena ibadah jenis itu adalah ibadahnya pedagang yang selalu berhitung ”untung-rugi”.

Bukan pula karena takut  Neraka, karena ibadah model ini, menurut Imam Ali bin Abi Thalib adalah ibadahnya budak. Ibadah Nabi SAW adalah ibadah karena cinta. Ibadah yang benar-benar ikhlas. Ibadah seorang yang bebas merdeka, bukan budak yang takut dipecat majikannya.

Lukisan Imam Ali bin Abithalib as

Beramal demi sebuah ganjaran, sebetulnya adalah ibadah untuk diri kita sendiri. Untuk ego kita. Oleh sebab itu, jika kita mengharap pahala — dari amal ibadah yang kita lakukan — dengan sendirinya pahala itu untuk kepentingan kita. Padahal ibadah yang ikhlas itu untuk Allah semata, bukan untuk ego kita.

 

 

 

Begitu pula sebaliknya: menghindari yang haram karena takut neraka, tidaklah seikhlas yang menghindarinya karena mencari ridha Allah. Seorang anak yang ikhlas meladeni ayahnya, melakukan hal itu bukan karena takut dipukul sang ayah atau supaya diberi uang, melainkan karena cinta pada orangtua. Kita, barangkali akan merasa sulit mengikuti ibadah yang dilakukan oleh Nabi SAW.

Meminjam istilah Al-Ghazali, kita masih tergolong manusia dalam tahap ‘awam’ sementara masih ada tahap khusus dan tahap khususnya khusus, khuwash-al-khawash. Seperti piramid, makin tinggi tahapan itu, makin sedikit jumlah manusianya.

العربية: صورة رسم يدوي للإمام الغزالي English:...

العربية: صورة رسم يدوي للإمام الغزالي -- Imam Abu Hamid Al-Ghazali (Wikipedia)

Kendati begitu, kita barangkali masih tergolong ikhlas, kalau kita, misalnya, berderma untuk menghindari musibah. Karena itu juga perintah Allah. Tapi ini tergolong ikhlasnya awam, sebab kita baru mau bersedekah karena janji ganjaran yang berlipat ganda atau agar terhindar dari musibah dan marabahaya.

Tentu saja orang mesti berusaha setahap demi setahap mencari tingkatan yang lebih tinggi, hingga tiba di tahap khawash-al-khawash.

Kita harus selalu berusaha meningkatkan amal ibadah dari hari ke hari dan dari waktu ke waktu, hingga menjadi sempurna seperti yang dilakukan oleh panutan kita Nabi SAW.

Bukankah berusaha meneladani beliau sudah merupakan ibadah? (ah)

Advertisements
 

Tags: , , , ,

2 responses to “Pada Malam-Malam yang Hening

  1. mieke1506

    28/04/2012 at 6:32 am

    Ah . . . . Menjalankan ibadah orang awampun, ternyata tidak mudah. Berdo’a yu! “Allaahumma ainni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘iibaadatik.” – tolong perbaiki bila salah do’anya. Nuhun

     
    • Syafiq Basri

      30/04/2012 at 12:44 am

      Benar, Teh Mieke. Tapi untunglah kita ini hanya disuruh berikhtiar saja. Selebihnya kita serahkan kepada Allah.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: