RSS

Attitude Dahlan Iskan

23 Mar

Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan menggebrak. Ia menyelesaikan masalah kemacetan yang parah di salah satu pintu tol dalam kota Jakarta secara langsung.Sendirian.

Sebagaimana diberitakan, Selasa 20 Maret pagi lalu Dahlan ’marah’ karena melihat terlalu panjangnya antrean di gerbang tol Slipi, Jakarta, saat ia dalam perjalanan menuju kantor Garuda di Cengkareng.

Mobil Dahlan ikut tersendat di pintu tol itu. Ada 30-an mobil mandeg, menunggu giliran. Padahal ia pernah menginstruksikan agar membenahi pelayanan jalan tol dan menetapkan antrean tidak boleh lebih dari lima mobil.

Dahlan Iskan menyetir mobil sendiri: attitude positif.

Dengan sigap Dahlan turun dari mobilnya, menuju pintu tol. Dia memeriksa loket dan menyingkirkan papan penghalang yang ada. Sang mantan Direktur Utama PLN, yang pagi itu mengenakan kemeja putih, itu kemudian mengatur lalu lintas di situ, dan meloloskan 100-an mobil tanpa membayar tol.

Oleh: Syafiq Basri Assegaff, Dimuat di situs ‘Inilah.Com’, Jumat, 23 Maret 2012

Yang dilakukan Dahlan itu merupakan sebuah tindakan yang ‘tidak lazim’ bagi banyak orang, namun ‘biasa saja’ bagi sang menteri. Orang komunikasi menyebutnya ‘behavior’ atau ‘action’, dan muncul dari sebuah ‘sikap’ tertentu.

Lewat ‘behavior’ terjun langsung yang ditunjukkannya di pintu tol itu, Dahlan berhasil membangun ‘pesan komunikasi’ yang efektif bagi pejabat Jasa Marga, yang mengelola jalan tol itu, dan sekaligus bagi masyarakat luas. Yakni bahwa banyak ‘action’ kecil tapi bermanfaat bisa dilakukan, sepanjang orang mengedepankan sikap ‘karena saya mau, pasti saya bisa’.

Seringkali dalam kehidupan sehari-hari, pegawai yang melayani berbagai jasa kurang mengedepankan sikap ‘saya mau’ dengan baik. Banyak dari mereka beralasan,’tidak bisa’ karena, alasan mereka, peraturannya sudah ditentukan begitu. Padahal, sangat boleh jadi banyak hal yang ‘tidak bisa’ itu sejatinya ‘dapat’ dilakukan asalkan ‘mau’.

Sepintas ini seperti soal kecil. Tapi betapa besar pengaruhnya bagi kepuasan pelanggan. Dan Dahlan Iskan ingin menunjukkan itu. Pria kelahiran Magetan itu ingin memberi pelajaran bahwa perusahaan pemerintah (BUMN) yang menyediakan layanan bagi masyarakat seharusnya mengubah ‘sikap’ mereka dari ‘tidak mau’ — yang sering dibungkus kamuflase ‘tidak bisa’ — menjadi ‘harus bisa’ karena adanya sikap ‘mau membantu’ secara sebaik mungkin, demi kepuasan pelanggan.

Dahlan Iskan di jalan tol: 85 % attitude.

Konon sikap sangat menentukan nasib kita. Orang Inggris mengatakannya, attitude — sebuah perangai yang diperoleh dari pemikiran sehari-hari, apa yang kita pikirkan atau rasa, apa yang menjadi penilaian kita. Attitude itu hasil evaluasi positif atau negatif kita terhadap orang, benda, kejadian, aktivitas, ide-ide, atau apa pun di lingkungan sekitar kita. Barangkali kita bisa menyamakannya dengan ‘sikap mental’.

Di antara elemen penting yang membentuk attitude adalah pengalaman, pendidikan dan lingkungan. Dari tiga aspek itu, sangat boleh jadi, pengalaman Dahlan sebagai pengusaha swasta di kelompok Jawa Pos yang paling menentukan pembentukan attitude-nya sedemikian rupa – sehingga membedakannya dengan banyak pejabat lain.

Kemudian juga lingkungan Dahlan dulu: dunia bisnis swasta yang kompetitif, yang mau tidak mau membentuk sikap mental seseorang untuk selalu merebut kepuasan konsumen, sehingga mereka menjadi pelanggan yang loyal.

Ada yang bilang attitude sebagai, “jumlah seluruh kondisi yang mengarahkan orang menuju sebuah aktivitas.” Oleh karena itu, attitude adalah elemen dinamis dalam behavior manusia, atau yang menjadi motif bagi sebuah aktivitas.

Tampaknya, dari preseden Dahlan itu, kita bisa melihat bahwa — sebagaimana dikemukakan banyak ahli psikologi-komunikasi — sebagian besar attitude merupakan hasil pengalaman langsung atau pembelajaran berkat pengamatan orang terhadap lingkungannya. Jika hasil pengalaman seseorang dari sebuah pemilihan umum adalah ‘kekecewaan’ kepada partai politik yang dipilihnya dulu, umpamanya, maka jelas attitude-nya terhadap partai itu negatif.

Attitude’ tidak saja terbentuk dari pengaruh di dalam diri (seperti persepsi yang ada di benak kita), melainkan juga dari luar, seperti pengaruh teman, televisi, dan sebagainya. Kata-kata yang sering kita lontarkan, atau kalimat orang lain yang suka kita dengar atau camkan, pun turut membentuk sikap kita.

Kemudian, sikap tadi membentuk kebiasaan, atau behavior; tindakan atau aktivitas sehari-hari. Bila sikap orang terhadap membaca positif, umpamanya, maka dalam kehidupan sehari-hari ia akan banyak membaca, sering membuka buku, koran, dan sebagainya.

Yang menarik rupanya attitude sangat berperan dalam menentukan nasib kita. Sebuah pepatah mengatakan, “Your attitude, and not your aptitude, will determine your altitude.” Maksudnya, sikap Anda, dan bukan ‘bakat’ (intelegensia, atau ‘skill’) semata, yang akan menentukan ‘ketinggian’ (kesuksesan) Anda.

Dahlan dengan sepatu sneakers-nya: punya 'self esteem' tinggi.

Attitude atau ‘cara pandang’ model itulah yang rupanya sejak lama tertanam dalam diri Dahlan, sehingga ia ‘bernasib’ sukses sebagai pengusaha dan Dirut PLN. Sedangkan dari sisi aptitude, maka bakat, atau intelegensia orang seperti Dahlan tentu tidak bisa diabaikan. Tetapi bukan aptitude itu yang penting bagi keberhasilannya, melainkan ‘attitude’-nya.

Sebagian orang menerjemahkan attitude sebagai semacam ‘akhlak’, atau budi pekerti. Sehingga logis jika ada orang pandai atau berbakat (aptitude), misalnya, justru menjadi gagal, karena memiliki akhlak buruk yang mendorongnya melakukan tindakan negatif seperti bermalas-masalan atau korupsi.

Dalam peristiwa di jalan tol itu, Dahlan Iskan sekali lagi menunjukkan sebuah ‘cara pandang’ yang positif.  Ia mengubah kendala (kemacetan) menjadi peluang (untuk membantu memperbaiki sistem di jalan tol) dengan ‘akhlak’ yang positif.

Secara logis, orang-orang sukses seperti Dahlan lazimnya memperbaiki semua hal yang bisa mereka kontrol, dan salah satu hal terpenting yang bisa dikontrol adalah attitude.  Oleh karena itu orang sukses secara terus menerus memperbaiki sikap (attitude) mereka.

Attitude juga sering disamakan dengan kepercayaan diri (self esteem). Maka self esteem yang tinggi dalam diri orang seperti Dahlan akan tampak dalam pembawaannya, dan orang lain secara mudah bisa menengarai hal itu lewat bahasa tubuhnya. Umpamanya ia bisa tampil prima, penuh percaya diri, tidak mudah putus asa, dan banyak senyum.

Itu sebabnya, pada peristiwa di jalan tol itu Dahlan mengatakan, “Saya lihat mereka (pengelola jalan tol) mampu memperbaiki diri,” katanya. Frasa ‘saya lihat mereka mampu..,’ itu sebuah bukti lain ‘self esteem’ atau ‘attitude’ positif Dahlan.

Jelas, attitude Dahlan itu menentukan tindakan-tindakannya. Pada gilirannya kumpulan tindakan tadi membentuk kebiasaan (habits), yang lama kelamaan (kebiasaan tadi) menghasilkan ‘karakter’ seorang Dahlan, dan sekaligus kesuksesan dirinya saat ini.

Itu sebabnya, kata ahli, sukses itu 15 % karena aptitude dan 85 prosennya ditentukan attitude seseorang.

*) Konsultan Komunikasi, dosen di Program Pascasarjana Universitas Paramadina, dan London School of Public Relations, Jakarta. www.syafiqb.com. [mor]

Advertisements
 

14 responses to “Attitude Dahlan Iskan

  1. moreta999

    14/07/2013 at 9:08 pm

    pa dahlan itu idola saya_dia itu sedang sakit, tapi dedikasinya mengalahkan rasa sakit—aku berdoa semoga beliau sehat selalu–bukan sekedar pencitraan tapi lebih dari “bisikan hati”, tiap orang juga gimana hati dan niat tentunya—gabungkan dengan pa jokowi kayanya maching blusukannya itu

     
  2. Kang Huda

    01/03/2013 at 5:45 am

    selamt pagi pak syafiq,

    Dahlan iskan memang unik, beliau intelektualis, idealis, nasionalis juga sufis.. menarik juga penampilan dan sepak terjangnya… menurut saya pribadi, pak dahlan ini seperti sosok soekarno yang meengajarkan kepada dunia untuk berdikari,.. dan sosok gus dur yang merakyat plus unik..

    whehehe.. maaf komentarnya unik juga.

     
  3. -Jeany Chen- 이준나

    15/04/2012 at 10:29 pm

    Membaca artikel ini, saya langsung teringat dengan rumus kreatif dalam mengukur sebuah kesuksesan dengan menghubungkan alphabet dan angka (menentukan persentase kesuksesan). Jika nilai huruf A = 1, B = 2,C= 3 dan seterusnya, maka kesuksesan yang didapatkan dengan H+A+R+D+W+O+R+K= 8+1+18+4+23+15+18+11=98%, K+N+O+W+L+E+D+G+E=11+14+15+23+12+5+4+7+5= 96%, L+O+V+E=12+15+22+5=54% dan L+U+C+K =12+21+3+11=47%, sedangkan sukses yang betul-betul sempurna ternyata datang dari A+T+T+I+T+U+D+E = 1+20+20+9+20+21+4+5=100% sukses.
    Nah, masalahnya.. perhitungan ini cocok kalau kita memakai tolak ukur “orang barat”. Coba kalau kita ganti jadi bahasa indonesia.. maka attitude adalah S+I+K+A+P=19+9+11+1+16= 56%, sedangkan K+O+R+U+P+S+I= 11+15+18+21+16+19+9= 109%. Bayangkan, ternyata tolak ukur sukses versi orang Indonesia ternyata bukan pada attitude atau sikap yang tak bisa mengalahkan persentase sukses dari hasil korupsinya yang “gede-gedean”. Jika saya membaca kasus diatas, tetap ada pro dan kontra dalam hal ini. Di satu sisi, sang menteri memang berinisiatif dan berani, di sisi lain tetap saja ada peraturan yang terpaksa dilanggar (100 mobil tidak bayar tol). Semoga saja masyarakat lebih melihat kasus ini dari sisi positif dan menangkap makna dibalik “positive attitude” Dahlan sebagai teladan. Meskipun saya sendiri mengetahui bahwa pada dasarnya, sikap masyarakat Indonesia tidak hanya butuh sosok teladan, tetapi juga butuh keberanian dari diri sendiri untuk menunjukkannya (terutama dalam memberantas korupsi ataupun kasus-kasus lainnya yang merugikan negara).

     
    • Syafiq Basri

      16/04/2012 at 2:14 am

      Terima kasih, Jeany.
      Komentar Anda sudah bicara banyak hal yang menambah bobot ulasan mengenai ‘attitude’ Dahlan Iskan itu. Saya setuju dengan Anda, semoga masyarakat melihat sisi positif pak Dahlan itu,sementara sang pemimpin (menteri, dan sebagainya) dapat menunjukkan keberanian dalam kejujuran, khususnya dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

       
  4. Intan Dewi Karlita

    28/03/2012 at 1:32 am

    Jujur saya salah satu penggemar pak Dahlan Iskan. Awal saya kenal beliau yaitu dari sebuah acara di Tv One. Ketika itu dia masih menjabat sebagai CEO PLN. Pernyataan yang membuat saya kagum pada saat itu yaitu dia tidak menerima gaji sepeser pun. Hal yang mustahil ada di zaman sekarang. Ttidak lama dari itu, saya dengar kabar jika beliau diangkat oleh presiden sebagai Menteri BUMN. Keyakinan saya bertambah, ketika saya bertemu langsung dalam acara Tempo.co di Hotel Ritz Carlton, sosok yang sangat sederhana dan optimis terhadap kebangkitan negeri ini.

    Mengenai ulasan dari artikel ini, memang agak sulit bagi kita untuk mengidentifikasi apakah yang dilakukan oleh Dahlan Iskan tersebut benar merupakan suatu tindakan (Action) seperti dijelaskan pada artikel ini, ataukah hanya sebuah tindakan pencitraan saja?

    Menurut saya, tindakan serupa sudah sering dan biasa ia lakukan bahkan sebelum ia menjabat sebagai Menteri BUMN. Ketika dia memutuskan untuk tidak menerima gaji sebagai CEO PLN, Ketika dia memilih menggunakan kereta api ke Bogor, atau pilihan dia untuk tidak menggunakan jasa “Voorijder”, bahkan ketika dia tidak menggunakan fasilitas mobil dinas sebagai kendaraan kerjanya. Semua tindakan positif yang dilakukan oleh Dahlan Iskan tidak hanya dilakukan sekali saja, tetapi sudah secara terus menerus dan konsisten. Dari sinilah dapat saya katakan (secara pribadi) bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Dahlan Iskan memang sebuah tindakan otentik (murni) dari dalam dirinya, karena tidak hanya sekali tetapi konsisten.
    Dahlan Iskan -> “diam menakutkan, bergerak mematikan”. I Like your style Mr. Dahlan Iskan, semoga panjang umur, amin.

     
    • Syafiq Basri

      28/03/2012 at 6:23 am

      Terimakasih, Mbak Intan. Memang belakangan makin banyak yang kagum pada Dahlan. Barangkali karena sedikitnya pejabat yang punya kapasitas seperti beliau, sehingga orang pun menaruh harapan besar kepada Dahlan. Berbagai tindakannya sudah menjadi ‘karakter’ dirinya.

       
  5. Siska

    26/03/2012 at 3:56 pm

    Dahlan Iskan sepertinya sedang sangat populer beberapa bulan terakhir ini. Berbagai tindakan yang beliau lakukan seolah-olah menjadi sorotan hangat.

    Bapak menuliskan bahwa behavior atau action tersebut merupakan sebuah realisasi dari attitude dari Dahlan Iskan. Saya agak kurang setuju dengan hal ini.
    Dalam opini saya, ini rasanya seperti bentuk pencitraan diri. Sejak beliau diangkat menjadi menteri BUMN pada 19 Oktober 2011, sepertinya segala tindak tanduk yang dilakukan (yang baik-baik) menjadi sangat heboh. Padahal sebelumnya beliau juga bukan ‘orang biasa’. Jangan-jangan nanti di 2014, Dahlan Iskan menjadi salah satu pasangan capres di 2014.

    Ntahlah, ini hanya opini saya. Semoga memang segala yang dilakukan selama ini merupakan bentuk dari realisasi nyata attitude yang ada, bukan hanya sekadar pencitraan diri untuk rencana jangka pendek.

     
    • Syafiq Basri

      27/03/2012 at 12:12 am

      Terima kasih, Siska. Komentar yang menarik nih. Bisa saja itu dilakukan Dahlan Iskan Boleh untuk membantu ‘pencitraan dirinya’. Lebih-lebih karena ia belakangan ini menjadi ‘media darling’ — sangat disukai sebagai news-sources bagi media. Barangkali karena dia sendiri orang media; mantan wartawan Tempo (senior saya) yang kemudian pindah ke Jawa Pos dan mengembangkannya hingga sukses. Tetapi, melihat berbagai hal yang ia lakukan secara ‘otomatis’, langsung, tidak pakai rencana-rencana yang diolah (disiapkan) sedemikian rupa, maka itu lebih tepat dilihat sebagai action yang muncul berkat ‘attitude’ yang lama mengendap dalam dirinya. Banyak orang yang mengidentikkan gaya Dahlan itu dengan gaya Ahmadinejad, Presiden Iran.

      Anda benar Siska, banyak yang menduga (atau mengharap?) Dahlan Iskan akan maju sebagai calon presiden pada pemilu 2014 mendatang. Wallahu a’lam (artinya: hanya Tuhan yang lebih tahu).

       
      • mieke1506

        30/03/2012 at 9:42 am

        Setuju. Sebuah sikap/perilaku yang sudah menetap sejak lama pada diri seseorang, muncul bukan untuk tujuan pencitraan, tapi karena ia memang seperti itu – that’s the way he is

         
      • Syafiq Basri

        30/03/2012 at 10:56 pm

        Benar.. Kalau tujuannya hanya serendah ‘pencitraan’, pasti action-nya tidak dilandasi attitude yang baik,melainkan hanya sandiwara belaka.

         
  6. klise42

    24/03/2012 at 9:30 pm

    Semoga saja bpk Dahlan Iskan tidak cepat tergilas karena action2nya yg berpihak ke rakyat Indonesia…..krn di negeri ini, bila ada pejabat negara yg berpihak ke rakyat biasanya akan segera di gilas oleh……………..

     
    • Syafiq Basri

      25/03/2012 at 1:22 am

      Amin. Semoga Tuhan melindungi dan membantu semua pemimpin yang mementingkan rakyatnya.

       
  7. Rieza Harianda Panjaitan

    23/03/2012 at 11:08 pm

    Dahlan Iskan… Sosok seorang pemimpin yang selalu Pintar Merasa… Bukan pemimpin yang selalu Merasa Pintar… Kapan pak jd presiden? Jgn usung partai pak, saya yakin kalau bapaklah yg ditunggu2 rakyat indonesia selama ini… Amin

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: